
Istri pak Hisyam tertunduk dan mulai terisak. Pak Hisyam mengusap lembut punggungnya.
"Wis to Bu, sing ikhlas. Semoga ada jalan,"
Sari dan Doni saling berpandangan, mereka masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa pak? Kenapa ibu malah menangis?" tanya Sari penasaran.
Pak Hisyam menghela nafas dengan berat. "Saya juga bingung mau jelasin dari mana mbak, mas. Rasanya sudah buntu pikiran saya,"
"Maaf, tapi kalau boleh tau kenapa bapak meminta kami untuk menolong. Kita baru aja ketemu, kenapa bapak percaya kami bisa mebantu?" Sari sedikit penasaran.
Pak Hisyam menatap Doni dan Sari. "Semalam saya mimpi, didatangi orang bagus, ganteng, gagah, dia kasih tahu ke saya akan ada dua orang yang bantu keluarga saya menemukan Shinta putri kami,"
"Ehm, kan bisa aja pak orang itu bukan kami?" Sari kembali bertanya.
Pak Hisyam menggelengkan kepala, "Perempuan cantik dengan empat penjaga dan ksatria lelaki dari arah barat Jawa timur. Saya yakin kalau itu mbak dan mas!"
"Tapi kami ini cuma orang biasa pak dan empat penjaga? Apa bapak lihat ada empat penjaga di samping saya, yang ada cuma dua orang. Suami saya sama mas Pras aja," Sari tersenyum lebar.
Sari bukannya tidak mau membantu hanya saja ia tidak ingin pak Hisyam terjebak dalam ilusi yang diciptakan alam bawah sadarnya sendiri karena kekalutan pikiran.
"Entahlah, saya hanya yakin orang yang dimaksud dalam mimpi itu adalah kalian berdua. Feeling seorang ayah mbak!"
Sari tak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa tersenyum mencoba memahami perasaan pak Hisyam.
"Assalamualaikum …," sebuah suara lelaki mengejutkan mereka.
"Eh, pak Agus mari masuk! Wah rupanya si Joni sudah ke rumah bapak ya?"
Pak Hisyam mempersilahkan tamunya itu masuk. Pak Agus tersenyum, dan langsung menoleh ke arah Sari dan Doni.
"Wah, tamu agungnya sudah datang rupanya?"
Doni dan Sari kembali saling berpandangan, sungguh hari yang aneh bagi mereka.
"Apa kabar pak Agus?" sapa Doni mengulurkan tangannya.
"Kabar baik mas Doni, nggak kerasa ya sudah belasan tahun berlalu? Mas Doni masih sama kayak dulu, ganteng!" sambut pak Agus dengan senyuman.
"Ah pak Agus bisa aja nih, mungkin pak Agus perlu kacamata biar bisa lihat jelas kegantengan saya dimana? Kalau itemnya masih sama pak, awet kek diformalin!"
"Mas Doni ini sukanya merendah, masih sama kan seperti dulu. Tukang ndagel!" Kali ini pak Agus terkekeh.
"Apa kabar mbak Sari?"
"Baik pak Agus, Alhamdulillah. Bapak sendiri sehat kan?" tanya balik Sari.
"Alhamdulillah, masih diberi umur panjang, sehat dan masih bisa berdiri dengan kaki sendiri itu bagian dari Berkahe Gusti mbak,"
Sari tersenyum dan beralih pada pak Hisyam yang juga ikut mengembangkan senyum mendengar percakapannya dengan pak Agus. Senyum kegetiran.
"Pak Hisyam?" Sari bertanya.
"Iya mbak,"
"Mungkin, bapak minta tolong saja sama pak Agus. Beliau ini juga pinter lho pak, siapa tahu bisa membantu." Sari mencoba memberikan saran.
"Hmm, kalau saya bisa sudah dari kemarin saya bantuin pak Hisyam, mbak Sari." Pak Agus menyahut diikuti helaan nafas berat pak Hisyam.
"Saya juga nggak paham mbak kenapa bisa begini nasib Sinta," kata pak Hisyam pasrah.
"Situasinya cukup rumit? Sampai pak Agus juga nggak bisa bantuin?"
Sari sedikit heran karena sepengetahuannya pak Agus juga memiliki ilmu yang tidak bisa dipandang remeh. Terbukti saat mereka diserang sekawanan siluman anak buah Airlangga saat berada di Candi Tikus dulu.
"Ada yang bisa jelasin ke saya?" Sari menatap kedua bapak paruh baya yang duduk di depannya secara bergantian.
Pak Hisyam akhirnya menjelaskan pada Sari dan juga Doni, malapetaka yang dialami keluarganya. Istri pak Hisyam, terlihat tenang dan tidak menangis lagi.
Cerita diawali dengan kepulangan Sinta dari merantau di Jakarta. Sinta yang dikenal ramah dan juga cantik langsung menjadi idola para pemuda di desanya.
Pembawaannya yang mudah bergaul dengan siapa saja membuat banyak pria jatuh hati padanya. Bahkan beberapa orangtua pun datang untuk meminang Sinta menjadi menantunya.
