
Sari terbungkus cahaya yang amat menyilaukan, ia memejamkan mata sambil berdoa dengan penuh harap agar keputusannya benar.
Tubuhnya yang seringan kapas tiba-tiba saja terangkat dengan cepat, begitu cepatnya hingga membuat tubuh Sari yang belum siap serasa menghantam ribuan jarum kecil dan itu sangat menyakitkan. Jantungnya terasa akan meledak, karena aliran darah yang mengalir lebih cepat tiga kali lipat dari biasanya.
Cahaya kemerahan itu membawanya melintasi dimensi waktu dengan cepat. Berbagai macam peristiwa seolah berputar di sekeliling Sari. Berpindah dari satu masa ke masa lain, siang dan malam berganti dalam hitungan detik. Hingga akhirnya, waktu kembali melambat dan perlahan berhenti.
BLAP!
Cahaya kemerahan yang membungkus Sari seketika menghilang. Tinggallah Sari yang tergeletak bersimbah keringat dengan tubuh nyeri luar biasa dan sakit kepala hebat.
"Iiish, sial! Aku baru tahu meloncat beberapa masa di ruang waktu itu menyakitkan!" gerutu Sari seraya mencoba untuk berdiri.
Kakinya gemetar, ia mengatur nafas dan energinya sejenak sebelum memperhatikan sekitar. Sari ada di tangga darurat, ia berusaha mengingat kejadian 15 tahun silam.
"Ini, kalau tidak salah saat dimana Lingga mengirimkan sinyal ke masa lalu. Masa peperangan Majapahit dan Pasundan."
Sari melihat tulisan di pintu masuk tangga "Lantai tiga, artinya aku ada di …," gumaman Sari terhenti saat mendengar suara teriakan. Ia segera bersembunyi.
"Saka? Ngapain disini, apa kamu lagi uji coba sama anak itu?"
Suara wanita itu terdengar lantang menegur Saka, Sari mengintip dari balik dinding tempatnya bersembunyi. "Atika,"
"Kamu ngikutin saya? Nggak perlu tahu saya ngapain, bukan urusanmu! Lebih baik diam dan ikuti perintah pak Lingga."
"Ciiiih, apa istimewanya anak itu? Sampai seujung kukunya pun tidak boleh aku sentuh! Aku jadi penasaran sama rasa anak itu!"
Saka berlalu meninggalkan Atika yang terlihat tidak suka dengan apa yang telah dilakukan Saka.
"Jadi, Saka yang mengirimkan sinyal ke masa lalu? Bukan Lingga? Sial aku meremehkan anak itu!" Sari baru mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Atika, dia suruhan Airlangga yang memasuki alam bawah sadar. Dia yang menggigitku dan memberikan racun itu pertama!"
Sari berpikir sejenak, "Aku harus membunuhnya sebelum terlambat!"
Atika hendak kembali ke ruangan Lingga saat dirinya menyadari ada kekuatan lain di ruangan itu, "Siapa disana?! Keluar atau kau akan …,"
"Lama tidak berjumpa Atika!" Sari berjalan perlahan keluar dari persembunyian.
"Kau," Atika bingung, ia jelas-jelas melihat Sari keluar dari pintu darurat. "Bagaimana mungkin?"
"Tak perlu kau pikirkan, bukankah kau ingin tahu rasanya menggigitku?" Sari bertanya dengan tatapan tajam. "My blood is very tasty!"
Jantung Atikah berdegup lebih kencang, ada getaran aneh yang menjalar di hatinya. Perasaannya tak enak, tapi Atikah mengindahkannya. Ia berjalan mendekati Sari dengan senyuman sinis.
"Benarkah?! Kau menantangku rupanya!"
Sari menyeringai, "Aku tidak datang jauh-jauh kemari untuk merindukanmu, aku datang untuk membunuhmu!"
Sengkayana muncul ditangan Sari mengeluarkan aura angkernya yang membuat Atikah terbelalak. Nyalinya ciut seketika saat ujung Sengkayana berada tepat di depan dadanya.
"Kau, yang membuat hidupku masuk dalam putaran keabadian. Kau mengacaukan segalanya, membuat tatanan Ilahi yang indah hancur berantakan!"
