Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Menyelidiki Hargo Baratan 1



"Jadi tadi itu apa sih mbak, badan saya sampai nggak enak bener lho!" Saka bertanya sambil menyentuh tengkuknya.


Sari terdiam sesaat, "Ehm, pemuda yang mas Saka lihat itu sepertinya bekerjasama eh bukan … tepatnya menjual jiwanya pada iblis. Saya masih belum bisa memastikan tapi, sepertinya dia bukan tandingan anak didik mas Saka," 


"Apa karena sihir hitam?"


Sari mengangguk, ia kembali menjawab. " Iblis yang menguasai anak itu bukan iblis sembarangan, tadinya saya pikir dia bagian dari pasukan Airlangga tapi sepertinya bukan,"


"Airlangga? Duuh, saya jadi merinding nih kalo inget dia! Kebayang waktu dulu hampir saja saya mati ditangan dia,"


"Hhhm, awas ati-ati tuh … dia adiknya Lingga, tau-tau datang ke situ minta jatah warisan! Siap-siap aja dihisap darahnya sampe abis!" ujar Doni kesal, matanya melirik dan tampak sengaja menakuti Saka.


"Mas Doni keknya seneng bener nih kalo saya celaka!" 


"Bukan gitu mas, logikanya mas Saka sekarang itu pegang semua aset Lingga yang seharusnya jadi milik Airlangga. Laah kalau Airlangga tau-tau datang trus minta jatah kan nggak salah mas Saka?" jelas Doni dengan mimik serius.


"Ah, benar juga itu mas Saka! Hati-hati kalo dikamar sendirian, kali aja Airlangga masuk terus …," Sari ikut menakuti Saka dengan isengnya 


"Ngisep darah mas Saka sampai kering!" timpal Doni menahan tawa.


Saka seketika pucat pasi, ia langsung gemetar dan menengok ke kanan dan kiri.


"Kira-kira dia ada nggak disini mbak? Saya kok ngeri nih!"


Doni menahan tawanya begitu juga dengan Sari, "Mas Doni, temenin saya tidur malam ini yaaa … tanggung jawab mas!"


"Diiih, ogah! Saya masih normal kali mas, enakan tidur aja sama istri saya!"


"Duuuh, mbak Sari … pinjemin mas Doni dong! Bentar aja mbak, malam ini aja deh!" Saka merajuk.


"Mas Saka kan ada anak didiknya kenapa nggak minta mereka buat nemenin mas Saka aja?!" sahut Sari memberi kode pada Doni.


"Iya nih kek anak baru kemarin sore aja! Udah tua juga pake acara takut! Yuuk beb tidur dah malem ini ngantuk, pengen pelukan!" Doni menarik tangan Sari seraya menjulurkan lidah pada Saka.


"Eeh, saya belum selesai nanya ini mas Doni … mbak Sari!" seru Saka yang kebingungan ditinggal keduanya.


"Eeh projects apaan emang, boleh ikutan?"


"Eits dah pengen saya getok ni kepalanya keknya! Projects anak! Dah ah, bye bye mas Saka … awas jagain tuh leher baek-baek yaaa, takut kena isep!" teriak Doni sebelum pintu lift menutup.


"Haaaiish sialan! Kalo aja saya nggak butuh mereka sudah saya pecat dari tim!" gerutu Saka yang akhirnya kembali ke kamarnya.


...----------------...


Tepat pukul satu, Sari bersiap. Memakai baju pemburunya dengan jubah hitam dan cadar menutupi wajah cantiknya. Ia menatap view Jogja di malam hari, matanya berkilat merah sebuah visi muncul lagi.


"Segera setelah ini kekacauan akan datang … kota Yogyakarta tidak akan secantik ini lagi," gumamnya dari balik cadar.


"Kamu dah mau pergi?" tanya Doni saat terjaga dari tidurnya.


"Hmm, aku harus memastikan energi gelap itu. Biarpun aku tahu itu bukan Airlangga, aku penasaran apa yang terjadi," jawab Sari.


"Hati-hati, jangan bikin ulah! Sekali kamu salah melangkah semua akan kacau,"


"Iya, aku tahu. Pergi dulu ya … tidur lagi jangan tunggu aku!"


"Oke, aku percaya kamu bisa jaga diri dengan baik … I love you!"


Doni menurunkan cadar Sari dan mencium bibir Sari dengan lembut. 


"Come home safely!"


 (Pulanglah dengan selamat!)


Sari mengangguk pelan, ia bergegas pergi dengan Bimasena dan juga yang lainnya yang sudah menunggunya.


"Ayo kawan kita cari tahu apa yang terjadi!"


Suara auman keempat penjaga Sari mengiringi kepergian Sari melintasi dimensi, membuat gentar para lelembut yang ada disekitarnya. Mereka memilih bersembunyi dan menyingkir menghindari sang Dewi Kematian.