Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Tantangan untuk Doni



Tubuh tegap Airlangga berdiri dalam gelap. Ia membiarkan rambutnya yang panjang tergerai. Dadanya yang bidang dibiarkan tak tertutup sehelai benang pun. Nafasnya teratur dan matanya terpejam. 


"Kau sudah menungguku rupanya," seringainya kejam.


Perlahan mata tajam bak elang terbuka, pupil matanya yang kemerahan tampak begitu cocok untuk wajah iblis nan rupawan.


"Aku tersanjung kau rela memburuku selama ini," ia menarik nafas panjang lalu kembali berbicara dengan dirinya sendiri.


"Sebentar lagi kita akan bertemu cantik, kau berhutang padaku! Karena kita sekarang seimbang, maka ini akan jadi pertarungan yang amat menarik …,"


Airlangga tersenyum lebar dan tertawa. Tawa kerasnya menggema hingga ke ujung istana miliknya. Istana iblis. Tempat yang terselubung dengan kabut gaib abadi, tempat yang tersembunyi di antara dua dimensi.


Sari telah membangkitkan gairah iblis petarungnya kembali. Hanya dengan membayangkan wajah Sari saja Airlangga seketika ingin sekali bertarung, menguji kekuatannya, menguji tingkat immortalitas miliknya, dan menguji siapa yang terhebat diantara para kesatria miliknya.


"Aku akan datang padamu, segera!"


...----------------...


Sari dan Doni masih bermalam di rumah pak Agus. Ia ingin menikmati suasana desa, memantau dari jauh perkembangan invasi iblis yang merasuk dalam tubuh para kesatria muda. Memantau Pandji dan yang lainnya dari kejauhan dan tentu saja menjaga Giandra sebagai salah satu bagian dari trah leluhur Sari.


Sari sedang larut dalam meditasi ketika Bayu datang menyapanya.


"Apa aku mengganggu?" Suara Bayu menyapa Sari dengan lembut, Sari tersenyum sebelum membuka matanya.


"Lama nggak berkunjung, ada perlu?" Sari menoleh ke arah Bayu yang kini duduk di dekatnya seraya menatap rembulan.


"Gerhana sebentar lagi akan terjadi, aku hanya ingin melihatnya bersama wanita hebat disebelahku." jawabnya dengan senyuman khas Flamboyan ala Bayu.


"Uhuuuk … kau membuatku tersedak Bay!" Sari tertawa geli mendengar perkataan Bayu.


"Semoga suamimu tidak mendengarnya, bisa habis aku diceramahi sampai subuh nanti!" Bayu celingukan khawatir Doni ada disekitar mereka.


Sari kembali tertawa, "Baru kali ini aku melihatmu ketakutan sama Doni,"


"Hmm, gimana nggak dia satu satunya yang bisa keluar masuk ke rumahku hanya untuk meminta bantuan ku menjagamu dari kebangkitan roh iblis dalam dirimu!" 


Perkataan Bayu cukup membuat Sari terbelalak, ia tak mengira suami tercintanya itu membuat kesal Bayu, lelembut tampan yang ia kenal saat bertemu di Kasepuhan.


"Dia penjagamu  yang luar biasa!" bisik Bayu dengan senyuman jahil.


"Yaaa, kau benar he's everything for me. As a husband and also as my guardian too!"


(Dia segalanya untukku, sebagai suami dan juga sekaligus sebagai penjagaku!)


Keduanya saling melempar senyum lalu, kompak menatap ke arah bulan yang mulai gelap.


"Prosesnya dimulai," Bayu berkata lirih sambil menghela nafas ringan.


"Kejayaan setan?" tanya Sari penasaran tanpa menoleh pada Bayu.


"Hhm, berdasarkan ramalan begitu. Tapi nampaknya iblis sudah memanipulasi keadaan. Hal lain akan terjadi, terbukanya buku Mati oleh gadis keturunan penyihir."


"Mikaila?"


"Gadis bernama Mikaila itu akan membuka dan membacanya. Tapi lebih tepatnya, seseorang akan datang membantunya dari dimensi lain!" 


Bayu kemudian menjelaskan pada Sari tentang Welas, saudara kembar Asih yang dahulu sempat menjadi seorang penyihir hebat di masanya. Welas, putri dari sang mpu yang kini ada dalam sekapan raja iblis.


Sari terperanjat mendengar kisah Bayu, ia menangkap misi terselubung yang dibebankan kepada putra pertama Alaric. Ia masih terus mendengarkan Bayu bercerita dengan serius tapi kemudian tangannya memberi kode pada Bayu untuk berhenti bicara.


