Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Hari yang Melelahkan



Sari masih menatap wanita bercadar itu, aura yang merembes keluar dari wanita itu terasa kuat dan mengancam.


Sihir hitam itu darimana dia dapatkan? Ini ilmu kuno yang sudah lama hilang. Dia membangkitkan kegelapan abadi … wanita itu bagian dari masa lalu keluarga Pandji, dia juga ada dalam mimpiku. Aku yakin itu wanita yang sama!


Sari mengikuti Candika dan wanita bercadar itu tapi ia kehilangan jejak saat seorang pemuda yang berlainan arah menabraknya dengan sengaja.


"Maaf mbak!" kata pemuda itu, seringai aneh tampak menghiasi wajahnya.


Sari menatap pemuda dengan gelagat mencurigakan itu, ia tidak bereaksi. Ia seketika tahu pemuda itu sengaja dikirim untuk menghalanginya. Tubuh pemuda itu diselimuti kabut hitam tipis.


Hhmm, salah satu dari iblis itu … wanita itu tau aku mengikutinya!


Pemuda itu berlalu meninggalkan Sari, tugasnya mengecoh Sari berhasil. 


"Sial, udah keburu hilang deh mereka berdua!" umpat Sari yang celingukan mencari Candika dan wanita bercadar itu.


Sari berjalan hendak kembali ke tempat Doni saat tangannya ditarik dan sebuah pelukan hangat seorang gadis kecil mengagetkannya.


"Aunty! Gia kaget lho aunty ada disini!" Gia kegirangan bertemu dengan Sari.


"Eh Gia …. Ssst, jangan keras-keras! Ingat perjanjian kita kan?" Sari tersenyum dan mengusap puncak kepala Gia.


"Iyaa, Gia ingat makanya Gia tarik aunty kesini biar ayah sama ibunda nggak tau!" jawab gadis kecil dengan mata indah itu kegirangan.


"Aunty ikut turnamen juga ya?"


"No, aunty cuma nganterin aja. Oh ya Gia tahu nggak perempuan yang tadi bareng sama paman Candika? Ehm, yang pake cadar?"


Gia mencoba mengingat dan menggelengkan kepalanya. "Gia nggak tahu aunty tapi mas Pandji sama ayah sepertinya agak terganggu sama wanita itu. Mereka bicara serius setelah melihat paman Candika bersama wanita itu. Apa ada masalah sampai aunty Sari nanyain hal itu?"


Gia cukup cerdas dan langsung bisa menilai bahwa ada sesuatu yang tak biasa sedang terjadi.


"Hhm, nggak kok aunty cuma penasaran aja. Apa ayah Gia nggak bilang apa-apa lagi?"


"No, ayah sama mas Pandji langsung kembali ke rumah,"


"Eeh terus kamu ngapain disini? Nanti dicariin ibunda lho?"


"Well, I see you this morning. Gia mau nyapa tapi ingat sama janji kita, jadi cari kesempatan dulu buat deketin aunty," Gia beralasan dengan membulatkan matanya seperti anak kucing yang menggemaskan.


"Hmmm, ada maunya nih?! So … tell me!"


"Gia kangen sama kang Bayu, bisa anterin Gia kesana lagi aunty?"


"Eeh …," Sari terbelalak mendengarnya dan seketika tertawa kecil.


Sari terlibat obrolan kecil dengan Gia untuk beberapa saat. Celotehan Gia sesekali membuat Sari tertawa dan mengacak rambut Gia dengan gemas.


"Pulang deh, nanti kamu dicari sama ibunda! Aunty juga mau pulang, capek!"


"Tapi aunty janji dulu kalo …," 


"Ehem …!!"


Suara deheman terdengar dari belakang Sari, Gia seketika menundukkan kepala dan bersembunyi dibalik tubuh Sari.


"Janji apa nih?"


Sari sedikit terkejut melihat Al telah berdiri di belakangnya, ia mengusap lembut bahu Gia dan tersenyum memberikan kode untuk tutup mulut.


"Eh, mas Al … Gia hanya menagih janji makan es krim, iya kan sayang?"


Gia mengangguk dengan takut, ia tahu ayahnya tidak akan percaya dengan perkataan Sari.


"Es krim? Benar begitu Gia?" tanya Al menyelidik pada Gia yang semakin dalam menyembunyikan wajahnya di balik punggung Sari.


"Eh, Gia tadi bilang capek kan? Sana gih pulang, kita ketemu lagi lain kali. Ok?"


Gia mengangguk dan segera pergi berpamitan pada ayahandanya. Al menatap Sari seolah meminta penjelasan.


"Kami bertemu kemarin malam, kalau mas Al ingin tahu itu," kata Sari sedikit gugup 


"Ya, saya tahu itu. Nggak masalah kok Gia pergi sama mbak Sari karena kalian berdua memiliki kesamaan. Ehm, boleh saya bertanya tentang sesuatu?" Ekspresi Al terlihat serius.


"Tentu, apa itu?!"


