Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Kopi Darat



Sari bersiap menghadapi karyawan Steven. Ia lelah, ada yang harus dilakukannya selain menghadapi musuh kelas rendahan seperti saat ini.


"Aunty, siap?" 


"Entahlah Mika, aku bosan! Bisakah kau menanganinya untukku?"


"Apa? Aunty?!"


Sari menghela nafas, ia benar-benar bosan. Tiba-tiba saja terdengar keributan dari arah depan. Kerumunan karyawan Steven kocar kacir. Ada yang menyerang mereka.


"Lucky for me, bantuan datang tepat waktu! Ayo kita pulang Mika!"


"Tapi …," Mika belum menyadari jika bantuan yang datang adalah para kesatria muda milik Saka.


"Serahkan mereka pada para kesatria muda itu. Mereka butuh berlatih, berhadapan dengan iblis."


Tanpa banyak bertanya Mika dan Sari berjalan menembus kerumunan, sesekali Sari dan Mika melayani serangan yang mendekati mereka.


"Mbak Sari, mbak Mika … mas Doni menunggu, biarkan kami yang menangani disini!" Kata salah satu petinggi kesatrian bernama Baskoro.


Mika dan Sari bergegas pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Sari diam. Pikirannya melayang pada jebakan Airlangga yang hampir mempengaruhi pikirannya.


Ini tidak bisa dibiarkan! Airlangga, kita harus bertemu!


Mika khawatir dengan Sari, sesekali ia melirik ke arah Sari. "Aunty …,"


"Aku baik-baik saja, tenanglah!" Jawab Sari datar.


Setibanya di rumah, Sari kehilangan moodnya untuk bicara. Ia berjalan masuk meninggalkan Mika yang heran dengan sikapnya. Doni dan juga Saka yang menyambutnya pun dibuat keheranan.


"Apa sesuatu terjadi? Ada apa dengannya?" Tanya Saka pada Mika.


"Entahlah, aunty hanya sempat terpengaruh setelah memasuki jiwa Steven. Dia hampir lepas kendali, dan setelah itu …," Mika mengedikkan bahunya.


"Hhm, sesuatu pasti mengusiknya." Gumam Saka lirih.


Saka melirik ke arah mobil merah yang diberikannya pada Mika. 


"Tenang mas Saka, aman!" Kerling Mika seraya berlalu meninggalkan Saka.


Sari masuk ke dalam kamarnya, ia mendekati meja dimana tumpukan buku mantra diletakkan. Mantra segel kegelapan, ia mempelajarinya sejenak.


"Ada apa, bad mood?" Doni menghampiri Sari.


"Hhm," jawabnya singkat.


Doni mengintip ke arah buku mantra, Sari menghafalkan mantra segel yang biasa Diucapkan untuk melindungi Sari.


"Kenapa kamu pelajarin mantra ini?" Doni menutup paksa buku mantra miliknya.


"Don!" Sari memprotes tindakan Doni.


"Kenapa? Apa yang kamu pikirin sekarang? Rencana baru?" Tanya Doni penasaran, ia menatap mata Sari memaksanya untuk berhadapan.


Sari enggan menjawab, moodnya kacau setelah Airlangga kembali menjebaknya. "Aku capek, itu aja!" Ia menepis tangan Doni lalu berdiri menatap ke luar jendela.


"Dia selalu mempengaruhiku, selama lima belas tahun ia membuatku tak nyaman! Aku benci dia Don, aku benci dia!"


Airmata Sari tak terbendung lagi. Takdir yang harus dijalaninya terasa begitu sulit. Lima belas tahun waktu yang sangat menyiksa baginya. Ia mencari keberadaan Airlangga dari ujung ke ujung, dan kini saat Airlangga sudah didepan mata Sari kembali dipermainkan takdir.


"Aku harus bertemu dengannya, segera! Aku tak peduli lagi dengan semuanya Don! I'm so tired!"


Doni tak banyak bicara ia merengkuh istrinya dalam pelukan. Apa yang dialami Sari memang tidak mudah. Sari berada di titik jenuh, dan Doni tahu persis apa yang dirasakan Sari.


Doni membiarkan Sari menangis sepuasnya, itu akan membantunya melepas ketegangan dan juga kekesalannya.


"Jadi apa rencanamu sekarang?"


"Aku akan menghadapinya, sendiri!"


