
Sarapan pagi sudah tersedia di meja makan sedari tadi tapi Sari dan yang lainnya belum juga muncul. Saka berdecak kesal karena harus sarapan sendirian.
Semalam ia dikerjai Sari yang memintanya menunggu selama berjam jam di ruang kerja dan sekarang wanita berdarah Indo Belanda itu kembali tidak menampakkan batang hidungnya.
"Mbak! Tolong dong panggilan mbak Sari sama mas Doni! Ngerjain bener tuh orang dua dari semalem!" Perintahnya pada mbak Nah, asisten rumah tangga termuda di rumah besar miliknya.
Mbak Nah mengangguk dan bergegas menuju ke kamar Sari. Tapi belum juga sampai Sari dan Doni sudah terlihat berjalan.
"Mbak Sari, sudah ditunggu mas Saka di meja makan." Ucapnya dengan menunduk sopan.
"Iya mbak, makasih. Kita mau kesana nih!" Balas Sari dengan senyuman.
Saka terlihat masam saat Sari menatapnya. Ia memasang wajah cemberut saat sepasang suami istri itu menghampirinya.
"Pagi mas Saka!" Sapa Doni dengan cengengesan.
Saka hanya melirik tajam tak menjawab, ia masih cukup kesal dengan Sari. Doni yang duduk berseberangan dengan Sari memberi kode pada istrinya untuk meminta maaf.
"Mas Saka, semalam saya …,"
"Saya nunggu berjam jam di ruang kerja mbak Sari! Apa mbak Sari nggak tahu saya ini sibuk! Mbak Sari seenaknya aja nyuruh saya nungguin disana!" Dengusnya kesal.
"Iya, maaf deh. Saya ketiduran dan Doni nggak mau ganggu tidur saya."
"Hhhm," jawab Saka singkat, ia memakan roti nya tanpa banyak bicara.
Kania datang dengan wajah kusut dan sesekali menguap. "Pagi kak, tumben kok pada tegang gitu mukanya? Ngomongin iblis lagi?"
Kania duduk di sebelah Sari mengoles rotinya dengan selai.
"Mas Saka ngambek, semalam kakak kamu ketiduran! Sengaja nggak kak Doni bangunin, kasian!" Doni menyahut karena Saka dan Sari hanya diam saja.
"Oh, ya nggak apa-apa kan? Kak Sari capek kali mas Saka, dia habis berantem ma iblis. Kasih dia waktu buat mulihin energi." Kania menuangkan teh ke dalam cangkirnya, lalu kembali berkata. "Lagian mas Saka kan semalem juga udah Kania temenin ngobrol, masa masih kesel juga?"
Sari mengernyit dan menaikkan alisnya sebelah, ia menatap Saka meminta penjelasan. "Semalaman? Berdua?"
Saka salah tingkah sementara Doni terkekeh, "Ehm itu …,"
"Hhmm lagaknya kesel ternyata semalaman ditemenin Kania toh? Trus keselnya tuh konsepnya gimana mas Saka?!" Doni mulai meledek Saka yang kini merah padam menahan malu.
"Ya itu kan, ehm … lain mas Doni! Saya nggak ngapa ngapain lho mbak Sari, aman kok!"
"Ah benarkah? Kania, kun je me uitleggen?" Sari beralih menatap Kania meminta penjelasan.
(Kania, bisa kau jelaskan padaku?)
"Apa? Kita cuma ngobrol kok, nggak lebih?" Jawab Kania enteng.
Sari berpura-pura memasang wajah kesal pada Saka, hingga akhirnya Saka pun mengalah.
"Ok, I'm give up! Jadi apa yang mau mbak Sari ceritakan semalam?"
Senyum Sari mengembang, "Setelah uji tanding dengan pasukan iblis, ada beberapa hal yang bisa kita ketahui."
Saka mendengarkan dengan baik, apa yang dijelaskan Sari padanya. Informasi sementara mengenai kelemahan dan kekuatan musuh mereka saat ini. Informasi ini diperlukan agar para kesatria muda miliknya mendapat gambaran tentang musuh.
"Jadi jika manusia yang dirasuki sudah bisa dipastikan mereka tidak bisa diselamatkan lagi?"
"Ya begitulah, sayangnya iblis dalam wujud asli tidak muncul jadi kita tidak bisa memperkirakan dengan pasti bagaimana kekuatan mereka."
Mika datang hampir bersamaan dengan Eric. Wajah keduanya tampak tersipu saat berpapasan. Eric dengan sopan menyiapkan kursi untuk Mika.
"Terimakasih," Mika merona.
"Wah, sepertinya kita semalam tidur terlalu cepat beb. Ada yang merona lagi nih pagi-pagi!" Sindir Doni dengan senyum tengilnya.
