Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Rencana sang Kesatria



Dering ponsel terdengar memecah keheningan kamar. Sari beranjak dari kursinya meninggalkan buku tebal berisi mantra kuno. Sebuah nama tertera dilayar, Sari mengernyit dan segera menjawabnya.


"Ya mas, ada apa?" 


Sari mendengarkan dengan seksama suara dari seberang sana. Tanpa banyak bicara, Sari hanya mengiyakan dan menutup panggilan dengan gundah. Ia terdiam sejenak memikirkan sesuatu.


Sari kembali ke mejanya, menutup buku mantra dan kembali meletakkannya di deretan buku tebal kuno yang sengaja ia bawa dari rumah. 


"Apa aku harus terlibat? Tapi kalau aku nggak turun tangan …, cckk pilihan yang sulit!" 


Sari menimbang keputusan mana yang akan dipilihnya setelah menerima panggilan tadi. Pikirannya jauh menerawang memikirkan beberapa kemungkinan yang akan dihadapi.


"Ada masalah?" Doni mengagetkannya.


"Eeh …," Sari terkejut, ia tersenyum melihat Doni yang baru saja selesai melatih para kesatria muda.


"Udah selesai latihannya?"


Doni mengangguk ia langsung bisa menebak hanya dengan membaca raut wajah Sari.


"Tell me?!"  


Doni melepaskan pakaiannya dan berganti dengan pakaian santai. Ia menunggu Sari bicara, kegelisahan tampak jelas tercetak di wajah cantiknya.


"Aku rasa kita butuh jalan-jalan ke Jogja malam ini?" 


"Yogya? Kok tiba-tiba aja, apa ini penting?" Doni mendekati Sari.


"Ehm, mas Al telefon tadi. Dia menjelaskan situasi yang terjadi sekarang, dia memang nggak memintaku secara langsung tapi dari nada bicaranya sepertinya dia butuh bantuan kita!"


"Ehm baiklah, kita akan bantu mereka! Firasatku buruk beb, nggak ada salahnya kita bantu teman kan?" Doni meyakinkan Sari.


"Jadi kita bantu mereka?" tanya Sari sekali lagi, ada keraguan dalam dirinya.


Doni mengangguk dan tersenyum, mengusap lembut kepala Sari dan mengecupnya. 


"Kita pergi abis isya, pamitan dulu sama Saka takut dia nyariin kita."


Malamnya mereka dalam perjalanan menuju Yogya ketika Sari mulai merasakan aura jahat yang semakin pekat. Penguasa kegelapan sudah mulai menjalankan aksinya. Hal serupa juga dirasakan Doni.


"Sesak bener rasanya, hawa kematian seolah memayungi kota Yogya," ujar Sari lirih.


"Hmm, iya rasanya juga bikin sakit di badan, terus apa rencana kamu?" tanya Doni yang sesekali melihat ke belakang mobil melalui kaca spion samping.


"Aku tetap membantu tapi hanya akan mengawasi dan mencegah kekuatan lain dari luar Jogja masuk."


"Bikin kubah pelindung? Itu bakalan susah Yogya luas beb?!"


"No, itu tugas Pandji aku memilih mengawasi daerah lingkar luar. Ada kekuatan jahat lain yang datang dari luar Yogya!"


"Pandji?" Doni menatap Sari memastikan jawaban Sari tadi.


Mereka membuat barrier di sekitar Yogya, untuk apa?


Sari keluar dari tubuhnya melihat apa yang sebenarnya terjadi. Benar dugaannya seseorang memakai sihir hitam untuk membuat kubah raksasa.


Sari mendekati lapisan pelindung gaib dengan asap tipis kehitaman. Tangannya mencoba menyentuh lapisan tipis di depannya, sengatan energi cukup besar langsung menyengatnya. Kubah besar itu tampak memutari kota Yogyakarta.


Ini dibuat seperti penjara tapi untuk siapa?


Sari mengamati keadaaan sekitar, orang-orang berlalu lalang dan dengan mudahnya keluar masuk kota tanpa menyadari ada tembok gaib raksasa yang menjulang tinggi.


Sari kembali mencoba menembus dinding gaib itu, ia kembali tersengat energi yang menyakiti dirinya. Bahkan ketika dia memaksakan diri, Sari terpental mundur beberapa langkah.


Aku mengerti sekarang, kubah gaib ini dibentuk untuk memenjarakan orang dengan kemampuan supranatural. 


Sari berpikir keras, lalu ia teringat sesuatu. Ia yakin ini ada hubungannya dengan serangan iblis serigala yang menghebohkan kemarin malam. Sari segera kembali ke raganya, ia harus segera menemui ayahnya Pandji untuk membahas rencana mereka.


"Beb, keknya ada yang aneh sama kita ini! Dari tadi aku lihat dari kaca spion seperti ada tembok hitam tinggi, kulitku sampai sakit rasanya!" keluh Doni saat tahu istrinya telah kembali.


"Hhm, iya aku baru aja liat tembok itu dari dekat. Semoga ini tidak seperti yang aku pikirkan!"


Doni memacu kendaraannya lebih cepat menuju Pakualaman. Mereka tidak menyadari ketika Pandji dan Mika melewati mobil mereka dan pergi ke arah yang berlawanan.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di kediaman keluarga Abisatya. Sari bisa melihat dengan jelas kondisi rumah yang sedikit berantakan. 


"Malam mbak, mas …," sapa Alaric yang sudah menyambut kedatangan mereka di halaman depan.


"Kabar yang beredar sepertinya benar, saya bisa bayangin kekacauan kemarin mas," Sari berkata seraya menatap sekitar.


Alaric tersenyum masam, "Ya, begitulah! Ayo kita ke dalam ada yang harus kita bicarakan!"


Ketiganya tidak membuang waktu, ada hal penting yang harus direncanakan secara matang. Musuh yang mereka hadapi bisa jadi hanya iblis rendahan yang dikirim untuk melemahkan kekuatan.


Menyerah dan mengalah bukan pilihan untuk para kesatria ini.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...selamat malam semua...maaf up slow ya teman2 jadwal padat merayap dua Minggu ke depan, jadi agak tersendat buat nulis🙏...


...makasiih yg setia menunggu seperti saya yang selalu setia padamu eeeh🙈🤭...


...malamnya rada oleng ini, butuh obat ma es campur keknya🤪😂...


...MET istirahat semuanya, ...


...cium sayang saya untuk kalian😘...


...(rada jauhan tapi yaaa takut nda bisa lepas bahaya🤪)...