
Doni meminta salah satu asisten rumah tangga Saka untuk membawakan baskom berisi air hangat dan handuk kecil ke kamar. Sari masih tak sadarkan diri meski Doni sudah memberinya mantra penyembuh.
Luka yang dialami Sari cukup dalam, terutama di bagian perut. Meski Sari bisa memulihkan dirinya sendiri tapi jika menyentuh organ vitalnya tentu saja itu akan membutuhkan waktu sangat lama dalam proses pemulihan.
Doni membersihkan darah yang mulai mengering di sekitar luka. Tak lupa ia juga mengecek nafas Sari yang masih teratur seperti orang tertidur pulas. Wajah Sari nampak pucat, karena darah yang keluar cukup banyak apalagi darah masih mengalir dari lukanya yang belum menutup sempurna.
Mika yang mengkhawatirkan kondisi Sari akhirnya nekat mengetuk pintu, setelah beberapa kali mondar mandir di depan kamar.
"Aunty …,"
"Masuklah Mika!" Suara Doni terdengar dari dalam sana.
Mika membuka perlahan pintu dan mendekati Sari yang masih memejamkan mata. "Uncle, apa aunt Sari baik-baik saja?"
"Iya, jangan khawatir. Aunty akan segera pulih." Doni menjawab sembari mengusap tangan istrinya dengan handuk.
Mika masih diam terpaku di tempatnya. Ia penasaran benarkah Sari immortal dan tidak bisa terluka?
"Uncle? Boleh aku mendekat?"
"Tentu, duduklah disini. Uncle mau bawa ini keluar, tolong temani aunty!"
Doni berlalu keluar kamar meninggalkan Mika yang menatap Sari iba. Tangannya menyentuh telapak tangan Sari, dingin. Terlalu dingin untuk ukuran suhu tubuh normal.
Mika membuka perban yang menutupi luka di perut Sari. Lubang sekitar empat centimeter masih menganga dan belum menutup sempurna.
"Lukanya mulai menutup, tapi masih mengeluarkan darah. Cukup dalam sepertinya." Ujar Doni mengagetkan Mika.
"Me-menutup? Tanpa operasi?" Mika menatap Doni tidak percaya dengan ucapannya.
"Iya, tubuh Sari bisa memperbaiki selnya sendiri tapi membutuhkan waktu lama. Dia membutuhkan mantra penyembuh dari penjaganya untuk membantu dirinya membentuk kembali sel tubuhnya."
"Wow, nggak perlu dokter sama rumah sakit? Regenerasi sel? Unbelievable!" Mika kembali mengerjap tak percaya.
"Hanya untuk Sari, tidak untuk kita!" Doni tersenyum kecut.
Mika seketika merasa bersalah karena perkataannya, "Maaf, uncle, aku tidak bermaksud untuk …,"
"Its ok! Kamu harus tahu yang sebenarnya bagaimana keadaan Sari!"
"Aunty, immortal? Jadi itu benar?" Mika bertanya dengan hati-hati, ia takut menyakiti hati Doni.
Doni menghampiri Sari, memeriksa lukanya sebentar, menaikkan selimut hingga ke dada.
"Lebih baik kita bicara di luar saja, biarkan aunty istirahat."
Mika mengikuti Doni ke ruang tengah. Mereka duduk berhadapan disana. Segelas jus dan secangkir kopi disuguhkan oleh asisten rumah tangga Saka yang bernama bi Inah.
"Jadi aunty Sari beneran immortal, uncle?"
Doni menyesap kopinya, lalu ia menjawab pelan. "Sayangnya begitu."
"Bagaimana bisa? Jadi berapa umur aunty sekarang? Ratusan, ribuan tahun? Uncle juga?" Mika memberondong Doni dengan pertanyaan
Doni tergelak, "Aunty kamu itu umurnya benar empat puluh tahun. Belum genap malah, dia menjadi immortal lima belas tahun lalu."
Doni menatap Mika sejenak lalu membuang wajahnya ke arah lain. Ia menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya.
"Sebelumnya dia hanya manusia biasa. Pertemuannya dengan si kembar immortal merubah Sari menjadi seperti ini."
