
Sari menatap pasangan suami istri yang saling berpelukan dengan menumpahkan air mata. Tak terkira kepedihan yang harus dijalani keduanya dengan peristiwa ini.
Kehilangan dua dari lima anak bukan perkara mudah bagi mereka belum lagi tanggung jawab moril kepada warga Yogyakarta atas kekacauan yang disebabkan putra mereka.
"Andai saja ambisinya bisa ditahan," gumam Sari lirih.
"Terimakasih sudah membebaskan Risa mbak!" kata Candika dengan mata yang masih basah.
"Hanya bantuan kecil den mas, ehm … maaf untuk rumah yang berantakan ini!" Sari sedikit tak enak hati dengan bagian dalam rumah Candika yang kacau berantakan karena pertarungannya tadi.
"Jangan dipikirkan mbak, ini resiko saya yang penting Risa bisa selamat. Saya tidak bisa hidup tanpa dirinya!" jawab Candika memeluk kembali istrinya yang masih lemah itu.
"Sari hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Candika.
Yah, andai saja kau tidak gegabah untuk menjadi pemilik kedigdayaan dan kejayaan rumahmu bakalan baik-baik saja denmas. Begitu juga dengan kedua putramu!
"Bisa kita bicara sebentar mas?" Sari bertanya pada Al yang tidak bisa berbuat banyak untuk menenangkan Risa dan Candika.
"Ada apa mbak?" tanya Al ketika mereka sedikit menjauh dari pasangan itu.
Sari menatap gelang hitam yang masih melingkar di tangan Risa, lalu menghela nafas sejenak.
"Kekuatan gelap dalam gelang itu sudah hilang tapi, mantra sihir pada gelang hanya bisa dipatahkan oleh trah Abisatya."
"Abisatya? Maksudnya Selia?"
"Hmm, iya. Dari yang saya dengar keluarga Abisatya memiliki perpustakaan kuno kan? Ada buku kuno yang salah satunya memuat mantra untuk melepaskan gelang pusaka itu," Sari kembali menjelaskan.
Al berpikir sejenak, lalu ia berkata. "Selia pasti bisa menemukannya!"
"Saya harap begitu, oh ya lebih baik mas Al bersiap mereka tidak akan tinggal diam. Mereka …,"
"Nyolong laku?!"
"Ya, begitulah. Seperti biasa bukan? Ini baru permulaan mas, perang besar akan terjadi di Jawa timur bersiaplah menghadapi tujuh kekuatan dukun hitam lainnya!"
"Aku penasaran dengan wanita bercadar itu, wanita yang aku temui saat turnamen,"
Sari tiba-tiba saja teringat wanita yang ia duga telah membuka portal kecil untuk migrasi sebagian kecil iblis yang melawan Pandji.
"Namanya Andara, dia yang menawarkan kedigdayaan melalui sihir hitam padaku," Candika tiba-tiba saja menjawab.
"Dalam tubuhnya juga bersemayam iblis, bisa dibilang dia adalah kaki tangan yang menyebarkan sihir hitam di tanah Jawa," sambungnya lagi.
Sari terdiam sesaat, mata batinnya jelas melihat wanita bercadar itulah yang membukakan portal kecil. Tapi bukan hanya Andara ada beberapa orang juga yang nantinya akan membantu pangeran iblis untuk membuka portal.
"Apa yang harus kita lakukan?" Candika kembali bertanya.
Kesedihan di raut wajahnya sedikit terhapus berganti dengan kekhawatiran. Dalam hati, Candika sungguh berharap semuanya bisa selesai hanya dengan menyerahkan buku mati dan tubuh yang diinginkan sang pemimpin. Pandji.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi itu tidak akan terjadi! Aku tidak akan menyerahkan putraku dan juga buku itu pada mereka!" Al menatap Candika tajam, mematahkan harapan Candika.