"Bicara apa kau Sari! Lancang kau menantangku, bersiaplah!" Atika berteriak lalu menyerang Sari dengan cepat.
Atikah, nightwalker yang tak menggunakan senjata apa pun nekat menyerang Sari dengan Sengkayana di tangan.
"Bodohnya dirimu, Airlangga menitipkan pesan padamu,"
Atikah sempat terhenyak mendengar perkataan Sari, "Airlangga? Dia tahu aku disisi Airlangga, kekasihku?!"
Atikah lengah, Sengkayana yang memijar kemerahan dengan mudah menebas tubuhnya. Sari melirik ke arah Atikah yang kini ada disampingnya, "Bye, Atikah!"
Tebasan memanjang yang membelah tubuh Atikah bersinar kemerahan, dan perlahan membakar tubuhnya, meniup sisanya bagai dedaunan kering di musim gugur.
"Satu masalah selesai, dia tidak akan masuk dalam mimpiku. Sekarang aku harus menemukan Airlangga, tapi dimana dia?"
"Bibi, cepatlah! Ingat jangan perlihatkan dirimu pada yang lain!" Suara Pandji terdengar jelas di kepala Sari.
"Iish, anak itu. Kamu pikir aku sedang nostalgia disini? Aku sedang berusaha disini Boy!" gerutu Sari seraya menyelinap keluar dari pintu darurat.
"Aku harus segera tiba dirumah. Aku merasa jika ada yang terlewatkan olehku!" Batin Sari dan ia pun bergegas keluar dari gedung perkantoran.
Menerobos gerimis yang mulai memayungi kota. Sari tiba lebih dulu di kontrakan, ia melihat mbak Pur sedang menunggu di teras.
"Mbak Pur pasti khawatir," Sari melihat wajah sayu mbak Pur yang sesekali melihat ke ujung jalan, menantinya pulang.
Sari mengurungkan niat untuk mendekat, ia memilih untuk bersembunyi. Jika perhitungannya tepat, malam nanti Sari kedatangan tamu tak diundang. Sari masih mengingat jelas mimpi aneh yang memberinya petunjuk nyata.
Sari bersembunyi dalam gelap, menanti ditengah derasnya hujan. Cahaya menyilaukan terlihat dari ujung jalan. Sebuah mobil masuk di halaman rumah, itu Sari dan timnya.
Sari terkesiap saat melihat sosok Bagas turun bersama Doni, Ahmad, dan juga Rara. Kerinduan seketika menyergapnya. Mata Sari mengembun, melihat Bagas dan yang lain bersenda gurau. Ingin rasanya ia menghambur ke arah mereka, memeluk Bagas dan menumpahkan kerinduannya.
Setelah Bagas dan timnya masuk ke dalam rumah, Sari baru berani mendekati rumah kontrakan miliknya belasan tahun lalu itu. Ia menyelinap ke arah belakang, mengendap endap diluar kamar miliknya.
Terdengar suara obrolan Doni dan Sari yang berbicara mengenai liputan yang sebenarnya enggan dilakukan. Pembicaraan mereka lebih kepada liputan dan pak Lingga.
Sari dari masa depan mendengarkan dengan jelas, tidak ada cerita tentang gigitan lagi. Sari telah membunuh Atikah sebelum ia masuk dan mencuri mimpi Sari.
"Sepertinya jalan cerita juga berubah. Atikah mati sebelum dia sempat memasuki mimpiku. Itu artinya … aah, sial Airlangga pasti tidak akan datang untuk memastikan tugas Atikah berhasil!"
Sari menyadari kesalahannya, ia memutar otak untuk bisa menemukan Airlangga. Memorinya kembali berputar, ia tidak mungkin meminta Pandji mengirimnya ke masa lain lagi. Waktu akan semakin terbuang percuma.
"Siapa disana?!" Suara yang tak asing bagi Sari tiba-tiba saja terdengar berteriak padanya, Bagas.
Sari terpaku, suara langkah kaki Bagas semakin mendekatinya.
"Hei, siapa kamu? Sedang apa kamu disana?!"
Sari yang posisinya membelakangi Bagas memejamkan matanya, membulatkan tekad untuk berbalik menatap sosok kekasihnya yang sangat ia rindukan beberapa waktu lalu.
