Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Pengantar Pesan 1



Ledakan demi ledakan terjadi, para lelembut rendahan yang dikirimkan dukun hitam itu terus mencoba masuk ke dalam kubah pelindung. Mereka tak peduli meski harus mencoba berulang kali.


"Sar boleh kami keluar, biar kami habisi mereka dengan cepat!" Kandra yang tidak sabar meminta izin.


"Hmm, boleh tapi ingat jangan menghabiskan energimu untuk mereka. Kita masih harus menghadapi menu utama malam nanti!" 


Kandra dan Abisatya mengangguk dan segera keluar kubah menghabisi para lelembut kelas teri yang dikirim untuk uji nyali.


"Bimasena tetap disini, bersiap menghadapi yang lebih kuat!"


Sari memberi perintah dan kembali masuk ke dalam. Ada hal yang menggelitik di pikiran yang cukup mengganggunya.


"Pak RT boleh kita bicara sebentar, ehm … berdua?" pinta Sari setelah mengamati kondisi Maman.


Maman mengangguk, dan mengikuti Sari ke ruang kerjanya. Ruangan kerja yang cukup luas bahkan lebih mirip perpustakaan itu membuat Maman berdecak kagum. Deretan buku tertata rapi di lemari di lemari yang menjulang tinggi.


"Pak RT silahkan duduk!"


"Ada apa mbak?"


"Ceritakan selengkapnya sampai musibah ini terjadi dikeluarga pak RW!"


Maman menelan ludah kasar, ia tiba-tiba saja gemetar. "Ehm, Nganu mbak … jadi awalnya begini …,"


Maman memulai ceritanya. Semua bermula dari kisruh yang menimpa keluarga pak RW. Orang tuanya yang meninggalkan warisan cukup besar membuat anak-anaknya terpecah dalam dua kubu.


Yang satu menginginkan pembagian aset merata dan yang satunya lagi menginginkan pembagian hak waris sesuai syariat Islam. Dimana anak laki-laki akan mendapatkan bagian yang lebih besar dari anak wanita.


Perselisihan mereka semakin memanas sejak kematian ibunya. Pembagian hak waris yang belum juga menemui titik temu membuat keluarga besar pecah kongsi. Saling serang, umpat, tuduh, bahkan berkelahi secara fisik pun terjadi.


Beberapa aset juga diklaim secara sepihak oleh tiga orang anak, pemasangan plang hak milik dan pemberitahuan secara besar-besaran di media cetak membuat keluarga pak RW itu menjadi bahan gunjingan.


Pak RT yang iba dengan kondisi keluarga pak RW akhirnya berniat membantu setelah ia mendengarkan keluh kesahnya.


"Jadi begitu ceritanya mbak, saya benar-benar nggak ngira malah pak RW menjemput ajal dengan cara seperti itu. Dari sebelas bersaudara, setelah pak RW meninggal berarti tinggal tiga orang lagi mbak yang masih hidup."


"Hmm, iya sih saya juga udah ngira begitu. Tiga orang? Laki-laki semua?" tanya Sari penasaran.


"Nggak mbak tinggal mas Danu, mbak Arini sama mas Kamto aja, tapi sepertinya mbak Arini juga bakalan ikut nyusul saudaranya mbak. Kabarnya beliau juga lagi sakit keras!"


"Jadi tinggal mas Kamto dan mas Danu  aja?"


Maman mengangguk. Sari mengerutkan keningnya, mungkin saja yang ia lihat dalam mata batinnya adalah salah satu dari pria yang tersisa. 


"Bisa mbak, mau saya antar? Di sekitar daerah Genuk mbak!" bisiknya hati-hati.


"Nggak perlu, saya bisa kesana sendiri kok. Ohya apa dukun itu hebat?"


"Sebenarnya dia cuma jadi perantara job mbak, ada orang dibelakang layar yang ngerjain semua itu."


Sari terperanjat, "Eeh maksudnya?"


"Dia cuma agen doang yang ngerjain ya Mbah dukun asli!"


" … "


Astagaaaa … ada makelar juga di dunia perdukunan?!


Suara ledakan kembali terdengar kali ini memekakkan telinga membuat semua yang ada di ruang tengah berteriak.


"Waduh mbak, apalagi itu!" Maman berteriak ketakutan.


"Tenang mas, sebelum waktunya mereka tidak akan bisa masuk ke dalam rumah ini!" Sari dengan santai menjawab.


"Wah, terus nanti kalo dah waktunya saya …," Maman kembali bertanya.


"Mati," jawab Sari berbisik pelan di telinga Maman.


"Duh Gustiiiiiii …!"


Sari terkekeh melihat wajah pucat Maman,"Mati kalo waktunya datang pak RT bisa sekarang bisa besok bisa tahun depan. Piye to pak RT ki mosok gak ngerti!"


"Weeh lah mbak Sari! Senenge ki bikin jantung saya lepas!"


Sari kembali tertawa dan mengajak Maman untuk kembali ke ruang tengah. Ia lihat Kandra dan Abisatya kembali masuk ke dalam kubah pelindung. Gempuran lelembut kelas rendahan telah berhenti.


"Dari mana asal ledakan keras tadi?" gumam Sari penasaran, ia mendekati keempat penjaganya.


"Lihat siapa yang datang Sar? Kejutan!" jawab Bimasena.


Mata indah Sari membulat sempurna, ia menatap sosok makhluk yang berdiri di hadapannya. Salah satu makhluk yang membuatnya terjebak dalam lingkaran keabadian.


Bagus, kau datang mengantar informasi untukku!