
Tubuh Risa terkulai lemas setelah iblis setengah ular itu keluar dari tubuhnya. Sang iblis menguncinya dalam pelindung gaib, ia tidak ingin kehilangan Risa sebagai jaminan untuk mendapatkan keinginan tuannya.
Meskipun dia keluar dari tubuh Risa, tetap saja dia memiliki kuasa atas tubuhnya. Licik sekali! Kakek apa kau mendengarku?!"
"Tentu saja, aku bahkan sedang mengawasimu dari sini!" sahut kakek Wisesa.
"Ada ide untuk menghabisinya? aku sedikit geli dengan tangan berbentuk ular itu!"
Suara gelak tawa kakek Wisesa terdengar mengejek bagi Sari, "Geli? Anggap saja itu cacing mainan yang menari ditiup angin!"
"Ha … ha … lucu sekali kakek! Ada ide?"
"Hhhm, tidak!"
"Eeh, nggak ada?! Untuk apa kakek memantau kalo gitu, buang-buang waktu aja!" gerutu Sari.
"Aku sedang mempelajari gelang itu. Gelang unik itu adalah satu dari pusaka iblis yang menghilang"
Kakek Wisesa terdiam sejenak lalu ia kembali berkata,
"Kau harus bertarung sendirian, keempat penjagamu tidak bisa ikut bertarung atau iblis itu akan menghancurkan organ dalam Risa secara perlahan dan membunuhnya!"
"Kenapa mereka tidak bisa membantu?" Sari bertanya meski ia sudah menduga jawaban si kakek.
"Karena hanya kau yang memiliki kekuatan kegelapan, keempat penjagamu hanyalah roh leluhur biasa. Energi yang dimiliki mereka berbeda dengan milikmu!"
"Bukannya mereka juga berasal dari kegelapan?" Sari kembali bertanya.
"Ehm, sedikit berbeda. Aaah, pokoknya kamu harus bertarung sendiri! Soal kenapa dan bagaimana kita bahas besok lagi!"
"Ya, ya … cucumu ini harus menaati kakeknya, lalu?"
Sari terus berkomunikasi dengan kakek Wisesa sembari berjalan memutari si iblis yang kini menyeringai dan siap menyerang Sari.
"Berhati-hatilah dia iblis tingkat tinggi yang tidak mudah dikalahkan!" lanjut kakek Wisesa lagi.
"Oke, tidak memakai penjaga, semburan api, iblis tingkat tinggi? Baiklah apa lagi yang aku lewatkan, apa jiwanya juga diasuransikan petinggi iblis?" tanya Sari lagi.
"Hhm, sayangnya aku belum menghubungi pihak asuransi jika itu yang kau tanyakan!"
"Ccckk, semoga dia membayar nyawanya dengan premi terendah!" sahut Sari konyol.
Sari merapalkan mantra pelindung, ia tidak ingin iblis itu tiba-tiba saja lari dan mengambil sandera manusia lain diluar sana setelah Risa bisa dibebaskan. Doni dan Candika yang terluka bisa jadi sasaran empuk selanjutnya setelah Risa.
Ia membuat lingkaran dengan pedang Sengkayana, mengalirkan energi dalam setiap kata dari mantra pelindung. Lingkaran itu menyala kemerahan sebelum akhirnya meredup dan membentuk pagar tak kasat mata. Pagar yang hanya bisa ditembus olehnya saja.
"Baiklah bisa kita mulai sekarang?" tanya Sari.
Sang iblis tidak menjawab, ia langsung menyerang Sari dengan tangan ularnya yang memburu, mematuk dan menyemburkan api ke arah Sari. Gerakannya begitu cepat berpindah tempat.
Sesekali tangan yang lain menyerang dengan tak terduga membuat Sari sedikit kewalahan. Lecutan energi dari Sengkayana berhasil mengenai kulit perut sang iblis memberikan luka goresan cukup dalam disana. Beberapa sisiknya tampak terbakar, ia tak terima dan kembali menyerang Sari.
"Ups, sorry semoga lukanya tidak membekas!" ejek Sari yang memutar tubuhnya menghindari serangan dari tangan ular sang iblis.
Sari melompat mundur menghindari sabetan ekornya yang seperti pedang tajam yang ingin membelah tubuhnya. Iblis itu menyeringai dan kembali menyabetkan ekor tapi Sengkayana menyambutnya dengan manis.
