
Pak Agus dan beberapa rekannya tercengang dengan apa yang ia lihat. Mereka tak percaya dengan kehadiran makhluk yang datang dari gerbang iblis bersama Airlangga.
"Makhluk itu muncul lagi? Bagaimana ini?" Gumamnya khawatir.
Pak Agus menjadi saksi geger geden Jombang, ia bahkan ikut terlibat didalamnya. "Ini bahaya, aku harus segera melaporkannya pada mbak Sari!"
Dengan berjalan mengendap dan perlahan, pak Agus bersama empat rekannya berbalik arah dan pergi segera dari tempat itu.
"Mas Agus, tadi itu beneran kan?" Tanya seorang pemuda yang mengenakan ikat kepala.
Pak Agus, menoleh pada pemuda itu lalu menepuk bahunya dengan keras. "Sakit nggak?!"
"Sakit mas!" Ia meringis kesakitan.
"Berarti kamu nggak mimpi!" Pak Agus kembali berjalan menuju mobil mereka yang disembunyikan.
Setelah mencapai jalan utama, dan memastikan tidak ada satupun pengikut Airlangga yang membuntutinya ia pun menghubungi Doni.
"Selamat malam mas Doni!" Sapanya setelah suara Doni terdengar.
"Ada sesuatu yang harus saya sampaikan, dan ini sedikit buruk!" Ekspresi wajah pak Agus tegang.
Ia kemudian berbicara panjang lebar tentang hasil penyelidikannya. Tak lupa juga ia bercerita tentang kehadiran makhluk yang hampir serupa dengan musuh Pandji.
Pak Agus dan Doni tampak begitu serius bicara melalui sambungan telepon. Setelah memutuskan akan bertemu tiga hari lagi, pak Agus pun menutup teleponnya. Ia berpikir sejenak lalu bergumam dengan menempelkan ponselnya di bibir.
"Mugi - Mugi Gusti Pangeran paringi dalan!"
...******...
Doni menutup panggilan pak Agus dengan bingung. Ia berkacak pinggang, menggaruk sebentar kepalanya yang gatal lalu berbalik menatap Sari.
"Airlangga muncul, tapi dia menghilang lagi!"
"Ohya dimana?" Sari terkejut.
"Seperti yang kamu lihat dalam visimu, gunung Arjuno. Dan kabar buruk lainnya, dia datang bersama lima iblis lain."
Mata indah Sari membulat sempurna, "Pasukan raja iblis!"
Doni ganti menatap Mika. "Aku rasa ini bagianmu Mika!"
Mika tidak bereaksi, ia sudah bisa merasakan kehadiran aura hitam yang hadir dari sisi timur kota Solo. Ia harus berhadapan dengan pasukan iblis lagi, ketenangan yang Mika rasakan kini harus terusik dengan kehadiran pasukan iblis.
Apa mas Pandji juga tahu mereka datang lagi?
Sari menatap Mika, ia tahu yang dipikirkan Mika. "Pasukan iblis kali ini sedikit berbeda Mika, kegagalan Nergal dan pangeran lainnya jelas membuat raja iblis murka. Aku yakin dia tidak akan memberikan pasukan iblis yang sama!"
Mika terperanjat, "Maksud aunty? Pasukan yang lebih kuat dan berbeda dari kemarin?"
Sari mengangguk, "Ya, dari yang aku lihat saat Airlangga memasuki pikiranku … mereka sedikit berbeda."
Sari menatap bergantian Doni dan Saka, lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Pasukan raja iblis yang diturunkan kali ini, tidak hanya bisa merasuki tubuh manusia tapi mereka juga bisa berubah menyerupai bentuk lain yang ia lihat dan inginkan."
"Maroz yang diturunkan juga sedikit berbeda dari bentuk dan kemampuan mereka."
Mika, Sari, dan juga Doni bergidik ngeri membayangkannya. Pertarungan Jombang melawan mayat hidup dan maroz versi Nergal saja sudah sangat mengerikan. Jika kali ini kekuatan pasukan iblis berbeda bisa dipastikan, akan memakan waktu dan tenaga.
"Apa kekuatan kita sudah cukup untuk menandingi mereka? Maksudku … ehm, kau sudah melihat mereka jadi …," Saka menggantung kalimatnya.
"Tidak!" Sari menjawab dengan tegas, ia terdiam sejenak menatap ketiganya bergantian lalu menjawab. "Kekuatan fisik kita berbanding terbalik dengan kekuatan mereka. Tapi kita bisa minta bantuan teman, untuk menambah kekuatan!"
"Maksudmu? Para lelembut?" Tanya Doni tak yakin.
Sari mengangguk, "Barisan penjaga dan para lelembut yang aku taklukan bisa kita gunakan. Selain itu aku punya nyai Laksmi, dia pemanggil roh terbaik dan juga musuh lama Airlangga."
