Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Tamu tak Diundang



Sari berdiri di halaman rumahnya menatap sekeliling rumah. Senja mulai menampakkan diri, semburat warna jingga mendominasi langit. Angin terasa sedikit kencang meniup lembut dedaunan pohon yang setia melekat pada ranting.


Mata-mata iblis mengintai dari balik langit senja yang mulai beranjak gelap. Sari bersiap menghadapi penenung kegelapan yang mengintai nyawa salah satu tetangganya itu.


Maman beserta istri dan juga kedua anaknya telah diungsikan ke rumah Sari. Kediaman Sari dan Doni adalah tempat yang teraman bagi mereka saat ini.


Nyai Laksmi gelisah dan keluar dari batu mustika nya.


"Dia akan datang menjemput lelaki itu cah ayu,"


"Hhm, aku tahu. Itu sebabnya aku amankan dia disini. Aku penasaran siapa lelaki itu nyai!" jawab Sari.


"Hati-hati dengan rasa penasaranmu itu, dia sangat licik! Aku mengenalnya jauh sebelum aku mengenalmu cah ayu!" Nyai Laksmi tersenyum sinis.


"Wah menarik, jadi gimana cara kerja dia Nyai?!"


"Mereka akan memulainya saat candhik ala datang dan akan terus menyerang hingga sirep jalma dan semakin dahsyat setelah melewati tengah malam. Sebaiknya kau menyiapkan dirimu dan keempat penjagamu cah ayu!"


"Mereka tidak akan suka setelah kau membunuh salah satu dari mereka tadi! Bersiaplah menghadapi kekuatan iblis!"


Sari hanya mengangguk dalam diam. Ia meminjam energi alam untuk menciptakan kubah pelindung di sekitar rumah. Kubah berbentuk lingkaran itu seketika menyelimuti kediaman Sari. Kubah gaib dengan warna keemasan kokoh berdiri siap menghadang lelembut nakal pengganggu yang akan dikirimkan.


"Nyai, saya mendengar suara mantra yang terdengar mirip suaranya seperti saat kedatangan Nyai dulu. Apakah mereka orang yang sama?" 


Sari menoleh pada Nyai Laksmi untuk memastikan tebakannya benar.


Nyai Laksmi diam lalu tersenyum sesaat, menatap mata coklat Sari yang mulai berkilat kemerahan.


"Aku rasa dia memang orang yang sama. Orang yang mencelakakan Aji dan Septi juga orang yang telah mengirimkan santet mengerikan pada beberapa warga disini,"


"Apa nyai mengenalnya?"


Nyai Laksmi mengangguk, "Dia dukun licik yang mengambil keuntungan dari para iblis. Dia bekerjasama dengan seseorang yang abadi di timur."


"Apa, timur? Maksud nyai, Airlangga?" Sari terkejut.


"Iya, beberapa orang memanggilnya begitu. Tapi aku lebih suka memanggilnya bandot tua!" Wajah Nyai Laksmi tampak kesal.


Lelembut cantik berbaju kuning gading itu sepertinya kesal pada Airlangga.


"Eh, kok bisa gitu? Bandot tua?" Sari mengernyit tapi sejurus kemudian ia tertawa terbahak bahak.


"Jangan bilang kalo Airlangga menggoda Nyai?" tanyanya penasaran.


Nyai Laksmi tersenyum masam, ia enggan menjawab tapi dari raut wajah dan ucapannya jelas terlihat jika hal itu memang benar adanya. 


"Aku membencinya!" jawabnya santai dan hendak kembali ke rumahnya.


"Aku akan memberimu bala bantuan gaib yang bagus jika kau membutuhkannya cah ayu!" ujarnya seraya menghilang meninggalkan asap tipis kekuningan.


"Ya … ya, pada waktunya nanti aku akan membutuhkan bantuan itu Nyai! Sementara ini biarkan aku mengurus ini sendiri," gumam Sari seraya kembali menatap sekitar.


