Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Masuk dalam Jebakan



Dengan bantuan GPS akhirnya Mika dan Sari tiba ditempat koran lokal itu diproduksi. Mika menghentikan mobil merah pemberian Saka di seberang kantor.


"Dugaanku benar, aunty lihat kan?" Ujar Mika saat melihat aura tipis kehitaman terlihat menyelimuti gedung.


"Hawa iblis, Saka benar kita harus berhati-hati."


"Apa rencana kita?" Mika bertanya tanpa mengalihkan pandangan, ia memantau keadaan sekitar dengan bantuan mata ajaibnya.


"Kita sudah sampai disini dan Saka juga sudah bikin janji dengan Steven. Nggak ada pilihan lain untuk mundur. Bersiaplah menghadapi kemungkinan terburuk!" 


Mata tak biasa Mika mendeteksi tidak hanya satu tapi beberapa pegawai yang nampak berlalu lalang di depan kantor memiliki aura gelap.


"Kantor ini lebih mirip dengan sarang iblis!" Gumam gadis cantik di sebelah Sari, pernyataan yang disetujui Sari. 


Sari menarik nafas dalam-dalam, "Baiklah, apa kau siap Mika?"


Mika mengangguk lalu melajukan kembali mobilnya memasuki halaman gedung. Hawa tak mengenakkan menyergap keduanya saat turun dari mobil.


"Aku benci rasa ini," gumam Sari saat menutup pintu mobil.


Dua orang tertangkap mata tak biasanya, menyeringai ganjil pada Sari.


"Bersiaplah untuk bermain Mika, mereka sepertinya tidak bersahabat." Bisik Sari saat berjalan beriringan dengan Mika.


Mika hanya tersenyum datar namun, ekspresi nya berubah saat bertemu dengan resepsionis cantik dengan rambut bergelung.


"Bisa bertemu dengan bapak Steven?" Tanya Mika dengan ramah.


"Sudah ada janji?"


"Iya, kami utusan dari CEO Elsaka Nararya." Sahut Sari cepat, mata Mika membulat seketika saat Sari menyebutkan nama lengkap Saka.


"Elsaka Nararya? CEO?" Suara Mika terdengar lirih bertanya tak percaya.


Sari mengulas senyum tipis, ia hanya mengerlingkan matanya sebelah.


"Ah, bapak Elsaka … silahkan ikuti saya, pak Steven sudah menunggu." Resepsionis wanita itu tersenyum ramah dan mengantarkan Sari ke ruangan Steven.


Sari dan Mika waspada, mereka melempar pandangan ke setiap sudut mencari keberadaan iblis yang mungkin saja bersembunyi dan mengintai dari sudut gelap.


"Beberapa dari mereka bagian dari kegelapan aunty," bisik Mika gusar.


Sari hanya terdiam, membayangkan kegaduhan yang mungkin akan terjadi jika pertarungan terjadi. Hampir sebagian dari karyawan dalam pengaruh kegelapan, tapi energi kehidupan mereka masih bisa terlihat meski sangat lemah. Sementara yang lain telah menyatu dengan iblis, itu artinya Sari dan Mika memasuki sarang iblis secara terang-terangan.


Sari dan Mika tiba di lantai dua, ruangan paling ujung dengan pintu lebar berwarna kecoklatan. Resepsionis itu mengetuk pintu pelan, ia meminta Sari dan Mika untuk menunggu diluar.


"Aunty, aku nggak nyaman!" Ujar Mika pelan saat pintu besar itu terbuka lebar.


"Hhm, aku tahu Mika. Steven … bukan orang biasa."


Tak lama wanita cantik tadi keluar ruangan, "Pak Steven sudah menunggu."


Benar saja, dugaan Sari tidak meleset. Asap tipis kehitaman menyelimuti Steven dan seorang laki-laki muda yang duduk di kursi tamu. 


"Selamat siang pak Steven, apa kabar?" Sapa Sari ramah, ia mengulurkan tangan pada Steven.


"Utusan dari Saka ya?" Steven tampak ramah dan menyambut uluran tangan Sari, "Silahkan duduk mbak …,"


"Sari, nama saya Sari dan ini Mikaila!" Jawab Sari tegas. 


