Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Perang Besar??



Pintu gerbang dunia bawah menutup rapat dan hilang. Menyisakan dinding hitam tak kasat mata yang tak akan pernah kembali terbuka lagi untuk selamanya.


Selamanya? Entahlah, anak dalam ramalan itu telah muncul. 


Pandji bisa saja kembali dan memporak porandakan dunia iblis. Meruntuhkan dinasti sang raja untuk sebuah tujuan. Siapa yang bisa mengetahui masa depan? Tak ada.


Raja iblis geram, ia murka. Pandji telah memasuki dan melanggar otoritasnya sebagai penguasa dunia bawah. Istananya sebagian hancur dan kelima pangeran termasuk putra mahkota tewas mengenaskan.


Raungan kesedihan bercampur amarah menggema ke seluruh penjuru dimensi dunia bawah.


"B*ngsat! Beraninya anak itu masuk ke dalam wilayahku dan membawa mpu Sapta pergi!" Raja iblis murka, lidah api menyelimuti seluruh tubuhnya. 


Panglima yang tersisa hanya bisa menunduk ketakutan dan diam seribu bahasa.


"Damar! Pengkhianat! Aku takkan melepaskanmu!"


Raja iblis meraung dalam dendam berkepanjangan, "Aku berjanji akan mencarimu ke tujuh dunia, anak manusia!"


Tak ada yang berani bicara, mereka takut pada sosok sang raja iblis yang berdiri tinggi menjulang. Tubuhnya berkali lipat lebih besar dari tubuh aslinya.


"Aku bisa membantumu!"


Raja iblis mendengus kasar, menatap ke arah sumber suara yang berada di barisan belakang pasukan iblis. "Siapa kau, beraninya manusia masuk ke dalam wilayahku!"


Airlangga tertawa, lalu menatap tajam raja iblis. "Manusia? Perhatikan aku dengan baik!"


Airlangga berjalan perlahan mendekati sang Raja melewati para panglima iblis yang hanya bisa saling berpandangan dalam diam.


Airlangga berubah, tubuhnya menjadi dua kali lebih tinggi dan besar. Sayap hitam besar mengembang dari punggungnya. Wajahnya berubah menakutkan dengan tulang pipi tinggi dan barisan gigi tajam. Kulitnya putih pucat menampakkan setiap pembuluh darah. Rambut hitam panjangnya tergerai melewati sepasang sayap.


Raja iblis tertawa melihat perubahan Airlangga. "Kau rupanya iblis yang bersembunyi di dunia manusia!"


Airlangga berhenti tepat di depan raja iblis. Ia memberikan penawaran padanya,


 "Aku akan membantumu memburu anak itu tapi sebelumnya aku ingin meminta bantuan darimu!" Airlangga menunggu reaksi raja iblis yang menatapnya dari atas sampai bawah.


"Bantuan?" Amarah Raja iblis masih belum mereda, suaranya terdengar parau dan menggelegar.


Lidah api di seluruh tubuhnya membesar, wajahnya mendekati Airlangga memastikan permintaannya tadi.


"Aku perlu pasukanmu untuk menghadapi seseorang."


Raja iblis menelisik wajah Airlangga dari dekat. Ia kemudian berjalan mengitarinya. "Apa yang kau tawarkan padaku?"


"Anak itu tentu saja, kau ingin tubuhnya bukan? Tubuh yang sangat istimewa!"


Raja iblis diam sejenak, "Apa kau yakin bisa membawanya hidup-hidup padaku?!"


"Aku yakin, itu hanya masalah kecil bagiku. Anak itu bukan tandinganmu!"


"Dia bahkan menghabisi hampir seluruh panglima andalanku, bahkan kelima putraku!" Raja iblis kembali meraung mengingat kematian para pangeran. "Bagaimana kau bisa yakin jika bisa membawanya kemari?!"


"Huh, itu karena mereka terlalu meremehkan kekuatan Pandji! Memandang lemah anak ingusan tanpa memperhitungkan kekuatan tersembunyi dalam dirinya!" Airlangga berkata setengah mengejek membuat berang raja iblis.


"Apa katamu!" Lidah api semakin menyala terang seolah siap membakar Airlangga yang tanpa takut menatap sang Raja.


"Itu kenyataannya, putra-putramu terlalu berambisi mendapatkan tubuh anak itu! Saling berebut hanya untuk menguasai tubuh dan buku itu!" Raja iblis memundurkan tubuhnya, perkataan Airlangga benar. 


Para putranya memang bersaing dan sangat berambisi mendapatkan tubuh istimewa Pandji. Tubuh yang sejatinya bisa digunakan sebagai inang terbaik untuk menggantikan tubuh tuanya.


"Apa jaminanmu?" Raja iblis melunak.


"Diriku sendiri dan sekutuku. Aku immortal tak mudah dikalahkan oleh manusia biasa! Dan aku menawarkan ini padamu!"


Telapak tangan Airlangga bergerak memutar, kabut tipis terbentuk dan didalamnya menunjukkan lima pusaka yang hilang. Pusaka sang empu yang selama ini dicari Raja Iblis.


