
Sari memancing Airlangga ke perbukitan tak jauh dari rumah kontrakannya. Airlangga menyerangnya sebelum Sari tiba di tempat sepi. Satu pukulan telak mengenai punggung Sari yang tidak sempat menghindar. Memaksa Sari berguling ke depan dan langsung bersiaga.
"Bagaimana bisa Sengkayana ada di tanganmu?" tanya Airlangga di sela sela bertarung dengan Sari.
Sari menjawab setelah ia membalas serangan Airlangga dan menghempaskannya keras ke tanah.
"Just guest Airlangga?" Sari mengucapkan seraya mengunci pergerakan Airlangga dalam jarak dekat.
"Darimana kau tahu namaku, kita bahkan belum pernah bertemu!" Airlangga melemparkan bola sihirnya ke arah Sari yang berhasil di tangkisnya dengan Sengkayana.
"Anggap saja kau cukup terkenal di dunia lelembut sana! Kau dan saudara kembar mu Lingga benar-benar telah mengacaukan duniaku!" Sari menyongsong Airlangga dengan sabetan Sengkayana yang memijar,
Airlangga cukup gesit untuk berkelit, ia berhasil menghindar ke kiri sebelum akhirnya menyerang balik Sari. Mereka kini saling berhadapan dan mengatur nafas. Mata Airlangga seolah memindai Sari dari atas ke bawah.
"Kau bukan Sari, siapa kau sebenarnya?"
"Lihatlah dengan jelas Airlangga siapa aku!"
Mata indah Sari berkilat kemerahan, sama seperti mata Airlangga. Aura Sari semakin menekan Airlangga.
"Kau,"
"Terkejut? Aku adalah produk dirimu, kau mengubahku menjadi seperti ini. Kau bahkan menghancurkan masa depan umat manusia!"
"Aku hanya menginginkan Sengkayana! Bagaimana mungkin aku menghancurkan masa depan umat manusia!"
Sari menarik nafas dalam, "Sekarang mungkin tidak, tapi entah esok hari!"
"Aku tidak ada urusan denganmu nona, aku hanya menginginkan pedang itu!" Airlangga kembali berkilah.
"Bagus, ambil dan rebutlah dariku!"
Airlangga menggeram, ia merubah dirinya ke dalam tubuh iblisnya. Ia melesat cepat ke arah Sari bak anak panah. Sari mencoba menahannya dengan perisai Sengkayana, hingga terdorong mundur menabrak beberapa batang pohon Pinus secara beruntun.
"Kau lumayan juga!" seru Airlangga yang terus menghujani Sari dengan serangan bertubi-tubi.
Mereka terhenti saat punggung Sari menghantam dinding tebing, menimbulkan getaran bak lindu kecil. Guguran tanah dari atas tebing menghalangi pandangan mata Airlangga.
"Ups, sepertinya kau salah perhitungan tampan!"
Sari menendang dada Airlangga dengan kuat, lalu menebas salah satu sayapnya dengan cepat. Airlangga meraung keras, membuat para binatang malam di sekitarnya ketakutan dan bersembunyi.
Sayap Airlangga masih hitam belum semerah lidah api yang membara seperti di masa depan. Airlangga, jatuh berdebam ke tanah. Ia mendongak ke atas dimana Sari tersenyum sinis padanya. Mata iblis Airlangga dengan jelas menangkap ekspresi Sari yang mengejeknya, ia mendengus kasar.
"Cukup bersenang-senangnya!" Ia kembali meraung, di tangannya kini terkumpul energi sihir besar yang perlahan mewujudkan pedang iblis miliknya.
"Uuuh, aku takut sekali!" ejek Sari perlahan turun ke bawah.
Sayap Airlangga yang terputus perlahan mulai tumbuh. Sari melihatnya dan dengan segera ia menyerang sebelum sayap itu kembali tumbuh. Dari jarak jauh ia menyabetkan energi Sengkayana.
Cahaya kemerahan menerangi gelapnya malam di perbukitan, menyala bagaikan kembang api di malam tahun baru. Sari terus menyerang Airlangga tak memberinya sedikit pun waktu untuk bernafas.
Pedang iblis beradu dengan Sengkayana. Saat ini pedang iblis Airlangga belum memiliki kekuatan sebesar di masa depan. Denting logam yang beradu memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
"Waktu kematianmu semakin mendekat, apa ada kata terakhir?"
"Aku akan mengejarmu sampai ke neraka!" sahut Airlangga dengan mulutnya yang lebar, menunjukkan gerigi tajam yang mengerikan.
"Maaf, tapi kau sudah melakukannya in another times!"
