Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Akhir yang Bahagia



Sari terombang ambing dalam dimensi ruang dan waktu tanpa kesadaran. Tak lagi ada yang ia rasakan, hanya hening dan sunyi.


Tak ada penyesalan, Sari yakin Doni akan mengerti pilihan takdirnya. Doni akan mengerti situasi sulit yang dihadapi. Sebuah pilihan harus dibuat, dan takdir baru sudah dipilih. Sari berada diambang batas takdir kehidupan. 


Maaf aku datang terlambat Sar, ini akan membantumu menjalani takdir baru. Bangunlah hei tukang tidur!


Sari mendengar suara Bayu, entah apa yang dilakukan Bayu di ruang dimensi waktu padanya. Sari dipaksa menelan sesuatu oleh Bayu, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh nya perlahan dan tentu saja rasa sakit yang teramat hebat kembali menyiksanya. Memberinya kesadaran penuh.


Tubuhnya menegang, rasanya ingin menjerit sekuatnya tapi tak ada suara yang mampu ia keluarkan. Untuk beberapa saat lamanya rasa itu menyiksa Sari, hingga akhirnya ia mampu membuka kembali kedua kelopak matanya.


Bayangan kabur seseorang di ruangan yang putih seputih kelambu di kamarnya. Sari belum bisa melihat dengan jelas. Nyeri di kepalanya begitu hebat, Sari sedikit kesulitan menyesuaikan kelima indranya.


"Perlahan Sar, nggak usah buru-buru. Tubuhmu perlu menyesuaikan diri lagi sekarang."


Mata Sari hanya bisa melihat siluet dua orang yang sedang berdiri di depannya. Beberapa kali ia mengerjap tapi pandangannya masih saja kabur.


"Matamu kembali normal, itu sebabnya pandanganmu kabur."


"Apa aku bakal begini selamanya?" tanya Sari meraba-raba dimana ia berdiri.


"Tidak, itu hanya sementara sampai prosesnya selesai." jawab Bayu, ia meraih tangan Sari dan menggenggamnya.


"Proses?"


"Takdir yang kau pilih sesuai kata hatimu." Suara seseorang terdengar asing bagi Sari, itu suara wanita.


"Siapa kamu? Aku rasa, aku nggak kenal kamu?!" Sari bertanya, ia berusaha menajamkan penglihatannya ke arah sumber suara.


"Namaku Welas, dan ya kita baru bertemu sekarang." jawab Welas lembut.


"Welas? Tunggu, kau pemilik mustika penyihir itu bukan?" Sari teringat sesuatu.


"Kau benar, itu dulu tapi kini mustika itu ada pada Satrio Pamungkas. Aku percayakan padanya sekarang." ujar Welas meraih tangan Sari, 


"Hangat sekali tanganmu, energi apa ini?" Sari begitu penasaran, perlahan indra penglihatannya pun berangsur pulih.


Sari bisa melihat jelas sekarang, seorang wanita cantik berpakaian ala jaman dahulu, dengan kemben dan jarik. Wajahnya hampir sama persis dengan bayangan Asih Jati yang Sari lihat dalam kedalaman jiwa Mika.


"Welas adalah salah satu penyihir pendoa, dia membantu Pandji menuju takdir baru setelah berada diambang batas kehidupan. Dan sekarang, dia disini membantumu Sar," wajah Bayu menghangat melihat Sari bisa kembali melihatnya.


"Aku sudah mati?"


"Tentu saja belum, kau terselamatkan takdir baru." jawab Bayu dengan senyuman di wajah tampannya.


Sari mengernyit tak paham sementara Bayu dan Welas saling memandang dengan tersenyum.


"Mustika penyihir yang ada di tangan Pandji memberimu kesempatan untuk mengalahkan Airlangga. Mengambil celah kecil dari takdir." Welas mulai menjelaskan.


"Maksudmu takdirku berubah? Aku membunuh Airlangga apa artinya semua orang yang terbunuh kembali hidup?"


Welas tersenyum sebelum menjawab, "Aku bukan Tuhan, Sari. Ini yang perlu digaris bawahi. Mereka yang telah terbunuh adalah takdir yang tak bisa tersentuh siapa pun. Aku hanya mencuri celah kecil untuk sebuah kemungkinan yang lebih baik."


"Airlangga dan pasukan iblis bisa menghancurkan dunia jika kau tidak menghentikannya. Setiap kejadian memiliki maksud dan tujuannya sendiri. Dan kehancuran dunia bukan takdir Airlangga."


"Pandji mengirimmu dengan mustika penyihir hanya untuk mengubah takdirmu dengan membunuh Airlangga tapi tidak untuk takdir yang lain. Kematian Airlangga membuatmu kembali menjadi manusia biasa."


"Takdir barumu, mengikuti keinginan terdalammu. Menjadi manusia seutuhnya dan menjalani hidup dengan normal." 


