Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Peperangan Besar



Sari mendekati tubuh Mika yang tergolek tak berdaya di belakang Pandji. Mika masih tak sadarkan diri, wajahnya pucat sekali. Energi kehidupannya pun melemah. Suhu yubuh Mika semakin menurun. 


Serahkan Mika padaku mas Pandji! 


Doni dengan sigap bersiaga melindungi Sari dari serangan Maroz yang tak kenal lelah menyerang. Sari juga memanggil Mahesa dan Kandra untuk membantu Doni membuat barrier pelindung untuknya dan Mika. Ia perlu berkonsentrasi untuk membantu Mika.


Al dan juga kesatria lain masih disibukkan menghajar ratusan pasukan Nergal yang tersisa. Dari jumlah dan kekuatan Sari bisa memprediksi semua akan selesai sebelum pagi tiba. Apalagi Pandji dan Damar sebentar lagi akan berkolaborasi dengan mantra sihir darah.


Sari berbisik pada Mika dengan lembut, "Kau harus hidup Mika, aku membutuhkanmu!"


Ia memeriksa nadi dan keadaan organ vital lainnya di tubuh Mika. Mayoritas rusak parah, untungnya energi Asih Jati membantunya bertahan tapi itu tidak cukup. Kapsul penyembuh milik Selia tidak bisa bekerja maksimal, terlalu banyak organ yang rusak.


"Jika dibiarkan terus begini nadinya akan semakin melemah dan nyawanya terancam,"


Sari bertindak cepat dengan memberikan energinya pada Mika. Tangannya mengeluarkan cahaya tipis kekuningan, mantra penyembuh miliknya mulai bekerja perlahan memperbaiki beberapa pembuluh darah utama yang pecah karena mana sihir Nergal.


Sari membutuhkan waktu sedikit lebih lama karena memulihkan kerusakan akibat sihir gelap bukanlah perkara mudah. Jika saja dalam tubuh Mika tidak terdapat energi Asih Jati bisa dipastikan hidupnya sudah tamat sekarang.


Energi kegelapan yang berasal dari Asih Jati dipadu dengan energi milik Sari direspon tubuh Mika dengan baik. Perlahan kerusakan parah pada tubuh Mika diperbaiki secara gaib. Setelah beberapa saat, wajah Mika yang semula pucat kini terlihat sedikit memerah. Sebagian dari pembuluh darah yang pecah telah menutup sempurna.


"Aku rasa ini sudah cukup," Sari mengatur nafasnya, memulihkan kembali aliran energi yang dipompa berlebihan untuk memulihkan luka Mika.


"We done beb, kita bawa Mika ke tempat yang aman. Sepertinya kesatria muda kita itu bakalan in action!" Sari setengah berteriak pada Doni yang masih asik membabatkan kerisnya, membelah dan memenggal kepala maroz yang terus berdatangan.


"In action? Maksud kamu si Pandji?" Doni bertanya setelah memenggal kepala iblis yang baru keluar dari tubuh inangnya.


Sari mengangguk, "Sebentar lagi dia akan meledak!" Sari mencari melihat ke arah salah satu penjaganya, "Mahesa bantu aku membawa Mika ke tempat aman!"


Mahesa melesat cepat, membantu Sari memindahkan tubuh lemah Mika menjauh dari Pandji yang kini telah dirasuki Damar Jati. Roh pusaka yang bersemayam dalam pedang hitam milik Pandji kini menguasai tubuhnya perlahan setelah mantra sihir darah diucapkan Pandji.


"Beb, apa yang terjadi? Energi Pandji tiba-tiba saja meluap begitu besar, tapi itu …"


"Energi kegelapan! Roh pusaka milik Pandji dulunya adalah bagian dari kegelapan."


"Darimana kamu tahu hal itu?" Doni penasaran dan menatap Sari meminta jawaban.


Sari meluruskan tubuh Mika setelah diturunkan Mahesa ditempat yang terlindung. "Jaga dia untukku Mahesa!" pesannya kemudian diikuti anggukan Mahesa.


"Damar jati adalah putra angkat raja iblis, aku tahu itu dari kakek Wisesa. Dia bercerita banyak tentang Buku Mati, Mpu Sapta Jati dan juga kerajaan iblis di dunia bawah." 