"A-apa? Tidak mungkin, i-ini …,"
Mata Airlangga terbelalak, sebelum ia menyelesaikan kalimat pedang iblis kebanggaannya hancur. Kehancuran pedang iblis miliknya menimbulkan energi kejut dahsyat yang melemparkan tubuh kedua immortal ke arah yang berbeda.
Pepohonan pinus dan jenis pohon keras di sekitar mereka terkena imbasnya, sebagian rusak dan tumbang. Airlangga kehilangan separuh dari kekuatannya. Tubuhnya penuh luka, sayapnya yang separuh hanya menyisakan beberapa helai bulu hitam. Tubuh iblisnya perlahan menghilang berganti dengan tubuh manusia biasa.
"K-kau, aku belum kalah Sari!" Airlangga berdiri dengan sisa kekuatannya.
Sari muncul berjalan perlahan dengan anggun. Sengkayana memijar seperti lava bak mesin pembunuh yang siap menghabisi Airlangga.
"Andai kau tak serakah Airlangga, andai kau mau hidup berdamai dengan kami para manusia, nasibmu tidak akan seburuk ini. Aku akan menganggap dirimu bagian dari lelembut nakal pengganggu manusia."
Sari bersiap memenggal Airlangga dengan Sengkayana, tapi Airlangga bertindak licik. Sejumput tanah ia lemparkan ke arah mata Sari, mengalihkan perhatian.
Sari reflek menutupi matanya, dan saat itulah Airlangga kabur. "Kurang ajar!"
Sari geram, ia segera mengejar Airlangga yang masih bisa melesat cepat. Airlangga butuh tameng hidup, dan pilihannya siapa lagi jika bukan kekasih Sari. Bagas.
Airlangga mendobrak pintu dengan kasar hingga pintu rumah hampir terlepas. Kedatangan nya sontak mengagetkan Sari, Doni, Bagas, Ahmad, dan Rara yang masih berkumpul di rumah tengah.
"Hei, siapa kamu?! Masuk ke rumah orang tanpa ijin dan kasar lagi, dimana sopan santun mu!" seru Ahmad memprotes tindakan Airlangga.
Airlangga menggeram, menunjukkan sisi iblisnya sekilas pada kelima anak muda itu. Sari dan Doni berdiri melindungi yang lain.
"Dia bukan manusia Mad, mundur!" Doni memerintahkan sahabatnya untuk tidak berbicara lagi.
"Hah, serius lu Don! Astaga, ni mulut pake nyablak pula!" Ahmad memukul ringan bibirnya sendiri lalu beringsut mundur ke belakang Doni.
"Siapa kamu?!" Sari bertanya pada Airlangga.
Airlangga menyeringai pada Sari, "Sudah kuduga dia bukan kau!" Ia melirik kearah Bagas, ia meraih pemuda berkacamata yang berdiri di belakang Doni.
Rara berteriak, begitu juga Ahmad. Tapi tangan Airlangga berhasil membekap Bagas tanpa perlawanan berarti, bahkan Sari dan Doni tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi Bagas.
"Hei, lepasin Bagas! Apa mau kamu sebenarnya!" Sari berteriak, tangannya ditahan Doni yang berbisik padanya, "Jangan gegabah Sar, dia bisa membunuh Bagas!"
Angin kencang tiba-tiba saja berhembus masuk ke dalam rumah. Suara sepatu terdengar nyaring melangkah dalam heningnya malam. Seorang wanita cantik dengan pakaian hitam ketat muncul. Sari dari masa depan tiba dengan Sengkayana memijar
Airlangga semakin mengeratkan tangannya ke tubuh Bagas.
"Kau menghabiskan waktuku!" seru Sari dari masa depan menahan amarah.
Sari dan yang lainnya ternganga, mereka tak percaya dengan indera penglihatan mereka.
"Eh, lah Sari nya kok dua?!" celetuk Ahmad.
"Lah, sejak kapan Lo punya kembaran Sar?!" bisik Doni pada Sari.
Sari hanya bisa termangu, ia bingung. "Gue juga nggak tahu Don, ada apa ini sebenarnya?!"
"Lepaskan dia Airlangga, kau tahu dia tidak ada urusannya denganku!" Sari dari masa depan menggertak.
"Benarkah, apa kau rela dia mati?!" Airlangga mengubah dirinya kembali menjadi iblis dengan cakar tajam dan gigi runcing. "Aku bisa membunuhnya kapan saja!" Ancamnya lagi pada Sari dari masa depan.
Bagas yang ada dalam sekapan Airlangga tercekat, ia melirik ke arah teman - temannya. Sari bingung dengan situasi yang dihadapinya, salah langkah nyawa Bagas melayang. Sosok Sari lain dengan pedang menakutkan yang memijar kemerahan itu membuat fokusnya terpecah. Ia tak tahu apa dia kawan atau justru lawan.