
Sari gemetar menatap sosok Bagas yang muncul persis seperti dalam mimpinya dulu. Wajah tampan Bagas masih sama seperti dulu, ia tersenyum lebar.
"Kamu nggak mau meluk aku?" tanyanya
Airmata Sari akhirnya tak terbendung lagi. Dulu Bagas sering sekali menghibur dalam mimpinya. Membuai Sari walau hanya hitungan detik, tapi semenjak dirinya memutuskan menerima Doni mimpi itu menghilang.
"Ini bener kamu?" Sari bertanya dengan gemetar, ia sama sekali tidak menyangka Bagas akan muncul kembali di depannya.
Bagas mengangguk dan mendekati Sari perlahan, "Aku merindukan kamu sayang,"
Sinar matahari yang menimpa wajah Bagas dan tiupan angin ringan membuat Bagas tampak dua kali lebih tampan. Hati Sari kembali berdesir.
Cinta yang telah lama dihapus seolah kembali muncul tertulis dihatinya. Kerinduannya pada sosok Bagas membuatnya tak bisa mengatakan satu kata pun.
Sari mengusap pipinya menghilangkan jejak air mata. Ia tersenyum dan hendak menyongsong Bagas, ketika sesuatu menahan dirinya.
Jangan …,
Sebuah bisikan memberinya peringatan.
Lihat dengan baik!
Sari berhenti dan mundur perlahan, senyum pun menghilang dari wajahnya. Sosok yang menyerupai Bagas itu berhenti mendekat dan memperhatikan perubahan ekspresi Sari.
"Kenapa Sar, ini aku Bagas? Kamu sayang aku kan, kamu nggak kangen aku lagi?" tanyanya bertubi.
Sari menggelengkan kepalanya, ia mundur satu langkah lagi.
"Siapa kamu, Bagas sudah pergi!"
Aura aneh menyergap Sari, ruangan seketika berubah redup seolah sinar matahari enggan ikut campur. Aroma wewangian aneh tercium menggelitik Indra penciuman Sari. Wewangian yang sangat dibencinya. Wangi lelembut nakal menggoda.
"Kemarilah Sar, aku kangen kamu!"
Sosok menyerupai Bagas itu mendekati Sari. Kaki Sari tiba-tiba saja sulit digerakkan seolah terpaku dan menempel kuat di lantai tempatnya berpijak. Bibirnya kelu tak bisa mengucap kata. Sesuatu atau tepatnya seseorang memantrai dirinya.
"Aku sangat merindukanmu sayang,"
Bagas kini berdiri sangat dekat dengan Sari, tangannya melingkar dan menarik pinggang Sari agar tubuh keduanya semakin menempel. Tangan Bagas menelusuri wajah Sari lembut.
Sari menatap tajam mata sosok tampan di depannya itu.
"Je bent geen Bagas!" (Kamu bukan Bagas!)
Sari mendorong kuat sosok yang dengan kasar memeluknya. Sosok itu tidak mau melepaskan Sari dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku bisa menjadi siapapun dan apapun asal kau memikirkannya!"
Wajah lembut Bagas kini tampak kejam dan bengis, membalas tatapan Sari yang kini penuh amarah.
"Kau lelembut penggoda, beraninya kamu masuk dalam mimpiku!"
Sari kembali berusaha sekuat tenaga melepaskan diri, tapi usahanya sia-sia. Tangan lelembut itu seolah menempel kuat bak gurita dengan tentakel lengketnya.
"Baumu manis sekali sangat menggodaku, apa kau tidak ingin menghabiskan malam denganku?" Lelembut nakal itu kembali mengeratkan pelukannya, membuat Sari semakin terhimpit dan sesak.
Sari kembali berusaha melepaskan tangan lelembut yang masih menyerupai Bagas itu, usahanya menggerakkan seluruh badannya tidak berhasil. Lelembut itu semakin kuat memeluk Sari.
"Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa? Berani sekali kau menyerupai Bagas!"
"Aku, hanya mewujudkan apa yang ada dalam pikiranmu. Yang tersimpan jauh dalam hatimu. Bagaimana, apa kau ingin bersamaku?"
"Aku? Kau ingin aku mengirimmu ke neraka?" sarkas Sari padanya.
Lelembut itu tertawa, "Ini yang aku suka, menantang. Membuatku semakin ingin menguasai mu! Jadilah pengantinku dan kita akan menguasai dunia. Kau dan aku kekal dalam keabadian!" bisiknya ditelinga Sari.
Hembusan nafas nya seolah membius Sari dan membawanya dalam dimensi lain. Sari kembali berpindah alam dimana tidak ada sinar matahari terang disana. Hanya ada temaram cahaya rembulan. Dimensi cermin.
Mata keduanya saling menatap, cahaya kemerahan mulai muncul berkilat dimata Sari. Lelembut itu sedikit terkejut, hingga tanpa sadar ia mengendurkan pelukannya.
Kesempatan bagi Sari, dengan secepat kedipan mata Sari mendorong tubuhnya sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan lelembut penggoda.
