Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Mission completed



Sari menahan sekuat tenaga semburan api dari kepala salah satu ular kembar yang mengamuk itu dengan perisai Sengkayana. Kulit wajah dan tangannya mulai melepuh karena panas, tidak ada pilihan lain selain memanggil Dewi ular. 


"Dewi, keluarlah bantu aku menghadapi iblis ini!"


Asap tipis muncul dihadapan Sari, membentuk siluet sang Dewi. Sari tersenyum, ia mengeluarkan tenaga lebih besar untuk melangkah maju dan memukul balik serangan ular berapi itu.


Matanya berkilat merah, Sengkayana dalam kekuatan terbesarnya. Sari mengayunkan Sengkayana membalikkan keadaan dengan mengirim energi dahsyat ke arah iblis bertanduk dan berekor. 


Ular itu menjerit merasakan panasnya api yang menyerang balik padanya.


"Bantu aku hadapi dia, aku perlu waktu untuk memulihkan diri!" perintah Sari pada sang Dewi cantik yang segera meliukkan tubuhnya berhadapan dengan sang iblis.


Nafas Sari sedikit tersengal karena besaran energi yang keluar, kulitnya yang melepuh terasa perih tak terkira. Sari menyandarkan tubuh lelahnya, memperhatikan pertarungan dua ular besar.


"Cckk, mereka bukan seperti bertarung tapi menari! Semoga saja tidak saling jatuh hati bisa bahaya kalo mereka bersama!" gumam Sari sebelum memejamkan mata.


"Mereka bertarung dengan cukup indah, meski tangan ular milik iblis itu hilang satu tapi kekuatannya masih luar biasa!" suara kakek Wisesa terdengar lagi.


"Bagaimana mengalahkannya kek?! Aku kewalahan dengan tangan - tangannya itu!"


"Satu-satunya cara hanya memenggal kepalanya!"


"Kenapa aku tidak terkejut mendengarnya!"


"Cepat selesai kan waktumu tidak banyak Sar! Pangeran kegelapan, maksudku Badrika pasti akan segera mengetahui jika ibunya kita selamatkan!"


"Gelang itu terkoneksi pada pemiliknya, aku memasang pelindung agar iblis berekor itu tidak mengirimkan sinyal bahaya. Tapi sayangnya, gelang itu memiliki mantra unik yang hanya bisa dipecahkan oleh trah Abisatya!"


"Jadi tugasku hanya menghabisi iblis itu saja?!"


"Ya, setelah iblis itu mati kekuatan kegelapan dalam gelang hilang tapi tidak dengan mantra pengikatnya," kakek Wisesa menjelaskan pada Sari.


"Baiklah, itu urusan mas Al dan Selia kan?"


"Tepat sekali, misimu hanya sampai iblis itu mati!"


"Hhhm, kakek kenapa aku merasa seperti dalam sebuah film laga! Mission not possible?" 


"Kita mengikuti perkembangan zaman kan?" kakek Wisesa terkekeh.


Tiba-tiba saja hempasan kuat energi menerpa Sari, membuat dirinya sedikit terjengkang.


"Waktunya beraksi kembali!"


Sari berdiri, keluar dari selubung tipis penyembuhnya. Dewi ular rupanya terlempar dan menabrak dinding dengan keras. Beberapa luka menganga tampak di tubuhnya. Wajah cantiknya pun tergores cukup panjang.


"Maaf merepotkan mu, kembalilah biar aku ambil alih disini!"


Sang Dewi menjura dalam pada Sari dan kembali ke dalam rumahnya untuk memulihkan energi. Sari menyeringai pada iblis bertanduk itu. Sengkayana di kanan dan kujang di kirinya, berpendar mengeluarkan aura angkernya masing-masing.


"Waktunya serius sekarang, jangan lari dariku tampan!" seru Sari seraya berlari menyongsong ke arah sang iblis.


Kekuatan iblis itu sudah berkurang, Dewi ular benar-benar menguras tenaganya. Sari cukup berterima kasih pada sang Dewi. Berbeda halnya dengan Sari yang kini justru memiliki kekuatan berkali lipat.