"Hal yang sama sekali tidak terduga. Airlangga mencurangi Sari, membunuh orang-orang yang dicintainya. Itu sebabnya selama lima belas tahun Sari mengejar dan memburu Airlangga ke seluruh pelosok negeri."
"Setiap informasi dari lelembut yang ia buru sangat berarti untuknya. Sari hampir putus asa, tapi dia menemukanmu."
Doni menatap Mika yang serius mendengarkan. "Gadis dengan keistimewaan mata tak biasa. Yang bisa melihat jauh ke dalam dasar jiwa manusia. Gadis yang diberitakan para leluhurnya untuk membantu Sari menemukan Airlangga."
"Itu aku? Tapi … aunty juga memiliki kemampuan yang sama dengan ku, uncle?"
"Ehm serupa memang tapi kemampuan Sari memiliki batasan tertentu. Dia bagian dari kegelapan, terlalu jauh memasuki hati dan pikiran terdalam manusia ia akan berubah!" Wajah Doni berubah muram.
Bayangan Sari yang berubah dikuasai kegelapan begitu menakutkannya. Airlangga mengincar Sari, dan Doni takut mantra segel dalam tubuh Sari tidak akan lagi berfungsi. Itu artinya akan sulit baginya untuk mengembalikan Sari ke dalam wujud manusianya.
Yah, Sari bisa berubah sewaktu waktu dalam bentuk iblisnya jika kemarahan yang meluap, meretakkan segel pengunci. Itu sebabnya dia tidak mengijinkan Sari membaca terlalu lama dan jauh ke dalam dasar jiwa manusia. Karena hal itu akan memancing bangkitnya kegelapan dalam tubuh Sari.
Mika mengerutkan dahinya, ia tak menyangka harus berurusan dengan bangsa immortal. "Lalu kapan kita akan bergerak mencari Airlangga uncle?"
"Segera setelah Sari pulih. Tapi sebelumnya, ada beberapa hal yang ingin Sari lakukan bersamamu." Jawab Doni dengan wajah serius.
Mika bertanya tanya apa yang ingin Sari lakukan bersamanya. Tapi ia menahan rasa penasaran itu hingga Sari sadarkan diri.
*****
Sementara itu di dimensi para penjaga. Sari kembali berendam dalam kolam ramuan obat di rumah Bayu. Senja abadi yang memayungi dimensi para penjaga memberikan ketenangan tersendiri bagi Sari.
"Kali ini kau bertarung dengan ceroboh cah ayu!" Kakek Wisesa menyapanya.
Kakek Wisesa tertawa, ia menuangkan teh ke cawan keramik, lalu menyodorkannya pada Sari.
"Minumlah!"
Sari menerima dan meminumnya. Kakek Wisesa memperhatikan Sari, tampak guratan pembuluh darah yang menyerupai akar pohon mulai muncul di leher Sari
"Aku terpaksa menarikmu dari sana, mantra yang diucapkan Airlangga bisa membangkitkan kegelapan dalam dirimu!"
"Maksud kakek?"
"Mantra pembuka gerbang iblis, Airlangga ciptakan untuk pengikutnya. Kau belum menguasai mantra sihir itu cah ayu!"
"Sangat berbahaya bagimu jika mendengarkannya kemarin. Kau bisa kehilangan kendali atas dirimu sendiri!" Sambungnya lagi.
Sari diam mendengarkan. Ia keluar dari kolam dibantu beberapa abdi dalem Bayu. Kakek Wisesa menghentikan pembicaraan dan menunggunya berganti pakaian, lalu mengajak Sari ke saung kecil tempat dimana Bayu biasa menjamunya.
Setelah meminum ramuan obat yang diracik khusus oleh Bayu, kakek Wisesa kembali melanjutkan obrolannya dengan Sari.
"Kegelapan yang ditanamkan Airlangga, akan menguasai dirimu jika kau tidak menguasai mantra pembalik."
Sari diam dan mendengarkan sambil mengamati pergerakan ikan dewa kesayangan Bayu.
"Lihatlah guratan hitam di leher mu itu!" Kakek Wisesa mengulurkan cermin pada Sari.
