Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Pandji dan Mustika Penyihir



Pertarungan pasukan iblis dan manusia berlangsung sengit. Meski kalah dalam jumlah tapi semangat untuk melindungi keberlangsungan hidup umat manusia yang tinggi membuat para ksatria pantang menyerah.


Berbagai macam mantra sihir digunakan untuk melawan pasukan iblis. Bantuan dari aliansi putih juga mulai berdatangan dari berbagai kota. Mereka semua ingin menjadi bagian sejarah dalam pertempuran terbesar abad ini.


Waktu cepat berlalu hingga tak terasa sudah lebih dari tiga hari, peperangan itu berlangsung. Kelelahan nampak jelas di wajah mereka. Korban pun semakin banyak berjatuhan. Lelah dan memaksa diri untuk bertarung tanpa jeda membuat para kesatria tidak mampu lagi untuk berkonsentrasi.


Tak terkecuali Doni dan Saka yang terus memompa semangat juang para ksatria. Ada batasan yang tidak bisa dilampaui manusia biasa, berbeda dengan para lelembut yang masih mampu bertarung selama berhari hari. 


Meskipun Doni dan Saka telah melakukan pergiliran kelompok tapi tetap saja ketegangan, kelelahan, dan keputusasaan mulai menghantui mereka. Kediaman Saka yang digunakan sebagai benteng utama pertahanan, dipenuhi wajah-wajah sayu yang tertunduk lesu.


Kania dan Erick tidak tinggal diam, meski Sari meminta mereka untuk berlindung tapi keduanya bersikeras membantu. Mereka dibantu para pegawai Saka bahu membahu menyediakan makanan dan minuman untuk memulihkan tenaga para kesatria.


Sesekali keduanya juga tak segan untuk memijat atau sekedar mendengarkan keluhan para kesatria sembari mengobati luka-luka di tubuhnya. Kania dan Erick berjuang dalam artian yang berbeda.


Rune sihir Mika pun hanya menyisakan cahaya redup pertanda mana sihir hampir habis.


"Uncle, apa yang harus kita lakukan?" Mika cemas, melihat banyak sekali kesatria yang harus ditarik mundur karena terluka, sementara pasukan iblis yang datang semakin banyak.


"Hubungi ayahmu Mika, kita membutuhkan bantuannya segera!"


Mika terdiam, ia tak perlu menghubungi Alaric dan putranya karena saat ini keduanya sudah tiba dan tengah membabat habis pasukan iblis yang menghalangi jalan mereka untuk memasuki kediaman Saka.


"Mereka datang uncle!" Wajah Mika sumringah melihat kedatangan dua orang lelaki berbeda generasi datang dengan aura angker dari masing-masing pusakanya.


Doni bernafas lega, jujur saja ia mulai kehilangan semangat dan rasa percaya dirinya. Kelelahan yang mendera setelah berhari hari bertarung menghilang seketika saat melihat Al dan Pandji datang membantu.


"Maaf kami terlambat datang," sapa Al setelah mengikis jarak dengan Doni.


"Traffic jam?" tanya Doni dengan seringai jenaka 


"Begitulah, iblis itu menciptakan banyak kekacauan di jalanan. Kami terpaksa sedikit melakukan pembersihan jalan!" 


"Mereka benar-benar mengacaukan dunia kita! Saya nggak berani bayangin seperti apa kota ini sekarang?!" 


"Kota ini sudah seperti kota mati yang hanya dihuni para iblis. Mayat dimana-mana, belum lagi kawanan iblis yang asik memangsa hidup-hidup manusia. Menjijikkan, apa enaknya makan daging mentah!" Pandji kali ini ikut angkat bicara.


"Untuk mereka itu menu sehat mas!" Mika menyahut dengan seringai masam.


Pandji yang sedari tadi tak melihat keberadaan Sari kembali bertanya, "Dimana bibi? Bukankah ini pertarungan bibi dengan Airlangga?" 


"Aunty Sari, mas Pandji!" Mika mengoreksi panggilan Pandji untuk Sari.


"Aku lebih suka yang berbau dalam negeri Mika."


Doni terkekeh melihat ekspresi datar putra pertama Alaric yang memang sangat menggemaskan.


"Aunty Sari memancing Airlangga ke tempat lain, dia nggak mau orang-orang yang menjadi kelemahannya menjadi sasaran Airlangga."


"Sampai kapan pertarungan ini akan berakhir paman? Seluruh kota hampir hancur karena mereka berdua, aku hanya tidak rela kalau kota yang indah ini rata dengan tanah!" 


"Entahlah mas, keduanya sama-sama kuat dan sama-sama immortal. Paman sendiri tidak tahu apa ada cara lain untuk menghentikan ini." 