"Baiklah, apa yang bisa saya bantu?" Steven langsung bertanya mengabaikan basa basi percakapan.


"Mas Saka mengutus kami untuk menanyakan berita penyerangan desa yang cukup mengejutkan semua orang." Mika langsung menjawab, ia menatap laki-laki muda yang sedari tadi memperhatikan dirinya.


"Saya, ehm maksud saya mas Saka, ingin tahu detail berita karena … ada sebagian properti miliknya yang berada disana." Mika kembali menjelaskan.


Sari menunggu respon Steven yang sedari tadi menganggukkan kepala. "Pak Steven?" Sari sedikit menekan Steven untuk menjawab karena menurutnya Steven sedang mengulur waktu.


"Hhm, jadi Saka mengirim kalian untuk menanyakan berita itu?" Steven mengulang lagi pertanyaan.


"Begitulah," jawab Sari cepat.


"Berita itu memang sangat menghebohkan, bahkan mengerikan! Kecemasan yang ditimbulkan juga sangat berdampak, apalagi ada siaran live yang jelas menunjukkan proses … makan memakan itu dengan detail." Steven memberi penekanan pada kata terakhir membuat Sari semakin curiga.


Apalagi Steven kemudian menunjukkan seringai aneh pada Sari. Mika menatap tajam padanya, perubahan wajahnya perlahan mulai terlihat.


"Apa maksud penurunan berita itu, memberi ketakutan? Chaos? Atau kau memang diperintah langsung oleh Airlangga?!" Cerca Mika tak sabar, kata -katanya mulai terdengar kasar.


Steven tertawa, ia kembali menguasai dirinya. "Airlangga, kawan lamaku yang luar biasa. Bukan begitu mas Faris?"


Lelaki muda yang sedari tadi terdiam, mengangguk pelan. Matanya masih menatap tajam Mika dan Sari.


"Dia wartawan yang menjadi sumber informan kami disana, dia juga yang memberikan foto terkini pada Saka."


"Memancing mu keluar!" Suara Faris seketika berubah seperti layaknya dua orang dalam satu tubuh. 


"Kenapa aku tidak terkejut? Aunty, kita masuk perangkap?!" Mika menoleh pada Sari.


"Huh, sepertinya begitu!" Balas Sari dengan senyum sinis.


Faris mendorong keras meja di hadapannya ke arah Sari dan Mika, gerakannya begitu cepat tapi untunglah Sari dan Mika berhasil meloncat dari tempat duduk mereka. Kekuatan Faris luar biasa hingga meja kaca itu hancur saat menumbuk kursi.


Steven tertawa, matanya seketika berubah kemerahan dan lidahnya terjulur mengerikan.


"Airlangga mengirim salam pada kalian!" Teriaknya seraya menerjang Sari.


Sari mengelak dan memberikan pukulan telak pada Steven hingga ia jatuh tersungkur. "Apa dia merindukanku?" Ejek Sari setelah menjaga jarak dari Steven.


Ruangan kantor yang rapi kini berantakan tak karuan. Sari melirik Mika yang sibuk melawan Faris.


"Airlangga menunggumu di kerajaannya, datang lah dan pastikan kau menyambutnya dengan baik!" Ujar Steven.


"Menyambutnya? Maaf aku tidak tertarik!" 


Steven hendak melompat saat tangan Sari sudah terlebih dulu mencengkram lehernya. "Kau salah memilih lawan!"


Sari mendorong Steven dengan cepat ke tembok, kerasnya benturan membuat tembok itu melesak ke dalam. "Hanya manusia bodoh yang mau bekerjasama dengan iblis!"


"Dia menawarkan bantuan yang menggiurkan padaku, siapa yang menolak? Kesepakatan kami juga tidak saling merugikan!" Jawabnya dengan terbata menahan cekikan Sari.


"Benarkah itu? Aku tidak yakin!" 


Sari mendekati wajah Steven melihat jauh ke dalam jiwanya. Matanya berkilat, terlihat Airlangga yang memberikan Steven sejumlah uang pada Steven asal ia menjual jiwanya dan menjadi budak Airlangga. 