Sari terkejut guratan hitam itu sudah lama tidak muncul. "I-ini?!"
Kakek Wisesa kembali melanjutkan perkataannya. "Kau harus melatih diri untuk menahan mantra itu, jika tidak semuanya akan sia-sia!"
"Bagaimana caranya kek?"
Kakek Wisesa mengeluarkan gulungan kuno yang usang. "Di dalamnya ada mantra sihir yang bisa membantumu. Pelajarilah bersama suamimu, dia penjagamu, dia juga yang akan melindungimu dari mantra Airlangga!"
"Minum ini Sar!" Bayu tiba-tiba saja berdiri di belakang Sari. Ditangannya ada gelas dari bambu yang berisi ramuan.
"Bay, ramuan lagi? Aku udah mual sama ramuan tadi, masih ditambah ini?" Sari menaikkan sebelah alisnya, sedikit kesal karena harus menahan rasa pahit lagi.
"Ramuan ini untuk menghilangkan guratan hitam di leher mu! Atau kamu mau pulang dengan tanda seperti itu?!"
Sari mengalah, dengan malas ia meminumnya. Rasanya hambar tapi sedikit pahit saat melalui tenggorokan.
"Ada lagi yang harus aku minum? Jamu tolak mantra atau tolak kalah kalau perlu!" Seringai Sari pada kedua orang yang masih terhitung leluhurnya itu.
Bayu dan Kakek Wisesa saling menatap tak lama ketiganya tergelak.
"Pulanglah, Doni bisa khawatir kalau kamu terlalu lama tidur!" Ujar Bayu mengingatkan.
"Ya, aku juga merindukan suamiku." Sari hendak melangkah pergi tapi kemudian ia teringat sesuatu.
"Ehm, Bayu, Gia merindukanmu mungkin sebaiknya kamu mengunjunginya!"
"Eh, apa? Siapa? Gia?" Bayu terkejut membuat Sari tersenyum lebar.
"Yup, Gia. Sepertinya …," Sari mendekati Bayu dan berbisik padanya, "Dia menyukaimu,"
Bayu terbelalak tak percaya, ia menatap Sari yang terkekeh lalu menghilang kembali ke dunia manusia.
Bayu mengerjap bingung, ia menoleh pada kakek Wisesa yang tak hentinya tertawa.
"Apa? Apa yang lucu kakek tua?!"
"Tidak, aku tidak tertawa Bayu hanya sedikit tersedak." Elak kakek Wisesa.
"Kau menertawaiku! Dasar kakek peot!"
Dan yang terjadi selanjutnya keduanya terus berdebat dan saling mengejek entah sampai kapan.
********
Mika menyibukkan diri dengan membantu Doni melatih para kesatria muda milik Saka. Sedikit canggung pada awalnya karena seluruh ksatria pilihan itu bak model pria dengan tubuh atletis.
Awalnya Mika sangsi dengan kemampuan mereka. Tapi setelahnya justru Mika begitu bersemangat untuk membantu Doni. Ilmu olah tubuh yang dimiliki para kesatria muda itu rupanya tak kalah dengan kemampuan Aswanta, Tirta, dan Mahesa.
Mika mengajarkan mereka latih tanding baik dengan menggunakan sihir ataupun senjata andalan masing-masing. Doni dan Sari sengaja memilih dan memberikan mereka pusaka terbaik yang didatangkan dari berbagai penjuru Nusantara.
Saka benar-benar menyiapkan segalanya. Ia tidak mau setengah-setengah, tak terhitung lagi berapa uang yang ia gelontorkan untuk persiapan para kesatria mudanya.
Suara teriakan baik itu semangat ataupun mengejek terdengar lantang dari pendopo kesatrian. Membuat Sari penasaran dan terbangun dari tidurnya selama beberapa hari.
Sari berjalan perlahan ke arah pendopo. Nyeri di kepalanya membuat Sari tidak ingin berjalan terlalu jauh. Ia cukup melihat dari kejauhan. Ia tersenyum melihat Mika yang bersemangat membantu Doni selama ia tertidur dan memulihkan diri.
Mereka sudah siap, pasukanku sudah siap!