Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Seseorang di Celah Kecil



Sari dan Doni dalam perjalanan menuju Parangtritis saat Kania menghubunginya.


"Waar ben je?!" (Kau dimana kak?!) Kania bertanya dengan nada kesal.


Sari melirik ke arah Doni, menaikkan alisnya sebelah. Otaknya sibuk memikirkan jawaban tepat. "Maaf Kania ada hal penting yang harus dikerjakan, ehm mungkin sekitar dua atau tiga hari," sesal Sari.


"Aku baru saja datang, kakak malah pergi gitu aja en vertel me niet waar?!" Suara Kania terdengar kesal diujung sana.


( Dan nggak kasih tahu kemana?!)


"Aku tahu, maaf! Kakak bakal ganti waktu kita setelah urusan kakak selesai,ok?" Sari berpikir sejenak lalu kembali merayu Kania yang diseberang sana, "Ehm, shopping? Aku beliin deh kamu apa aja, gimana?" 


Yang terdengar selanjutnya hanyalah gerutuan Kania yang sepanjang kereta malam. Sari menggaruk kepala, sesekali ia tersenyum masam melirik ke arah suaminya yang terkekeh.


Doni sudah bisa menebak omelan Kania, sepupu iparnya yang mirip sekali dengan Mom Adeline jika sedang memberikan wejangan.


 "Sepertinya ini yang disebut like daughter like her mom right?" Ucapan Doni membuat Sari mendelik dan mengedikkan bahunya.


Akhirnya omelan Kania berhenti setelah Sari mentransfer sejumlah uang ke rekening Kania, "Ehm, Kania Hou op! Ik ben duizelig om dat te horen, ga winkelen en neem Eric mee, oké? Ik ben zo terug!"


( Ehm, Kania berhenti! Aku pusing mendengarnya, pergi belanja dan ajak Eric bersamamu, ok? Aku akan segera kembali!)


"Wew, dua puluh lima juta waarvoor? Winkelen?" (Buat apa? Shopping?) Kania terbelalak melihat sejumlah uang yang masuk ke rekeningnya. 


Sari kembali tersenyum asam melirik ke arah Doni yang masih terkekeh. "Wanita memang memusingkan! Uang, belanja, salon, and piknik?" Doni menoleh ke arah Sari dengan tatapan meledek.


Bibir Sari berkomat kamit kesal meminta Doni berhenti bicara, kepalanya pusing harus mendengar dua orang yang ia sayangi bicara. Doni dibuat gemas melihatnya, hingga tak kuasa menahan tangannya untuk mencubit pipi istri cantiknya itu.


Setelah sedikit merajuk dan kembali meminta maaf akhirnya Sari bisa mengatasi kekesalan Kania. Ia juga menghubungi Eric untuk menemani Kania berjalan jalan keliling kota Solo. 


"Gimana?" tanya Doni ketika mobil mereka berhenti saat lampu merah.


"Hhm, aman! Untuk sementara, aku janji sama dia buat nemenin jalan-jalan nanti."


"Ajak Mika sekalian jalan beb, kalian perlu beradaptasi." Perkataan Doni cukup membuat Sari terkejut.


"Mika? That Mikaila?"


"Who else? Ada yang bernama Mikaila lagi?"


"Ya tapi, tugas dia aja belum selesai kan?"


"Kata siapa? Mereka sudah ada di hutan hitam sekarang, Pandji dan Mika sekarang ada di dunia bawah!" Doni mengulas senyum.


"Oh Ya?" Sari memiringkan kepala penasaran tapi kemudian ia menebak, "Hmm, pembisik?" 


"Yup, aku punya cctv keren di sekitar situ!"


"Wooow, benarkah? Apa yang aku lewatkan sampai nggak tahu suamiku sendiri punya hak menarik?" Sari melipat dadanya dan tergelak.


"Many things beb, aku harus putar otak demi menjagamu kan?" Doni mengerlingkan matanya lalu tersenyum jenaka.


Sari yang gemas spontan mencium pipi Doni, "Thanks my love," yang dibalas Doni dengan sedikit kecupan ringan. "With pleasure my sunshine,"


Segaris cahaya terang muncul di langit, mengalihkan pandangan Sari dari suaminya. Energi yang sangat ia kenali. Sari kembali ke posisi duduknya dan mendongak ke arah perginya cahaya. 