Steven bahkan rela mengkhianati Lingga, menipunya, dan menghasut Lingga untuk membenci Lita. Demi mengikuti kemauan Airlangga, Steven bahkan rela mengorbankan anak dan istrinya sebagai tumbal bagi ketujuh dukun hitam yang menjadi kaki tangannya.


"K-kau!" Emosi Sari memuncak, ia menjelajahi ingatan dan jiwa Steven terlalu dalam.


Mika merasakan kekuatan jahat yang ada dalam tubuh Sari, "Aunty! Sadarlah! Keluar dari sana!" Ia berteriak lantang.


Sari tidak merespon, tangan yang mencekik Steven terlihat mengeluarkan kepulan asap, dan anehnya Steven tertawa.


"Aunty terpancing!" Mika kehabisan akal, "Sial, tidak ada pilihan lain!" Mika bergumam, ia menarik kedua belatinya dan segera menghabisi Faris dengan cepat.


 Faris meraung saat belati Mika sukses memotong pembuluh darah besar di lehernya. Darah kental kehitaman mengalir, tak lama kemudian Faris berubah menjadi debu dan menghilang. Mika bergegas menarik Sari dengan paksa, mengabaikan sengatan energi yang menggigit kulitnya.


"Aunty! Kendalikan emosimu!"


Steven yang terlepas dari cekikan Sari tertawa, ia berhasil menjebak Sari dalam ingatan semu yang diciptakan Airlangga. Ia dan Airlangga sudah menduga Sari akan memasuki ingatan dan melihat jiwanya.


Lewat ingat semu itu Airlangga ingin membuka segel hitam dalam tubuh Sari. Yah, Airlangga dengan liciknya mengintip masa depan. Ia tahu Mika akan terpancing dengan berita penyerangan desa, ia juga tahu jika Sari akan menyerang Steven.


Sisi gelap Steven dimunculkan Airlangga untuk memancing emosi Sari. Dan berhasil Sari tertipu.


Mika mencoba menyadarkan Sari tapi tak membuahkan hasil. "Uncle! Aku tahu kau mendengarkan, bantu aku menyadarkannya!"


Di rumah Saka, Doni yang sedang bermeditasi mendengar teriakan Mika. Matanya seketika menjangkau posisi Sari. Segel mantra buatannya mulai retak. 


"Segelnya! Tapi aku nggak bisa melintasi dimensi sekarang!"


Gunakan tubuh Mika! Bayu berbisik.


Doni mengatur nafasnya berkonsentrasi agar terhubung dengan Mika, Bayu membantunya dari dimensi penjaga. Bola matanya berkabut tipis, begitu juga dengan Mika pada saat yang bersamaan.


Mantra penjaga dilantunkan Doni melalui bibir tipis Mika. Angin berputar di sekitar kedua wanita hebat itu, melindungi keduanya dari pengaruh kekuatan hitam lain. Selang beberapa menit kemudian, Sari tersadar. Ia menarik nafas dalam-dalam, matanya kembali normal. Segel dalam tubuhnya kembali mengunci.


"Terimakasih Mika, thanks beb! Aku tahu kau menjagaku dari sana!" 


Mika lega, Sari kembali sadar. "Waktunya bermain aunty!"


"Met plezier!" (Dengan senang hati!)


Raut wajah Steven tampak rumit, ia menatap kedua wanita cantik di hadapannya. "Apa yang terjadi? Dia lepas?" Gumamnya gemetar.


"Aku sudah bilang kan, kau memilih lawan yang salah! Maaf sepertinya kontrak hidupmu jatuh tempo!"


Sari tak memberi Steven kesempatan, ia melesat dan menusukkan kujang kesayangannya tepat di jantung Steven. Memompa energi nya memecahkan seluruh pembuluh darah Steven. Tubuh Steven hancur terbakar setelah Sari menarik kujangnya.


"Ayo kita pulang, aku lelah!" 


Sari mengajak Mika pergi, tapi baru juga mereka menjejakkan kaki di lantai dasar puluhan karyawan Steven telah berkumpul menghadang. Sari mendengus kesal.


"Gosh! Bisakah kalian membiarkan aku beristirahat sejenak?!"