
"Lepaskan Bagas?!" Sari dari masa depan kembali meminta Airlangga untuk melepaskan Bagas.
"Tidak akan!" Airlangga hendak menancapkan kuku tajamnya di dada saat Sari akhirnya berteriak.
"Stop! Tunggu, kau mau ini bukan? Aku akan meletakkannya disini dan lepaskan Bagas perlahan."
Sari mengangkat Sengkayana, ia mencoba bernegosiasi, dengan perlahan Sari meletakkan Sengkayana di lantai. Airlangga tersenyum puas, pikiran liciknya bekerja. Ia berniat membunuh Bagas sebagai balasan dari perbuatan Sari yang telah mempermalukan dirinya dengan kalah telak.
Sar, aku butuh kepercayaanmu … bantu aku mengatasi dia, saat dia lengah segera selamatkan Bagas dan keluarkan kujang Siliwangi! Kita harus bekerjasama!
Sari dari masa depan mengajak Sari yang lain berkomunikasi dengan telepati. Ia sangat berharap Sari di masa ini bisa memahaminya. Anggukan samar tertangkap pun tertangkap mata tak biasa miliknya.
"Bawa Sengkayana mendekat!" perintah Airlangga, Sari mengambil Sengkayana dilantai lalu berjalan perlahan.
"Lepaskan Bagas, two hand, one sword!" Sari siap mengulurkan Sengkayana pada Airlangga.
Airlangga mendorong kasar tubuh Bagas agar mendekati Sari sementara Sari yang lain bersiap mengunci pergerakan Airlangga dari arah belakang.
Sari mengulurkan tangan pada Bagas ketika Airlangga melepaskan cengkeramannya. Dan begitu Sari hampir menyerahkan Sengkayana kepada nya, Airlangga dengan cepat menghujamkan cakar tajamnya ke dada.
Airlangga tertawa, ia puas karena bisa membalas kekalahannya tapi yang terjadi kemudian adalah petaka baginya.
Sari terlebih dahulu menarik cepat tubuh Bagas, lalu menjadi tameng hidup untuknya. Cakar Airlangga bukan menancap pada tubuh Bagas tapi pada punggung Sari dari masa depan.
"Pergi menjauh!" bisik Sari pada Bagas sebelum Airlangga menyadarinya.
"Apa yang kau tertawakan? Kematianmu?!"
Airlangga terkesiap, serangannya gagal. ia segera menarik cakarnya dan meninggalkan luka lebar yang cukup dalam di tubuh Sari.
Sari berbalik dan menatap Airlangga tajam, jarak mereka sangat dekat.
"Seharusnya kau memastikan dulu sebelum kau meletakkan tanganmu!" Mata Sari dari masa depan berkilat kemerahan, ia mendorong kuat tubuh Airlangga hingga mundur ke belakang beberapa langkah.
Darah merembes dari lubang yang disebabkan Airlangga, tapi Sari tak peduli dengan cepat ia kembali meraih Sengkayana seraya berteriak pada Sari yang lain.
"Sekarang!"
Kedua Sari dari masa yang berbeda kompak menyerang Airlangga yang belum menyeimbangkan tubuhnya dengan baik. Kujang siliwangi menancap menembus tengkorak Airlangga sedangkan Sengkayana menembus dada Airlangga.
"Aaaargh! Ka-kalian!" Airlangga mengerang sejenak.
Energi Sengkayana dialirkan sepenuhnya ke dalam tubuh Airlangga, membuat kerusakan pada tubuh sang Immortal. Airlangga tamat, tubuhnya perlahan terbakar dan berubah menjadi onggokan debu hitam.
Semua yang berada diruangan itu menahan nafas tapi kemudian lega setelah hal mengerikan dan menegangkan usai. Sari dari masa depan bersimpuh menahan rasa nyeri yang teramat sangat. Luka di tubuhnya begitu dalam, wajahnya mulai memucat.
"Aku harus segera kembali,"
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Sari menyapa duplikatnya yang masih tertunduk.
"Hai, yah, aku baik-baik saja! Maaf sudah membuat rumahmu ehm, maksudku rumah kita berantakan."
Kedua Sari saling berhadapan, mereka saling menatap dalam diam. Sari dari masa depan menoleh ke arah Bagas dan Doni dua orang lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Senang bertemu denganmu, my love!"
"Berhenti, aku bisa mengatasinya sendiri," ucapnya terbata bata.
"Tapi lukamu …,"
Sari kembali menggeleng, ia menatap kelima anak muda di hadapannya lalu tersenyum. "Tugasku selesai!"
Bersamaan dengan itu muncul portal waktu dengan cahaya kemerahan yang diameternya semakin membesar.