Sari mendekati Doni dan berdiri sejajar dengannya lalu ia menjawab dengan mata yang tak lepas menatap ke arah Pandji yang telah sempurna dikuasai Damar Jati.


"Siapa kakek Wisesa? Aku belum pernah mendengarnya?" Doni kembali bertanya pada istrinya yang masih terpaku melihat pertarungan Nergal dan Pandji.


Sari terdiam masih enggan menjawab, matanya tertuju ke pertarungan tapi pikirannya melayang pada pertarungan dirinya dan Airlangga. Sari membayangkan kengerian yang terjadi saat hal itu tiba. 


Seperti itukah pertarungan ku besok? Atau justru lebih dahsyat dari yang aku lihat hari ini


"Beb?" Doni menepuk lembut bahu Sari, menyadarkan Sari dari lamunan pertarungannya.


"Ehm, maaf. Kamu tadi tanya apa?"


"Kakek Wisesa, apa dia kawan?"


"Iya, aku rasa begitu. Kami bertemu pertama kali saat kita mengatasi hantu Anna, apa kamu ingat?"


"Dia membawaku ke hutan gaib, kami sedikit bertukar pikiran disana. Dia juga yang membantuku mengatasi makhluk penunggu gelang yang melekat di tangan Risa kemarin."


Sari sedikit menjelaskan tentang kakek Wisesa yang juga merupakan sahabat mpu Sapta Jati, pembuat tujuh pusaka legendaris yang kini ada dalam tahanan dunia bawah.


"Seperti sebuah lingkaran yang terus berputar di satu tempat, semuanya terkoneksi satu sama lain." Begitu kata Doni setelah Sari selesai bercerita.


"Ya, kamu benar. Siapa sangka orang-orang yang ada disekitar Pandji dan keluarganya juga berkaitan dengan Airlangga secara tidak langsung. Takdir kini berjalan searah dengan kemauan kita," 


Damar Jati bukan tandinganmu Nergal, ia bukanlah Damar Jati yang dulu kau kenal. Kekuatannya sekarang jauh melebihi kekuatannya dulu. Sihir Gelap yang diciptakan Welas adalah untuk membangkitkan sisi kegelapan Damar Jati dalam tubuh yang sempurna.


Damar Jati kini seutuhnya mengabdi pada trah Ganendra setelah membatalkan perjanjian dengan Romo Guru, bapak dari para Lanjaran yang menundukkannya. Tahap awal dari misi Damar Jati mulai dijalankan.


Nergal dan Pandji kini saling berhadapan. Mereka saling menghunuskan pedang. Pandji dengan pedang hitam sekelam malam dan Nergal dengan pedang hijau pekatnya. Benturan pedang keduanya menimbulkan gelombang kejut bagai badai angin yang menerpa sekitar.


 Doni ngeri melihat pertarungan dua makhluk kegelapan yang mengalirkan mana sihir gelap yang menekan udara sekitar. "Luar biasa, untung Mika sudah kita pindahkan!"


Sari masih terpaku dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia menatap nanar ke arah Damar Jati yang menyerang Nergal tanpa ampun. 


Bola-bola sihir silih berganti menghujani Pandji, bola sihir hijau berisi racun yang bisa melumpuhkan syaraf. Nergal masih berhati-hati menyerang Pandji meski ia sendiri kesal karena harus menahan diri. 


Tapi pada akhirnya Nergal kehilangan kesabaran. Bola sihir merah dan hitam yang mematikan akhirnya dilepaskan juga. Memburu Damar Jati dalam tubuh Pandji. Ia ingin mengakhiri dan membunuh Pandji sebelum fajar tiba.


Tapi harapan Nergal tak pernah bisa terwujud. Pandji telah kembali ke raganya setelah beberapa saat berada di dimensi berbeda menemui Romo Gurunya. Pandji dan Damar Jati secara bersama sama membaca mantra sihir, mereka juga berkeinginan yang sama dengan Nergal mengakhiri semua sebelum pagi menjelang.


Aura keemasan Pandji melingkupi aura hitam milik Damar Jati. Pandji menggunakan kekuatan sihir kegelapan milik Damar Jati yang ia pelajari dari dunia iblis. Sihir malam iblis.