Pandji berpikir sejenak, "Ada cara lain! Mungkin cuma ini satu satunya cara menyelesaikan pertarungan mereka."


Doni dan Al saling memandang, Pandji tidak ingin menceritakan rencananya. Ia berjaga dari angin yang mendengar. Pandji pun bergegas menuju lokasi Sari dan Airlangga bertarung. 


Jejak energi mereka terbaca hanya dalam hitungan detik saja. Pandji dibuat takjub dengan kekuatan dua immortal yang tengah bertarung habis-habisan. Ia belum pernah melihat kekuatan yang begitu besar, hanya dua orang tapi sudah menghancurkan hampir seluruh bangunan dan jalanan di pusat kota.


Pandji sungguh tak rela kota favorit keduanya setelah Yogyakarta yang begitu indah harus hancur dan diacak-acak dua immortal hanya karena dendam.


Pandji baru saja datang, tak disangka disambut dengan pekerjaan harus menangkap Sari yang meluncur deras ke arahnya seperti bola yang baru saja di tendang Airlangga. 


Kaki Pandji siaga dan energinya telah siap saat Sari akhirnya menabraknya dengan kuat. Tangan Pandji langsung melingkari pinggang Sari agar tidak terjerembab setelah punggungnya menghantam tubuh kokoh Pandji.


"Bibi tidak apa-apa?" tanya Pandji setengah berbisik di telinga Sari.


"Bibi?" Sari menoleh sekilas dan mengernyit menahan tawa. "Dari mana Mas Pandji dapat panggilan konyol itu?"


"Aku suka dengan panggilan lucu itu, memberi kesan Jawa yang kental untuk seorang bule," jawab Pandji jenaka. "Jadi pria tampan itu yang bernama Airlangga?"


Sari melepaskan diri dari pelukan Pandji, "Dia sangat kuat, aku tidak bisa menghadapinya lagi. Lima belas tahun yang sia-sia. Aku memang semakin kuat, begitu juga dengan Airlangga. Kami sama-sama immortal dan ini sudah berhari-hari. Aku mulai lelah."


Pandji berpikir cermat, kalau Sari yang berpegang pada sengkayana saja tidak mudah membunuh Airlangga, apalagi dirinya yang hanya bersenjatakan tombak hasil meminjam dari adiknya? Tombak Sepuh Pandowo, berisikan roh naga yang sayangnya tidak mau takluk pada Pandji. 


"Ya, pedangku salah satunya!"


"Jika tidak bisa menghabisinya di masa sekarang, bibi bisa menghabisinya di masa lima belas tahun lalu, sebelum dia menjadi kuat dan gila seperti ini. Aku akan membuka portal waktu jika bibi bersedia menjelajah ke saat semua ini belum dimulai."


"Apa, kembali ke masa lalu? Apa itu artinya aku … akan bertemu Bagas? Ehm, maksudku semua teman-temanku?"


"Begini, aku bukan Tuhan yang bisa menghidupkan orang mati. Siapapun yang sudah meninggal tidak mungkin ada dan bisa ditemui dalam penjelajahan waktu yang bakal bibi jalani, aku hanya memberikan ruang singkat pada bibi untuk membunuh Airlangga di masa lalu. Itu saja!"


Sari menyimak antusias, tapi sedikit kecewa mendengar akhirnya. Ide Pandji mengirimnya ke masa lalu membuat Sari sedikit gugup. Ia berusaha mengingat kembali momen tepat untuk membunuh Airlangga di masa lalu. 


 "Oh, baiklah kalau begitu. Kirim aku sekarang ke masa sebelum Airlangga menggigitku!"


"Bibi yakin itu waktu yang terbaik? Pemilihan momen yang tepat akan sangat berpengaruh pada hasilnya. Ingat waktu bibi tidak banyak!"


"Aku harap pilihanku benar," meski Sari sedikit ragu tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.


"Baiklah, bersiaplah Bi ini akan sedikit sakit." Perkataan Pandji membuat Sari semakin gugup.


"Hm, Bibi bolehkah aku bertanya sesuatu? Apa rasanya enak digigit?" tanya Pandji seraya membacakan mantra pada kalung mustika penyihir yang dipakainya, Sari hanya menyeringai masam.


Cahaya sangat menyilaukan keluar dari kalung itu, membungkus tubuh Sari dari atas ke bawah.


BLAP! 


Sari menghilang dari pandangan Pandji bersama kilatan cahaya kemerahan menuju angkasa.


Airlangga berteriak marah, mengepakkan sayapnya dan terbang mengejar cahaya yang membawa Sari pergi.


