
Pagi-pagi Doni sudah menerima kabar dari Saka yang kini telah merapatkan barisan bersama kesatrian lain di Putra Ganendra. Ekspresi serius terukir jelas di wajah eksotiknya. Sari memperhatikan dari tempat duduknya.
"Ada kabar apa dari Saka?" Sari tidak sabar ingin segera mengetahui berita terbaru dari Pakualaman.
"Mereka mulai bergerak ke daerah timur. Pandji dan teman-temannya sedang menyelidiki sesuatu di Jombang, sementara mas Al sesuai dengan penglihatanmu dia juga bersiap bersama teman-teman lain menghadapi tujuh dukun hitam yang bergabung bersama iblis."
"Dendam lama keluarga yang dipelihara dengan subur akhirnya harus dibersihkan juga," gumam Sari lirih.
Doni duduk di sebelah Sari, ada kegelisahan yang ia tunjukan dari gestur tubuhnya.
"Gimana sama kamu sendiri? Sampai detik ini kamu masih belum bisa ikhlas memadamkan api dendam dihati kamu kan?" Doni bertanya menatap wajah ayu sang istri.
Sari tersenyum getir, "Berkata untuk memaafkan memang mudah tapi menjalaninya itu sulit. Aku ingin tapi aku tak sanggup … ehm, maksudku belum. Airlangga telah banyak mengambil kenangan indah dari hidupku. Dia bahkan mengubahku menjadi seperti ini," Sari berhenti sejenak, menghela nafas dan kembali berkata
"Tanpa aku sadari dia bahkan memberiku sedikit dari roh iblis, apa aku harus memaafkannya dengan mudah?"
Sari menatap suaminya dengan mata berkaca. Kenangan masa lalu kembali membayang. Kenangan yang seharusnya tertidur dalam pikiran Sari.
Doni mengusap lembut kepala Sari, "Lakukan apa yang perlu kamu lakukan, aku akan mendukungmu sepenuhnya!"
Perkataan Doni memang ampuh menenangkan Sari tapi Doni sendiri tidak bisa menenangkan hatinya. Obrolan panjangnya dengan Bayu semalam cukup membuat Doni resah. Ditengah obrolan dengan Sari, Doni sering terdiam. Matanya menerawang jauh, ada rasa takut dalam hatinya.
Takut jika ia tidak bisa melindungi satu satunya wanita yang ia cintai, takut jika hal buruk menimpa mereka berdua. Airlangga tidak mungkin melepaskan Sari begitu saja, dendamnya pada Sari bisa dipastikan baru akan selesai jika Sari mati atau setidaknya menderita. Oh tidak …,
"Kenapa? Kok gelisah gitu?" Sari penasaran dengan Doni yang kerap diam tiba-tiba.
"Aku inget omongannya Bayu, gimana kalo aku nggak bisa mengendalikan kamu beb?" Doni menatap tajam netra Sari yang berwarna kecoklatan.
Sari tersenyum teduh, ia menyentuh lembut lengan suaminya. "Kamu bisa dan aku percaya, kamu bisa melakukannya!" Ia meyakinkan Doni pada kemampuannya.
"Benarkah? Lalu bagaimana kalau ..,"
"Ssst, jangan lanjutin! Jangan menyerah sebelum mencoba! Yakin sama kekuatan diri sendiri, seperti aku yang meyakini diriku sendiri bahwa aku nggak akan pernah menjadi sekutu Airlangga!"
Sari membungkam bibir Doni dengan sebuah ciuman lembut. Ia ingin Doni percaya dan yakin bahwa dirinya tidak akan berpaling dari Doni. Tidak sedetikpun.
Ciuman lembut Sari lama kelamaan berubah menghangat, Doni menyelipkan tangan kanan ke dalam rambut Sari menekannya lembut dan menahannya, membawa Sari semakin dalam pada ciuman yang penuh sensasi.
Mereka rindu saling bersentuhan, rindu saling menghangatkan. Waktu keduanya sedikit terganggu oleh urusan invasi iblis yang memuakkan. Jadi pagi itu Doni ingin merengkuh istrinya dalam ciuman pagi yang memabukkan.
"Uhuk …," suara batuk dari seorang laki-laki menghentikan ciuman panas Doni dan Sari.
