
Sari bingung harus mengatakan apa pada Doni. Ia yakin mobil mereka yang hancur akibat dari ulahnya memakai kekuatan Sengkayana. Doni kembali ke depan setelah melihat rekaman cctv. Tatapan tajam langsung diarahkan pada Sari meminta penjelasan. Sari menarik senyuman masam di bibirnya.
Ia memilih menjawab pertanyaan dari Maman yang belum sempat dijawabnya tadi,
"Ehm, nggak tau pak RT! Ohya pak RT mau pulang? Boleh kok, udah aman juga!"
"Serius ini mbak Sari, sudah aman?!" Maman melonjak kegirangan melupakan sakit tak terkira yang kemarin dirasakannya.
"Insyaallah aman pak RT, inget jangan lupa niii janjinya! Tobat!" Sari mengingatkan.
"Siap mbak Sari, matur nuwun! Saya tak permisi pulang dulu mbak!" pamitnya pulang.
"Ehem, ada yang kelupaan sesuatu keknya!" deheman Doni menghentikan langkah Maman.
"Eh mas Doni," pak RT pun cengengesan merasa kalau dirinya bakal mendapat tagihan dobel.
"Jangan lupa nih, tagihan ekstra menginap satu malam plus biaya service lain-lain. Kalo makan minum gratis dah!" ujar Doni dengan senyum lebar yang dibuat buat.
"Waah, mas Doni! Ini beneran to tagihannya! Saya kira bercanda lho mas! Diskon deh boleh kan, saya belum gajian, tanggal tua!"
"Hmm, pak RT bayangin dah kalo pak RT bilang begini ma tu dukun! Bukannya dapet diskon tapi nyawa pak RT jadi bonusan! Mau kagak!"
"Eeh, lah jangan dong! Iya, iya nanti saya bayar mas! Tapi saya ma istri pulang dulu ya, nanti siangan balik lagi dah bawa uangnya!" rajuk Maman memelas.
Sari dan Doni saling berpandangan dan sesaat kemudian tawa mereka berdua pecah.
"Dah gih pak RT pulang aja, kita bercanda pak! Cuma mau ngingetin aja, jangan ulangi lagi bermain sama dukun, mau itu hitam atau putih! Namanya dukun ya tetep aja dukun, banyak ruginya ketimbang untungnya!" Sari berkata dengan bijak.
"Niat mah boleh baik tapi yang bener juga dong jalannya, salah-salah kita yang kena getahnya. Umur kagak ada yang tahu sampai kapan pak RT, untung kemarin selamet coba kalo … bye bye baby?!" Doni menambahkan.
"Duh ya jangan doain gitu dong mas Doni jadi ngeri saya!" Maman menyesali tindakannya.
"Udah gih pulang, saya mo lanjut tidur masih ngantuk!" usir Doni halus
"Terus tagihannya? Lunas kan?!" yanya Maman cemas.
Doni terkekeh, "Iya lunas! Tapi kalo pak RT mau sedekah ke kita juga kagak nolak saya mah!"
Mereka pun tertawa bersama, Maman dan keluarganya kembali ke rumahnya dengan tenang. Tidak ada lagi mata gelap yang akan mengincarnya. Karena Sari sudah melihat nasib lelaki yang mengirim teluh pada Maman.
Perjanjiannya dengan dukun hitam itu rupanya menghantam dirinya sendiri karena si dukun tidak berhasil mengambil nyawa Maman. Kamto, anak bungsu dari sebelas bersaudara yang dengan kejamnya membunuh saudara kandungnya sendiri akhirnya terkena teluh balik.
Lewat mata batinnya lelaki muda itu mati mengenaskan dalam kecelakaan mobil pagi tadi. Kematian yang terdapat campur tangan gaib di dalamnya. Balasan atas keserakahan dan kejahatannya.
Baru saja Maman dan keluarganya berbelok dan menghilang dari pandangan Sari dan Doni, sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah mereka. Sari dan Doni saling berpandangan tapi dari kejauhan mereka tahu itu adalah Saka.
"Mas Saka ngapain kesini?"
"Saya? Mau jemput kalian!" jawabnya kalem.
Sari dan Doni kembali berpandangan, "Perjanjian kita? Kalian lupa? Satu M?"
Doni Menggaruk kepalanya karena bingung harus menjawab apa. Lelaki super tajir di depannya ini cukup membuat kepalanya pusing.
"Eeh ini kenapa ancur begini mobil kalian?" Saka yang heran mendekati garasi mobil.
"Ehm, collateral damage … anggap saja begitu!" jawab Sari dengan senyuman masam.
"Apa, maksudnya?" Saka kembali bertanya.
"Ya, efek samping dari kekuatan superhero my Srikandi mas Saka!" Kali ini Doni menjawab seraya menekan bahu Sari kuat menahan kesal.
"Aww, it hurts beib!" Sari protes dan melirik ke arah suaminya yang menatapnya dengan kerlingan kesal.
Saka tertawa melihat tingkah mereka, kekuatan Sari begitu besar hingga tanpa sengaja juga berdampak di alam manusia.
"Hmm, oke begini deh saya punya tawaran bagus buat kalian. Tapi kalian harus ikut saya besok ke Solo!"
"Tawaran apa dulu nih!"
Saka melirik sejenak ke arah mobil mereka lalu ia menaikkan alisnya sebelah.
"Saya ganti mobil kalian dengan yang baru, lebih bagus dan lebih mewah."
"No, itu mobil tak tergantikan, kesayangan saya itu nyarinya susah sampai dibantu almarhum dad Barend!" sahut Doni menolak.
"Ehm, oke gimana kalo gini. Saya kasih kalian mobil baru dan dua mobil ini saya bantu perbaiki, gratis!"
Tanpa berpikir panjang Sari dan Doni kompak menjawab, "Deal!"
"Tapi satu M nya tetap lho mas Saka kalo nggak saya nggak mau ikut ke Solo!" ancam Sari serius.
"Tentu saja,"
Saka mengeluarkan selembar cek yang sudah bertanda tangan dirinya pada Sari.
"Lelaki pantang ingkar janji!"
Ini baru namanya untung dobel, berkah nolong tetangga!