Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Kiriman lagi?



Maman terlalu lemah, bahkan untuk bergerak sekalipun. Rasa sakit yang luar biasa itu seperti mematikan seluruh sel sarafnya. 


Doni menyalurkan energi penyembuh pada Maman yang masih belum kembali kesadarannya. Organ dalamnya belum terlalu parah dirusak masih ada kemungkinan Maman untuk pulih.


"Mbak Asri, tolong panggilin istrinya kesini!"


"Nggih mas!" Mbak Asri bergegas pergi.


Doni mengusapkan air bidara ke tubuh Maman seraya mengucapkan doa kesembuhan. Daun Bidara dan garam yang sudah diremas dan diberi doa juga dibalurkan pada perut dan telapak kaki Maman.


Tak lama suara lemah dari mulut Maman terdengar.


"Welcome pak RT, Sugeng rawuh!" seringai jenaka Doni menyambut Maman yang mulai membuka mata.


"Iiish mas Doni malah ndagel! Wong lagi wae sadar diguyoni!" Mbak Pur memukul ringan bahu Doni.


( iish mas Doni malah bercanda! Baru aja sadar malah dibecandain!)


"Lah iya masa saya bilang sugeng tindak to mbak! Ya koit to dek ne!" (Lha iya masa saya bilang selamat jalan mbak! ya mati dong dia!)


"Eh lah iyo juga sih!" Mbak Pur terkekeh dan menutup mulutnya dengan punggung tangan.


Doni memberikan air yang sudah didoakan untuk Maman. Ada rasa dingin yang menenangkan saat Maman meneguk air doa itu. Rasa sakit yang tadi menyiksanya hilang meski dirinya belum bisa dikatakan pulih sepenuhnya.


"Makasih mas Doni, mbak Sari!" ujarnya lemah.


"Pak … pakne! Duh jiiiaan sampeyan tak goleki neng omah lha kok malah nyangsang neng kene to pak!"  (pak ... pak! duh jiiian, kamu itu saya cariin dirumah lha kok mampir ada disini!)


"Nyangsang, die pikir layangan kali suaminya! parah bener punya bini kek gini! Untung istri gue cantik, baik hati, nurut lagi ma suami," Doni bergumam sedikit kesal seraya menggaruk kepalanya.


Istri Maman mendekati suaminya yang masih pucat dan terduduk lesu. Maman masih terdiam dan melirik istrinya sejenak.


"Aku rak kuat Bu! Rene ki njaluk tulung mas Doni, wes nyerah pasrah aku Bu!" (aku nggak kuat Bu! kesini ini minta tolong sama mas Doni, udah nyerah pasrah aku Bu!)


Sari dan Doni hanya bisa saling berpandangan. Sari kemudian memberanikan diri untuk bertanya.


"Memangnya Pak RT itu kenapa Bu? Kok bisa sampai kayak gitu?"


Istri Maman menatap wajah suaminya sejenak, setelah mendapat persetujuan dengan anggukan kepala ia pun mulai bercerita.


"Saya juga nggak tahu awal mulanya gimana mbak, tapi pak RT begini sejak dia itu mergokin setan pocong yang meneror kampung kita!"


"Mergokinnya sama warga lain?" tanya Sari lagi.


"Iya mbak, cuma herannya kok pak RT aja yang kesambet beginian! Warga lainnya nggak lho mbak!" jawab istri Maman.


"Sudah berapa lama pak RT begini?"


"Sekitar tiga hari lalu mbak, malam pas saya lihat tu pocong paginya saya mulai nggak enak badan dan semakin menguat kalau magrib saya tersiksa sekali mbak. Sakit bener ini perut!"


Sari menganggukkan kepalanya, ia memanggil mbak Asri untuk mendekat dan membisikkan sesuatu. Mbak Asri Mengangguk dan segera pergi.


"Pak RT ada hubungan apa sama pak RW?" tanya Sari menyelidik.


"Nggak ada mbak, cuma dia kan teman dekat saya … sahabat lama mbak!"


