Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Serangan Pertama



"O mijn God!" (Oh my God!)


Eric berteriak tak percaya, ia mundur beberapa langkah. Kehadiran Nyai Laksmi dari asap tipis kekuningan sungguh tak masuk di logikanya. Eric tak pernah sekalipun bertemu hantu ataupun sejenisnya. Karena pemahamannya berbeda tentang kegaiban.


Eric percaya ada dunia lain di kehidupan ini dan itu, dunia orang-orang mati yang menjalani kehidupan setelah kematian. Bukan dunia hantu gentayangan layaknya kepercayaan orang Jawa.


"Sari! Siapa dia?! Kenapa, kenapa dia bisa muncul dari asap? Ini tipuan sulap kan?"


Eric masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Sari meski nyai Laksmi secara nyata telah hadir di depannya. "Ini bukan sulap Eric, its real!"


Sari melipat kedua tangan di depan dada. Ia menatap Eric intens. "Perkenalkan ini adalah nyai Laksmi, salah satu dari ratusan lelembut yang ada di pihakku."


Merasa diperkenalkan, nyai Laksmi menjura pada Eric dan tersenyum. "Maaf jika kehadiran saya mengejutkan anda!"


Eric meletakkan satu tangannya di kepala dan satu lagi di pinggang, "Di-dia bicara?"


"Kau pikir lelembut nggak bisa bicara?" Sari balik bertanya.


Eric mengusap wajahnya kasar, ia takjub sekaligus takut.


"Apa dia baik?"


"Saya? Nyai Laksmi baik, tapi bisa buruk saat manusia atau yang lainnya berlaku buruk juga." Nyai Laksmi tampak tak sabar ingin menjawab. Ia tahu Eric takut padanya, itu sebabnya ia sedikit gemas.


"Oh … ya, maaf!" Eric salah tingkah, ia gugup dipandang lelembut cantik yang berkemben kuning terang.


"Nyai Laksmi adalah contoh dari yang aku maksud tadi. Dia ada dipihakku, kamu nggak perlu takut sama Nyai, Eric?!"


Sari mulai menjelaskan semuanya pada Eric, dari awal sampai akhir secara garis besar. Nyai Laksmi mengikuti Sari dibelakang, ia pun ikut duduk mendengarkan penjelasan Sari. Sesekali nyai Laksmi mengangguk dan tersenyum memperkuat penjelasan Sari pada Eric.


Eric melongo tak tahu harus bicara apa. Ia tak menyangka kedatangannya ke Indonesia akan membawanya pada peristiwa besar sepanjang hidupnya. 


"Ini gila, benar-benar gila Sari!" Ia menatap Sari tak percaya lalu menatap Nyai Laksmi yang sedang tersenyum padanya.


"Mom Adeline memang pernah bercerita padaku tentang keistimewaan dirimu, tapi aku tak pernah mempercayainya. Itu mustahil!"


"Dus je gelooft het nu?" (Jadi kau sekarang percaya?)


Eric tak menjawab, tatapannya tak lepas dari nyai Laksmi. "Bo-bolehkah aku …,"


Eric bertanya pada Sari seraya menunjuk pada Nyai Laksmi, dan Sari pun mengangguk. Eric mendekati nyai Laksmi dengan ragu, tangannya terulur perlahan. Ia hendak menyentuh Nyai Laksmi.


"O mijn God! hij is echt, dia benar-benar nyata!" Eric histeris dan menjambak rambutnya sendiri. 


(Oh my God! Dia nyata,)


Ia berbalik dan kembali berjalan mendekati Sari. "Aku gila, aku sudah gila! Aku menyentuhnya Sari! Aku menyentuhnya!" 


Eric kembali berteriak membuat nyai Laksmi keheranan."Dia sepertinya memang gila Sar!" Bisiknya perlahan, membuat Sari tersenyum.


"Eric, berhenti! Kau bukan anak kecil yang baru ketemu sama setan kan?"


Eric menghiraukan perkataan Sari ia terus saja berjalan mondar mandir tak karuan sambil menatap sang nyai. Sari dibuat jengkel melihatnya.


"Eric, stop it!"


"Eric! Stop it and listen to me now!" Kali ini suara Sari terdengar begitu kesal dan menekan Eric, hingga ia pun berhenti lalu duduk.


"Dengarkan aku, aku perlu bantuanmu disini ok?" Sari menunggu respon Eric.


"Baiklah, kau butuh apa?"


Sari lega, Eric mulai bisa memahami keadaan. Sari mulai berbicara serius pada Eric. Ia meminta Eric untuk tetap berada dirumah Saka dengan penjagaan ketat. Ia juga meminta Eric menjaga Kania untuknya. Selama beberapa minggu kedepan Eric dan Kania dilarang keluar dari rumah demi keselamatan mereka.


