Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Tawaran Menggiurkan



Sari bersikap normal lagi, ia kembali menekan energinya agar tidak terlihat dan bersinggungan dengan yang lain. Cukup sulit karena kebanyakan dari mereka memiliki kemampuan supranatural yang lumayan kuat. 


Tak lama terdengar panggilan untuk pertandingan selanjutnya antara kesatrian milik Saka melawan kesatrian tuan rumah.


"Eeh itu Pandji kan?" bisik Doni.


Sari hanya tersenyum tipis, ia sudah bisa menebak akhirnya.


"Hhmm, aura Pandji luar biasa, aku berani bertaruh anak itu akan menyerah dalam tiga … dua …,"


"Aku menyerah!"


Terdengar suara lantang yang diikuti dengungan gumaman penonton.  Anak itu melemparkan pedangnya ke depan wasit dan mengangkat kedua tangannya. Membuat Pandji kesal karena ia sudah bersiap dengan mana sihir yang mengalir di kedua pedangnya.


Sari tertawa melihatnya. Bagaimana tidak pemuda bernama Wira itu bahkan tidak berusaha melawan Pandji sedikitpun. Doni menganga tak percaya melihat apa yang terjadi di depannya.


Doni menoleh ke arah Sari yang masih tertawa terpingkal-pingkal.


"What the hell! Apa apaan anak itu, bikin malu kita aja!" gerutu Doni dengan tetap melihat ke arah Sari.


"I told you beb, ksatria muda pilihan Saka terlalu lemah mentalnya. Saka terlalu lunak dan memanjakan mereka!"


"Lihat itu Pandji bahkan baru mengeluarkan kedua pedangnya, tapi  si Wira udah ketakutan setengah mati!"


 Sari kembali tidak bisa menahan tawanya. Apalagi melihat wajah kesal Pandji yang tampak semakin menggemaskan.


"Muka Pandji udah kayak orang nggak kebagian jatah ngopi! Beb, boleh aku kesana deketin Pandji?" 


"Buat apa? Macem-macem aja!"


"Buat gigit dia! Gemes bener liat mukanya, sayang kalo ganteng-ganteng dianggurin!" jawab Sari sembari tertawa membuat Doni kesal.


Dari kejauhan tampak Wira berdebat dengan gurunya. Raut wajah putus asa tampak tercetak jelas di wajah sang guru yang tak hentinya mengomel. Saka mendekati keduanya dan dengan wajah menahan malu, ia membawa keduanya menjauh dari lapangan.


Bolehkah aku sekarang berkata, gue bilang juga apa! 


Sari menertawakan apa yang terjadi pada Saka. Bukan mengejek hanya saja menyayangkan sikap Saka. Tidak semua hal didunia ini bisa dibeli dengan uang. 


Niat baik Saka mencari bibit terbaik kesatria baru patut diacungi jempol tapi Saka belum memahami bahwa menjadi kesatria itu harus memiliki mental pejuang yang kuat dan siap bertarung dalam medan apa pun. Bukan pemuda menye-menye yang sekali gertak langsung menyerah.


Seharusnya Saka belajar dari pengalamannya mendampingi Lingga. Selama berabad-abad Lingga menjadi ksatria tangguh dengan kemampuan luar biasa, dia bahkan harus mengalami jatuh bangun yang cukup dramatis dalam kehidupannya.


Kekayaan yang dimiliki Saka saat ini rupanya telah mengubah gaya hidup dan cara pandang Saka. Membuatnya lupa esensi seorang kesatria.


Wajah frustasi Saka tidak bisa disembunyikan lagi di depan Sari dan Doni. Ia menghela nafas berat saat duduk di sebelah Sari. Sari berusaha menahan tawanya sementara Doni menatap Saka meminta penjelasan atas apa yang terjadi.


Saka hanya melirik Sari dan Doni dengan kesal, ia ragu membuat kata tapi bibir Saka mengkhianati dirinya. Sumpah serapah meluncur bebas dari mulut Saka, membuat Sari akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.


"Seneng banget nih mbak Sari liat saya malu!"


Doni hanya tersenyum masam dan menggelengkan kepalanya.


"Lagian mas Saka gimana sih persiapannya! Emang nggak pernah tu guru ngajarin anak-anak buat berani!"


"Yaa ngajarin lah mas Doni! Buat apa saya bayar mahal mereka, anak-anak aja yang pada kurang ajar bikin saya malu!" sahutnya dengan kesal, nafas Saka terdengar memburu dan berat karena terlalu emosi.