Doni mengernyit tak mengerti, "Sendiri? Maksudmu kau berhadapan langsung dengan Airlangga?"


"Ya," Sari melepaskan pelukannya. "Aku hanya ingin mengakhirinya segera."


"Tak perlu ada korban jiwa, tak perlu lagi invasi dari iblis, dan tidak perlu ada lagi kematian sia-sia."


"Sar, jangan gegabah! Dia punya ribuan pasukan iblis, dan jangan lupakan bagian dia menipumu!"


Sari menatap Doni, mana mungkin Sari bisa melupakan waktu itu. Saat dimana Airlangga menipunya, mengambil semua orang yang disayangi dan dicintainya. Mata Sari panas, air menggantung di kelopak matanya. Sari memalingkan wajahnya, membulatkan tekad akan keputusannya.


"Aku akan pergi bersama pak Agus dan yang lainnya, dan kamu …," Sari menggantung perkataannya, ia menatap lekat netra sang suami. "Jaga dirimu baik-baik disini. Waspada dan jangan lengah, Airlangga bisa saja menyusup mencari celah kelemahanku!"


"Aku tidak akan membawa Bimasena dan para penjaga. Tapi aku akan membawa para lelembut pengikutku, biarkan aku melawannya sendiri." Ujarnya lagi menegaskan keputusannya.


"Tapi Sar, ini terlalu beresiko!" Sergah Doni seraya menggenggam erat tangan istrinya.


"Untukmu, tapi tidak bagiku! Aku immortal, aku bahkan hafal hampir setiap mantra sihir, aku tidak akan mudah terluka!"


Doni mengalah, berdebat akan percuma saja karena Sari begitu keras hati. "Baiklah, aku akan menghubungi pak Agus. Dia dalam perjalanan ke gunung Arjuno bersama rekan lainnya."


"Berapa banyak kekuatan pak Agus?"


"Entahlah, aku belum memastikannya yang jelas kesatria muda kita juga turun tangan memperkuat disana!"


*****


Sementara itu, pak Agus diikuti beberapa kelompok kecil lelaki muda mendaki menyusuri lereng bukit. Malam mulai menyapa, suasana hutan yang gelap dan sunyi terasa begitu mencekam.


"Mas Agus, kita sudah di jalan yang benar kan?" Tanya seorang lelaki yang berjalan di belakangnya.


"Hhm," pak Agus menjawab singkat.


Ia sibuk membuat pagar pelindung dari berbagai lelembut yang begitu asik menggoda mulai dari saat masuk hingga sejauh ini mereka berjalan. Kelebatan sosok lelembut dari yang mengerikan sampai yang cantik menggoda bermunculan silih berganti. 


Lamat-lamat dari kejauhan terdengar suara riuh gamelan yang mengalun indah dalam gelapnya malam.


"Mas, ada bunyi gamelan! Apa itu yang disebut demit lagi ngunduh mantu?" Tanya lelaki tadi.


"Iya," pak Agus berhenti sejenak mengedarkan pandangan ke arah timnya lalu berkata lantang, "Semuanya konsentrasi, baca-baca, minta perlindungan yang diatas biar kalian nggak terpengaruh!" 


Suara gamelan dan keriuhan penonton terdengar semakin jelas dan nyata, mereka mendekati alas angker yang sangat dihindari para pendaki. Kabarnya banyak pendaki yang kehilangan arah dan menghilang saat pendakian dijadikan menantu oleh bangsa lelembut hingga mereka lupa kemana harus pulang.


Beberapa anggota tim mulai merasakan tekanan kuat, mual, dan sesak nafas. Kadar tingkatan oksigen dalam udara terasa menurun drastis. Disaat seperti ini halusinasi akan menguasai pikiran, membuat mereka seperti linglung dan kerasukan.


Pak Agus mulai gelisah, ia juga merasakan hal yang sama. Tapi kekuatan batin yang ia miliki cukup membantunya untuk mengatasi gangguan halus.


"Pak, Mario pingsan!" Teriak lelaki muda dari kejauhan meminta yang lain berhenti.


"Antok juga mas Agus!" Seru lelaki yang berjalan di belakang pak Agus.


"Munir, ikut pingsan pak!" Suara lain terdengar tak lama kemudian.


