Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Kunjungan ke Pakualaman



"Mbak Sari sama mas Doni rencana mau kemana?"


"Ehm, mengunjungi teman lama sepertinya." jawab Sari dengan senyum penuh makna.


"Aaah, ke rumah mas Al?"


Sari hanya tersenyum tidak menjawab. Ada hal yang harus diurusnya terlebih dahulu sebelum mereka resmi menjadi bagian dari official team Saka.


Tanpa menunggu lama, malam itu mereka berdua berkunjung ke rumah Alaric dan Selia di Pakualaman. Kedatangan mereka memang sudah direncanakan terlebih dahulu. Doni sudah menghubungi Alaric sejak mereka mendapatkan undangan turnamen itu.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman rumah yang sudah mulai ramai dengan beberapa hiasan dan juga tenda khusus. Besok malam ada gelaran besar penyambutan peserta turnamen sekaligus merayakan hari kelahiran putra pertama Alaric dan Selia. Siapa lagi kalau bukan Raden Pandji Satria Abisatya.


Sari dan Doni disambut langsung oleh Alaric yang telah menunggu di halaman depan. Selia tidak nampak di sana karena disibukkan dengan pelbagai hal untuk gelaran besok.


"Selamat datang di rumah kami!" sapa Alaric ramah.


Pria Flamboyan yang dulu menemui Sari itu kini tampak lebih matang tapi wajahnya masih sama, awet muda sama seperti Sari.


"Akhirnya kita bisa ketemu ya mas, ehm … mbak Selia kok nggak ada?" tanya Sari celingukan mencari sosok yang ingin ditemuinya.


"Maaf Selia sibuk ngurusin persiapan besok, tapi nanti juga nyusul kita kok kalau semua sudah bisa dihandle," jawab Alaric menegaskan.


Alaric mempersilahkan kedua tamunya itu menuju ke ruang kerja nya. Ruangan yang cukup luas dan nyaman. Mata Sari langsung tertuju pada meja kerja besar yang terbelah menjadi dua. Meja Itu teronggok di sudut ruangan.


"Ada kecelakaan kerja rupanya?" ujar Sari dengan tawa kecil.


Alaric menggaruk kepalanya, ia lupa jika meja yang hancur karena ulah Pandji itu belum sempat dikeluarkan dari ruang kerjanya.


"Ya, begitulah … terlalu bersemangat ceritanya,"


Doni memperhatikan meja itu lalu mengernyit, "Kecelakaan model apa ini yang bisa membelah meja jadi dua dengan halus begini?"


"Ehm, itu … karena pedang," jawab Al dengan senyum masam mengingat kejadian Pandji yang begitu antusias menjajal salah satu pusaka penganten yang dihadiahkan darinya.


"Pedang? Wow keren, pasti pusaka yang bagus mas Al!" Sari mengacungkan salah satu ibu jarinya.


"Kami kesini setelah melihat undangan turnamen itu."


Al masih dalam mode menyimak, "Ganendra, trah yang hilang ratusan tahun lalu … apa ada hubungannya dengan keluarga mas Al?"


"Kami sedang mencari pemuda dalam ramalan kuno. Pemuda dengan julukan Satrio Pamungkas," kata Sari lagi.


Al meminum tehnya dengan tenang kemudian menjawab pertanyaan Sari,


"Ganendra memang mengalir dalam darah saya. Tapi pemuda yang dimaksud dalam ramalan itu saya kurang paham maksudnya,"


"Dia adalah pemuda yang akan membantu saya menemukan seseorang yang saya butuhkan mas," ujar Sari.


"Yang dimaksud Sari adalah pemuda yang lahir di hari kejayaan setan," Doni menimpali perkataan Sari.


Al tersedak mendengarnya, ia terbatuk beberapa kali. "Apa?"


"Mas Al kenapa? Kok kayaknya kaget gitu?" tanya Sari penasaran.


"Ulangi sekali lagi, siapa pemuda itu?" pinta Al pada Doni.


"Pemuda yang lahir di hari kejayaan setan, penguasa tujuh pusaka legendaris dan dijuluki Satrio Pamungkas."


Sekali lagi Al terbatuk mendengarnya, ia tidak menyangka jika yang dicari Sari dan Doni adalah putranya sendiri, Pandji.


"Maaf tapi saya sedikit terkejut dengar ramalan itu. Kalau memang itu yang dimaksud, mbak Sari dan mas Doni datang ke tempat yang benar,"


Sari dan Doni saling berpandangan, "Maksudnya mas?" Sari tak sabar untuk bertanya.


"Anak laki-laki yang dimaksud mungkin putra pertama saya Raden Pandji Satria Abisatya. Dia lahir dihari yang sama seperti dalam ramalan," kata Al sedikit menjelaskan.


"Tapi untuk.memastikannya mas dan mbak bisa lihat langsung putra saya Pandji besok malam," lanjutnya lagi.


Akhirnya aku menemukanmu!