"Bimasena, Kandra, Mahesa, Abisatya … bantu aku melindungi orang-orang di rumah ini!"


"Baik!" sahut keempatnya bersamaan.


Sari kembali ke dalam rumah. Memeriksa orang-orang yang dikumpulkannya di ruang keluarga. Maman dan kedua anaknya merasakan ketegangan yang terjadi. Sesekali ia mengusap lembut punggung istrinya yang ketakutan dan menangis tanpa suara.


"Apa perut pak RT masih sakit?" tanya Sari sedikit khawatir dengan kondisi Maman.


"Jangan mikir keras pak RT, cukup pikirin aja tagihan yang harus pak RT bayar malam ini!" Sari mencoba mengajak Maman dan istrinya bercanda agar rileks.


"Duh, mbak malah sansoyo mumet sirahku mikir tagihan!" 


(Malah semakin pusing kepalaku mikir tagihan!)


Sari tertawa kecil, "Bercanda pak RT, asal pak RT dan Bu RT juga anak-anak manis ini menuruti saran saya maka semuanya akan aman!" 


"Serius ini mbak Sari, kami aman disini?" tanya istri Maman dengan wajah pucat. 


"Percaya sama saya ya Bu, insya allah semuanya akan baik-baik saja!" jawab Sari lembut seraya menggenggam tangan istri Maman.


Mbak Pur dan Mbak Asri beserta asisten rumah tangga lainnya juga Sari kumpulkan di ruang keluarga. Ia menatap mereka satu persatu.


"Ingat, kalian harus tetap dalam satu kelompok jangan ada yang terpisah!" Sari kembali mengingat kan.


"Nggih mbak Sari siap laksanakan!" sahut mbak Pur dengan patuh.


Ketegangan dan ketakutan bercampur menjadi satu di wajah mereka. Berharap tidak akan terjadi sesuatu yang mengerikan lagi.


Maman yang menyesali perbuatannya hanya bisa menatap sayu pada istri dan kedua anaknya.


"Maafin bapak ya bune, Dul, Gendis?! Bapak nyesel sudah ambil jalan yang salah, bapak janji sehabis ini bakalan tobat nda lagi main dukun-dukunan! Kapok!" ujarnya sedih.


"Tenane pak RT, agek tomat … tobat terus kumat neh!" Cicit mbak Asri gemas.


"Hush, Sri! Ojo ngono to, lambemu Iku lho ditata omongane! Mesakne pak RT lho yaa!"


(Hush, Sri! Jangan gitu dong,mulutmu itu lho ditata omongannya! Kasian pak RT lho yaa!)


Mbak Asri hanya cengengesan tanpa meminta maaf pada Maman.


Sari hanya menggelengkan kepala, ia memperhatikan keadaan diluar. Kelebatan bayangan hitam mulai terlihat. Bergerak cepat dan berpindah-pindah. 


Tiba-tiba saja suara ledakan keras terdengar seperti petasan perayaan tahun baru mengagetkan semua yang ada di dalam ruangan.


"Astaghfirullah Al adziim …," 


Sari melihat beberapa lelembut nekat masuk menjebol pagar gaib buatannya. Benturan energi mereka dengan energi alam yang dihimpun Sari kembali menimbulkan suara ledakan kedua.


Sari berjalan perlahan keluar menyambut para lelembut nakal yang nekat menyapa Dewi Kematian mereka.


"Mereka mulai datang beb!" 


Doni sudah berada dibelakang Sari, mereka bersiap menghadap para lelembut kelas rendah yang dikirim sebagai garda terdepan untuk mengecoh Sari.


Lelembut Nakal, bersiaplah pulang ke neraka!


...----------------...


candhik ala waktu dimana matahari benar-benar tidak terlihat lagi dan gelap biasanya dimulai pukul 17.30


sirep jalma waktu dimana sudah tidak ada aktivitas manusia atau makhluk hidup lain dimulai pada pukul 23.00


...----------------...