
Sari mengedarkan pandangan, energi itu berbeda dengan lelembut biasa. Energinya mirip dengan energi Nyai Laksmi, hanya saja ini sedikit lebih kuat. Sari mundur beberapa langkah, sosok pria muncul dari sudut ruangan.
Seorang kakek tua bungkuk dengan tongkat kayu menyeringai padanya. Kepalanya yang hanya ditumbuhi beberapa helai rambut berwarna putih membuat Sari teringat pada salah satu tokoh dalam film yang pernah dilihatnya.
"Kau memiliki jiwa yang abadi cah ayu!"
"Mungkin, apa kakek bagian dari mereka juga?" tanya Sari mengedikkan kepala pada sekumpulan lelembut yang satu persatu mulai musnah menjadi debu.
Kakek tua itu menggeleng. Ia tersenyum pada Sari dengan lembut. Ia berjalan perlahan ke arah Sari.
Siapa dia? Sepertinya dia kawan, energinya tidak mengancamku!
"Sepertinya mereka bisa mengatasinya tanpa dirimu," ujarnya dengan senyum melengkung.
Sari masih mengamati kakek tua itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Merasa diperhatikan kakek tua itu ganti menatap Sari. Ia risih dengan tatapan Sari.
"Hati-hati dengan matamu cah ayu, nanti kamu bisa naksir sama saya!"
"Eeh …," Sari menahan tawanya.
"Hei, dulu aku idola pada jamannya! Jangan menertawaiku begitu!"
Sari tak mampu menahan lagi tawanya meledak, apalagi melihat ekspresi konyol si kakek.
"Menghina sekali tawamu, ya … ya, terserah kau saja cah ayu!"
"Mari ikut denganku, ada yang harus aku bicarakan denganmu!"
"Eh, saya?"
"Iya, kamu! Masa suami kamu yang tengil itu!" ujar si kakek kesal sambil mengarahkan tingkat kayunya pada Doni.
"Tapi …," Sari ragu ia bahkan tidak mengenal kakek ini.
"Dia bisa mengatasinya bersama penjagamu, jika itu yang kau khawatirkan!"
Kakek itu berjalan menjauhi Sari, dan Sari masih tak bergeming. Ia ragu untuk mengikuti kakek tua itu. Kakek bungkuk itu berbalik dan menatap Sari.
"Kau ragu? Tenang cah ayu aku nggak akan membuatmu jadi istri kedua ketiga apalagi menjadi selir!" Kakek itu terkekeh.
"Huh, dasar kakek tua! Baru aja ketemu nyebelinnya tingkat dewa!" sungut Sari yang akhirnya mau mengikuti langkah kaki kakek tua itu.
Ia melirik sejenak pada Doni, dan berbisik padanya.
"Aku pergi sebentar beb, tolong bersihkan semuanya untukku!"
Kakek misterius itu membawa Sari berpindah dimensi. Entah apa yang ingin dibicarakan si kakek bungkuk hingga harus mengundang Sari datang ke tempat tinggalnya.
Sari berada di sebuah tempat asing. Ia baru saja beberapa langkah ia mengikuti kakek bungkuk itu, dan seketika Sari telah tiba di sebuah rumah kecil dari bambu.
Kicau burung merdu menyambutnya, suara air terjun yang terletak tak jauh dari rumah itu sangat menenangkan. Ditambah lagi semburat senja yang menawan di kaki langit.
"Duduklah Sar!"
"Kakek tahu nama saya?" tanya Sari keheranan.
"Siapa yang tidak mengenal sang Dewi Kematian di jagad lelembut? Kau bahkan lebih terkenal dari para petinggi lelembut disini!" sahut kakek itu seraya menuangkan air ke cawan kecil.
"Petinggi lelembut ya? Apa ada hal seperti itu disini?" Sari menerima cawan yang disodorkan padanya.
Kakek itu kembali terkekeh. "Banyak hal yang mirip antara dunia manusia dan dunia lelembut cah ayu. Contohnya seperti manusia yang ditakdirkan memiliki pasangan masing-masing, di dunia para lelembut juga berlaku hal demikian,"
"Hhm, iya saya tahu itu. Jadi, ada maksud apa kakek bawa saya kesini? Bukan untuk healing atau semacamnya kan?" tanya Sari menyelidik.
"Ya, sebenarnya saya mau ajak kamu jalan-jalan tapi takut mengganggu projects masa depan kamu dan suamimu!" Kakek itu nyengir dan cengengesan menggoda Sari.
Sari yang terkejut, langsung menyemburkan air minum dari mulutnya.
"Eeh, kakek ngintip saya! Kenapa tahu hal itu segala!"
"Apa yang tidak aku ketahui dari dirimu Sar?!" Kakek itu tertawa kecil.
Sialan, kenapa para lelembut selalu saja curang!
"Namaku Wisesa, aku adalah penjaga hutan gaib ini!" katanya saat ia telah puas menertawakan Sari.