Sari harus benar-benar memastikan tidak ada celah untuk Airlangga. Ia harus menjaga orang-orang yang ia sayangi. Tragedi Mang Aa, Bagas, Ahmad, dan Rara tidak akan terulang lagi baginya.


"Baiklah aku akan menuruti perintahmu! Tapi tolong berjanjilah padaku Sar!" Eric menatap mata indah Sari dalam. 


"Kembalilah dengan selamat bersama suamimu! Aku berjanji pada Mom Adeline dan Dad Barend untuk menjagamu!" Lanjut Eric penuh harap.


"Tentu, Eric! Aku berjanji, asal kau tepati tugasmu! Aku harus fokus menghadapi Airlangga, sedikit saja kesalahan akan berakibat fatal pada kalian!"


Sementara itu di sebuah desa di pinggiran kota Malang. Empat orang berjalan dengan tegap. Pandangannya menyapu bersih sekitar. Dengus nafas kasar sesekali terdengar dari mereka. Keempatnya berdiri di batas desa. 


"Ini tempat yang bagus!" Salah satu diantara mereka berkata. Suaranya aneh seperti ada dua orang berbicara dalam satu tubuh.


"Kita bisa mencari makanan disini, jauh dari perkotaan dan penduduknya juga lumayan." Suara serak dan berat terdengar menimpali dari salah satu lelaki dengan mata hitam sempurna.


Sari kejauhan nampak dua warga desa tengah berjalan kaki. Seorang pria bercaping dan membawa seikat besar rumput di kepala, sedangkan yang satu memakai jarik dengan menggendong bakul berisi rantang makanan dan ceret minum. Sepasang suami istri penduduk desa itu.


Keempatnya saling berpandangan, dan tersenyum. "Sebaiknya kita bertanya pada mereka," salah satu dari mereka menatap yang lain dengan seringai aneh.


Tak lama keduanya telah mendekat, tatapan penuh tanya nampak di wajah keduanya. Empat orang asing yang seperti menunggu mereka melintas, keduanya belum pernah melihat empat orang itu jadi kecurigaan jelas terlihat dari mata sepasang suami istri itu.


"Maaf ibu, boleh saya bertanya?" Slamet mendekati dengan senyuman ramah.


Ibu itu hanya mengangguk dan tersenyum, ia menoleh ke arah suaminya. 


"Apa ini jalan ke desa Telagasari? Kami sepertinya tersesat?!" Slamet kembali bertanya, ia menoleh ke arah tiga orang lainnya.


Sang suami menatap keempatnya dengan curiga. Ia memperhatikan dari atas sampai bawah. "Kalian para pendaki? Tersesat?" Tanya si lelaki pada keempatnya.


Ditanya demikian keempatnya mengangguk pelan. Si lelaki kemudian menjawab."Desa Telagasari ada di bukit sebelah sana disini desa Sumber. Kalian harus berjalan kaki melintasi hutan Pinus itu sebelum mencapai desa."


"Ternyata masih jauh," Minto berpura pura menghapus peluh.


"Kalian haus ya, ayo minum dulu. Saya ada sedikit makanan dan minuman." Si ibu yang iba segera menurunkan bakul dan mengeluarkan minum serta makanan kecil di rantang.


Karyo dan Minto tersenyum, jebakan mereka berhasil. Si ibu tak sadar maut mengintainya. Ia asik menuangkan air ke gelas bambu tanpa memperhatikan perubahan mata Minto.


"Ini, minumlah!" 


Si ibu mengulurkan tangannya yang langsung disambut Minto. 


"Terimakasih," Minto menyeringai, gigi kecil tajam terlihat di balik mulutnya, mata yang menghitam sempurna dan suara yang tak lagi sopan.


Si ibu gemetar melihat perubahan pria di depannya, ia pun berteriak. "P-pakne!"


Terlambat, tangan Minto telah berubah menjadi sulur hitam yang mengikat kuat tangan sang ibu, dalam satu tarikan saja si ibu berada dalam dekapan Minto. Dalam satu kedipan mata, leher si ibu sudah terperangkap dalam mulut Minto.


Sang suami yang mendengar teriakan istrinya langsung mengambil sabit dan menyerang Minto. Naas Karyo menyambar tubuhnya cepat. Menepis sabit di tangannya dengan cakar tajam. Tangan si suami nyaris putus. Sedetik kemudian tubuh rentanya lemas kehabisan darah.


Karyo dan Minto menyeringai dengan mulut penuh darah segar. Lidah mereka terjulur panjang dan menari layaknya reptil. Slamet disusul Mbah Dul mendekati tubuh dua warga yang kini tergeletak tak bernyawa. 


"Waktunya makan!"