"Itu mas Al," Doni rupanya juga mengenali energi Lanjaran milik Alaric.


"Kita harus cepat beb, mas Al butuh bantuan kita!" Sari meminta Doni menambah kecepatan.


Sari menggunakan mata tak biasanya menembus batas dunia bawah. Pandji, Mika dan seorang lelaki tua sedang berjuang melawan pasukan iblis yang dipimpin oleh lima orang pangeran.


Lelaki tua yang berada tak jauh dari Mika terlihat menggambar heksagram raksasa di tanah sementara Mika sibuk melawan makhluk kegelapan yang datang tanpa henti. 


Sari mengamati heksagram yang tengah dibuat lelaki bernama mpu Sapta.


"Bintang Daud," gumamnya lirih.


Sari mengenali gambar yang di goreskan mpu Sapta ke tanah. Heksagram raksasa pembuka portal utama sekaligus pemanggil lima pusaka sakti milik sang mpu.


Heksagram bertumpuk dengan simbol ketujuh pusaka mulai menyala dengan energi cadangan sang sang mpu yang mulai kelelahan. Seperti halnya pertarungan Jombang yang disertai hujan disaat terakhir, pertarungan di dunia bawah juga diiringi hujan deras yang disertai angin ribut dan petir menggelegar.


Sari tersenyum, "Bagus!"


Doni dibuat penasaran dengan ucapan Sari "Apa, apanya yang bagus?"


"Diamlah dulu beb, aku harus berkonsentrasi!" jawaban Sari membuat Doni menggerutu.


Sari kembali pada penglihatan tak biasa, heksagram sihir yang dibuat mpu sapta tetap menyala dalam hujan yang semakin deras. Pandji melompat dalam heksagram, berdiri tepat di tengah sebagai pusat utama. Sari bisa melihat dengan jelas simbol keris penganten Lanang Damar Jati.


Pandji melepas Asih Jati membiarkan pedang itu melayang dan jatuh tepat ke simbol yang ada di sisi kanan Pandji. Menyalakan heksagram bertumpuk menjadi lebih terang. 


Mantra berbahasa Kawi kuno terdengar lirih diucapkan Pandji dan Damar. Cuaca semakin memburuk, aura gelap pekat semakin melingkupi formasi tempat Pandji berdiri. Lima cahaya terang melesat cepat ke arah heksagram dan jatuh tepat memenuhi lima simbol pusaka yang tergambar jelas di sekitar Pandji.


Tujuh pusaka sihir yang tergambar dalam satu bintang segi enam bersinar menyilaukan mata, dan dengan mana sihir Pandji portal utama terbuka.


Sari terbelalak, "Gawat!!"


"Gerbang dua dimensi terbuka," Sari menatap ngeri ke arah cahaya yang perlahan semakin terang di depannya.


"Hmm, semoga mereka bisa keluar dengan selamat," harapan terucap dari ayahnya Pandji.


Sari bersiap dengan kekuatannya. Tidak ada yang tahu apa yang akan keluar dari sekat dua dimensi yang ditakdirkan tertutup sampai akhir zaman. 


"Sesuatu yang buruk bisa saja keluar dari sana mas!" Sari memperingatkan Alaric yang masih duduk di atas Turangga Jagad dengan gagahnya.


Sari melirik pria flamboyan yang masih diam dan memperhatikan celah kecil yang perlahan terbuka lebar. Perisai Lanjaran terlihat jelas melindungi Al. "Bersiaplah, mereka datang!"


Sari dan keempat penjaga bersiap, pintu tak kasat berwarna hitam dan tinggi muncul, berderak mengerikan membentuk lubang hitam dengan cahaya temaram. Sari ngeri membayangkan apa yang kemungkinan terburuk. Pasukan iblis kah yang keluar? 


Tangan Sari mengepal bersiap mengeluarkan energi terkuatnya guna menghadang pasukan iblis. Disisi lain Pandji sekuat tenaga menahan gerbang agar terbuka selama beberapa saat. Ia memompa sihir melebihi batas normal manusia.


Mika bersama barion menyusul mpu Sapta dan pasukan pendukungnya. Ekspresi kesedihan nampak di wajah Mika, ia begitu mengkhawatirkan kondisi Pandji. Seseorang harus merapalkan mantra untuk menutup pintu gerbang kegelapan abadi, dan itu hanya bisa dilakukan oleh yang terpilih. Satrio Pamungkas.