Pedang dengan aura kemerahan itu berhasil menebas ujung ekornya dengan mudah. Iblis itu meraung keras, dua kepala ular di kanan dan kirinya ikut membuka mulutnya lebar. Jeritan khas seperti tercekik terdengar menggidikkan.
Potongan ekor sang iblis jatuh ke tanah, menggeliat sebentar sebelum akhirnya menghitam dan terbakar jadi abu. Sari tersenyum sinis pada iblis bermata merah itu.
Iblis itu memutari Sari dengan kecepatan luar biasa seraya memainkan ekornya yang masih tersisa cukup panjang. Sari waspada dan kembali melompat mundur saat salah satu kepala ular hampir saja mengenai bahunya.
Api kembali menyembur dari mulut ular di sisi kanan dan kiri membuat Sari harus meliuk dan merunduk dengan cepat. Saat Sari lengah sebuah sabetan berhasil melemparkan tubuhnya dengan keras hingga keluar dari lingkaran pagar gaib.
Tubuh Sari kembali diserang dengan kekuatan tak kasat mata. Tangan sang iblis seolah menggerakkan ruang hampa dan memukul perut Sari dengan kasar hingga kembali terlempar ke luar ruangan tepat di hadapan Doni, Al, dan Candika.
"Iiish, sial! Kuat juga dia!"
"Sar!" Doni berteriak terkejut melihat kondisi Sari.
"I'm ok beb! it's just a little kick!"
(Aku baik - baik saja ini hanya tendangan kecil!)
Sari menatap ketiganya dengan ekspresi kesal. Ia berdiri dengan bertumpu pada pedang Sengkayana. Darah segar menetes dari hidung dan ujung bibirnya. Ia mengusapnya dan melihat cairan lengket yang menempel di tangannya itu.
"Kurang ajar, kau membuatku marah makhluk jelek!"
"Butuh bantuan?" Al terlihat cukup khawatir begitu juga dengan Candika.
"Sayangnya tidak, jika mas Al atau yang lain mendekat sedikit saja nyawa Risa akan terancam!" jawab Sari menatap sang iblis dari kejauhan yang bergerak ke kanan dan kiri.
"Yakin, bisa mengatasinya sendirian?" Al bertanya memastikan.
Sari melirik padanya sejenak, "Apa ada pilihan lain?"
"Ya siapa tahu ada opsi B dan C?" sahut Al nyengir membuat Sari berdecak kesal.
"Hhh, very funny mas!"
Sari kembali masuk ke dalam ruangan, setengah berlari dan melompat menghampiri iblis setengah ular itu. Ia kembali harus menghadapi dua kepala ular yang meliuk dan menyemburkan api bergantian.
"Menyerahlah cantik, kau bagian dari kegelapan harusnya kau bergabung bersama kami!" Iblis itu berkata seraya mencondongkan tubuhnya ke Sari.
"Kita baru mulai, kenapa buru-buru menyerah!" sahut Sari
Sari kembali mengayunkan Sengkayana memburu tubuh setengah ular yang terus bergerak cepat. Sesekali ekor yg sudah terputus itu menabrak tubuh Sari dengan keras. Membuat beberapa luka merata di tubuh Sari.
Tenaga cukup kuat juga padahal aku sudah memotong ekornya!
Sari menghindari satu kepala ular yang memburunya, mulutnya menganga lebar bersiap menyemburkan racunnya. Sari melompat keatas dan berhasil menebas kepalanya. Ular kembarannya menjerit, melihat potongan kepala saudaranya yang hangus terbakar.
Ia menatap Sari penuh amarah dan tanpa menunggu ia menyemburkan api, Sari yang tak sempat menghindar akhirnya memakai Sengkayana untuk melindunginya. Panas api dari ular itu melukai lengan Sari. Pijakan kaki Sari mundur beberapa langkah menahan radiasi panas yang menyiksa.
"Kalo begini terus aku bisa mati terpanggang, kakek aku harus bagaimana?"
"Bagaimana jika kau keluarkan Dewi ular milikmu? Siapa tau ular jantan itu berjodoh dengannya?"
"Kakek, disaat seperti ini masih melawak juga?!"
"Aku hanya memberikan saran, kau bisa menghemat energimu. Ular versus ular sepertinya menarik!" suara Kakek Wisesa terdengar terkekeh.
Dasar kakek tua! Dia pikir ini lagi syuting sinetron laga untuk channel ikan terbang?!