
Sari meminta Doni untuk kembali ke Semarang. Setelah pertemuannya dengan Airlangga, Sari merasa tidak nyaman. Sepanjang jalan Sari hanya terdiam.
"Kenapa? Masih nyesel?"
Sari hanya menjawab singkat, "Nggak."
Doni diam memperhatikan istrinya, sebentar lagi mereka tiba dirumah. Mbak Asri dan mbak Pur membukakan pintu gerbang untuk majikannya. Wajahnya begitu sumringah, keduanya merindukan Sari.
"Mbak Sari," sapa mbak Pur dengan senyum lebar.
Sari turun dengan wajah masam, ia hanya tersenyum kecil dan berlalu meninggalkan kedua asisten rumah tangganya itu. Mbak Asri dan mbak Pur saling memandang.
"Mas Doni, itu mbak Sari kenapa?" Mbak Pur bertanya.
"Biasa mbak, PMS!" jawab Doni cengengesan.
Keduanya pun hanya ber-oh ria, tak berani bertanya lebih lanjut. Mood Sari sedang kurang baik jadi lebih baik untuk membiarkannya sendiri dulu.
Doni menyusul Sari ke dalam. Ia tidak menuju ke kamar tapi langsung ke ruang kerja. Ia termangu menatap whiteboard besar di depannya. Papan tulis yang hampir penuh sesak dengan data para lelembut.
Sari memperhatikan dari ujung ke ujung. Saat ia pertama membabat habis lelembut wanita pertama yang merasuk ke tubuh wanita di Aceh hingga terakhir ia berpetualang di daerah Purwojati, menghalau lelembut penggoda yang jahil menyembunyikan anak-anak di waktu malam.
"Beb, udah malam. Istirahat dulu!"
Sentuhan lembut Doni di bahunya tak membuat Sari bergeming. Ia mendekati whiteboard, mengurai satu persatu tempelan kertas warna warni.
"Lima belas tahun aku mencari, akhirnya sekarang sampai juga di titik terakhir."
Doni diam mendengarkan, "Aku pikir, waktu ini nggak akan pernah sampai dan aku akan selalu hidup dengan dendam."
Sari menghela nafas, tangannya terus bekerja melepaskan hampir seluruh kertas disana. Ia meletakkannya di meja.
"Kamu gugup?" Doni bertanya, tangannya menyilang ke depan dada dan bersandar pada meja kerja miliknya.
Sari tidak menjawab dengan cepat, ia mengambil salah satu kertas berwarna hijau muda.
"Siluman kelelawar, dua puluh satu Mei tahun 2010, Palembang, mati terbakar!" seulas senyum muncul di bibirnya.
"Yang ini tanggal delapan bulan sepuluh tahun 2014, misteri keranda, Magetan, end story."
Sari kembali mengambil potongan kertas, membacanya sekilas dan kembali meletakkannya di tumpukan catatan perjalanan berburunya.
"Aku takut … takut, kalau semangat itu hilang. Hampir aja aku nyerah, hampir aja …," Sari memejamkan mata.
Doni mendekati istrinya, lalu memeluknya. "Kita sudah sampai disini, mau mundur itu nanggung! Airlangga sudah bangun dan menantang kita."
"Keluarlah kalian semua!"
Sari menggunakan mantra sihir untuk membuka semua kotak yang menyimpan benda-benda pusaka miliknya. Dalam sekedipan mata, roh penunggu keluar dan menampakkan diri ke hadapan Sari.
Mulai dari Nyai Laksmi yang cantik, Dewi ular, harimau putih, kesatria muda, hewan spiritual dengan aneka rupa hingga sosok menyeramkan yang berhasil ditundukkan Sari. Semuanya hadir dan menjura hormat pada tuannya.
"Aku butuh bantuan kalian!"
Wajah Sari begitu serius, ia menatap satu persatu roh penunggu pusaka dihadapannya.
"Bantu aku menghadapi Airlangga, dan setelah itu aku bebaskan kalian untuk selamanya!"
Roh pengisi pusaka segera menjawab dengan kompak. Mereka bersumpah setia pada Sari hingga kematiannya. "Bagus, bersiaplah menghadapi pertarungan besar!"
Para roh penunggu kembali masuk ke dalam pusaka masing-masing. Hanya Nyai Laksmi saja yang masih enggan untuk pergi.
"Ada apa nyai?" tanya Sari pada nyai Laksmi yang malah duduk manis di sofa.
"Airlangga, apa dia masih sama seperti dulu?" pertanyaan nyai Laksmi sontak membuat Sari terkejut.
"Kenapa nyai menanyakan hal itu? Kangen sama dia?" Sari berusaha menahan senyum.
"Ehm, bukan … bukan begitu maksudnya, Kekuatan Airlangga apa masih sama seperti dulu ataukah …,"
"Maksud Nyai loyo, lemes, nggak semangat gitu?" Doni yang tak sabar memotong perkataan Nyai Laksmi.
Nyai Laksmi langsung menatap tajam Doni dengan sorot mata tak suka. "Eh, salah ya? Habisnya Nyai kebanyakan ragu sih nanyanya, to the points aja kenapa sih?!"
"Maksudku, jika kekuatan Airlangga masih sama seperti dulu pertarungan ini tidak akan sulit untukmu Sar, tapi kalau kekuatannya sudah meningkat … itu akan cukup sulit untukmu!"
Sari menghela nafas berat, "Airlangga meminta bantuan Raja iblis, Nyai."
"A-apa? Kamu serius?!"
Sari mengangguk pelan, "Ini akan sulit, pertarungan kalian akan sangat panjang."
"Aku tahu, kakek Wisesa dan Bayu sudah memberikan gambaran tentang hal itu!"
"Aku akan membantumu, aku akan memanggil Danyang terbaik untuk menjadi pasukan kita!" Nyai Laksmi berbicara sebentar mengenai persiapannya lalu pamit undur diri masuk kedalam batu mustika.
Sari memutuskan untuk beristirahat, pikirannya berat dan penuh dengan sejuta rencana. Tubuhnya terasa lelah sekali. Ia pun terlelap dalam dekapan Doni.
What will be will be, baik dan buruk harus aku hadapi! Aku harap ini pertemuan terakhirku dengan Airlangga!