Sari tergelak melihat ekspresi Doni, ia kemudian menimpali perkataan suaminya, "Gimana kalau malam nanti kita tidur cepet lagi? Kali aja mereka mau double date?!"
"Aunty …,"
"Kakak!"
Kania dan Mikaila hampir bersamaan merespon candaan Sari dan Doni. Sementara Eric dan Saka hanya bisa tersenyum. Pikiran mereka kompak membayangkan serunya kencan ganda.
"Aunty, ikut denganku pagi ini! Kita akan mengunjungi sebuah tempat!" Mika berkata sebelum Sari kembali meledeknya lagi dengan rencana kencan mereka.
"Sebuah tempat? Kita piknik or have fun again?"
"Mika mau ngajak mbak Sari ke kantor surat kabar lokal. Dia merasa ada yang nggak beres sama koran itu!" Saka mewakili Mika menjawab pertanyaan Sari.
"Ada yang aneh?" Tanya Sari menyelesaikan sarapannya.
"Entahlah, aku merasa ada yang salah dengan pemberitaannya." Jawab Mika datar.
"Oke jam berapa kita kesana?"
Mika melirik jam dinding sekilas lalu menjawab, "Hhm, sekarang!"
Sari bersiap, sementara Mika menunggu dengan sabar di teras rumah sembari memperhatikan tukang kebun Saka yang sedang merawat tanaman.
"Kamu yakin nggak perlu aku antar?" Suara Eric terdengar khawatir.
Mika menoleh, mendapati Eric dengan dahi mengernyit, "Aku bukan anak kemarin sore yang harus selalu diantar dan dijaga kemanapun."
Eric tertawa kecil mendengar jawaban Mika, "Aku tahu, aku cuma sedikit … khawatir?"
Mika mengerjap tak percaya, Eric mengkhawatirkannya? Belum pernah ada yang berani mengatakan hal itu selain Pandji. Pikiran Mika kembali tertuju pada pemuda tampan yang sering membuatnya kesal. Ada rindu yang tak bisa diungkapkan Mika padanya.
"Ehm, mungkin sebaiknya aku mengantar kalian. Berjaga jika ada sesuatu?" Eric ragu dengan perkataannya, mengingat Mika dan Sari bukan wanita biasa.
Mika tertawa kecil, pipinya kembali merona. Terlihat kontras dengan kulit putih mulusnya apalagi lekukan yang menghiasi kedua pipinya menambah pesona kecantikan Mika. Eric jatuh hati.
"Baiklah, aku siap!" Suara Sari membuat keduanya menoleh.
Sari tampak anggun dengan setelan kemeja putih dengan ruffles di dada berpadu dengan rok merah menyala. Rambut ikalnya terurai sempurna dengan sentuhan make up tipis.
"Wow look at both of you!" Saka datang menyusul, ia tampak kagum dengan penampilan Mika dan Sari.
(wow, lihatlah kalian berdua!)
(Apa aku sedang melihat bidadari yang jatuh dari langit?)
"Hhm, mulai deh ini orang! Goddes yang ini punya saya mas Saka, awas jangan dilirik apalagi dicolek!" Seru Doni yang memeluk pinggang Sari dengan posesif.
"Ya, ya aku tahu itu mas Doni. Mengagumi anugerah Tuhan nggak ada salahnya kan?" Saka mengerlingkan matanya, ia beralih menatap Mika.
"Mika, you're …,"
"Beautiful and gorgeous," Eric menyambung perkataan Saka, memaksa Saka menghentikan ucapan memujinya.
Sekali lagi Eric membuat hati Mika berdesir. Wajah tampan khas lelaki Eropa dihiasi jambang dan kumis yang menggoda. Tubuh tinggi atletis dengan aroma maskulin yang seringkali mengusik indera penciumannya.
Eric membuat Mika yang keras kepala menjadi sedikit lembut karena perlakuannya, Eric yang mempesona hanya dengan tersenyum, Eric yang tetap menjaga kesopanan dan tata krama meski lahir dan besar di Belanda. Eric juga yang pertama membuat Mika merasakan debaran yang tak biasa, selain saat bersama Pandji.
Mika jatuh cinta padanya? Benarkah itu?
"Ehem, boleh aku menyela sebentar?!" Saka berdehem membuyarkan lamunan Mika akan Eric.
"Kalian akan bertemu dengan Steven, dia pemimpin redaksi koran itu. Aku sudah menanyakan padanya tentang berita itu dan meminta Steven untuk mempertemukan kalian dengan sang wartawan."
Saka menjelaskan situasi yang akan dihadapi Sari dan Mika. Steven adalah kawan lama dan relasi bisnis Lingga jadi sedikit banyak ia mengetahui tentang Lingga dan juga kembarannya, Airlangga.
"Saranku berhati-hatilah!" Saka menatap Sari dan Mika bergantian.