"Iya, terus?!" sahut Sari malas.
"Bulan Abang akan terjadi delapan hari lagi. Kau tahu itu kan?"
Wajah kakek Wisesa seketika berubah serius. Sari terperangah tapi kemudian dia mengangguk.
"Sebenarnya apa yang bakal terjadi saat hari itu tiba kek, semuanya masih teka teki bagi saya?"
Kakek Wisesa menghela nafas panjang. Ia kembali menuangkan air dalam cawan kosong Sari.
"Bulan Abang besok terjadi bertepatan dengan hari kejayaan setan. Hari dimana sebuah buku sihir terkuat akan muncul," terang kakek Wisesa.
"Hari kejayaan setan … hari kelahiran Pandji?" gumam Sari.
"Aah, iya hari kelahiran bocah itu. Dia diberkati banyak anugerah kekuatan alami yang mengalir dari ayah dan ibunya. Sungguh wadah yang sangat bagus," kakek Wisesa mengelus kepalanya yang mengkilap.
"Lalu buku apa yang dimaksud kek, dan apa hubungannya dengan saya nanti?"
Kakek Wisesa menatap Sari. Ia melanjutkan penjelasannya.
"Buku sihir terkuat yang menjadi rebutan para bangsawan Jawa dari trah ksatria pelindung raja. Dulu buku itu menggegerkan tanah Jawa pada zamannya. Pemiliknya kemudian melindungi buku itu dengan mantra kuno dan dititipkan pada leluhur Pandji,"
"Buku itu berisi sihir hitam mematikan yang dibuat dan diselesaikan pada hari kejayaan setan,"
"Mengerikan, apa itu sihir hitam yang saya lihat pada turnamen?"
"Bukan, sihir hitam itu berbeda. Yang kau lihat dalam turnamen adalah sihir hitam kuno yang memasukkan iblis dengan sengaja dalam tubuh pilihan. Jiwa asli dari manusia pilihan itu perlahan akan hancur, dan tubuhnya akan dikuasai sepenuhnya oleh iblis."
Sari bergidik ngeri membayangkannya. Kakek Wisesa meminum air dari cawannya membasahi tenggorokannya yang kering, lalu kembali bercerita.
"Buku sihir MATI itu adalah nama buku yang mengerikan bukan? Sihir hitam untuk balas dendam. Aku tidak habis pikir kenapa gadis itu menciptakan buku mengerikan itu!"
"Buku sihir MATI? Apa ada buku sihir HIDUP juga?" tanya Sari skeptis.
Kakek Wisesa tertawa, "Coba saja kau cari tahu di perpustakaan milik Bayu, aku pernah mendengarnya tapi aku tidak tahu pasti dimana keberadaannya."
"Yaaa harusnya kan begitu, dalam kehidupan selalu ada sisi kebalikan. Ada baik dan buruk, surga dan neraka, seharusnya ada Mati dan Hidup juga," ujar Sari berusaha melogika.
"Ya, kau benar Sar! Selalu ada lawan saat ada kawan." sambung kakek Wisesa.
"Pertanyaan saya belum dijawab kek, apa hubungannya dengan saya?"
"Buku itu hanya bisa dibaca satu jam saja mulai dari jam 12 malam sampai jam 1 dinihari pada hari kejayaan setan,"
"Eh, hanya satu jam? Mana cukup bisa mempelajari semua sihir itu!" Sari keheranan dengan aturan itu.
"Terus kalo nggak cukup waktunya gimana kek? Membaca buku sihir itu nggak segampang baca buku biasa kan?!"
"Ya harus menunggu lagi sampai 35 hari kemudian cah ayu!"
Sari menggelengkan kepalanya, kepalanya pusing memikirkan aturan membaca buku Mati.
"Untung bukan saya yang baca buku itu kek, baru dengar aturannya begitu aja kepala saya udah pusing! Malas baca duluan!"
Kakek Wisesa tertawa mendengar celotehan Sari, ia kembali melanjutkan penjelasannya.
"Satu lagi aturannya buku itu hanya bisa dibaca oleh seorang wanita. Jika ada lelaki yang nekat dan berusaha membacanya maka bisa dipastikan lelaki itu akan terkena balak!"
"Dan itu akan dilakukan oleh orang yang kau cari, hanya dia yang bisa membacanya. Kau harus menjaganya, aku tahu kau membutuhkan gadis itu untuk mencari Airlangga bukan?"
"Maksud kakek, Mikaila?"
Kakek Wisesa mengangguk, dan menatap Sari dalam. Ia menaruh harapan besar pada Sari untuk dapat melindungi Mika hingga ia menjalankan peran pentingnya mendampingi sang ksatria.
Wah sepertinya aku punya side job sebagai baby sitter, eh bukan girl sitter!
Semoga bayarannya sepadan, semua harus ada hitungannya kan?!