"Dia datang," mata Sari seketika berkilat kemerahan.


"Jadi dia penulis dan pemilik buku itu, luar biasa!" 


Mata Sari dan Welas dalam tubuh Mika bersitatap. Senyum samar terlihat dari sosok Welas, ia tahu Sari tengah melihatnya. Sari mengangguk sebagai tanda hormat begitu juga Welas.


Sari hanya mengamati dan memilih tidak ikut mendengarkan apa percakapan Pandji dan Mika yang dirasuki Welas. Yang ia tahu, mereka sedang mempelajari sebuah mantra pemindah jiwa. Mantra kuno yang juga sempat Sari pelajari dari Bayu.


"Pandji cukup hebat juga, kemampuannya setara dengan ayahnya yang begitu mudah mempelajari ilmu hanya dalam waktu singkat." Sari kagum dengan kemampuan Pandji, usianya baru tujuh belas tahun tapi kehebatannya setara dengan dirinya yang immortal.


"Takdirnya adalah sebagai Satrio Pamungkas Sar, jadi tidak heran jika ia bisa dengan mudah menguasai berbagai ilmu sihir dengan cepat." Bayu menambahkan.


"Kau benar, lalu apa tujuanmu kesini? Pesta minum teh di kebun?" Sari menoleh pada Bayu saat bulan telah kembali normal.


"Ada opsi kopi? Aku butuh sedikit kafein," jawabnya dengan seringai jenaka.


Sari tertawa bersamaan dengan bergabungnya Doni bersama mereka.


"Wah, ada tamu jauh rupanya? Lama nggak ketemu langsung Bay, apa kabar?"


Doni menyapa dengan ramah.


"Hhm, baru beberapa malam lalu kita ketemu kan? Kamu memaksaku datang membantu!" Bayu menunjukkan ekspresi kesalnya.


Doni tertawa kecil melihat wajah Bayu dan gaya protesnya. "Maaf, tapi tanpa bantuan kamu … aku nggak bisa ngatasin Sari," Doni meminum kopi miliknya satu tegukan yang kini sudah tidak hangat lagi.


Ada keraguan yang terbesit dari perkataan Doni dan itu dirasakan pula oleh Sari. 


"Maaf," Sari menyentuh lengan Doni dengan lembut berusaha menenangkan kegelisahan suaminya itu.


Bayu menghela nafas dengan berat, "Itu juga maksud tujuanku kemari." Bayu mengganti posisi duduknya menghadap ke arah Sari dan Doni.


"Tugasmu sebagai penjaga Sari akan lebih berat lagi Don, kau harus bisa menguasai mantra segel roh iblis dalam tubuh Sari!"


Bayu menatap Sari dan Doni bergantian lalu kembali melanjutkan perkataannya,


"Airlangga telah bangkit dan kini melatih dirinya dengan berbagai sihir baru. Jika mantra segel tidak kau kuasai penuh, bukan tidak mungkin Sari akan lepas kendali!"


"Maksudmu … aku jadi jahat?" Sari sedikit tak yakin dengan pertanyaannya.


Bayu mengangguk, "Iya, dan kau akan dikuasai Airlangga. Aku curiga Airlangga akan mengambil dirimu sebagai sekutunya, dalam arti lain … ehm," Bayu sedikit ragu melanjutkan.


"Sari jadi pendampingnya? Itukah maksudmu?" Doni langsung tanggap, ia menjawab dengan ekspresi serius dan juga kesal.


Sari terkejut, ia refleks menatap Doni. Apa yang dikhawatirkan Bayu bisa saja terjadi, Sari tidak ingin dirinya menjadi bagian dari kegelapan untuk selamanya.


Berbeda dengan Sari, Bayu hanya bisa tersenyum masam, kenyataan bahwa Doni akan bersaing dengan iblis lain berwajah tampan untuk mempertahankan Sari memang tidak bisa dihindari. Hanya ada satu cara untuk mengatasi hal itu, menguasai mantra penjaga.


Aku kalah dari iblis? Yang benar saja, jelek-jelek begini aku adalah bagian dari barisan high quality husband! 


...☘️☘️☘️☘️☘️...


...malam teman2 semua, maafkan authornya yg slow up yaa...terimakasih sudah sabar menanti....


...kesibukan RL luar biasa sampai melek 24 jam, untung aja punya mantra spesial jd bisa melek semalaman🤭...


...awali September ceria dengan senyuman yaa, seberat apa pun masalah mari kita senyumin ajaaaah...MET istirahat semoga terhibur...


...cium sayang saya untuk kalian dari jauh😘...