Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Rencana sang Ksatria 2



Suasana kota Yogyakarta sedikit panas malam itu, benturan energi hitam terasa sangat menyakiti bagi siapa pun yang dianugerahi kekuatan supranatural.


"Barrier dengan sihir hitam sudah terbentuk mengelilingi kota Yogyakarta mas, sebenarnya apa mau mereka? Kalau hanya ingin mengambil buku Mati kenapa harus sampai membuat kubah penjara seperti itu?" Sari membuka pembicaraan.


Al menarik nafas berat, "Pandji membuat perjanjian dengan kaki tangan iblis,"


"Saya pikir itu ada hubungannya supaya Pandji tidak keluar dari Yogyakarta. Mereka akan bertemu tiga hari lagi,"


"Perjanjian?!" Sari seolah meminta penjelasan lagi pada Al.


"Iya demi menyelamatkan putri Candika, Pandji sedikit … bernegosiasi," ujar Al dengan sedikit menyentuh tengkuknya. 


Wajah Al berubah serius, memikirkan langkah terbaik untuk melindungi keluarganya dan juga mengatasi serangan iblis serigala.


"Negosiasi untuk mendapatkan buku itu?"


Al mengangguk, matanya tajam menatap lurus ke depan.


"Melusine, menguasai tubuh putri Candika waktu itu dan dia juga mendatangi Pandji dalam mimpi. Membujuk Pandji untuk bergabung dengannya. Menguasai ilmu kuno."


"Melusine? Iblis wanita berbentuk ular? Dia beneran datang? Makhluk pintar, dia tahu kalo dia nggak bakal bisa tembus ke rumah ini jadi dia masuk dalam alam mimpi, licik sekali!"


"Yah, kau tahu hampir saja Pandji setuju jika aku tidak menjelajah mimpinya!" ujar Al mengusap kasar wajahnya.


Sari tersenyum masam, ia tahu Melusine sama seperti siluman ular lain dengan wajah cantik menggoda dan tubuh padat berisi depan belakang yang aduhai. Trik jitu untuk menjatuhkan pria dalam pengaruhnya.


Tapi itu jika dia hadir dalam sosok manusia jika dalam mode iblis setengah tubuhnya akan berubah menjadi ular. Ekornya beracun dan sangat berbahaya, mulutnya juga bisa menyemburkan api. Sungguh bukan tipikal iblis yang menyenangkan untuk dijadikan teman apalagi pacar.


"Apa Melusine itu sangat cantik?" Doni tiba-tiba saja bertanya membuat Sari dan Al saling berpandangan.


"Kenapa kalo dia cantik, mau kamu ketemu dia beb?" sahut Sari ketus.


"Yaa, siapa tahu bisa diajak ngopi bareng jadi nggak perlu kita berantem kan? Irit tenaga beb!" jawabnya cengengesan.


Sari berdecak kesal dengan ide konyol suaminya. 


"Kemarin kesatrian kami menerima tamu dari utusan para tetua, mereka mengajak kami untuk bergabung dalam aliansi."


Al mengernyit, "Jadi mereka sudah bergerak, undangan ke beberapa kesatrian untuk bergabung memang sudah dikirimkan tapi belum ada respon. Syukurlah kalau mereka sudah bergerak meskipun tanpa sepengetahuan saya!"


"Hmm, mungkin mereka menunggu mas. Biasalah menunggu momen yang tepat, pertimbangan mereka pasti banyak makanya memilih untuk diam dan mengamati."


"Terus gimana mbak Sari mau bergabung?"


"Ada rencana?" tanya Sari langsung.


Al mengembangkan senyum dan mengangguk. Seringainya yang misterius direspon positif oleh Doni dan Sari. Mereka yakin jika ksatria Ganendra tampan didepannya ini punya segudang rencana.


Al menjelaskan rencananya pada Sari dan Doni tentang bagaimana menyergap dan bertahan dari serangan yang akan terpusat di kediamannya ini. Juga menjelaskan kemungkinan terbukanya portal dimensi ke dimensi maya. Tempat dimana para iblis berada, ditempat yang tidak seharusnya terbuka dan diketahui manusia.


Perang besar sudah tidak bisa dielakkan lagi.


 Hari kejayaan setan semakin dekat, ras iblis pun mulai melintasi portal dimensi secara bertahap. Iblis bermoncong yang dikenal sebagai maroz itu bersiap membinasakan ras manusia. Sasaran mereka adalah buku mati dan juga tubuh pengganti untuk sang pemimpin. Tubuh Pandji menjadi target sang pemimpin.


"Mereka juga dilindungi manusia yang mengabdikan diri mas, tujuh dukun sakti dari daerah timur juga kan berperang melawan kita!" 


"Hhhm, iya saya juga sudah memprediksi hal itu mbak. Tidak mungkin mereka bisa menyeberang jika tidak ada abdi setia dari dunia manusia."


"Saya sudah berhadapan dengan satu dukun yang melindungi iblis tapi saya tidak bisa memastikan apakah dia salah satu dari ketujuh dukun pelindung itu!" Sari berbagi informasi.


"Dari bisikan yang saya terima ketujuh dukun sakti itu juga melindungi Airlangga."


"Oh Ya, sungguh kebetulan yang tidak disangka!" 


Tiba-tiba saja Sari merasakan sesuatu, kelebatan bayangan kejadian muncul di indra penglihatannya yang tak biasa. Mika dan Pandji sedang bertarung melawan sekelompok maroz, dan juga Biantara.


"Mas, gawat! Pandji dan Mika …,"


"Diserang lagi?" Al sedikit panik tapi ia yakin dengan kemampuan putranya itu. Pandji bukan tipe yang mudah dikalahkan begitu saja.


"Ring road timur Yogyakarta, mereka disana! Apa Pandji mau keluar kota?" tanya Sari lagi setelah melihat dimana Pandji dan Mika berada.


"Mungkin dia mau mengunjungi calon tunangannya!" jawab Al singkat.


"Bukannya Mika terluka akibat serangan kemarin?" Sari bertanya, ia khawatir dengan kondisi Mika.


Al mengangguk dan menjelaskan singkat kondisi Mika. Sari kembali menjelajah mata batinnya, matanya berkilat merah selama beberapa waktu lalu menghilang.


"Siapkan ruang pengobatan lagi mas, Mika terluka dan pingsan. Sebaiknya mbak Selia juga bersiap!" ujar Sari begitu menutup mata batinnya.


Al terperanjat ia bergegas keluar dan menemui Selia sementara Sari dan Doni meminta izin untuk menemui Giandra.


Aku harus memberi seminar singkat pada Srikandi kecilku!