"Ah, si nyai! Aku lupa kita punya dia! Kau benar beb, dia musuh terbaik Airlangga. Cinta dan benci rasa yang berbatas sangat tipis. Deathly love, I like that word!" Doni nyengir cengengesan.
Saka tak mengerti, ia mengerutkan keningnya. "Siapa nyai Laksmi? Orang baru, cantik?"
"Hah, demit? Iiish, amit-amit mas Doni! Nggak jadi kenalan kalo gitu, saya udah cukup kaya ngapain nambah lagi. Yang mau saya tambah tuh istri, susah bener cari istri!"
"Kania kan ada, kenapa nggak sama dia aja? Cocok lho, tuh Mika juga nganggur! Ya kan Mik?!" Doni mulai usil.
Sementara wajah Mika memerah. Dia memang masih sendiri, bukannya tidak mau mencari hanya saja selama ini dirinya hanya berkonsentrasi menjaga Pandji dan meneruskan studinya. Jadi selain belajar, otaknya hanya memikirkan Pandji dan Pandji.
Mulut Saka membulat, ia bergumam tak jelas. Kesal karena Doni selalu saja membuatnya tak bisa mengembalikan kata, apalagi jika berhubungan dengan wanita.
"Bagaimana dengan aliansi putih? Kita bisa minta bantuan ayah Al dan juga Pandji." Mika memberi usulan.
"Hhm, aku juga sudah memikirkannya. Aliansi putih akan menjadi opsi terakhir, mereka akan menjadi basis pertahanan terakhir jika kita kalah." Jawab Sari datar.
"Baiklah, sekarang kita bersiap. Tiga hari lagi kita berkumpul di Malang bersama pak Agus dan yang lainnya." Doni menutup pembicaraan mereka.
Mika diikuti Saka keluar ruangan. Sementara Sari masih termangu, ia merasa ada yang terlewatkan. Keputusan Doni untuk bertemu di Malang mungkin benar tapi bisa jadi bukan keputusan yang tepat.
Puluhan ribu pasukan iblis yang dilihatnya tidak mungkin bisa dikalahkan mereka tanpa strategi yang baik. Airlangga juga tidak akan gegabah dengan mengerahkan pasukannya hanya di satu tempat.
"Ada apa?" Doni penasaran melihat Sari masih terdiam.
"Don, sepertinya ada yang kita lewatkan deh! Nggak mungkin Airlangga ditemukan dengan mudah gitu aja. Kamu ngerasa nggak sih kalo ini jebakan?"
Doni menatap wajah istrinya intens. Kegundahan kelas terlihat di wajah ayunya. "Lalu kita harus gimana nih?"
"Kita butuh rencana cadangan. Jangan bawa mereka masuk dalam perangkap!"
Sari mengutarakan pendapat dan rencananya pada Doni. Ia juga mengasumsikan beberapa hal penting yang mungkin saja mereka lewatkan. Doni hanya manggut-manggut tanda mengerti.
"Oke, jadi kalau begitu kita tunggu mereka bergerak?" Doni memperjelas perkataan Sari.
"Ya, sebaiknya begitu!"
Sari memilih untuk menunggu, ia tidak akan ikut ke Malang. Sari juga tidak mengijinkan Doni, ia tidak ingin kejadian Bagas terulang lagi. Doni akan selalu bersamanya, tidak boleh terpisah.
Doni pun kembali menghubungi pak Agus, mengubah rencana semula. Cukup lama Doni menelpon dan meninggalkan Sari sendirian. Sari memilih bermeditasi sejenak, menenangkan diri.
Terdengar suara ketukan di pintu, Eric masuk menghampiri Sari yang masih memejamkan mata.
"Sar, apa aku mengganggu?" Eric duduk di hadapan Sari, menunggu respon Sari.
"Ada apa?"
"Ehm, boleh aku tahu apa yang terjadi? Kenapa di luar begitu heboh dengan persiapan macam-macam?"
Sari membuka mata, wajah Eric nampak penasaran. "Mereka sedang bersiap,"
"Untuk apa?"
"Ehm, berperang?" Jawab Sari seraya memiringkan kepalanya.
"Oorlog? Maak je een grapje? Met wie?"
(Perang? Kau bercanda? Dengan siapa?)
"Ik maak geen grapje (aku tidak bercanda), kita akan menghadapi iblis!" Sari menjawab dengan enteng.
"Iblis?!" Eric menekankan kata yang mustahil baginya.
"Yup!" Dengan singkat dan tegas Sari menjawab dan sejurus kemudian, ia menarik tangan Eric.
"Lihat dan perhatikan!"
Sari menarik Eric mendekati sudut ruangan dimana koleksi pusakanya diletakkan. Selarik kalimat ia gumamkan, tak lama asap tipis kekuningan keluar dari batu mustika. Nyai Laksmi hadir menjura. Eric terkejut antara percaya dan tidak.
"O mijn God!"