Sayangnya Sinta sudah memiliki tambatan hati yang juga siap menikahinya. Lelaki yang beruntung itu adalah teman kerjanya di Jakarta bernama Toni. Tentu saja sikap Sinta menimbulkan kekecewaan di hati para pemuda yang mendambanya.
Meski tidak ada bukti tapi dendam dan rasa sakit hati ditolak cinta membuat para pemuda tersulut emosi. Mereka berbondong-bondong datang mencari Shinta bermaksud mengadili.
Pak Hisyam yang shock dan yakin jika putrinya tidak berbuat hal tak senonoh itu berusaha membela sekuat tenaga tapi amukan warga membuatnya menyerah, mereka memporak porandakan seisi rumah dan mempermalukan Shinta.
Kekejaman mereka tidak berakhir sampai disitu, pemuda yang diduga menyebarkan isu tak pantas itu juga mengirimkan teluh pada Shinta. Teluh yang bergerak saat malam menjelang, menyempurnakan fitnah keji mereka pada gadis tak berdosa.
Para warga sepakat mengusir pak Hisyam dan keluarga dari desa. Tentu saja hal itu membuat Shinta sangat bersedih. Ia memutuskan untuk pergi diam-diam dari rumah dan menghilang hingga saat ini.
Desas desus yang beredar Shinta bunuh diri, tapi hingga kini mayatnya tidak ditemukan. Hingga akhirnya beberapa bulan terakhir muncul hantu kepala yang menakuti warga desa. Mereka pun berasumsi itu adalah hantu Shinta yang hendak menuntut balas.
Pak Hisyam mengakhiri ceritanya dengan derai air mata. Tubuh tuanya tak sanggup lagi menahan kesedihan. Kemalangan putrinya membuat pak Hisyam dan istrinya berduka untuk waktu yang sangat lama.
Ia hanya berharap ada orang yang bisa membantunya untuk memulihkan nama baik putrinya dimanapun dia berada saat ini.
"Mbak Sari mau membantu?" Kali ini pak Agus bertanya mewakili pak Hisyam yang masih terisak.
Sari menoleh ke arah Doni meminta persetujuan darinya.
"Kita …," Sari menggantung perkataannya, Doni pun mengangguk setuju.
"Ehm, baiklah saya akan coba bantu tapi … jangan terlalu berharap, tetap berdoa dan meminta pertolongan Yang Kuasa ya pak."
Sari berpesan agar pak Hisyam tidak terlalu kecewa dengan hasilnya. Ia beralih pada pak Agus untuk menanyakan informasi yang ia ketahui tentang Shinta.
"Pak Agus sudah sampai mana membantu pak Hisyam?"
Pak Agus melirik ke arah pak Hisyam dan juga istrinya.
"Saya mencoba mencari keberadaan Shinta mbak, tapi sulit sekali. Ada tabir yang menyelimuti Shinta, dan saya nggak sanggup menembusnya!"
"Tabir gaib?" Sari mencoba memastikan.
"Sepertinya begitu mbak, dukun yang berada dibalik musibah ini kayaknya bukan orang sembarangan. Ilmu saya belum setinggi itu," pak Agus tampak murung.
"Hhm, sebenarnya masalahnya bukan pada tinggi atau tidaknya ilmu pak Hisyam. Kekuatan sejati yang sebenarnya hanya ada pada Kekuasan Illahi, manusia hanya menjadi perantara saja. Tinggal manusia memilih penguasa sejatinya atau bersekutu dengan iblis." Sari menjelaskan pada pak Agus.
"Lalu kita harus bagaimana mbak?"
Sari menatap Doni berharap suami tercintanya itu memiliki rencana.
"Beb?"
"Tabir gaib itu dibuat agar Shinta tidak terdeteksi rupanya, mengaburkan pandangan mata setiap manusia biasa."
"Iya, terus apa rencana kamu?"
Mereka saling bersitatap, "Kita patroli malam?" jawabnya dengan seringai jenaka.
"I like it, let's do it beb!" (Aku suka itu, ayo kita lakukan beb!)
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...selamat sore teman2 selamat hari Senin yaaa, semangat selalu awali Minggu dengan senyuman biar tambah cantik n ganteng selalu😁...
...mohon maaf mbak Sari slow up dl ya sampai akhir bulan ini. Too busy this month, byk kegiatan yang menyita waktu dan pikiran 🙏...
...ohya numpang promo yaa, sambil nunggu mbak Sari ma mas Doni patroli malam bisa mampir ke novel horor saya terbaru....
...🌼Jeritan Tengah Malam🌼...
...mengambil tema pesugihan bayi bajang yang dilatari balas dendam wanita cantik bernama Asih....
...jangan lupa tinggalin like yaa, vote Suka2 aja kasih bunga boleh apalagi bunganya dari uang🤑 nda nolak saya mah🤭...
...have a nice Sunday eeh salah🙈...
...jaga kesehatan yaa semuanya karena kenyataan butuh sehat bukan sekedar uang aja,...
...cium sayang saya untuk reader kesayangan😘😘...