Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Pak Hisyam



Mas Pras gemetar, rasa takut menguasai dirinya hingga tak bisa bergerak sedikitpun. Tangan pucat dan dingin itu seperti mematrinya ditempat. Hendak bicara pun tak ada daya untuk mengeluarkan kata. Hanya ada suara yang tercekat.


"T-tolong … t-tolong p-pak!" Ia berusaha memanggil bapak tua yang berjalan di depannya.


Tangannya hanya bisa melambai, tanpa banyak bergerak. Wajah mas Pras sudah seputih kapas, ia pasrah. 


Bapak tua yang berjalan di depan mas Pras akhirnya membalikkan badan karena merasa tidak ada langkah kaki yang mengikutinya. Sedikit membuat mas Pras lega tapi kemudian yang terjadi selanjutnya adalah si bapak tua tadi tertawa terbahak-bahak.


"P-pak, t-tolong … han-hantu!" Suara Mas Pras masih tergagap.


Bapak itu masih tertawa, sambil menunjuk ke arah belakang mas Pras.


"Hantu opo mas? Lha ayune koyok ngono mbok arani demit ki pie maksud mu?"


(Hantu apa mas? cantiknya begitu kamu bilang hantu maksudnya gimana?)


"Eeh, c-cantik?"


Mas Pras yang masih ketakutan dan setengah bingung pun memberanikan diri menengok ke samping belakangnya. Seraut wajah cantik yang ia kenal, tengah meringis menahan tawanya.


"M-mbak Sari?" Ia lalu menengok lagi ke arah sebaliknya.


"M-mas Doni?" Wajah pucatnya berubah semburat kemerahan, mas Pras tersipu malu.


"Diiih mas Pras dipanggil panggil dari tadi diem aja, giliran ditepuk malah jadi patung! Emang kita lagi mainan, yang ditepuk jadi patung gitu?" Sari terkekeh melihat ekspresi mas Pras.


"Tau nih, orang dipanggil tuh jawab kali malah diem aja. Mas pikir tadi siapa? Hantu?" Doni ikut berkomentar, tak kuasa tergelak melihat wajah mas Pras.


"Lha mbak Sari manggilnya lembut bener gitu, kek si mbaknya yang suka pake baju putih! Kan merinding saya mas!" gerutu mas Pras sedikit kesal. 


Sari dan Doni saling berpandangan lalu kembali tertawa. Mereka memang berniat menjahili mas Pras. 


"Baru aja dipanggil gitu mas udah takut, gimana kalo yang manggil hantu beneran coba?" ledek Doni pada mas Pras.


"Ya pingsan pastinya mas!" Bapak tua yang masih ada disana menimpali.


Bapak itu masih memperhatikan ketiganya, ia mengernyit sejenak lalu tersenyum pada Sari dan Doni.


"Yuk, kita subuhan berjamaah dulu habis ini mampir ke rumah saya. Kita ngobrol sekalian sarapan,"


Ketiganya bergegas menuju ke masjid dan mengambil air wudhu karena Iqamah sudah dikumandangkan oleh Muazin.


Bapak tua yang bernama pak Hisyam itu rupanya salah satu perangkat desa setempat. Setelah sedikit bercerita tentang maksud dan tujuan mereka untuk mencari pak Agus, pak Hasyim pun tersenyum.


Sedari awal feeling-nya mengatakan kedatangan Sari dan Doni bisa membantu keresahan yang menimpa warga desa dan juga keluarganya. Pak Hisyam mengenal pak Agus yang dimaksud Sari, kebetulan rumah mereka juga berdekatan.


"Nak Sari sama nak Doni mau ketemu pak Agus ada perlu apa emangnya?" tanyanya sedikit menyelidik.


Sari mencium gelagat aneh yang ditunjukkan pak Hisyam. Ada kegelisahan yang ditangkap Sari, dari raut wajahnya. Tangannya tremor ringan, ada sedikit luka yang cukup dalam di tangan kanannya yang belum sembuh benar. Sari menduga mungkin karena terjatuh atau terkena benda tajam.


"Bu, tolong buatkan minum hangat buat tamu kita!" pinta pak Hisyam pada istrinya ketika mereka baru saja tiba di teras rumah.


Sebuah sahutan disertai longokan kepala wanita paruh baya terdengar dari dalam rumah.


"Ada siapa pak?"


Istri pak Hisyam hanya tersenyum pada Sari lalu menghilang masuk lagi ke dalam rumah, menyiapkan minuman untuk tamu suaminya.


"Nak Doni sarapan disini dulu ya, sebelum ke rumah pak Agus. Nanti biar anak saya yang nyusulin pak Agus biar datang kesini." Pak Hisyam meminta dengan penuh harap.


Ada tekanan yang bisa Sari rasakan dari perkataan pak Hisyam. Perubahan intonasi dan gerak tubuh yang berlawanan dengan perkataan membuat Sari sedikit curiga. 


Ada yang dia sembunyikan, sesuatu yang membuat dirinya tidak bisa tertidur nyenyak.


Sari membuka mata batinnya, ia penasaran dengan sikap pak Hisyam. Apalagi sebelum kembali ke dimensi nyata ada dua orang menyambutnya dan Doni saat menembus batas pagar gaib.


Mereka meminta Sari untuk waspada. Daerah yang Sari datangi adalah daerah kekuasaan salah satu dukun hitam ternama, yang terindikasi membantu Airlangga. Yang menemui Sari dan Doni bisa dibilang adalah orang yang berseberangan dengan para dukun hitam.


Mata tak biasa Sari memindai tubuh pak Hisyam, semuanya normal tidak ada energi gelap dalam tubuh pak Hisyam.


Aneh, apa yang dia sembunyikan sebenarnya?


Istri pak Hisyam keluar membawa gelas berisi teh manis hangat dan kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Juga dua piring camilan, jagung rebus dan pisang goreng yang juga masih hangat.


"Monggo mbak diminum, maklum di desa ya begini ini jajanannya," ujar si ibu dengan ramah.


Istri pak Hisyam lalu duduk di sebelah suaminya. Menyodorkan segelas kopi hitam untuk pak Hisyam.


"Begini mbak, mas … saya mau minta bantuan panjenengan berdua bisa?" Pak Hisyam bertanya tanpa basa basi lagi.


Sari, Doni dan juga mas Pras saling berpandangan. 


"Bantuan? Memang kami bisa bantu apa pak?" tanya Doni keheranan.


Pak Hisyam melirik istrinya yang tiba-tiba saja terdiam dan menggigit bibir bawahnya. Raut wajahnya berubah sedih.


"Tolong selamatkan putri kami dari fitnah warga desa! Sempurnakan kematian putri kami!" jawabnya dengan suara bergetar.


"Hah!!" Doni dan Sari terkejut bukan kepalang dengan permintaan pak Hisyam.


Kami nggak salah dengar kan? Berasa pegawai kamar jenazah aja nih!