Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Macet yang Bikin Seram



Sari memberitahukan langkah apa saja yang harus dilakukan Saka setelah membawa bantuan untuk bergabung dengan kesatrian Putra Ganendra. Sari memastikan Saka paham dan mengerti sebelum akhirnya ia undur diri. Ia dan Doni harus pergi ke timur menemui teman lama.


Sari berniat meminta bantuan pada teman lama untuk membantunya mengawasi pergerakan Airlangga. Teman yang secara tidak sengaja ia temukan saat pertarungannya melawan Rara. Pak Agus.


Mengingat jarak yang cukup jauh, Sari meminta bantuan kecil dari Saka untuk meminjamkan mobil dan juga sopir pribadinya.


"Kamu yakin kita pergi? Saka bisa jadi membutuhkan bantuan kita?" Doni bertanya tidak yakin dengan pilihan Sari.


"Hhm, tenang aja aku masih bisa menjaga Saka dari jauh. Airlangga nggak akan gegabah untuk menyerang langsung. Dia masih cukup lemah setelah tidur panjangnya," jawab Sari tanpa menatap wajah Doni.


"Kenapa? Kamu ragu, takut?" tanya Doni memastikan.


"Nggak, dengan kekuatanku sekarang dan bantuan Saka juga kamu dan tentu saja Mika aku yakin bisa mengalahkan dia. Tapi …," Sari menjawab dengan sedikit ragu.


"Tapi?" Doni penasaran.


"Aku, ehm … entahlah," 


Mata Sari memanas, perlahan bulir bening mengalir deras. Ia mengingkari perkataannya barusan. Ketakutan seketika menyergapnya. Peristiwa traumatik 15 tahun lalu seolah kembali berputar di otaknya.


Doni merengkuhnya dalam pelukan. Mengusap lembut punggung Sari dan mengecup puncak kepalanya.


"Tenanglah, aku ada disini. Kamu tidak sendiri lagi. Aku dan yang lainnya akan berjuang bersamamu,"


Sari kembali terisak dan semakin mengeratkan pelukannya. Menenggelamkan dalam pelukan Doni yang menenangkan. 


Apa yang dikatakan Doni memang benar situasinya sekarang berbeda. Sari memiliki kekuatan yang terus dilatihnya. Bukan hanya bela diri tapi juga sihir. Doni pun bisa dibilang mengalami perkembangan pesat, Bayu benar-benar membantunya menguasai ilmu sihir.


Belum lagi beberapa lelembut yang mereka kumpulkan, mereka bersumpah setia pada Sari dan Doni. Para lelembut itu bisa digunakan untuk melawan pasukan iblis Airlangga. Tapi Sari tetaplah wanita seperti pada umumnya. Hatinya juga lemah dan membutuhkan sandaran hati saat lelah mendera.


Jika dulu ia kehilangan Bagas kini ia sangat takut kehilangan Doni. Seseorang yang telah menjadi bagian dari tulang rusuknya selama belasan tahun.


"Jangan takut, aku janji kita akan menang! Dan itu pasti akan terjadi, mohon bantuan pada Gusti Pangeran. Hanya pada Nya lah kita berserah Sar. Usaha itu perlu, harapan itu ada tapi hasil akhir kita serahkan pada Nya,"


Sari mengangguk pelan, dan membiarkan Doni menghiburnya. Di saat seperti ini ia sangat membutuhkan Doni. Cinta sehidup semati untuknya.


******


Perjalanan menuju Trowulan sedikit terhambat dengan kemacetan di salah satu ruas jalan kabupaten. Mobil yang ditumpangi Sari hanya berjalan paling jauh satu meter sebelum akhirnya berhenti lagi.


"Ada apa sih mas di depan? Kecelakaan?" tanya Sari heran.


"Nggak tahu ini mbak, mungkin juga yang jelas bukan banjir karena disini dari tadi panas cuacanya," jawab mas Pras sopir pribadi Saka.


"Paling juga kecelakaan, tahu sendiri kan kabut abadi?" Doni berkata seraya memperhatikan jalanan di luar mobil.


Aura aneh menyergap pasangan itu segera. Aura lelembut nakal. Sari dan Doni saling berpandangan, tingkat sensitivitas mereka pada hawa lelembut membuat keduanya seringkali tidak nyaman berada disuatu tempat.


"Apa kamu juga ngerasain hal yang sama?" tanya Sari yang diikuti anggukan kepala Doni.


"Sesuatu yang ganjil sedang bermain main dengan alam manusia," Doni kembali mengedarkan pandangannya keluar mobil.


Kemacetan masih terjadi, cuaca yang cukup panas membuat siapa saja yang terjebak mudah tersulut emosi. Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul dua dini hari.


Kemacetan masih belum terurai. Beberapa sopir truk dan kondektur bus tampak turun dan mengeluh. Tak biasanya kondisi seperti ini terjadi. 


"Bakalan telat deh masuk pol!" gerutu salah satu sopir bus yang ikut turun karena lelah.


"Iya, sama saya juga bisa dipotong ini nggak dapet lemburan kalo telat!" Timpal yang lainnya.


Karena kendaraan tidak bergerak sama sekali Sari dan Doni memutuskan keluar dari mobil untuk sejenak meluruskan pinggang yang pegal diperjalanan. Sekalian mengecek keberadaan hawa lelembut nakal yang mengganggu.


Wajah cantik Sari seketika menjadi pemandangan menarik bagi para pengemudi lain,


"Wiiih ada pemandangan bagus nih, mayan buat obat ngantuk!" celetuk salah satu sopir dengan wajah mesumnya.


Wajah Doni memerah, ia kesal dengan celetukan yang termasuk dalam kategori pelecehan itu. Hampir saja ia menghampiri si sopir tapi Sari segera menarik tangannya.


"Nggak usah bikin ribut! Ada yang lebih penting!"


Doni yang masih kesal hanya melirik sinis ke arah sopir mesum yang terus melihat ke arah Sari.


"Udah!" Tangan Sari meraup wajah Doni.


"Look at me and stay with me beb! Lihat ke arah jam 9!" Sari melanjutkan kata-katanya.


(lihat aku dan tetap bersamaku beb!)


Doni segera melihat ke arah yang dimaksud. Seketika matanya membulat terperangah tak percaya. Sosok lelembut menyeramkan tengah asik terbang melintas dari satu pohon ke pohon lain.


Sesekali ia bahkan hinggap menyeberang ke atas atap mobil yang terjebak kemacetan. Tetesan darah berbau anyir dan juga busuk tercium oleh hidung Sari dan Doni.


Wajah pucat dengan goresan luka menganga di pipi kirinya menambah seram penampakan lelembut itu. Matanya yang menonjol memutar ke kanan dan kekiri dengan lidah sedikit terjulur.


Sosok lelembut mengerikan yang hanya berwujud kepala tanpa jasad terbang kesana kemari seolah sedang mencari sesuatu.


Oh my God, apa ada yang kehilangan kepala?