Sari mengangguk, ia mulai mengerti arah pembicaraan Al. 


"Saya melihatnya di masa lalu mas Al juga dalam mimpi saya beberapa waktu lalu, mas mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Sari sedikit menyelidik.


"Hhhm, mbak Sari juga tahu rupanya. Saya nggak menyangka dia akan jadi guru Candika!"


"Siapa wanita itu mas? Sihir hitamnya itu adalah ilmu sesat yang sudah lama menghilang, saya kira malah sudah musnah?!"


"Anggap aja dulu dia jodoh yang ditolak!" sahut Al dengan senyum khasnya


"Aaah, dendam lama?" Sari tersenyum.


"Dia akan membuka portal dimensi, musuh besar akan datang lewat tangannya. Sebaiknya mas Al bersiap, itu akan terjadi dalam waktu dekat!"


"Ramalan Mbah Joyo sepertinya menjadi kenyataan," gumam Al pelan.


Sari mengernyit entah mengapa ia tiba-tiba saja tahu dengan ramalan yang dimaksud Al.


"Ramalan tentang iblis yang bersemayam dalam tubuh manusia? Bahwa kegelapan akan berjalan di siang hari?"


"Mbak Sari juga tahu ramalan itu?" 


Sari hanya tersenyum, "Saya punya pembisik yang hebat!"


"Perang besar akan dimulai, dan sesuai janji saya sama mas Al … saya akan membantu jika diperlukan tapi saya ...,"


"Tidak akan mencampuri takdir?" sambung Al cepat.


Sari tersenyum lagi dan mengangguk, "Semua akan berjalan sesuai jalan takdir, saya hanya akan menjadi tim pemantau saja,"


Sari pun berpamitan karena Doni sudah menunggunya. Pertandingan sudah selesai, dengan keluarnya Putra Ganendra sebagai pemenang. Sari kembali ke hotel menyusul Saka dan timnya yang sudah terlebih dahulu pulang.


"Capek?"


"Hhmm, sangat … berada ditempat yang dipenuhi ahli spiritual benar-benar melelahkan. Berusaha tidak saling bersinggungan dan meredam energi, aku lebih memilih buat berantem sama lelembut ketimbang seharian bersama mereka!" keluh Sari dengan kepala bersandar dibahu Doni.


Mereka masuk ke dalam lift, Doni hendak menekan tombol lantai ketika Sari teringat sesuatu.


"Eeh, beb HP aku kemana ya, lupa nih!" Sari membuka dan mencari ponsel kesayangannya dalam tas.


"Tadi kamu sempat pake di mobil kan?"


"Duh, ketinggalan deh! Aku ambil dulu ya, mana kunci mobilnya? Kamu duluan deh naik!"


Doni mengangguk dan memberikan kunci mobil pada Sari yang bergegas keluar lift. Baru sekitar 5 langkah ketika hawa aneh menyapanya. Sari terhenyak dan berhenti.


Ia berbalik dan melihat kelebatan wanita tinggi dengan gaun besar ala jaman dahulu.


"Apa itu?"


Sari melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 7 malam. Masih terlalu sore untuk lelembut nakal yang keluar berkeliling. Sari mengurungkan niatnya untuk mencari tahu siapa yang nekat menyapanya. Ia kembali berjalan hendak menuju parkiran, tapi suara teriakan mengagetkannya.


Sari melihat ke kanan dan kiri lorong hotel tidak ada siapa pun. Ia penasaran dan akhirnya berbalik menuju ke arah lelembut yang menghilang tadi.


"Tolong …!!"


Suara yang sama kembali terdengar, Sari semakin mantapkan langkahnya menuju ke sumber suara. Tepat ketika Sari berbelok ke kanan ia mendapati pemandangan yang mengerikan.


Seorang wanita bergaun putih lusuh tadi sedang membuka mulutnya dengan lebar ke arah wanita muda yang pingsan dan tergeletak di lantai. Lelembut nakal itu menghisap habis hawa kehidupan wanita muda itu. Sari terlambat.


Wajah pucat dan kulit mengelupas disana sini tampak mengerikan terlihat mata manusia biasa. Belum lagi mulutnya yang lebar seperti terbelah hingga ke telinga dan darah yang terus menetes membuat Sari mual.


Duh, kenapa harus ketemu kayak gini! Aku capek, lebih baik aku pergi aja … sudah terlambat untuk wanita itu!


Sari berbalik hendak pergi tapi sialnya lelembut wanita itu sudah ada dihadapan Sari, menyeringai dengan wajah mengerikan. Leher wanita itu bahkan hampir terputus.


Kretek …, leher lelembut yang menyeramkan itu tiba-tiba terlihat patah dan sedikit menggantung ke kanan. Luka besar menganga dengan darah yang mengalir deras semakin membuat perut Sari bergejolak.


"S***t …!" 


Sari mengumpat dan memejamkan matanya sebentar, kesal bercampur ngeri dirasakan Sari.


Ini siapa yang apes, aku atau dia!