"Kau tidak ingin memelukmu kekasihmu ini?" Dengan sombong lelembut itu kembali menawarkan kehangatan semu pada Sari.
"Maaf tapi aku sudah memiliki suami yang tampan! Kau adalah bagian dari masa lalu yang harus aku lupakan!"
Sari meninggikan suaranya, menarik pedang Sengkayana dari dimensinya mengaliri tubuhnya dengan energi keabadian.
"Salah besar kau bertemu dengan ku lelembut bodoh!"
Tanpa bergerak dari tempatnya, kibasan energi pedang Sengkayana menghampiri lelembut tak sopan itu. Ia berhasil menghindar dan melompat melayang di udara.
Wajahnya seketika berubah garang tapi masih dengan wajah Bagas. Ia menukik tajam ke arah Sari bersiap menyerang dengan kekuatan penuh.
Sari menyeringai, ia menyongsong serangan lelembut itu dengan kekuatan Sengkayana. Dengan sekali tebas energi Sengkayana menembus tubuhnya. Matanya membulat sempurna menatap Sari dengan nanar, tak lama tubuhnya terbelah dan jatuh ke permukaan tanah lembab dan hitam.
"Lelembut bodoh! Beraninya memasuki mimpiku dan meniru Bagas! Kau menjemput kematiannya sendiri!" gumam Sari dengan seringai kejam.
Sari melihat sekitarnya, ia ada dalam dimensi lain. Dimensi cermin yang tak berbatas. Sejauh mata memandang hanya ada kegelapan dan pantulan dirinya sendiri.
"Ini dunia cermin, setiap bayanganku dipantulkan lagi. Aku harus menemukan cermin utama,"
Sari mengalirkan energi Sengkayana membuat cahaya kemerahan itu menerangi langkahnya dalam kegelapan. Setiap pantulan bayangan Sari menunjukkan karakter berbeda dari dirinya.
Ada yang menunjukkan kesedihan, amarah, tertawa sinis dan ada pula yang menampakkan dirinya dalam bentuk algojo. Setiap bayangan itu seolah mengejek Sari dan memandangnya remeh, menjatuhkan mentalnya agar berhenti mencari.
Hingga di satu titik ia melihat sebuah cermin tanpa bayangan. Cermin itu lebih besar dari yang lain dengan ukiran aneh di sekelilingnya. Sari berdiri di depannya, awalnya tidak ada pantulan dirinya tapi kemudian bayangan menyerupai dirinya muncul.
"Kau ingin kembali? Untuk apa?" tanya dirinya dalam pantulan cermin.
"Pulang, aku rindu suamiku!" jawab Sari asal.
"Lebih baik kau ada disini bersama kami. Lihatlah mereka, itu adalah dirimu yang sebenarnya!"
"Bukan! Mereka hanya ilusi, yah mungkin memang bagian dari diriku tapi bukan aku yang sebenarnya! Kau memanipulasi bayanganku!" sahut Sari dengan Sengkayana yang masih menyala kemarahan di tangan kanannya.
Bayangan diri Sari tertawa keras tapi sejurus kemudian ia terdiam dan menatap Sari tajam.
"Kau yang memanipulasi dirimu sendiri! Melupakan siapa dirimu sebenarnya! Kau adalah bangsa immortal dan kau mengingkarinya!"
"Tempatmu adalah bersama kami, kaum immortal! Sesuai dengan tingkatan yang lebih tinggi dari manusia!"
"Ccck, aku atau kau yang bodoh!" sahut Sari
"Baiklah bayangan, kau tahu apa yang paling bodoh dari sebuah bayangan? Cahaya, tanpa cahaya kau tidak ada artinya!" Sari menyambung ucapannya tadi.
Seketika Sari dalam cermin itu tersenyum kecut, ada ketakutan di wajahnya. Sari memadamkan energinya hingga cahaya kemerahan tidak lagi merembes keluar dari Sengkayana.
Bayangan duplikasi dirinya perlahan berkurang dan menghilang. Yang tersisa hanya keheningan dalam gelap.
"Tidak, jangan lakukan itu pada kami!" seru bayangan-bayangan dalam cermin itu.
"Huh, tidak akan pernah ada bayangan selama tidak ada cahaya!"
Sari menatap rembulan di dimensi cermin, ia tersenyum. "Itu dia sumbernya!"
Energi Sengkayana kembali meningkat dan dengan sekali lompatan Sari menghancurkan pusat cahaya di dimensi cermin. Bunyi retakan keras yang menjalar terdengar memecahkan kesunyian, tak lama rembulan yang serupa cermin raksasa pecah berkeping-keping.
Cahayanya begitu menyilaukan mata membuat Sari secara refleks melindungi kedua mata indahnya.
Sari merasakan tubuhnya ditarik kuat oleh energi lain. Energi hangat yang ia kenali sebagai energi Doni. Sari mengembangkan senyum, Doni menyelamatkan dirinya.
"Welcome back sweetheart!"