Pak Agus pun panik. Jika terus begini mereka tidak akan sampai ke pintu gerbang kerajaan Airlangga dengan selamat. Hawa aneh berbau mistis mulai menekan mereka yang masih sadar. Dada pak Agus rasanya mau meledak menahan tekanan yang luar biasa.


Angin tiba-tiba saja bertiup kencang, dan bisikan halus menyapa pak Agus.


"Apa aku terlambat?"


Sari muncul dengan senyuman mengembang. Pak Agus lega, "Mbak Sari!"


Sari mendekati anggota tim yang pingsan secara bergantian, ia berjongkok dan menempelkan tangannya. Sinar keemasan mengintip di celah jemari lentiknya, dan mereka pun kembali sadar.


"Semuanya, waspadalah! Kita sudah dekat!"


Sari mengucapkan mantra pelindung bagi timnya. Dalam sekejap tekanan dan hawa tak biasa itu hilang dan tergantikan dengan suasana yang lebih nyaman. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hingga tiba di candi tak terurus.


Sari meminta semuanya berhenti dan waspada. Ia mendekati tumpukan batu yang sedikit tak beraturan. 


"Dia disini!" Gumamnya lirih.


Sari berbalik, memerintahkan tim yang dipimpin pak Agus menyebar dan berada di posisinya.


"Pak Agus terimakasih sudah berjuang bersama hingga detik ini! Saya tidak akan melupakan jasa pak Agus!" Sari berbicara dengan pikirannya, menembus alam bawah sadar pak Agus.


Pak Agus mengangguk samar, "Saya akan berjuang bersama sampai titik akhir!"


Sari memantapkan hati. "Doakan aku beb!"


Mantra pembuka gerbang iblis diucapkan Sari, perlahan tapi pasti pusaran angin terbentuk. Semua orang menahan diri meski kesulitan melihat apa yang ada dalam pusaran angin itu. Kedua mata Sari nampak berkilat kemerahan, tangannya terangkat sebelah memancarkan sinar yang melesat cepat dalam pusaran.


Tanah disekitar bergoyang kecil untuk sementara waktu hingga akhirnya pusaran angin itu menghilang dengan cepat terhisap sesuatu yang tersembunyi dibalik tabir. Semua tegang, semuanya menanti.


Suara gemuruh terdengar entah dari mana, pak Agus dan timnya saling berpandangan. Tangan kanan Sari terangkat tinggi dan mengepal memberi kode untuk diam.


Langkah kaki panjang dan berat terdengar meremangkan bulu roma, dan tiba-tiba saja celah bercahaya muncul begitu saja di atas bangunan candi. Pasukan iblis terlihat berbaris rapi di belakang sosok Mbah Wito.


Sari tak bergeming, ia berbisik mengucap selarik mantra pemanggil roh. "Keluarlah kalian, bantu aku menghadapi mereka!"


Ratusan lelembut pengikut Sari muncul. Ikut berbaris rapi diantara pak Agus dan para kesatria muda. Pak Agus mengambil nafas dalam, "Aku tidak akan menyesal meski hidupku berakhir disini!"


Mbah Wito menatap Sari dan sekutunya dengan seringai mengerikan. Ia meraung keras, memberi komando pada pasukan iblis lainnya untuk menyerang.


Dalam sekejap pertarungan pasukan iblis pimpinan Mbah Wito beradu dengan kesatria muda dibawah pimpinan pak Agus pun tak terelakkan. Sari melesat ke atas, membekukan udara sekitar agar bisa melayang setinggi mungkin. 


Sebelum pergi menyusul pak Agus ke gunung Arjuno, Mika mengajari Sari cara membuat rune sihir. Dengan kekuatan yang dimilikinya rune sihir buatan Sari terbentuk dalam ruang hampa. Bola sihir keemasan itu dilemparkan ke arah pasukan iblis.


Pasukan iblis yang terperangkap dalam rune sihir seketika hancur menjadi debu. Beberapa kali Sari melemparkannya membantu pak Agus mengatasi pasukan iblis.


 Sari berhenti sejenak mengatur nafas, mata tak biasa miliknya mencari sosok Airlangga. Angin kencang menghempas Sari dengan keras, hingga ia tersungkur di atas candi tepat di depan pintu gerbang iblis.


Sari menyeringai, energi Airlangga menyapanya. Dengan segera ia berbalik dan mendapati Airlangga berdiri dengan senyum angkuhnya.


"Lama tidak berjumpa, Sari!"