"Steven adalah teman baik Airlangga, dia sedikit terkejut saat aku menanyakan berita itu. Aku merasa sedikit …,"
"Curiga dengannya?" Mika memastikan.
Saka mengangguk, "Kita tidak pernah tahu bukan perubahan hati seseorang?"
Sari dan Mika saling memandang, "Jangan risau kami bisa mengatasinya!" Ujar Sari yang diiringi anggukan kepala Mika.
"Oke, aku tahu kalian bisa mengatasinya. Ehm, satu lagi!"
Saka merogoh kantong celananya, ia melemparkan kunci pada Mika. "Pakai ini, aku khusus membelikannya untuk kalian kemarin?"
"Apa ini?" Mika bingung, ia menatap Sari dan Saka.
Saka tak menjawab, ia meraih remote kontrol yang tergeletak di meja kecil. Terdengar suara benda yang perlahan bergerak dari garasi rumah besarnya. Saka meminta yang lain mengikutinya.
"Ladies, I' m proudly present … a gorgeous Supercar!" Saka membuka kain penutup pada salah satu mobil koleksinya.
(para wanita, dengan bangga saya persembahkan ... kendaraan super yang mengagumkan!)
Mika dan Sari terbelalak tak percaya, begitu juga dengan Doni yang menyentuh keningnya dengan mulut membulat sempurna. "No way!"
"Oh my God! Are you serious?!"
"Mas Saka, ini gila! Ini …,"
Sari dan Mika dibuat sangat terkejut hingga mereka berteriak bersamaan.
"Its beautiful right? Model futuristik dilengkapi seven speed automatic, bertenaga 5400cc with 10 silinder and anti-theft protection! But the most important thing is … it's red, I love red!" Saka begitu bangga menjelaskan spesifikasi mobil terbarunya.
(cantik bukan? ... Tapi yang paling penting adalah ... merah, aku suka merah!)
"Ini untuk kalian, pakailah dan buat aku bangga!" sambungnya lagi.
Sari menetralkan rasa kekagumannya, ia bergegas menarik gadis cantik yang masih takjub di sebelahnya.
"Come on Mika, you drive!" ( Ayo Mika, kau yang menyetir!)
"Jangan buang waktu, Airlangga semakin mendekat!" Lanjut Sari lagi seraya masuk ke dalam mobil mewah pemberian Saka.
Mika menurut dan segera menyalakan mesin mobil yang menderu kencang. Semangat mereka sedikit bertambah mendengar mesin bersilinder 10 itu bersuara.
"Let's find Steven!" (Ayo kita cari Steven!)
Sari dan Mika kompak mengenakan kacamata hitam bersama. Saka tersenyum puas melihat kedua wanita luar biasa itu menyukai pilihannya.
"Ingat ladies itu mobil baru! Jadi hati-hati dengan goresan!" Teriaknya saat mobil melaju keluar garasi.
Doni dan Eric berjalan mendekati Saka, mata mereka masih lekat menatap mobil berwarna merah yang dikendarai Mika.
"Ehm, mas Saka ada asuransi kan?" Doni bertanya tanpa mengalihkan pandangan pada mobil merah yang bergerak keluar halaman.
"Yup, tentu saja semua koleksi saya berasuransi!" Jawab Saka bangga.
"Hhm, good!" Doni tersenyum masam pada Saka, senyum yang penuh arti. Sejurus kemudian Saka menyadari maksud perkataan Doni. Matanya seketika membulat sempurna.
"Oh my! No … jangan, ahh maksudmu …," Saka tergagap.
Doni tersenyum tipis dan mengangguk pada Saka, seraya berlalu pergi meninggalkan garasi bersama Eric yang juga terkekeh.
"Damn! Itu baru mas Doni!" Saka berteriak tak percaya, ia membayangkan mobil barunya pulang dalam keadaan tak karuan.
Aku menyesal melakukannya, sangat menyesal!
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
...hai teman2 Asih dan mbak Sari menyapa untuk menemani long weekend ini. semoga terhibur dan dukung terus Asih dan juga Sari agar bisa bertahan di kolom beranda🤗...
...yang nda bisa liburan karena banjir, macet, dan dompet kosong (kehororan hakiki😁🤪) mari merapat, baca petualangan Sari, Asih, Mika, atau mlipir ke ...
...Bad Boy Story sesion 2...
...Musim Bercinta ...
...karya author kesayangan kita Al Orchida, seru seruan bareng mas Elang dan Bu dosen Nindya😁siapin jari buat tutup mata yaa🤪😂...
...jangan lupa beri like dan komen2 seru sebanyak banyaknya yaaa, biar rame lapak nya🤭...
...thanks 4 supporting, see u in next day🥰...
...with love ~ Lia❤️...