Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Gelang Iblis



Tubuh Candika yang penuh luka menjadi hal yang menarik bagi Sari. Luka cakaran dan goresan tampak jelas terlihat di tubuh yang belum bisa dikatakan tua itu. 


Ekspresi rumit juga menghiasi wajah Candika. Wajar saja siapa yang akan mengira jika dirinya lah sumber malapetaka besar yang tengah mengancam warga Yogyakarta. Dan siapa pula yang menduga jika Candika akan babak belur dihajar putranya sendiri.


Jika saja ia tidak berambisi memajukan kesatrian miliknya dengan memakai sihir hitam, semua kekacauan ini tentu tidak akan terjadi. Penyesalan kini sudah terlambat.


"Sepertinya den mas butuh perawatan," kata Sari iba.


Pasti berat menjadi orang yang paling bertanggung jawab apalagi harus kehilangan dua anaknya sekaligus. Kesedihan yang bahkan tidak sanggup Sari bayangkan.


"Badrika …," Candika menggantung kalimatnya.


"Dia sudah pergi den mas, saya bertemu dengannya tadi di Parangtritis!" sahut Sari cepat.


"Pandji ada disana?" Al bertanya pada Sari.


"Iya, tapi tidak berhadapan dengannya secara langsung. Badrika hanya mengintip dalam gelap,"


"Anak itu …," Candika menahan rasa geramnya.


Candika menunjukkan kembali wajah murung dan putus adanya. Tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari Badrika. Anak itu sedang menjemput ajalnya sendiri, begitulah yang terlihat dalam mata batin Sari. 


"Dimana Risa?" Sari segera bertanya pada Al, karena tujuannya datang adalah untuk memeriksa kondisi Risa.


Al menatap Sari sejenak lalu berpaling pada Candika.


"Dia ada di dalam, di dekat taman. Aku … tidak bisa mendekatinya. Badrika memasang sebuah gelang di tangan kirinya,"


"Gelang?"


"Iya, Risa menjadi semacam jaminan Badrika untuk mendapatkan buku sihir dan tentu saja …,"


"Tubuh Pandji?" Sari memastikan dan Al mengangguk.


"Aku mencoba untuk melepaskan gelang itu tapi rupanya tindakanku justru membahayakan nyawa Risa. Gelang itu secara otomatis mengenali kekuatan selain kegelapan. Jika ada yang berani mendekati Risa, kekuatan gelap dalam gelang itu langsung menyakiti dan bahkan membunuhnya!"


Sari berpikir sejenak, itu sebabnya kakek Wisesa memintanya datang memeriksa Risa. Hanya Sari yang bisa mendekati Risa, dalam tubuh Sari ada bagian dari kegelapan sama halnya seperti Mikaila.


"Boleh aku mencobanya?" tanya Sari.


Candika menatap Sari skeptis, ini kali pertama ia bertatap muka dengan wanita cantik dengan wajah indo Belanda yang khas. Seribu tanya berkecamuk dalam pikirannya.


"Apa wanita ini bisa melakukannya? Aku khawatir dia akan melukai Risa," 


"Hanya dia yang bisa melakukannya, aku percaya padanya!" Al meyakinkan Candika.


Sari melangkah masuk ke dalam menuju ke ruangan tempat Risa berada. Sungguh miris keadaan di dalam rumah. Seperti halnya diluar didalam rumah pun tak kalah kacaunya. Berantakan, seolah baru terjadi angin ribut didalam rumah. Furniture, foto-foto keluarga, hiasan rumah dan pot bunga yang pecah berserakan ditaman. 


Sari melihat tubuh Risa yang tergeletak lemah. Perkataan Al benar adanya, gelang itu mengeluarkan energi yang menyelimuti tubuh Risa. Energi kegelapan yang mirip dengan miliknya dan Airlangga.


Dia bisa mati jika aku nekat mendekat, tapi kakek Wisesa memintaku untuk datang!


"Bangkitkan energi kegelapan dalam tubuhmu Sar, supaya kau bisa mendekatinya dengan aman. Aku akan membantumu dari sini!" suara kakek Wisesa terdengar lagi di telinganya.


Kekuatan gelap, ada gunanya juga ternyata selain untuk membunuh!


Sari kemudian berkonsentrasi, memanggil kekuatan gelap yang terkunci dalam tubuhnya. Kekuatan yang tidak pernah ia gunakan setelah 15 tahun berlalu. Kakek Wisesa membantu Sari dari hutan gaib, ia mengirimkan sejumlah energi agar Sari bisa mengontrol kekuatan gelapnya.


Pupil mata Sari berubah menjadi merah, menandakan kegelapan telah bangkit dalam dirinya. Aura gelap kemerahan menyelimuti Sari. Risa menatap Sari, sorot matanya seolah berkata 'jangan mendekat'.


Ketakutan menguasai diri Risa. Wanita yang masih terlihat cantik itu, hanya bisa mengeluarkan satu kata dengan lemah,


"Tolong …,"


Sari berjongkok memeriksa denyut nadi Risa. Ia membantu tubuh lemah Risa untuk bisa duduk bersandar.


"Tenanglah, aku akan membantumu!" Sari mengusap lembut bahu Risa yang kini bersandar padanya.


Denyut nadinya lemah, dia kehabisan energi,


Sari kembali mencoba merasakan sesuatu yang terasa janggal baginya. Sesuatu berjalan dalam aliran darah Risa. Sesuatu dengan kekuatan kegelapan yang tidak biasa.


"Ini?!"


Sari cukup dikejutkan dengan menyusupnya iblis dalam tubuh Risa. Gelang logam hitam dengan ukiran aneh semacam rune sihir kuno dan kepala naga aneh bermata merah pada ujungnya itu bereaksi ketika Sari menyentuhnya. Ada getaran kuat yang menyapa Sari. 


Tiba-tiba saja Risa tertawa, sorot matanya berubah dan mendorong tubuh Sari dengan kuat hingga terlempar ke samping.


"Kau mengangguku!" Risa menatap Sari dengan sorot mata penuh amarah.


Risa dikuasai oleh iblis yang ada dalam gelang hitam itu.


"Pergi, atau … wanita ini akan mati!"


Sari tersenyum mengejek, menatap Risa yang dikuasai iblis. Tubuh lemah Risa berdiri terhuyung menjauh dari Sari. Sari membuka mata batinnya.


Tubuh lemah Risa dibelit oleh iblis dengan tubuh setengah ular yang memiliki 4 tangan, 2 diantaranya berbentuk kepala ular dengan lidah hitam bercabang yang sesekali menyemburkan api.


Iblis itu juga memiliki tanduk berulir mirip kambing. Wajahnya bengis dengan mata merah menyala dan rambut seperti lidah api yang menari nari tertiup angin.


"Pergi atau mati!"


Sari berdiri menarik kembali pedangnya dari dimensi lain dan bersiap melawan iblis dalam tubuh Risa. Kekuatan kegelapan mendominasi dirinya, membuatnya memiliki energi dua kali lipat lebih besar dari biasanya.


"Aku? Tidak memilih keduanya, aku memilih menghabisimu!"