Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Negosiasi



Sari, Doni, Mika dan Pandji duduk bersama di ruang tamu rumah induk bersama dengan kedua orang tua Pandji.


Pandji menunggu salah satu dari empat orang dewasa itu bicara. Sementara Mika mengamati Sari tentu saja dengan mata ajaibnya.


Sari tersenyum saat melihat kilatan merah di mata Mika. "Apa kita sedang dalam pertarungan Mika?"


Ditanya demikian oleh Sari membuat Mika salah tingkah, ditambah lagi deheman Ayahanda Pandji yang meminta Mika bersikap lebih sopan pada Sari.


"Aunty Sari memerlukan bantuan kita." Ayahanda Pandji membuka suara.


"Bantuan? Untuk apa?" Pandji bertanya sambil menguap.


"Pandji, nggak sopan bersikap begitu didepan tamu," ibunda Pandji mengingatkan dengan lembut.


"Maaf,"


Sari lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat tingkah remaja dengan wajah mengantuknya yang khas.


"Saya perlu bantuan Mika tepatnya."


Mika terkejut dan menatap ayahanda Pandji yang menganggukkan kepala mengamini permintaan Sari.


"Bantuan saya Aunty? Tapi untuk apa?"


"Mencari seseorang." Jawab Sari cepat.


"Kenapa mencari seseorang harus pakai bantuan Mika? Aunty kan bisa ke kantor polisi, atau minta bantuan sama penyelidik swasta?" Pandji kembali bertanya.


"Karena yang aunty cari bukan orang biasa," Sari menatap Al dan Selia sebelum melanjutkan kalimatnya. "Orang ini sangat istimewa dan aunty memerlukan mata tak biasa Mika untuk menemukannya."


Mika dan Pandji saling memandang, mereka masih tidak mengerti.


"Istimewa sekali sampai harus Mika yang mencari?" Pandji masih belum mempercayai kata-kata Sari.


"Mas Pandji keberatan?" Ayahanda Pandji ganti bertanya.


"Tidak ayah, Pandji hanya …,"


"Orang yang saya cari, ada di dimensi bawah saat ini. Mas Pandji masih ingat, Raja Iblis? Orang itu datang ke dunia bawah bersamaan dengan dibukanya portal utama." 


"Apa?" Mika dibuat cukup terkejut dengan perkataan Sari begitu juga Pandji.


"Namanya Airlangga, dia menyelinap saat mas Pandji dan mpu Sapta lengah. Saat kalian berusaha keluar dari sana, saat itulah Airlangga masuk."


"Apa dia sejenis makhluk jelek yang kemarin menginvasi bumi?" 


Sari tergelak, "Mas Pandji pikir Airlangga itu sejenis alien?"


"Ya, siapa tahu?" 


"Dia bukan sejenis alien." Sari berhenti sejenak dan menatap Doni. "Airlangga, immortal dan kami ada satu urusan yang belum terselesaikan." 


"Immortal? Abadi? Mana ada makhluk seperti itu?" Mika menyanggah tak percaya.


"Mika sudah turun ke dunia bawah kan? Kamu dan Pandji juga sudah menghadapi makhluk aneh yang merasuk dalam tubuh manusia. Kamu tidak percaya immortal itu ada?" Doni kali ini angkat bicara.


"Banyak hal di dunia ini yang masih tersembunyi, dan Airlangga adalah salah satu contohnya." Doni menambahkan.


Suasana hening sesaat, Pandji menatap ayahandanya berharap ia bisa memberikan penjelasan lebih tapi Al hanya tersenyum dan mengedikkan bahu.


"Maaf, kami terlambat!" Suara wanita yang sangat dikenali Mika menyapa dari belakang.


"Bunda!" Mika menyambut wanita yang melahirkannya dengan penuh perjuangan itu dengan pelukan hangat.


Sari dan Doni ikut berdiri menyambut kedatangan orang tua Mikaila. Rendy dan Lucia, mereka sengaja datang dari Surabaya untuk merayakan kelulusan putrinya yang menempuh program S2.


"Lama tidak berjumpa denganmu Lucia, apa kabar?" Selia pun menyambut Lucia dengan pelukan.


"Selia, kau semakin cantik. Terimakasih sudah menjaga Mika untukku!"


Ayahanda Pandji kembali berdehem, "Lucia, ada yang ingin bertemu dengan kalian."


Al mengenalkan Lucia pada Sari. Beberapa hal sudah Al jelaskan melalui sambungan telepon pada Lucia jadi Al tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi pada Lucia.


"Hanya bantuan kecil, sudah kewajiban saya ikut membantu." 


Mika bingung dengan ucapan bundanya pada Sari. Tapi mulutnya seolah terkunci melihat keakraban ibundanya dengan Sari. 


Kok bunda bisa gitu sih sama dia, apa aunty Sari itu teman lama bunda juga?


"Mas Al sudah cerita semuanya mbak, terimakasih sudah menyelamatkan Mika waktu itu," Lucia kembali mengucapkan terimakasih dan entah sudah berapa kali Lucia mengucapkannya.