"Aku tahu dimana pusaka-pusaka ini berada dan aku akan mendapatkannya untukmu!"


Airlangga tersenyum puas, negosiasinya berhasil. Bayangan kemenangan ada di pelupuk matanya. Sepuluh ribu pasukan iblis ditambah kekuatan sekutunya di dunia manusia membuatnya yakin bisa mengalahkan Sari atau setidaknya memboyongnya menjadi ratu di kerajaan miliknya.


Menyerahlah atau mati!


******


Sari bersama Saka, Mika, dan Doni berada di ruang kerja. Mereka berkumpul membicarakan rencana menghadapi Airlangga.


"Airlangga bersembunyi di sebuah hutan di pulau Jawa. Hutan tergelap dan terangker yang tidak bisa dimasuki manusia biasa." 


"Coba aku tebak pasti alas Purwo kan?" Saka langsung menyambar.


Sari tersenyum kecut lalu menjawab, "Alas Lali Jiwo!"


"Apa?! Alas Lali Jiwo? Lereng gunung Arjuno?" Doni terperanjat.


Sari mengangguk, sementara Mika dan Saka saling memandang. "Apa itu mengerikan?" Mika bertanya kemudian.


Doni menghela nafas, "Kabarnya banyak pendaki yang hilang saat memasuki alas Lali Jiwo. Hutan itu ditempati banyak sekali jenis makhluk halus."


"Seperti gunung lain yang memiliki pantangan, gunung Arjuno juga memiliki pantangan tertentu bagi para pendakinya. Kabarnya disanalah Raden Arjuna bertapa dan mendapatkan kekuatannya. Kekuatan yang menggemparkan semesta hingga Semar diutus kayangan untuk menghentikan semedinya." Doni kembali menambahkan.


"Apa bedanya dengan Alas Purwo mas Doni? Kan sama-sama angker juga?" Saka bertanya sembari menuangkan teh ke cangkirnya.


"Ya beda mas Saka, orang tempatnya juga lain!" Doni malas menjelaskan pada Saka karena jelas pria dengan dandanan perlente di depannya ini tidak akan bisa memahami meski dijelaskan berkali kali.


"Alas Lali Jiwo, gunung Arjuno …," Sari tidak meneruskan kata-katanya. Ia berpikir sejenak lalu mengambil peta yang ada di meja kerja Saka.


Tangannya menarik garis dan menghubungkan dengan situs Trowulan tempat dimana dulu ia bertemu dengan Airlangga. 


"Kalau aku nggak salah ingat di kawasan ini ada candi dan petilasan yang berasal dari kerajaan Majapahit."


"Asal dari Airlangga," sahut Doni.


"Majapahit? Airlangga?" Mika terkejut.


"Hhm, Airlangga dan kembarannya Lingga adalah kesatria dari Majapahit. Mereka terkena kutukan karena tidak bisa melindungi putri Pasundan yang ditaksir raja Hayam Wuruk. Mereka menjadi immortal dan harus mengalami penderitaan cinta sama seperti yang terjadi pada rajanya." Sari menjelaskan pada Mika.


Mika mengerjap tak percaya lagi dengan apa yang baru saja ia dengar. "Wow, tunggu? Aku nggak pernah dengar cerita ini aunty! Are you seriously?"


"This is the untold story Mika. Sisi lain sejarah yang mungkin tidak akan pernah terungkap." Sari duduk di seberang Mika, meminum tehnya sejenak.


"The untold story?" Mika mengulang perkataan Sari dan Sari pun mengangguk.


"Percaya atau tidak tapi kenyataannya kita akan berhadapan dengannya." Sari kembali menegaskan.


Sebuah bisikan menyapa Sari, matanya berkilat merah. Airlangga tersenyum padanya, matanya menatap tajam Sari dan menunjukkan barisan pasukan iblis di belakangnya. Mereka pun berbicara melalui pikiran yang terhubung.


"Aku menunggumu! Lihatlah mereka, menakjubkan bukan?!"


Mata Sari membulat sempurna. Puluhan ribu pasukan iblis dan maroz tergabung bersama Airlangga. Belum lagi barisan makhluk penghisap darah sekutu Airlangga dan barisan manusia penganut iblis.


"Oh tidak! Kau benar-benar gila Airlangga!"


"Aku gila? Tidak, aku hanya sedikit terobsesi padamu!" Airlangga kembali berbicara di dalam pikiran Sari. Ia kembali mengembangkan senyum.


"Kau bisa menghancurkan dunia manusia Airlangga!"


"Apa peduliku? Aku bukan manusia, sama sepertimu! Aku akan menjadi penguasa dunia!"


Airlangga tertawa dengan lantang, ia merentangkan kedua tangannya ke atas berteriak pada pasukannya yang diikuti suara seruan perang dari pasukan iblis.


Suara yang menggema menggidikkan telinga Sari. Seluruh bulu di tubuhnya meremang. Sari bahkan sampai berdiri dan memukul keras meja didepannya.


"Tidak! Inikah akhir dunia?!"