"Ini, aku!" Sari perlahan berbalik, ia menatap Bagas.
"Sari? Bukannya kamu di dalam? Ngapain kamu disini, hujan-hujanan lagi! Dan pakaianmu, ehm … kapan kamu ganti pakaian begitu?!" Bagas menatapnya dengan heran.
"Bagas, aku bukan …,"
"Gas, kamu dimana? Lagi ngomong sama siapa sih?"
Mata Sari dari masa depan membulat seketika, itu dirinya. Ia harus segera bersembunyi. Sari manfaatkan waktu sepersekian detik saat Bagas menoleh ke arah Sari dari masa lalu.
"Lho Sar, kok kamu …," Bagas bingung, jika yang di depannya Sari lalu siapa Sari yang berpakaian aneh dan hujan-hujanan tadi.
"Kenapa, kok bingung gitu? Masuk yuk, mbak Pur dah nyiapin makanan!"
"Tunggu, kamu daritadi di dalam rumah?"
"Ya iyalah, aku di kamar ngobrol sama Doni masalah liputan! Ada apaan sih, Ayo cepetan masuk laper nih, dingin pula!" Sari menarik tangan Bagas yang kebingungan. Ia kembali menoleh ke arah dimana dia bertatap muka dengan Sari yang lain.
"Eh tapi tadi itu ada …,"
"Ccck, udah bawel jangan ngomong lagi! Cepetan masuk!" Sari bersikukuh menarik tangan Bagas untuk segera masuk ke dalam rumah.
Sari dari masa depan menatap Bagas dari kejauhan dengan sayu, ia merindukan lelaki yang nyaris menjadi suaminya itu. "Maafin aku, Bagas!"
Sari tak bisa membendung air mata yang membanjir di kedua mata indahnya. Takdir memisahkan mereka, takdir tak mengizinkan mereka untuk bersatu. Tiba-tiba saja Sari menangkap energi asing yang berkelebatan di sekitar rumahnya.
"Siapa itu," gumamnya lirih.
Sari bersembunyi dengan cepat, ia penasaran siapa yang mengintai kediamannya setelah rencana Airlangga diubah Sari. Sesosok bayangan hitam muncul dari balik pohon besar di belakang rumah. Ia mengenakan jubah hitam persis seperti dalam mimpi Sari dulu.
"Apa dia, Airlangga?" Sari menajamkan mata melihat ke arah sosok yang semakin lama semakin mendekat.
Dari perawakannya, Sari bisa memastikan itu Airlangga. Sosok berjubah hitam itu rupanya merasakan kehadiran Sari yang sengaja memancingnya dengan energi Sengkayana.
"Jika dia Airlangga bisa dipastikan dia akan mengenali ini!" Sengkayana memijar di tangan Sari.
Ia pun keluar dari persembunyiannya, tersenyum mengejek pada sosok yang terlihat begitu terkejut dengan kedatangannya. Matanya langsung tertuju pada pedang kemerahan yang ada ditangan Sari.
"Sari?"
Suara dari balik penutup wajah itu memegang mirip Airlangga, tapi Sari ingin memastikannya lagi.
"Surprise!"
"Bagaimana bisa pedang itu ada padamu?" Airlangga yang terpancing menurunkan penutup wajahnya.
Sari tersenyum puas, pancingannya berhasil. Airlangga 15 tahun lalu memang masih sama seperti Airlangga di masa depan, hanya saja Sari bisa merasakan tingkatan energinya masih jauh jika dibandingkan dirinya saat ini.
Ini tidak akan butuh waktu lama, setidaknya cukup 15 menit!
Sari mengangkat Sengkayana miliknya, menimangnya sejenak lalu melihat pada lelaki immortal dihadapannya.
"Kau menginginkannya? Cobalah rebut dariku!"
Airlangga berubah beringas, wajahnya yang tampan berubah mengerikan seketika dengan sepasang taring kecil menghiasi.
"Dengan senang hati!"
Airlangga mengejar Sari yang segera berlari menuju tempat lain. Ia tidak ingin membahayakan nyawa Doni dan yang lainnya. Tujuannya satu, perbukitan terdekat dari rumahnya.
Aku harus cepat, jika tidak portal waktu akan tertutup kembali!