
Sari bersiap dengan pakaian berburunya lengkap dengan cadar menutupi wajahnya yang cantik. Kali ini ia hanya ingin memantau para lelembut yang kabarnya berupa dua sosok legendaris di dunia manusia.
Ibarat dunia keartisan dua sosok ini sudah menjadi artis papan atas yang selalu muncul membuat jeritan dan kengerian tengah malam bagi siapa pun yang bernasib sial bertemu dengan mereka. Kuntilanak dan pocong.
Sari menghela nafas panjang, seandainya sosok-sosok itu tidak menganggu tetangganya ia sungguh malas berurusan dengan mereka.
Sari berdiri di salah satu atap rumah warga memperhatikan sekitar, menunggu kemunculan dua sosok meresahkan itu. Angin malam berhembus menyapanya lembut. Dingin dan menenangkan, bulan yang hampir berada dalam posisi membulat sempurna tampak terang menghiasi gelapnya malam.
Sari mendongak ke atas, menatap bulan yang tampak mulai tertutup awan kelabu. Bayangan kegelapan tampak menari di mata tak biasa milik Sari.
"Dalam hitungan hari waktunya akan tiba, bulan berada dalam tahap sempurna dan buku sihir serta pasukan iblis itu akan segera muncul!"
"Kekacauan sebentar lagi akan menjadi berita besar dan menghebohkan," ucapnya dengan memejamkan mata.
Sari merasakan suhu disekitar mulai berubah. Yang semula dingin perlahan mulai terasa panas dan menyakitkan. Ia tersenyum. Energi jahat mulai dikirimkan seseorang.
Dugaanku sepertinya tepat, Bimasena bantu aku mengatasi mereka!
Sari tersenyum saat melihat dua sosok mulai tampak mondar mandir di sebuah rumah warga. Keduanya bergantian muncul, yang satu asik berpindah dari halaman ke atas pohon yang satu lagi bergerak berpindah mengelilingi rumah.
Mereka menebar teror ketakutan pada si pemilik rumah.
"Mau kita bereskan sekarang Sar?"
"Aku penasaran sebenarnya tapi keburu subuh bisa-bisa Doni marah nanti," Sari terus memperhatikan pergerakan mereka berdua.
"Jadi …," pertanyaan Bimasena menggantung.
"Ayo kita turun!"
Sari beserta keempat penjaga mendekati mereka. Sosok mbak Kunti dengan baju lusuh dan muka tidak karuan itu masih asik menggantung di dahan pohon, menggerakkan kedua kaki yang bahkan tak terlihat karena panjangnya gaun.
Kepalanya terus bergoyang seperti hendak terjatuh dari lehernya membuat rambut kusut kumalnya itu bergerak kesana kemari menebarkan bau busuk dan anyir yang menyengat.
"Iiissh, dia mau ke dugem apa gimana itu? Pake geleng kepala cepet bener!" ujar Sari sarkas
Sari mencari keberadaan di pocong yang berjalan dengan kecepatan tinggi. Dari kejauhan gerakannya mirip seperti bendera yang diterbangkan angin hanya saja berpindah dengan cepat.
"Hei kamu berhenti!"
Sosok berbalut kain putih dengan tujuh ikatan di tubuhnya itu masih enggan berhenti. Sari dibuat gemas melihatnya. Ia baru saja hendak berkata lagi untuk menghentikan kedua sosok itu bergerak ketika selarik mantra terdengar jelas di telinganya.
Niat ingsun anggugah doyo
Panguasane wesi … Jim setan podo tumeko
………
Ingsun kongkon … wesi aji
Pati … pati …pati …
Mata Sari membulat sempurna, ia menoleh ke belakang. Hawa panas yang ganjil menyergapnya seketika. Kedua makhluk astral yang berwujud kuntilanak dan pocong itu tiba-tiba saja berhenti bergerak. Mereka kompak berdiri menghadang Sari dan keempat penjaganya.
"Jadi begitu, mereka hanya penjaga agar mantra yang dikirimkan aman? Sungguh licik!" Sari menyeringai pada keduanya.
Bayangan hitam yang cukup besar merayap dan berjalan cepat di tanah memasuki rumah yang menjadi sasaran.
"Sar, itu ilmu teluh yang dikirim lewat tanah bukan udara!" Kandra ikut terkesiap melihatnya.
"Iya kamu benar, hanya orang-orang tertentu dengan yang bisa mengirimkan teluh mengerikan ini."
Sari ngeri membayangkan kebrutalan santet tingkat tinggi yang hanya dikuasai beberapa orang tertentu dari kawasan timur Jawa itu. Teluh jenis ini hanya membutuhkan waktu singkat tidak seperti teluh jenis lain yang membutuhkan waktu berhari-hari.
"Kalian urus dua makhluk jelek itu, aku akan mengejar yang satu ini sebelum dia berhasil masuk ke dalam tubuh sasarannya!"
Bimasena dan yang lain segera mengurus dua makhluk jelek yang mengeluarkan bau busuk itu, sementara Sari mengejar bayangan hitam yang terus bergerak masuk ke dalam rumah mencari sasaran sesuai dengan nama yang sudah disebutkan pengirim teluh.
Entah siapa pengirimmu tapi kau tidak akan lepas dariku!