BLAP!
Tubuh Sari menghilang ditelan cahaya kemerahan yang sangat menyilaukan mata. Cahaya itu kembali membungkus Sari dan menariknya ke dalam dimensi waktu dan ruang dengan cepat.
Tubuh Sari semakin melemah, ia kembali dengan takdir barunya. Kematian Airlangga otomatis membuat goresan tinta baru pada takdir lain. Energi dan kekuatan Sari perlahan menghilang seiring dengan perjalanan waktu yang ia lalui.
Sengkayana yang berada di tangannya pun perlahan lebur dan menghilang kembali pada sang penjaga untuk selamanya ditidurkan.
Tubuh Sari melayang tanpa kesadaran, ringan, tanpa bisa bergerak melawan akhir takdir. Sari berusaha keras untuk tersadar tapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya tak berdaya. Tubuhnya terlalu lemah, untuk bernafas pun Sari kesulitan. Ingatan kehidupannya berputar kembali dari awal.
Doni, nama yang ia sebut dalam gumaman lemahnya. Andai Sari diberi kesempatan mengucapkan salam perpisahan, ia ingin mengatakan pada suaminya itu betapa Sari sangat mencintai lelaki yang telah mendampingi dan memberinya kebahagian kedua. Sari ingin berterima kasih atas kasih sayang yang diberikan selama ini. Bulir bening menetes dari kelopak matanya yang tertutup.
Perlahan ingatan Sari pun memudar, kenangan kehidupannya terhapus. Sari pasrah pada takdir kematian yang akan menjemputnya. Sari siap kembali pada Sang Pencipta. Setidaknya ia sudah menjadi istri yang baik untuk Doni dan meninggalkan kenangan indah bersamanya selama lima belas tahun terakhir.
Selamat tinggal Doni …,
...----------------...
Pandji masih berusaha keras melawan Airlangga yang bergerak gesit dengan kedua sayapnya. Pedang iblis di tangannya terlihat mengerikan dan siap melahap nyawa Pandji yang menyerang dari atas punggung naga hitamnya.
"Bibi, waktumu sudah hampir habis! Aku juga sudah cukup kesal dengan iblis sok tampan ini!"
Airlangga cukup percaya diri dengan pedang iblisnya dan sekali lagi Pandji menghujaninya dengan Petir Merah Ganendra yang menyambar dengan kekuatan kegelapan. Meski tak sama dengan kekuatan saat dipadu dengan kekuatan gelap Damar Jati tapi itu cukup membuat Airlangga kewalahan.
Satu sabetan pedang berhasil dihindari Pandji dengan tongkatnya. Airlangga kembali menyerang dan hampir melukai naga hitam. Pandji menuntun Turonggo Jagad untuk kembali berputar naik, hujan mulai turun. Pandji menunggu momen tepat lalu kembali melemparkan petir merah Ganendra andalannya. Tujuannya melukai sepasang sayap Airlangga, dan berhasil.
Airlangga kehilangan keseimbangan dan terbang tanpa arah menghujam bumi. Pandji dengan nekatnya melompat dari punggung sang naga, meminjam kekuatan tombak Sepuh Pandowo ia mengarahkannya tepat di jantung Airlangga.
Pandji melesat cepat melawan momen gravitasi dan saat tangannya terangkat hendak menusukkan ke jantung, Airlangga tiba-tiba berubah menjadi debu dan hilang tertiup angin.
Pandji kehilangan keseimbangan dan meluncur cepat ke bumi. Ia tak sempat melakukan pengereman mendadak karena semua terjadi begitu cepat. Akhirnya Pandji harus merelakan tubuhnya menyentuh bumi dengan keras hingga menimbulkan retakan disekitarnya.
"Pendaratan yang sempurna!" Pandji meringis menahan nyeri di punggung dan kepalanya.
Sebuah tangan terulur kepadanya, "Butuh bantuan, mas?" Senyuman Mika mengembang, senyum yang dirindukan Pandji.
Naga hitam meraung, memutar dan meliukkan tubuh indahnya diudara. Seketika ia meluncur ke arah Pandji dengan cepat dan menghilang.
Raungan dan lolongan berikutnya terdengar diikuti dengan leburnya seluruh pasukan iblis dan para pengikutnya yang tersisa. Debu hitam berputar dengan cepat bagai pusaran tornado lalu terhisap ke sebuah celah yang muncul dari mana. Dalam sekejap pula debu hitam itu menghilang. Mereka musnah dan kembali ke dunia bawah.
Sebuah cahaya kemerahan kembali muncul turun membelah angkasa dengan titik keemasan ditengahnya. Pandji tersenyum samar.
"Kau berhasil bibi!"