Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Munculnya Pilar Kegelapan



Sari dan Doni melanjutkan acara jalan-jalan santai mereka, tapi sayangnya mood Sari sudah berubah jelek. Rasa kesal dibumbui mual karena lelembut tadi membuatnya tidak lagi berselera menikmati senja.


"Kita pulang yuk! Aku capek!" 


Sari mengusap tengkuknya, rasanya ada tekanan yang semakin berat setiap ia melangkahkan kaki. 


"Ehm, bad mood?"


"Iya, gara-gara tadi!"


"Tumben kamu lepasin tu makhluk biasanya main sikat aja?!"


Sari menatap Doni sejenak lalu tersenyum masam memalingkan muka ke arah lain.


"Aku kasihan aja, dulu semasa hidup dia menderita dan sekarang udah mati pun masih dipake orang jahat buat jadi pengikutnya. Ngenes bener nasibnya!" jawab Sari datar tak ada emosi dalam kata-katanya.


Doni yang menyadari hal itu menghentikan langkahnya membuat Sari ikut berhenti dan menatap Doni bingung.


" …"


"Kenapa kamu nggak bantu dia buat lepas dari itu dukun?" tanya Doni penasaran.


"Ehm, aku lagi sayang tenaga alias males ngurusin hal sepele. Masih ada hal besar yang butuh tenaga banyak. Lagi pula, aku penasaran sama laki-laki itu dia sepertinya nggak asing,"


"Laki-laki?"


Sari kembali menatap suaminya, "Pembisik itu, laki-laki berbaju lurik. Dia sopan sekali, tapi aku nggak tau apa hubungannya sama Arya,"


"Bisa juga kan dia leluhurnya Arya,"


"Aku rasa bukan, entahlah aku seperti kenal dia apa karena muka dia mirip Bayu ya?"


"Bisa jadi, mungkin masih terhitung saudara sama dia kali?!" sahut Doni.


Sari berpikir sejenak, mungkin benar yang dikatakan Doni jika sosok lelaki itu adalah khodam leluhur milik Arya. Sari merasa ia akan membutuhkan bantuan dari lelembut lelaki tampan dan sopan itu.


"Mungkin saja, cuma aku ngerasa aneh aja kenapa dia repot-repot minta bantuan padahal kalo memang dia leluhurnya kan bisa bantuin sendiri,"


"Itu membuktikan bahwa ada keterbatasan yang juga dimiliki oleh para penjaga. Tidak semua hal bisa dilakukan mereka, karena bantuan sejati itu datangnya hanya dari Gusti Allah bukan para penjaga."


Sari tersenyum dengan perkataan Doni,


"Seperti para penjaga ku kan? Nggak seharusnya aku mengandalkan mereka terus, tapi …,"


"Ya anggap aja kasus kamu ini pengecualian, tapi aku juga berharap kita nggak selamanya bergantung sama Bimasena dan lainnya," 


"Suatu hari nanti kamu harus rela melepaskan mereka. Menjalani hidup lagi dengan normal," Doni mengutarakan keinginan yang tersirat dalam perkataannya.


Hembusan angin kecil dan sedikit menyakitkan meniup anak rambut Sari dari belakang. Seolah berbisik dan memperingatkan sesuatu. Bayangan bulan merah datang membawa kekacauan. Pertarungan secara frontal antara bangsa iblis dan manusia akan kembali terjadi.


"Waktunya tiba!"


...----------------...


Malam itu Sari ditemani Doni dan keempat penjaganya telah bersiap. Dengan jubah panjang dan cadar yang menutup wajah, keduanya menunggu momen yang tepat. Menatap jauh ke depan, memperhatikan situasi yang akan terjadi segera.


"Kamu yakin ini sekarang?" 


Doni bertanya tanpa berpaling, matanya mengedar sekitar mantap tajam bak elang mengintai mangsa.


"Kapan kegelapan menepati janji?" jawab Sari.


"Aku yang merasa dingin atau memang cuaca sedang aneh?" Doni kembali bertanya pada Sari.


Mereka bersitatap, "Something weird is happening!". (Sesuatu yang aneh sedang terjadi!)


"Lihat perubahan bulan itu Sar!" 


Bimasena mengedikkan kepala ke arah bulan. Mereka mendongak menyaksikan perubahan bulan yang perlahan tertutup lingkaran hitam.


"Ada yang bisa jelasin?" Sari bertanya tanpa berkedip dari tatapannya ke arah bulan.


"Pertanda buruk," Doni bergumam pelan.


Bulan seperti tertutup awan hitam, perlahan awan hitam turun perlahan menyentuh garis batas bumi. Pilar hitam raksasa seperti menyangga langit dalam sekejap kemudian menghilang meninggalkan awan hitam yang masih tampak jelas menutupi cahaya rembulan.


"Migrasi iblis sudah dimulai. Portal itu terbentuk menyeberangkan sebagian kecil pasukan iblis," Bimasena menimpali perkataan Doni. 


"Apa rencana kamu Sar?" Bimasena bertanya pada Sari yang masih asik memperhatikan fenomena tak biasa itu.


"Hhm, just see … ini tugas kesatria baru, kita hanya akan melindungi Mikaila," jawab Sari.


"Bagaimana dengan rencana mas Al, apa kita akan membantunya?" yanya Doni.


Sari diam lalu menatap suaminya, "Tentu kita akan memberi bantuan, tapi tidak sekarang. Untuk saat ini aku pikir dia bisa mengatasinya, bantuan juga akan datang dari Surabaya,"


"Aku akan fokus membantu saat gerbang dua dunia terbuka. Ketika pintu itu terbuka para iblis dari berbagai tingkat akan berusaha keluar, tidak mungkin mas Al mengatasinya sendirian. Dia harus menyelamatkan Pandji dan kita akan mengurus sisanya,"


Sari dan yang lainnya melihat sebuah mobil keluar dari kediaman Alaric. Pandji, Mika dan satu orang kesatria muda ada didalamnya.


"Ayo, kita ikuti mereka!" ajak Sari.


"Lalu, gimana yang disini?" tanya Doni


"Mas Al bisa mengatasinya, kita harus menjaga aset kan? Dan Mika adalah aset penting kita!"