"Merindukanku?" tanya Sari tanpa memberi kesempatan menjawab.


Tangan Sari dengan lincah membabatkan kedua pusaka bergantian ke tubuh bagian atas iblis itu, melukai tangan kiri yang lebar telapaknya bahkan melebihi tinggi Sari.


Sengkayana menebas hingga putus lengan super lebar di kanannya. Kini iblis itu hanya memiliki satu lengan ular dan satu telapak super lebar yang telah terluka.


Iblis itu mengerang kesakitan, menggeram dan menatap Sari dengan penuh amarah. Ia kesal karena belum juga bisa merobohkan Sari. Tubuh Sari melayang hanya beberapa meter dari sang iblis.


"Kurang ajar, kau benar-benar ingin mati!" teriaknya dengan suara serak.


"Woow tunggu dulu siapa yang disini banyak terluka? Kau kan? Tapi justru kau yang mengancam ku!" ejek Sari.


"Lepaskan Risa maka aku akan mengampunimu! yah, setidaknya kamu hanya kehilangan dua tangan unik! Tidak mengurangi ketampanan mu bukan?!" Sari menggertak membuat sang iblis semakin kalap.


"Mulutmu bahkan lebih berbisa dari kedua ularku!" geram iblis itu


"Biasa kan, mulut wanita lebih tajam daripada lelaki!" Sari kembali mengejek.


Iblis itu menggeram kasar, dengan cepat ia kembali menggerakkan tubuhnya memburu Sari yang terbang meliuk dan menghindari sabetan ekor buntung yang masih cukup kuat. Hingga pada momentum yang tepat Sari berhasil menancapkan kujangnya tepat di jantung sang iblis. Sengkayana juga berhasil membuat luka melintang lebar di perut.


Dengan mata melotot iblis itu menatap Sari tak menyangka jika ia dikalahkan manusia. Ia masih menyeringai hendak meraih tubuh Sari dengan tangan lebarnya. Tapi Sari bergerak cepat mengalirkan energi kujang lebih besar lagi hingga jantung sang iblis meledak. 


Darah kehitaman yang menjijikan keluar dari mulutnya yang lebar, sinar kemerahan di matanya sedikit meredup.


"Penggal kepalanya jika tidak ia bisa kembali hidup!" bisik kakek Wisesa.


Tanpa banyak bertanya, Sari melompat lebih tinggi berpijak pada kepala ular yang tersisa dan melepaskan energi Sengkayana, memisahkan kepala dari tubuh setengah ularnya.


Kepala dengan rambut merah bak api dan mata menyala itu menggelinding terpisah dari tubuhnya. Matanya yang menyala perlahan meredup meninggalkan dua buah ruang kosong.


Tubuh tak bernyawa itu lunglai tak berdaya dan perlahan meleleh berubah menjadi cairan kehitaman yang berbau busuk. Sama halnya seperti maroz yang mati sia-sia.


"Mission is completed!"


Sari turun dengan anggun dengan kedua pusaka di tangannya. Pagar gaib yang menyelimuti Risa pun perlahan menipis dan menghilang. Sari berjalan menghampiri Risa yang belum mencapai titik kesadaran.


"Nadinya masih lemah, tapi energi jahat sudah hilang," 


Setelah memberikan energi penyembuh pada Risa perlahan membuka matanya.


"Hai, semua akan baik-baik saja! Mbak Selia akan melepaskan gelang ini segera," sapa Sari dengan senyuman di wajahnya.


"Terimakasih sudah membantu kami, kami berhutang Budi padamu!" sahutnya lemah, bibirnya pucat dan pecah-pecah.


"Jangan begitu, kita harus saling membantu kan!"


Risa mengangguk, Sari membantunya berdiri. "Bisa berjalan?"


Risa pun mengangguk. Sari memapah Risa perlahan, menemui Al dan suaminya Candika. Tugasnya sudah usai, kini Sari kembali menunggu dan waspada. Karena iblis tidak akan tinggal diam dan kembali menipu daya manusia.