"Mereka bukan kurang ajar tapi kurang diajarin latihan!" Sari menekankan kata-kata terakhir pada Saka.


"Ini tanding pertama yang bikin keki! Tahun depan harus lebih baik dari ini!" 


"Ooh, masih ada tahun depan ya? Nggak kapok?" Sari kembali meledek Saka yang menyeringai kesal pada nya.


Saka menatap Sari dan Doni bergantian, lalu tersenyum dengan misterius membuat Sari curiga dengan sikapnya.


"Mas Saka nggak berpikir kalo kita …,"


Saka tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"No!!" Begitu juga dengan Sari


"Yes, you will!" Ujar Saka masih dengan senyum misteriusnya yang menyebalkan.


"No, kita nggak mau!"


"Ayolah, jadi guru kehormatan di kesatrian kami. Sebutkan nominalnya dan aku langsung tulis buat kalian?!"


Doni menatap Sari dengan menggelengkan kepalanya. "No! Saya serius!" Doni kembali menjawab.


"Ayolah, kalian punya bakat luar biasa dan mbak Sari, saya tidak meragukan kemampuannya lagi!"


Sari kembali menggeleng, "Saya belum pantas menjadi guru mas Saka!"


Saka terus merajuk dan membujuk Doni dan Sari tanpa henti membuat Doni kesal dan akhirnya menarik Sari untuk pergi.


"Wani piro mas mbayar aku?!" gertak Doni serius.


Saka mengulum senyum dan ikut berdiri.


"Sebutkan angkanya! Mulai dari enam, tujuh, delapan, atau sembilan digit saya mampu bayar kalian berdua. Asal mas dan mbak mau bergabung di kesatrian saya!"


Sari menatap Doni, ia menyerahkan keputusan pada suaminya itu.


"Cck, wong edan! Kami lagi gak butuh duitmu mas! Saya cuma butuh anak! Wes lah tak metu wae, malah mumet aku mikir angkamu!"


Doni menarik tangan Sari agar mengikutinya keluar dari arena pertandingan. Tapi langkahnya terhenti ketika Saka menyebutkan sebuah angka.


"Satu M untuk satu bulan mengajar!"


Doni dan Sari berbalik dan menatap heran ke arah Saka. Mereka tak habis pikir pada Saka yang rela menggelontorkan dana untuk menarik mereka bergabung di kesatrian miliknya.


"Mas Saka serius?" tanya Doni 


"Saya serius, tolong! Setidaknya saya juga membantu kalian menyiapkan pasukan untuk menyambut Airlangga!"


Mata indah Sari membulat sempurna, mendengar nama Airlangga disebut dan itu membuat darahnya mendidih.


"Saya sudah menyebarkan orang untuk mencari dia. Mbak Sari, dia menunggumu selama ini dengan pasukannya tentu saja."


"Maksud mas Saka?" Sari penasaran.


"Airlangga tengah menghimpun kekuatan untuk membalas dendam kematian Lingga. Dan pasukannya bukan hanya iblis tapi juga manusia dengan jiwa jahat!"


"Ada dimana dia?"


"Saya belum menemukan jejaknya tapi ada satu orang manusia yang dulu pernah membantunya, saya rasa dia akan memberikan informasi tentang itu!" 


Sari berjalan mendekati Saka, ia menatap jauh ke dalam jiwa Saka untuk memastikan kebenarannya. Saka tidak berbohong.


Untuk sesaat Sari terdiam, menatap ke arah Doni dan akhirnya mengangguk.


"Baiklah, saya terima tawaran mas Saka tapi siapkan saya pemuda - pemuda terbaik. Karena saya nggak suka lelaki cengeng macam anak itu!" 


Sari mengedikkan kepalanya ke arah Wira yang terduduk lesu di bangku depan peserta. 


"Tentu, saya akan atur semuanya!"


Sari menatap Saka lagi dan kemudian berlalu meninggalkannya. Pikirannya mulai rumit, jika benar apa yang dikatakan Saka ini artinya dia harus bersiap juga.


Sama halnya seperti Pandji yang akan menghadapi kekuatan iblis terbesar. Sari juga akan menjalani takdirnya menghadapi Airlangga, musuh besarnya. Api dendam yang membakar kedua belah pihak tidak akan mudah dipadamkan hanya dengan pertempuran kecil.


Aku harus mengumpulkan kekuatan, sepertinya aku butuh bantuan bangsa lelembut juga … sudah waktunya aku sedikit melunak pada mereka!