"Ehm, aku … maaf, aku sungguh minta maaf hanya saja jika …,"
"Seorang kesatria sejati harus bisa bertanggung jawab atas kelakuannya den mas! Apa yang ada dalam pikiranmu bukan contoh yang baik! Semua ini terjadi karena ambisimu, kekacauan ini dan juga kedua putramu! Dan menyerah bukanlah pilihan!"
Sari sedikit kesal dengan Candika yang dengan entengnya menginginkan Al untuk mengikuti kemauan sang iblis.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Candika lemah.
Candika menatap Risa yang mengangguk samar padanya, "Baiklah, aku akan menuruti kalian. Tolong selamatkan Risa dan juga putraku!"
Kecil kemungkinan menyelamatkan putranya, elemen kehidupannya saja sudah menipis. Hanya menunggu waktu saja sebelum iblis itu mati ditangan Pandji!
Sari menghela nafas berat, ia kembali melihat masa depan. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak, Sari tidak bisa mencampuri takdir.
"Kalau begitu saya pergi dulu mas, ada hal lain yang harus saya urus sebelum perang besar itu terjadi," pamit Sari pada Al.
"Hal lain?" Doni bingung dengan ucapan istrinya.
"Kita ke timur beb!" jawab Sari misterius.
"Untuk?" Doni bertanya lagi.
"Menyapa teman lama kita!" jawab Sari mengedipkan matanya sebelah.
"Jangan sungkan meminta pertolongan kami mas Al, dengan senang hati kami akan datang secepatnya!" ucap Sari sesaat sebelum ia menghilang masuk ke dimensi lain.
...----------------...
Semburat kemerahan muncul di ufuk timur tanda sang Surya bersiap mengerjakan tugasnya di siang hari. Sari dan Doni telah kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.
"Are you ok beb?" Doni sedikit khawatir melihat wajah istrinya yang tidak seperti biasanya.
"No, I'm not!"
"Why? Tell me kenapa muka kamu gitu, serius banget sejak kita kembali?!"
Sari menghela nafas sejenak, lalu menatap Doni. "Aku merasakan dia bangkit,"
"Airlangga?"
Sari mengangguk dan kembali melanjutkan perkataannya, "Dia melihatku saat bertarung dengan iblis itu!"
Doni masih menunggu Sari kembali bercerita, "Mata dalam gelap itu mengawasi ku, energinya sama seperti Airlangga. Aku yakin dia telah bangkit bersamaan dengan dibukanya portal kecil itu!"
"Apa kau yakin?" tanya Doni sembari turun dari ranjang dan menuangkan segelas air mineral untuk Sari.
"Aku tidak pernah salah membaca energinya beb, itu benar dia!"
Doni menyodorkan segelas air pada Sari.
"Cepat atau lambat itu akan terjadi bukan, kita harus bersiap!"
"Iya, tapi … kita masih belum menyiapkan apa-apa. Aku takut kita kalah jumlah!" Sari ragu, ada rasa takut yang membayang di pikirannya.
"Kau takut, terulang kembali?" tanya Doni seolah tahu dengan apa yang dipikirkan Sari.
"Dengar, takut itu perlu. Itu artinya meskipun kamu immortal kamu masih manusia biasa. Sejarah buruk tidak akan terulang kedua kalinya. Kita akan bersiap dan kali ini kekalahan bukan tujuan kita!"
Doni meraih tangan Sari menggenggam, dan mengecup dahinya lembut.
"Aku akan selalu disisimu, mendukungmu hingga akhir. Kita akan menghadapinya bersama!"
Sari memeluk tubuh Doni dengan erat. Kegelisahan dalam hatinya diredakan perkataan Doni yang menyejukkan hati. Doni merengkuhnya dan membawa Sari dalam pelukan, tak lama kemudian yang terdengar hanya dengkuran pelan dan teratur dari Sari.
Kali ini aku akan menjagamu Sar, aku berjanji melindungi mu dari Airlangga! Kau boleh dijuluki malaikat maut bagi para lelembut, tapi aku adalah malaikat penjagamu!