
Sapaan sosok pria yang dulu menampakkan diri di kawasan Malioboro cukup membuat Sari terkejut tapi tidak dengan Doni, ia seperti sudah mengetahui kehadiran lelaki muda dengan pakaian khas itu.
Selarik senyum tersungging di bibir tipisnya. Entah siapa yang membekukan waktu di sekitar mereka bertiga, tak ada satupun suara yang terdengar selain suara ketiganya.
"Maaf kalau kehadiran saya mengagetkan mbak Sari dan mas Doni."
"Kamu …," Sari bingung kenapa lelaki berbaju lurik itu muncul dihadapannya.
"Maaf jika saya lancang dan belum sempat berkenalan dengan mbak Sari. Perkenalkan nama saya Caraka."
"Mas kan yang tempo hari kita ketemu di …,"
"Malioboro mbak, saya ada disana secara kebetulan. Ada sesuatu yang harus saya urus, dan saya nggak nyangka bisa bertemu dengan mbak Sari disana," tukasnya cepat.
Sari masih tak mengerti yang dimaksud Caraka. "Maaf, tapi saya nggak paham apa hubungannya mas Caraka dan mas … ehm, siapa nama mas-mas yang kita tolong dulu beb?" Sari mencoba mengingat nama lelaki penjual batik di kawasan Malioboro.
"Arya, namanya Arya mbak Sari. Dia salah satu anak keturunan dari trah leluhur saya,"
"Hhm, kalau dia anak keturunan dari trah mas Caraka kenapa kemarin minta bantuan saya?" Sari mengernyit.
Caraka tersenyum, "Karena saya harus meyakinkan diri saya sendiri bahwa benar mbak Sari adalah orangnya."
Caraka tersenyum misterius, nama Sari memang sangat dikenal di dunia lelembut. Kiprahnya memburu dan menghabisi para lelembut selama beberapa tahun belakangan ini membuat Sari sangat ditakuti dan juga disegani.
Salah satu pengagum Sari adalah Caraka. Dan kebetulan sekali Caraka ditugaskan oleh para leluhur untuk menyerahkan pusaka bertuah untuk Sari. Mereka ingin Sari menggunakan pusaka itu untuk menjaga manusia dari kejahatan para lelembut nakal.
Sari menoleh ke arah Doni yang sepertinya mengetahui sesuatu. "Beb, apa ada yang aku lewatkan?"
"Hhhm, nggak! Aku juga baru sadar waktu baca buku mantra siang tadi," jawabnya dengan senyum tanpa dosa. Ia mengerling Caraka memberinya kode rahasia.
"Saya yang memberikan sinyal pada mas Doni untuk datang ke tempat ini. Mas Doni tanpa sengaja telah membaca mantra pemanggil roh pusaka peninggalan keluarga kami." Caraka lalu menunjukkan pedang panjang dengan ukuran unik di tengahnya. Sari terperanjat.
"Kebetulan yang luar biasa kan?" Tambah Doni pada Caraka yang dibalas dengan senyuman.
Sari memperhatikan pedang seukuran Sengkayana dengan gagang kehitaman. "Ini persis seperti Sengkayana!" Ia mengusap ukiran unik pada pedang itu dengan penuh kekaguman. Ukiran yang memiliki filosofi tinggi.
Sari meraba ukiran yang berupa tulisan Sansekerta kuno yang ada di bagian tengah pedang, ada sensasi geli yang menggelitik ujung saraf jemarinya. Kekuatan Sari terpantik, mata kebiruan miliknya muncul seiring dengan bersinarnya ukiran mengikuti pola sentuhan.
"Pedang itu memang diciptakan untuknya," Caraka bergumam lalu kembali berkata, "Dia pantas memilikinya!"
"Pedang sihir?" Doni balik bertanya pada Caraka.
"Iya, pedang ini memiliki kekuatan penyihir. Dibuat dari besi pilihan, ditempa selama empat puluh hari dalam mantra sihir khusus."
"Apa ini milikku? Tapi kenapa?" Sari bertanya setelah matanya kembali normal begitu juga dengan pedang sihir yang disentuhnya.
"Menghadapi Airlangga tentu saja. Sama hal nya seperti yang terjadi pada Satrio Pamungkas, mbak Sari juga memiliki takdir sendiri. Iblis bernama Airlangga hanya bisa dikalahkan dari sesama jenisnya." Caraka mulai menerangkan.
"Itu … aku," jawab Sari lirih.
"Bisa dikatakan demikian, tapi ada faktor lain yang akan membantu mbak Sari."
"Mustika Penyihir?"
Caraka menggelengkan kepala, "Kebulatan tekad untuk mengubah takdir, pedang ini akan membantu mbak Sari saat berada dalam dimensi waktu yang berbeda." Caraka menjelaskan sesuatu yang belum bisa dipahami sepenuhnya oleh Sari.
"Sengkayana akan musnah seiring dengan terpilihnya takdir, dan tempatnya akan digantikan oleh pedang pusaka ini!"