Mika berhasil keluar dari dunia bawah bersama tunggangan kesayangan Pandji. Al menyongsongnya dengan senyum, tapi hanya sesaat. Ia menyadari putranya tidak ada dibelakang Mika.


Kecemasan melanda, Al tidak bisa merasakan keberadaan putra nya didunia bawah. Dunia yang tidak bisa ia tembus, karena hanya pemilik energi kegelapan yang bisa melakukannya, itu Sari.


"Mbak …," belum juga Al bicara, Sari sudah berseru padanya. "Pandji dalam bahaya cepatlah masuk! Aku akan mencoba membuka sedikit celah!" 


Sari mengerahkan energinya dalam kekuatan besar, membuat celah kecil sebelum gerbang kegelapan menutup sempurna.


"Cepatlah mas Al, kita tidak punya banyak waktu!"


Cahaya merah keemasan melesat menahan celah gerbang, memberikan Al kesempatan untuk masuk ke dalam dunia bawah. 


Temukan Welas, Pandji ada bersamanya! 


Sari berbisik di pikiran Al yang melesat dengan kecepatan cahaya bersama Turonggo Jagad. Sari dibantu keempat penjaganya menjaga celah kecil yang ia buat hingga Al kembali bersama Pandji.


"Cepatlah mas Al, aku tidak bisa menahan celah ini terlalu lama!" Suara Sari mulai gemetar.


"Butuh bantuan my sunshine? Maaf terlambat," Suara Doni terdengar dibelakangnya,menyentuhnya hangat dengan energi miliknya.


"Traffic jam?" Sari melirik pada suaminya, yang dibalas kerlingan mata Doni. Sejujurnya ia lega Doni berhasil menyeberang dimensi dan menyusulnya cepat.


"Dimana mas Al?" 


"Menjemput Pandji, elemen kehidupannya hilang. Aku takut mas Al terlambat!" Jawab Sari menambah lagi energi untuk menahan celah.


"Pandji mati?" Doni tidak percaya.


Sari tersenyum misterius, mata tak biasanya menangkap sosok wanita ayu bernama Welas yang menjaga tubuh Pandji dengan baik.


"Entahlah, aku harap anak itu bisa bertahan. Semoga ada keajaiban bersamanya," 


Tak lama Al melesat keluar membawa Pandji yang terkulai lemas bersamanya.


"Terimakasih mbak Sari, maaf ada hak yang harus segera saya lakukan!" Al bicara dengan telepati pada Sari, ia harus membawa putranya pulang sesegera mungkin.


Sari mengangguk, "Baiklah kawan, ayo kita pergi!"


Sari hendak menutup celah kecil dan menarik energinya, tapi ia dikejutkan dengan kemunculan sosok Airlangga. Lelaki yang menjadi musuh abadinya itu tersenyum lebar padanya, senyum mengejek yang mendidihkan darah Sari.


"K-kau?!" Sari geram dan hendak mengeluarkan Sengkayana, tapi doni mencegahnya.


"Jangan gegabah! Dia ada di dunia bawah! Kita tak tahu seberapa besar kekuatan kegelapan, apalagi Raja iblis kini sedang murka setelah dunianya diporak porandakan Pandji!"


"Tapi, dia …," Sari mencoba mendebat, matanya tak lepas dari sosok Airlangga.


"Masih ada waktu mengejarnya, perlu kewarasan otak untuk menghadapi Airlangga beb. Bersabarlah!" Sentuhan lembut Doni akhirnya meluluhkan keinginan Sari.


Sari segera menutup celah agar tak ada makhluk kegelapan yang mencuri kesempatan keluar dari batas dimensi. 


Sialan, kau lolos lagi! Aku pastikan selanjutnya tidak ada lagi jalan bagimu untuk menghindari ku!"


...☘️☘️☘️☘️☘️...


...siang menjelang sore teman2, MET healing MET mingguan, nice Sunday......


...mbak Sari up slow Minggu2 ini yaa, kesibukan real life sulit dihindari so...maafin authornya yg agak lola buat up🤭...


...teman2 bisa mampir ke novel horor saya lainnya sambil nungguin mba Sari asah pedang😁...


...# Jeritan Tengah Malam #...


...terimakasih atas dukungannya, love u all...


...with love ~ Lia😘...