"Dia sedang terlibat masalah sama adiknya kan? Warisan?" cerca Sari tak sabar


"Lho kok mbak tahu? Ehm, iya mbak sungguh tragis malah dia sekarang harus menyusul anaknya ke alam baka. Padahal pak RW itu segar bugar nggak sakit lho,"


"Ehm nganu mbak penyakit aneh!" Maman dan istrinya saling bertatapan, bingung hendak bercerita atau tidak kepada Sari.


"Itu kenapa malah pandang pandangan? Takut ya, ceritain aja pak RT rahasianya aman kok di saya!" ujar Sari dengan seulas senyum.


"Ehm, begini sebelum meninggal pak RW teriak -teriak katanya ada makhluk besar yang mau makan dia!" Maman menghentikan ceritanya sejenak, ia mengambil nafas lalu kembali bercerita.


"Gayanya kayak berantem gitu mbak, eh nggak lama pak RW jatuh, kejang terus muntah darah tapi … darah yang keluar dari mulutnya itu hitam dan ada beberapa potongan kaca sama belatung yang ikut keluar dari mulutnya!"


"Ngeri pokoknya mbak!" Istri Maman menimpali.


"Saya … takut mbak," kata Maman dengan lirih.


"Takut kenapa?" Sari bertanya dengan heran, mencoba menebak yang selanjutnya akan dikatakan Maman.


"Apa, saya juga bakal mati mbak? Soalnya nganu he … ehm, saya …,"


" … " Sari bingung dan menunggu.


"Pak RT bantuin pak RW ya buat selesaikan masalah warisan itu?" Doni ikut tidak sabar menunggu jawaban Maman.


Pak RT muda itu mengangguk lemah, lalu ganti menatap Doni.


"Saya bantuin dia dikit mas, bantu cari pembeli tanah itu dan juga … ehm,"


"Ke dukun?!" tebak Sari.


"Ehm, iya mbak! Maksudnya biar cepet laku gitu, tapi kok malah jadi apes begini!"


Sari dan Doni menggelengkan kepala bersamaan. 


" Hmm, lagian pake ke dukun pak RT … pak RT, minta dong ma Yang Bikin Hidup bukan sama dukun! Apes kan jadinya!" Doni menanggapi dengan sarkas cerita Maman.


"Ya maksudnya kan nganu mas biar cepet laku gitu, kan saya juga dapat bagiannya! Sekalian bantuin temen, malah jadinya buntung!" 


Maman masih berusaha membela dirinya membenarkan hal yang memang sudah salah. Mencari keuntungan lewat jual beli memang diperbolehkan tapi cara yang dipilih Maman adalah satu kesalahan. 


Meminta seyogyanya hanya kepada Yang Kuasa bukan lewat dukun yang akan selalu membuat diri kita jauh dari keimanan.


"Pak RT mau saya kasih apes lagi nggak nih? Ini saya kasih tagihan buat pengobatan tadi ya, nggak banyak cukup sejuta aja dah harga tetangga!" 


Doni dengan iseng menyodorkan secarik kertas pada Maman yang disambut cengiran masam dari istrinya.


"Diiih mas Doni tega bener sama kita! Nggak bisa kurang to mas?"


"Kagak! Kalo mau diskon saya kembaliin lagi tu sakit setengahnya mau!"


"Eeh jangan dong! Iya … iya, saya bayar tapi tempo boleh!"


"Eeh dikata kita tukang kredit pake tempo! Pak RT jangan pelit sama warga nya deh!"


Sari pun tertawa melihat perdebatan konyol mereka. Tiba-tiba saja ia kembali merasakan aura asing yang menyapanya. Aura negatif yang menyakiti kulitnya. Rupanya si pengirim itu tahu jika makhluk suruhannya mati. 


Teluh itu hanya peringatan kecil buat pak RT! 


Hmm, aku rasa pak RT harus bayar tagihan lagi untuk menginap semalam disini!