"Sengkayana akan musnah? Kenapa bisa begitu?" Sari masih meraba raba alasan mengapa Sengkayana akan menghilang.
"Sengkayana adalah pedang terkutuk. Satu-satunya pedang yang bisa membunuh immortal. Ia diciptakan untuk alasan tertentu, tapi dalam perjalanannya banyak hal buruk terjadi." Caraka mengusap pedang panjang di hadapannya.
"Sudah waktunya kutukan itu berakhir, para penjaga memutuskan untuk mengambil sengkayana setelah tugasnya berakhir. Tidak akan ada lagi immortal yang berkeliaran dan menyalahgunakan keabadian."
Sari terkejut, "A-apa, tidak ada lagi immortal?"
"Apa itu artinya a-aku …,"
Mata Sari memanas, airmatanya siap terjun membasahi pipi. Ia menatap Doni.
"Belum tentu mbak Sari, sekali lagi semua itu tergantung takdir yang dipilih." Caraka menjawab dengan serius.
"Gunakan mustika penyihir dengan baik, dan pertimbangkan masak-masak pilihanmu!" Lanjutnya lagi.
"Kau bilang tadi pedang ini digunakan saat berada di dimensi waktu?" Sari kembali bertanya.
Caraka mengangguk, ia kembali menjawab. "Iya, setelah misimu selesai. Sengkayana menghilang dan pedang ini akan membantumu. Selain kujang kesayanganmu tentu saja."
Caraka membungkus pedang indah itu dengan kain berwarna hitam, lalu mengikatnya dengan tali jerami. "Aku serahkan ini padamu, simpan dan gunakan saat waktunya tiba!"
Sari menerima pedang itu, energi hangat kembali menyapanya. Tangannya sedikit kebas, sama seperti saat Sengkayana berkenalan dengan tubuhnya.
"Sepertinya kita akan cocok," Sari bergumam lirih. "Terima Kasih atas suvenirnya Caraka!"
"Anggap saja ini bayaran dari bantuan kecil mbak Sari pada Arya," Caraka tersenyum.
"Segeralah pergi ke Jogja, Airlangga bersiap menyeberang ke dunia bawah. Ia berniat meminta bantuan Raja iblis. Semoga saja belum terlambat!" Caraka memberikan informasi penting tentang Airlangga.
"Raja iblis? Apa dia pemimpin dari makhluk - makhluk yang dihadapi Pandji?"
Caraka mengangguk, "Jika itu sampai terjadi, aku tidak bisa membayangkan kekacauan yang akan dihadapi dunia manusia!"
Sari kembali terdiam, pikirannya rumit dan berat.
Haruskah aku mengubah takdir sekarang?
Bayangan kehilangan orang-orang yang dicintainya mulai berkelebatan. Trauma kembali muncul ke permukaan.
"Jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi itu akan melemahkan dirimu!" Caraka seolah membaca pikiran Sari.
"Tenanglah beb, semua akan baik-baik saja!" Doni juga ikut menenangkan.
Kali ini Sari tidak setuju, ia melirik tajam pada Doni. "Uups, sepertinya aku salah bicara!" Doni meremas rambutnya kasar.
Caraka terkekeh, ia berpamitan pada pasangan suami istri itu.
"Tugas saya sudah selesai, semoga misi mbak Sari bisa diselesaikan dengan baik!"
Caraka perlahan menghilang, dan waktu pun kembali berjalan seperti semula. Suara yang membeku perlahan kembali terdengar.
Sari menatap pedang di tangannya, "Apa yang harus aku lakukan beb? Bertarung hingga kematian datang? Atau aku menyerah saja dan membiarkan Airlangga menang?" Sari gamang.
"Mana yang terbaik untukmu, menyerah pada iblis yang mematikan sisi manusiawi atau mati terhormat sebagai manusia seutuhnya?" Doni memberikan pertimbangan yang sama-sama berat.
Mata Sari basah, bibirnya gemetar. Tanpa banyak bicara Doni memeluk Sari dengan erat. Mengecup puncak kepala dan menenangkan diri Sari. "Ssstt, tenanglah! Kamu bisa menjalaninya, kamu manusia pilihan!"
Untuk beberapa saat Sari menangis, membiarkan dirinya terpuruk dalam kesedihan. "Menangislah untuk menjadi kuat, menangislah untuk memulai awal yang baru. Gunakan kesedihanmu untuk memperkuat diri!" ujar Doni bijak, ia mengusap air mata Sari.
"Sekarang waktunya kita berhadapan dengan Airlangga, apa kau siap?"
Sari mengangguk, "Ya, aku siap!"
"Good, shall we?"
Mereka meninggalkan pasar Triwindu, dan segera menuju Parangtritis. Tempat dimana salah satu dari tujuh portal dimensi terbuka.
Aku tak sabar menghabisi mu Airlangga, kali ini jangan jadi pengecut lagi!