
Doni begitu terkejut melihat kondisi perut pak RT. Nafas lelaki berambut tebal itu juga terdengar berat dan pendek. Doni berinisiatif menyentuh dahi pak RT.
"Eeh, pak RT demam? Kenapa pak RT memaksakan diri buat kesini? Kan bisa nyuruh istri bapak,"
Doni yang khawatir langsung membimbing pak RT yang bernama Maman itu untuk tidur terlentang di kursi. Doni sengaja tidak memberikan bantal di kepalanya agar tidak mengganggu jalan nafas lelaki yang kini hanya menatap dirinya dengan penuh harap.
"T-tolong saya m-mas …,"
Tangan Maman menarik kaos Doni, sebelum akhirnya ia terkulai lemas tak sadarkan diri.
"Eeh, pak RT … pak Maman! Duuuh, lha kok malah pingsan to!" Doni menepuk nepuk pipi Sarwan untuk menyadarkannya tapi usahanya itu tidak berhasil.
"Mbak … mbak Asri, mbak Pur!"
Dari kejauhan kedua asisten rumah tangganya itu berlari dengan tergesa mendekati Doni.
"Nggih mas Doni, ada apa ini? Kok teriak teriak keras banget!" Mbak Pur yang tiba lebih dulu terkejut saat melihat Maman sudah terkulai lemas.
"Duh, jabang bayiiik! Lha Iki kok pak RT semaput to mas Doni!" tanya mbak Pur kebingungan mendekati Doni.
"Udah nggak usah banyak tanya, saya aja bingung dia pingsan! Ambilin saya baskom isi pake air sumur!" perintah Doni seraya menaikkan kaos yang dikenakan Maman hingga ke dada.
"Nggih mas Doni siap! Ngagem Bidara mboten?" tanya mbak Pur lagi.
"Iya, ambil aja inget ganjil jumlahnya mbak! Sama …"
"Garam krosok to mas?!"
"Siiip pinter! Cepetan nggak pake lama kasian ni pak RT!" ujar Doni yang masih terus memperhatikan perut Maman.
Doni memperhatikan permukaan perut yang naik turun seperti ada gelombang air didalamnya yang kadang naik dan kadang turun. Ia seperti melihat sebuah adegan film thriller secara nyata. Bercak kebiruan tercetak jelas di beberapa tempat.
Luka gores lumayan dalam juga terlihat di dada Maman. Tiga garis memanjang sekitar 5 - 8 cm melintang.
"Luka cakaran, tapi …,"
Doni segera memeriksa nadi Maman di leher dan tangan. Terlalu lemah.
"Gawat, kalau begini terus dia bisa mati!"
"Mbak Asri tolong bangunin Sari tapi pelan-pelan ya! Dia baru datang pagi tadi!"
"Nggih mas!"
"Nah ini, udah datang sendiri mas!" ujar mbak Asri yang masih terkejut dengan kemunculan Sari.
"Pak RT?" Pertanyaan yang tidak perlu mendapat jawaban dari Doni.
"Kita harus cepat ngeluarin makhluk itu Sar, terlalu lama bisa - bisa pak RT …,"
Sari menyentuh kening Maman, "Panas, dia ikut kena teluh itu sepertinya?"
"Teluh? Teluh apa?"
"Pak RW? Tetangga lain?" Sari balik bertanya.
"Aaah iya aku lupa!"
Sari menatap Doni, "What?"
Sari mengedikkan kepalanya agar suaminya itu mengobati Maman
"Aku?"
"Bukan! Mbak Pur!" Sari kesal pada Doni.
Mbak Pur setengah berlari membawa baskom berisi air dan daun Bidara sesuai perintah Doni.
"Mas, ini airnya sudah siap!"
"Taruh disini mbak!"
Sari mundur dan duduk berseberangan dengan Doni. Ia menyerahkan sepenuhnya pada Soni. Dirinya hanya akan berjaga jaga seandainya makhluk gaib nakal yang bersemayam dalam tubuh Maman itu melarikan diri.
Dalam penglihatannya, ada makhluk berbentuk seperti ular dengan gigi tajam yang menggeliat naik turun diantara rongga perut dan dada. Makhluk itu seolah merayap di jaringan bawah kulit hingga menimbulkan gelombang mengerut dan mengendur.
Sari yakin itu sangat menyakitkan. Apalagi makhluk itu juga mengambil hawa kehidupan Maman, dia memakan hampir setengah dari energi manusianya.
Doni dengan tenang meletakkan tangannya di perut Maman yang masih terus bergerak tanpa arah. Dari tangannya yang bergetar Sari bisa memastikan jika makhluk nakal itu melawan untuk keluar. Tangan Doni mengusap perlahan turun dari dada ke perut dan melakukan gerakan melingkar di pusar.
Doni menarik paksa makhluk yang mulai tampak menggeliat dan melilit tangannya. Makhluk aneh berlendir dan kehitaman itu hendak menggigit tangan Doni. Sari tidak berdiam diri dengan cepat ia membantu Doni menarik makhluk itu dan seketika membakarnya dengan energinya.
Suara jeritan kecil terdengar, bau gosong yang tidak mengenakkan tercium dari tubuh makhluk yang perlahan berubah menjadi abu itu.