"Mbak Lucia jangan berterimakasih dulu, saya masih perlu bantuan Mika." Sari melirik Al sebentar dan melanjutkan kembali kalimatnya. "Saya pinjam Mika sebentar boleh?"


Lucia menatap Al meminta jawaban. Alaric adalah ayah angkat Mika, Lucia lebih banyak menyerahkan keputusan tentang Mika pada Al ketimbang pada Rendy suaminya. Apapun keputusan Al, Lucia akan menurutinya.


"Aku pikir tidak ada salahnya jika Mika membantu mbak Sari. Anggap saja balas budi karena selama ini mbak Sari sudah melindungi Mika." Jawab Al tegas.


Mika memiringkan kepalanya, "Apa keputusanku tidak diperhitungkan ayah?"


"Nggak, lebih baik kalau secepatnya kamu membantu aunty!" Wajah Al berubah serius saat Mika hendak menawar.


"Tapi ayah, Mika kan …," Pandji mencoba membantu Mika bicara.


"No mas Pandji, kali ini ayah yang memutuskan. Aunty sudah banyak membantu dan melindungi Mika juga keluarga ini tanpa kalian ketahui." 


"Mas Pandji mungkin tidak mengingatnya tapi aunty Sari membantu membuka celah gerbang bawah untuk menyelamatkanmu. Dan kau Mika, jika saja aunty tidak datang melindungimu, saat itu kau sudah mati disana."


"Aunty banyak berperan dalam aliansi kita, sudah sepantasnya kita membantu aunty menyelesaikan masalahnya." 


"Jangan-jangan aunty, wanita bercadar itu?" Mika mencoba mengingat lagi, Ayahanda Pandji mengangguk.


"Sudah kuduga, aku mengenali energi aunty waktu pertama kali lihat!" Wajah Mika mulai berubah hangat.


"Eehm, akhirnya kita bisa bertatapan langsung. Maaf kalau kemunculan aunty tiba-tiba, aunty cuma …,"


"Aunty Sari!!" Suara Giandra terdengar begitu gembira dari kejauhan, Sari dibuat terkejut dengan sapaan Giandra.


"Hai cantik!" Sari meresponnya dengan senyuman lebar.


Sikecil Giandra berjalan dengan setengah berlari ke arah Sari. Ia memeluk Sari dengan erat. "I Miss you so much aunty! Kapan kita jalan-jalan ke Padang para penjaga lagi?!"


"Gia," Sari meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Uups!" 


Gia langsung menutup mulutnya dan melihat sekelilingnya. Tampak ibunda Gia yang sedikit menaikkan alisnya sebelah dan Ayahanda nya yang berdehem keras.


 Sepertinya ayahanda Pandji sedikit memiliki masalah di tenggorokan karena terus menerus berdehem, atau mungkin itu sebuah kode?! Begitu pikir Doni dalam hatinya.


"Saya sehat mas Doni!" seperti biasa Al membaca pikiran orang tanpa permisi.


Itu sangat tidak sopan mas Al ..., Doni menyeringai jenaka pada lelaki Flamboyan di depannya itu.


"Apa disini hanya Pandji saja yang ketinggalan berita?" Pandji menggaruk kepalanya dan menguap.


"Mas Pandji terlalu sibuk, jadi ketinggalan berita!" Sahut Giandra dengan tawa kecil.


Sari ikut tertawa, Giandra kemudian berbisik. "Aku merindukan kang Bayu, kapan kita bertemu dengannya aunty?!"


"Kamu kangen Bayu? Kita bisa jalan-jalan nanti setelah urusan aunty selesai!"


"Kapan? Jangan terlalu lama, Gia udah pengen jalan-jalan kesana!" Bisik Gia lagi tak peduli dengan wajah ayahandanya yang serius memperhatikan Gia.


"Kita bicarakan ini lagi nanti ya, sebelum ayahanda Gia berubah pikiran." Sari mengusap rambut Giandra lembut. 


Gia menurut dan duduk manis disamping Sari. Pembicaraan pun kembali dilanjutkan. Lucia dan Rendy sepakat memberikan izin pada Sari untuk memboyong Mika ke Solo. Lusa keduanya akan kembali ke Pakualaman untuk menjemput Mika.


Sementara Pandji meskipun sedikit tidak setuju dengan keputusan ayahandanya, ia hanya bisa menurut dan melepaskan penjaganya pergi. Sari memberikan penawaran yang cukup menarik untuknya. Ia berjanji akan memberikan koleksi pusaka miliknya untuk Pandji dan itu, gratis.


Pandji yang awalnya sedikit kesal kini terhibur dengan kata-kata gratis. Ia mulai menghitung keuntungan yang bisa diperoleh saat membuka toko barang antik nanti. Apalagi Sari memberitahukan nilai yang sungguh fantastis dari tiap pusaka miliknya.


Ini pertukaran yang adil kan?