"Astaghfirullah, saya mengganggu ya … ehm, anu saya tak ke rumah lagi deh kalo gitu. Monggo dilanjut mumpung masih pagi, masih anget!" Pak Agus berkata dengan menahan senyum. Malu karena memergoki pasangan sah yang sedang memadu kasih.
Sari dan Doni tersipu malu, tingkah liar keduanya yang tanpa permisi datang membuat keduanya sedikit melupakan posisi mereka yang sedang berada di ruangan terbuka.
"Eeh ada pak Agus, maaf kebablasan pak! Kalo dah liat wajah istri berasa pengen tidur aja!" Doni menjawab dengan cengengesan dan menggaruk kepalanya, salah tingkah.
"Aah, maklum namanya juga ehem … belum punya momongan, maunya ya berduaan ajah sama seperti saya dulu!" Pak Agus ikut mesam mesem nggak jelas, membayangkan masa mudanya dulu.
"Pak Agus ada perlu sama kita?" Sari mencoba mengalihkan obrolan dua pria dewasa di hadapannya itu.
"Hmm, sepertinya benar mereka bagian dari ketujuh dukun itu!"
"Terus gimana beb, kita ke Jombang?" Doni bertanya memastikan langkah selanjutnya.
Sari terdiam, mata tak biasanya menangkap energi aneh yang sedang dihimpun sesuatu atau lebih tepatnya sekelompok iblis.
"Utusan kegelapan kembali hadir, dia menghabiskan penduduk satu desa! Mengerikan!"
"Maksud kamu?" Doni bingung dengan ucapan Sari yang masih melihat dengan mata tak biasanya.
"Mereka membunuh para penduduk dengan keji dan ketujuh dukun itu ada disana!"
Doni dan pak Agus saling berpandangan dalam kengerian. "Apa kita kesana menyelamatkan mereka?" Doni bertanya lagi.
Sari menggelengkan kepala, "Nggak, percuma! Mereka sudah habis dalam waktu semalam!"
Membayangkan kengerian yang terjadi membuat keduanya hanya bisa membuka mulut lebar. Akankah kekacauan ini akan menjadi akhir dari bangsa manusia?
Sari terdiam, menghitung waktu dengan rumusan kuno tertentu menggunakan jarinya. Dahinya berkerut sejenak, lalu memiringkan kepala. Ia terkesiap, "Gawat!"
Doni dibuat terkejut dengan ucapan singkat Sari, "Apa, ada apa? Apanya yang gawat!"
"Kita harus pergi, bersiaplah menuju pertempuran besar!"
Ekspresi Sari seketika menegang, jika petunjuk yang dilihatnya dalam masa depan itu benar maka malam nanti adalah puncak pertempuran hitam dan putih terjadi.
"Pak Agus bersiaplah, kita akan ikut dalam barisan aliansi putih!"
******
Melalui portal dimensi Sari membawa pak Agus, Doni, dan keempat penjaganya ke tempat dimana akan terjadi area pertempuran dahsyat sepanjang abad. Heksagram yang dibuat berlapis oleh Pandji terlihat bersinar terang.
Kubah pelindung milik pangeran iblis yang bernama Nergal itu pun sudah hancur berkeping-keping dihantam energi Lanjaran milik leluhur Pandji.
Malam terasa lebih senyap, binatang malam pun menghilang bersembunyi di balik peraduan. Awan hitam tampak begitu cepat menguasai langit.
"Apa ini? Kita kalah jumlah mbak?!" Pak Agus tampak panik melihat banyaknya pasukan iblis.
"Apa mungkin kita akan menang mbak?!" Mata pak Agus menatap nanar ke arah lawan yang kini berhadapan seolah sedang menghadapi pertempuran kolosal ala negeri fantasi.
Sari tersenyum menyeringai, taktik yang digunakan Pandji sungguh cerdik. Ia melindungi aliansinya dalam heksagram. Meski aliansi putih kalah jumlah dan kemungkinan kecil untuk menang, Sari yakin perhitungan Pandji sudah tepat.
Heksagram yang dibuat berlapis oleh Pandji akan memberikan serangan balik pada lawan hingga iblis tingkat terendah pun akan mudah dikalahkan.
Suara lolongan dari panglima iblis terdengar menggema dan bersahutan bersamaan dengan teriakan lantang sang kesatria,
"Petir Merah Ganendra!"