
Sari dan Doni mengikuti Pandji menuju ke selatan kota Yogyakarta. Tempat dimana portal gaib kecil terbuka, Parangtritis. Mereka mengambil jarak aman dan membiarkan para kesatria muda itu bertarung.
Segaris senyum tertarik dibibir Sari yang tertutup cadar, meski tangannya gatal untuk membantu tapi Sari berusaha menahannya sekuat tenaga. Para kesatria baru itu harus menjalani takdir mereka.
Kemampuan Mika dan kawan-kawannya juga meningkat pesat. Meski sedikit kewalahan menghadapi ratusan maroz yang menyerang tapi mereka bisa mengatasinya dengan baik.
Pandji membawa mereka dalam tim yang solid. Usianya masih cukup muda tapi kemampuan dan caranya memimpin ketiga ksatria lain melebihi sebayanya. Meski terkadang jiwa mudanya sering mendominasi dan terlalu terburu emosi.
Petir merah Ganendra yang dikuasai Pandji dalam waktu singkat mampu menghentikan ratusan maroz dengan sekejap.
"Kemampuan Pandji meningkat cukup pesat dari terakhir kita ketemu di turnamen. Dia memang yang terpilih," Doni tampak kagum dengan perkembangan Pandji.
"Mika juga sama, aku nggak sabar buat ajak dia berantem sama Airlangga. It must be fun!" sahut Sari yang tak berkedip memperhatikan setiap gerakan Mika.
Anak itu belum mengeluarkan seluruh kemampuan nya. Dia belum menyadari kekuatan besar Asih Jati dalam tubuhnya. Sebagian kegelapan ada di tubuhnya seperti halnya aku.
Sari mengepalkan tangan kanannya, hatinya terasa sakit saat menyadari ada kegelapan dalam tubuhnya. Kegelapan yang didapatkan dari si kembar immortal.
"Kita kedatangan pengintip rupanya!" Bimasena memberitahu pada Sari, seseorang yang bersembunyi dalam gelap. Dari energinya Sari bisa tahu jika itu milik Badrika.
"Anak itu!"
Sari seketika mendapatkan penglihatan tak biasa. Badrika muncul di rumah Candika, mendatangi ibundanya dalam wujud manusia. Candika yang begitu merindukan putranya mengira jika Badrika telah kembali dalam arti yang sebenarnya.
Ia tidak menyadari rencana putranya untuk menjadikan ibundanya jaminan agar ia mendapatkan apa yang diinginkannya, buku sihir dan tentu saja tubuh Pandji.
Sebuah bisikan terdengar di telinga Sari,
Pergilah ke rumah den bagus Candika, dan periksa istrinya! Segera!
Suara yang Sari kenali sebagai suara kakak Wisesa. Sari yang keheranan pun bertanya pada kakek Wisesa yang berada di hutan gaib.
"Menolong istrinya? Untuk apa? Bukannya aku tidak boleh mencampuri takdir?"
"Takdir kesatria baru memang tidak bisa diganggu, tapi ini menyangkut nyawa seorang ibu yang seharusnya dilindungi putranya. Ini permintaan khusus dari trah Ganendra!"
Sari segera memahaminya dan tanpa banyak bertanya lagi Sari bergegas melintasi dimensi menuju kediaman Candika. Dalam hitungan detik ia dan yang lainnya tiba di rumah megah yang kini porak poranda. Halaman depan rumah dan pagar besi yang dulu terlihat kokoh kini sudah tak berbentuk.
"Apa yang terjadi?" Doni keheranan dengan situasi rumah Candika.
"Badrika dan anak buahnya menyerang," Sari berjongkok menyentuh bekas menghitam di tanah, bau busuk masih tercium dari sisa lendir hitam yang tertinggal.
Sari memperhatikan sekitar, dan mendeteksi beberapa pergerakan dengan aura gelap.
"Hati-hati, masih ada banyak didalam sana!" serunya mengingatkan Doni yang berjalan beberapa langkah di depan.
Benar saja suara lolongan terdengar dari belakang rumah Candika, beberapa orang muncul dan berjalan ke arah Sari dan Doni. Mereka adalah murid Hargo Baratan yang kini mengabdi pada Badrika.
"Sepertinya kita ketahuan juga beb!" ujar Doni, trisula naga milik leluhurnya mengeluarkan aura angker.
"Laten we die lelijke demon genadeloos doden!
(Ayo kita habisi iblis jelek itu tanpa ampun!)
"Met plezier lieverd, onthoud dat je je mooie gezicht niet krabt!
(Dengan senang hati sayang, ingat jangan sampai wajah cantikmu tergores!)
"Zal niet!" (Tidak akan!)
Pedang Sengkayana muncul ditangan Sari mengeluarkan aura kemerahan yang khas. Energi besar seketika mengaliri tubuhnya, ia dan Doni segera menyambut makhluk tak berjiwa yang menyerang cepat tanpa peringatan.
Pedang di tangan mereka beradu dengan Sengkayana dan trisula naga milik Sari dan Doni menimbulkan percikan api kecil. Iblis yang menggunakan tubuh murid Hargo Baratan itu menyerang dengan brutal.
"Dat is ook heel goed!" (Lumayan juga kemampuannya!)
"Jangan meremehkan lawan meski mereka buruk rupa beb!" Doni menimpali setelah selesai menghabisi satu makhluk dan membuatnya menjadi debu.
"Apa ini artinya don't judge the book by its cover beb!"
Sari menyeringai pada Doni setelah kembali membabatkan Sengkayana dengan sukses pada perut salah satu mayat hidup itu dan membelahnya jadi dua. Tubuh membusuk itu seketika terbakar dan menjadi debu.
Empat penjaga Sari lainnya menghadapi sekelompok mayat hidup yang muncul tiba-tiba. Suara lolongan kembali terdengar seolah memanggil bantuan. Tak lama beberapa mayat hidup kembali muncul. Satu murid Hargo Baratan yang masih utuh berwujud manusia menyeringai ke arahnya dan melolong bak peluit tanda menyerang.
"Kau tahu, aku benci suara lolongan jelekmu!"
Sari menyongsong tubuh yang dirasuki iblis yang menyerangnya cepat dan hampir mengenai bahu kiri Sari jika Doni tidak menghadangnya.
"Thanks sweet heart!"
"Mari kita mengulang masa lalu, tapi kali ini kita pastikan musuh kita yang kalah!"
Doni membakar semangat Sari, mereka kompak bergantian menyambut serangan demi serangan salah satu murid Hargo Baratan yang kerasukan iblis.
Saling melindungi dan menyerang. Memenggal dan membelah tubuh makhluk tanpa jiwa itu dengan cepat. Sesekali kilatan merah dari Sengkayana menyabet tubuh mayat hidup dan menghancurkannya seketika.
Hanya dalam waktu lima belas menit saja semuanya hancur jadi debu kehitaman yang memenuhi halaman depan. Sari dan Doni menjelma bak sepasang malaikat maut bagi para maroz nakal.
Siluet kehitaman muncul dari dalam rumah. Sosok yang Sari kenali auranya sebagai Alaric dan Candika.
"Apa saya ketinggalan momen penting?!"