Cahaya hitam melesat dari ujung pusaka penganten Lanang menembus langit malam. Memanggil kabut hitam pekat yang sudah terbentuk amat besar, dan ketika cahaya hitam itu menyentuhnya kabut hitam itu memijar sesaat seperti kumpulan awan yang akan menurunkan petir.


"Ca-cahaya yang mengerikan!" desis pak Agus yang kini sudah berada di dekat Sari.


"Kekuatan apa itu mbak, seumur hidup baru kali ini saya melihat kekuatan yang luar biasa dari tubuh anak muda itu! Siapa sebenarnya anak itu mbak?" Pak Agus kembali bertanya dengan mata terbelalak tak percaya. 


Kagum dengan kekuatan maha dahsyat milik bocah remaja yang umurnya bahkan baru setengah dari umur Pak Agus. Sari tersenyum di balik cadarnya, ia pun dibuat takjub oleh kemampuan putra pertama Alaric itu.


"Dia? Dialah Satrio Pamungkas, anak dalam ramalan kuno yang akan mengguncangkan dua dunia!"


Pak Agus menoleh ke arah Sari, "Anak dalam ramalan?" Ia masih tak percaya.


"Iya, dan gadis ini adalah sang penjaga!" Sari menatap tubuh Mika yang masih tergolek lemah dan kehilangan kesadaran.


Pak Agus ganti menatap tubuh Mika, matanya terasa panas dan mulai membayang. Sungguh ia tidak pernah mengira jika dirinya akan terlibat dalam pertempuran terhebat sepanjang abad. Pertempuran antara ras iblis dan manusia.


"Sebuah kehormatan bisa bergabung bersama kalian semua disini!" ujarnya menjura hormat pada Sari.


Pusaran angin kuat bak tornado bergerak dan berputar dengan cepat ke arah pusaka penganten yang masih menghunus ke angkasa menyelimutinya dengan aura kematian.


 Dalam sekejap Pandji menyerang Nergal bertubi-tubi. Ia tidak memberikan kesempatan pada Nergal untuk lari atau bahkan menyembuhkan diri dengan cepat. Tebasan demi tebasan terus dilakukan Pandji hingga akhirnya Nergal jatuh berdebam ke tanah dengan sayap terputus sebelah. Nergal mengerang, dan hidupnya berakhir setelah Pandji memenggal kepalanya.


"Pertarungan yang menarik mas Pandji, aku tahu kau bisa mengalahkan pangeran iblis itu!" gumam Sari dengan senyum tipis.


"Apa sudah selesai? Nergal sudah mati kan?" Doni bertanya setelah mengatur kembali nafasnya yang hampir habis menghadapi mayat hidup di sekitar mereka.


"Untuk saat ini, tentu saja tapi tugas Pandji dan Mika sang penjaga belum. Ini baru setengah perjalanan!" 


Pandji yang masih berada dalam pengaruh Damar menerobos kerumunan iblis yang sedang melawan aliansi. Tanpa belas kasih Pandji menebas dan memotong tubuh iblis dengan sepasang pusaka penganten miliknya yang menderu angker.


Petir Merah Ganendra menyambar pasukan Nergal yang tersisa menumbangkan mereka dalam sekejap. Hujan yang turun ke bumi seolah menjadi pertanda bahwa alam pun berpihak pada Pandji. Butiran air hujan diubah menjadi jutaan es tajam yang mematikan klan iblis yang tersisa.


Semuanya bernafas lega saat pasukan Nergal menghilang sepenuhnya. Alaric menyongsong tubuh putranya yang pingsan akibat kelebihan mana sihir yang dipaksakan. Energi Lanjaran disalurkan Alaric pada putranya untuk membantu mencerna kapsul penyembuh. 


"Ayo kita pulang, situasi sudah terkendali!" 


Sari bersama pak Agus, Doni dan juga keempat penjaganya pergi meninggalkan lapangan besar yang menjadi arena pertempuran hebat malam itu. Setelah sebelumnya menitipkan Mika pada Alaric.


Mika akan baik-baik saja, Sari memastikan hal itu pada Alaric. Energi Sari kini tertinggal di dalam tubuh gadis cantik bernama Mikhaila, bersinergi dengan Asih Jati.


Benang merah gaib telah bertaut dan mereka pasti akan bertemu kembali. Karena tugas Pandji belum berakhir, dan Sari berjanji akan membantu mereka saat membuka portal dimensi bawah.