Pandji mengeluhkan dirinya yang tak memiliki sayap, "Jagad, setidaknya aku membawamu bukan untuk menonton pertunjukan. Aku tau kau naga yang baik, kau juga tau aku juga salah satu putra Ganendra. Adanya sihir elemental yang aku miliki memang membuatmu tak nyaman, tapi kau harus memahami dan bisa menahannya sesaat. Ayahanda sudah setuju meminjamkanmu untuk melawan Airlangga, tapi kalau kau tidak banyak berguna, aku pastikan kau akan mati duluan sebelum …."


Pandji belum selesai bicara saat tubuhnya tersambar naga marah yang langsung melesat cepat mengejar Airlangga ke udara. "Jangan marah, Jagad! Aku tidak mengancammu. Kita hanya harus bekerja sama untuk menahan Airlangga sebentar sampai bibi Sari bisa membunuhnya di masa lalu!"


Andai saja naga itu bisa memaki, mungkin dia sudah menyumpahi Pandji yang sedang memasang ekspresi tak bersalah padanya.


Yah, setidaknya keluhan Pandji berhasil memancing Turonggo Jagad untuk keluar membantunya mengejar Airlangga.


Airlangga melesat cepat mengejar cahaya kemerahan di angkasa, tapi belum juga separuh jalan, tubuhnya dihempaskan kuat oleh sabetan ekor naga tunggangan Pandji.


"Hai paman, bagaimana jika kita bermain main sebentar!" Pandji menyapa Airlangga yang terkejut dengan kehadirannya.


"Siapa yang ..," Airlangga hendak berteriak ketika ia menyadari siapa pemuda yang sedang menantangnya itu. 


"Aah, kau bocah tengik itu rupanya! Kebetulan yang luar biasa, aku berjanji membawamu kembali ke dunia bawah!"


"Ohya? Apakah raja iblis begitu merindukanku, setelah keramahan yang aku berikan kemarin?" 


"Huh, apa kau masih punya nyali untuk kembali berhadapan dengannya bocah!"


Pandji menanggapi dengan ekspresi datar, "Kenapa aku harus takut padanya, dia bahkan tidak bisa menyentuh secuil dari ujung rambutku," 


"Dasar bocah ingusan! Sombong sekali dirimu, aku ingin tahu apa kau sanggup menghadapi pedang iblis ku!"


Airlangga menyabetkan pedang iblis, energinya yang begitu besar menderu bak pemecah karang. Pandji menghindar dan menangkis agar pedang iblisnya tak menyentuh tubuhnya. Setiap pusaka keduanya berbenturan energi besar seolah menghisap dan memperlambat gerakan Pandji.


Pandji menggerutu, di saat seperti ini ia sangat merindukan sepasang pusaka penganten miliknya.


"Andai mereka tidak menghilang pasti aku bisa menghadapi paman iblis ini dengan mudah,"


Turonggo Jagad menggeram, ia tahu apa yang dipikirkan Pandji. "Maaf Jagad bukan maksudku untuk membandingkan dirimu dengan Damar dan Asih Jati, hanya saja aku sedikit … merindukan mereka!"


Airlangga kembali menghujani Pandji dengan sabetan-sabetan pedangnya yang sangat cepat. Pandji terlambat menghindar, ujung pedang Airlangga berhasil menggores punggung kanannya. Satu pukulan mendarat di dada Pandji membuatnya terlempar menabrak Turonggo Jagad.


Naga itu mengulurkan kepalanya sebagai tumpuan kaki agar bisa Pandji menaiki punggungnya. Pandji memutar tombak Sepuh Pandowo diatas kepalanya, Turonggo Jagad berkelebat mengimbangi kecepatan Airlangga yang terus memburu Pandji.


Airlangga berhasil melompat tinggi dan menghadiahi Pandji tendangan pada pelipisnya. Pandji kehilangan keseimbangan dan jatuh dari punggung Turonggo Jagad.


Belum juga Pandji berhasil mengatasi nyeri di kepala dan kaburnya pandangan, Airlangga sudah mengejarnya lagi dengan serangan bertubi-tubi. Dengan tombaknya Pandji berusaha menangkis pedang iblis yang nyaris membelahnya menjadi dua.


Pandji berlari mendekati Turonggo Jagad yang langsung melesat membawanya menjauhi Airlangga. Naga hitam itu berputar tinggi di udara memberi kesempatan Pandji untuk bernafas dan mengatur kembali tenaga dalamnya. Ketika Pandji telah bersiap memandunya menukik tajam, Airlangga telah bersiap menyambutnya di bawah.


"Cepatlah Bibi, aku tak mungkin menahannya terlalu lama! Paman iblis ini lumayan kuat!"