Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Collateral Damage



Malam yang panjang dan melelahkan. Nyai Laksmi berhasil mengalahkan kelompok makhluk berbulu hitam yang hendak mengambil nyawa Maman. Tepat saat jago kluruk kapindo datang, semua sudah usai. 


Nyai Laksmi kembali ke dalam mustika nya untuk mengembalikan energinya. Para penjaga Sari juga kembali ke alamnya. Hanya tertinggal Sari dan Doni yang masih terjaga di sofa tak jauh dari Maman sekeluarga.


"Apa udah selesai semua?" tanya Doni ragu.


"Semoga saja, untuk sementara waktu sepertinya mereka aman. Aku yakin orang yang memerintahkan untuk mengirim teluh itu sekarang sudah menerima akibatnya!" jawab Sari dengan mata terpejam.


"Capek?"


"Hhhm, sangat! Boleh aku tidur dulu, aku butuh istirahat." 


Sari tidak lagi mendengar jawaban Doni yang memeluknya dan memberi kecupan lembut di keningnya. 


"Tidurlah, Srikandi cantikku!" bisik Doni lembut.


Tak lama Doni pun ikut terlelap tidur. Keesokan harinya mereka dikejutkan dengan suara mbak Pur yang berteriak kencang.


"Duh Gustiiiiiii … jabang bayiiik!! Modyar aku!!"


Suara mbak Pur menggelegar di dalam rumah yang lengang. Doni dan Sari pun terbangun dan menggerutu.


"Iiish, mbak Pur!! Ada apaan sih?! Budeg ini kuping saya!" Doni kesal dan mengacak rambutnya, ia masih mengantuk.


"Ccck, saya kudu plester tu mulut Mbak Pur! Ganggu orang tidur aja!"


Dengan malas Sari dan Doni memaksa tubuhnya bergerak dari sofa untuk duduk. Mbak Asri dengan tergesa mendekati kedua majikannya itu dengan wajah takut.


"Mas, mbak nganu, ehm … itu mas?!"


"Apaan!" Doni mengacak rambutnya dengan kasar.


"Nganu, ehm … itu, didepan ada … ehm," mbak Asri kembali tergagap.


"Nganu, itu, ehm … apaan sih?! Kamu mau bilang apa mbak Asri?!" 


"Itu mas ada ehm, mobil mas ... mobilnya!" jawab mbak Asri dengan ragu dan takut.


"Eeh, kenapa mobilnya?" Sari langsung berdiri dan segera berjalan ke depan.


Sari membulatkan matanya ketika melihat pemandangan mengenaskan. Kaca mobil milik Doni dan mobil milik Sari hancur lebur. Entah apa yang terjadi semalam setelah mereka tertidur pulas.


"Beb! Kamu harus lihat ini!" teriak Sari agar Doni keluar dari rumah.


"Apa sih! What the hell! Ini siapa yang ngelakuin!" Doni mengumpat kecil saat tiba di garasi.


Mbak Pur dan mbak Asri hanya diam dengan wajah ketakutan.


Amarah Doni langsung memuncak, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Doni. Semuanya  terlelap tidur, mereka bahkan tidak mendengar ada bunyi pecahan kaca.


Sari mendekati mobilnya yang hampir semua kacanya pecah, ia ngeri membayangkan kebrutalan yang terjadi. Sari yakin pelakunya bukan hanya satu orang saja.


Doni masuk kedalam untuk melihat cctv yang terpasang di sudut depan rumah. Sementara Sari masih mencari petunjuk yang mungkin ditinggalkan si pelaku.


"Siapa yang ngelakuin ya? Semalem padahal aku juga tidur jam 3 pagi, masih baik-baik aja tuh!" gumamnya sendiri.


Ia mendekati mobil milik Doni yang kaca depannya hanya menyisakan sebagian saja dan sebagian lagi hancur berkeping-keping. 


"Hati-hati mbak Sari, kacanya mbok kena tangan!" Mbak Pur mengingatkan.


"Iya mbak, ohya mbak Pur semalam gak denger apa ada orang mecahin kaca gini?" Tanya Sari penasaran.


"Nggak mbak, wong saya bangun aja dah siang!"


Maman yang juga penasaran ikut keluar rumah diikuti istri dan kedua anaknya.


"Astaghfirullah, lah kok remuk begini mbak Sari? Apa karena semalam?" tanya Maman kebingungan.


Sari seketika mengingat kejadian semalam, terakhir kali ia mengeksekusi manusia setengah siluman itu dengan pedang Sengkayana miliknya. Ia tersenyum masam.


Sari merasa dirinya sangat bodoh saat mengira bahwa yang menghancurkan mobilnya adalah sekelompok preman yang iseng mengerjai dirinya dan Doni.


Mampus aku, ini mungkin efek dari energi tanpa batas yang keluar dari Sengkayana!


Mana ni mobil kesayangan Doni pula, siap-siap deh kena omelan