Welas menutup penjelasannya yang panjang dengan senyuman. Wajahnya begitu teduh, Sari belum pernah melihat wajah setenang dan seteduh itu. Welas sebagai salah satu dari penyihir pendoa memiliki kekuatan rohani yang kuat dan itu adalah kekuatan sejati yang sesungguhnya. 


Welas, penyihir pendoa dengan kekuatan luar biasa yang mampu mengguncangkan dua dunia. Ia tak pernah jumawa dengan segala kekuatan yang dimilikinya, ia tak pernah mencampuri takdir yang menjadi ketetapan Sang Pencipta. Ia hanya membantu menjaga takdir yang seharusnya.


Keabadian Sari adalah sesuatu yang dipaksakan oleh dua manusia yang terikat dalam kutukan. Si kembar Lingga dan Airlangga. Suatu takdir yang dipaksakan, Sang Pencipta mendengarkan doa Sari dan mengabulkannya setelah sekian lama mengujinya untuk kembali menjadi manusia biasa.


"Jadi tidak ada yang berubah selain aku?" Sari kembali memastikan, dan Welas pun mengangguk.


"Yang tiada tetap tiada, bersiaplah untuk takdir baru Sari. Bersiaplah untuk menyongsong kehidupan yang kau rindukan." 


Welas perlahan menghilang begitu juga dengan Bayu. Cahaya menyilaukan kembali menerpa kedua mata Sari membuatnya harus memejamkan mata. Yang selanjutnya terdengar hanya suara langkah kaki yang berlarian, dan suara Doni yang memanggil namanya dengan khawatir.


Sayup-sayup Sari mendengar bunyi bunyi alat medis yang memberinya kejutan di dada, suara dokter dan perawat bersahutan berusaha menghidupkan kembali organ vitalnya. Hingga akhirnya Sari hanya mendengar suara beep panjang yang bergerak naik turun. Rasanya begitu menenangkan dan Sari hanyut dalam alam bawah sadarnya.


...----------------...


Dua Minggu kemudian, 


Sari sudah tersadar dari tidur panjangnya. Ia kembali dengan senyuman. Doni selalu menjaganya begitu juga dengan Kania dan Erick.


Beberapa hari setelah peperangan besar, kota Solo mulai berbenah. Gedung-gedung hancur yang hampir rata dengan tanah mulai dibersihkan. Jalanan yang rusak dan beberapa infrastruktur yang hancur pun mulai diperbaiki.


 Berkah bagi perusahaan Saka, karena ia mendapatkan tender utama untuk membangun kembali kota. Perusahaan Saka satu satunya yang mampu membangun kembali dari nol, selain untuk profit Saka juga melakukannya sebagai bentuk tanggung jawab dirinya yang ikut andil dalam pertarungan besar.


Kania semakin intens menjalin hubungan dengan Saka, gelar engineering yang ada di belakang namanya membuat Kania bertugas sebagai konsultan pribadi Saka. Mereka bahkan merencanakan pernikahan yang tentu saja membawa kebahagian bagi Sari.


Erick sendiri akhirnya berani menyatakan cintanya pada Mika. Yah, meskipun gadis itu menolaknya tapi Erick tak pernah menyesal berkenalan dengan Mika. Hubungan keduanya tetap terjalin baik meski cinta tak bisa berlabuh.


 Ehm, lebih tepatnya belum berlabuh. Siapa yang tahu jalannya takdir bukan?


Mika kembali hari ini ke kota Yogyakarta setelah Sari siuman.


"Terimakasih Mika, aku sudah banyak merepotkanmu." Sari menggenggam erat tangan Mika saat ia berpamitan.


"Ehm, sayang kamu harus cepat pergi. Padahal Erick dan aku merencanakan sesuatu. Travelling, kamu mau ikut? Aku ingin menjelajah Greenland," Sari mengerling pada Mika.


Mika pun tertawa, ia tahu maksud dibalik ajakan Sari. "Aunty, don't do that! Kau tahu aku dan Erick …,"


"Memutuskan untuk bersahabat? Yah, aku tahu itu. Aku cuma mau bilang jika kamu ehm, berganti pilihan …," Sari mendekatkan tubuhnya pada Mika, "Aku akan mendukungmu!" bisik Sari di telinganya.


Mika terkekeh, wajahnya merona membayangkan jalan-jalan berdua bersama Erick. Tapi sayangnya Mika tidak bisa, ia belum siap menjalin hubungan dengan siapa pun.


"Kita pergi sekarang?" Alaric muncul bersama Pandji.


"Ya ayah, kita pergi sekarang." 


"Mbak Sari, kami pulang dulu. Terima Kasih untuk jamuannya dan menjaga Mika dengan baik selama disini." Al pun berpamitan.


"Tentu, jangan sungkan. Aku juga sangat berterimakasih padamu mas Pandji!" Sari menoleh ke arah pemuda berwajah tampan di sebelah Al.


"Ehm, bibi sebaiknya kau tidak melupakan janjimu. Karena janji adalah hutang!" Pandji mengerling Sari membuat Sari tergelak.


"Wah, kamu memang berbakat untuk jadi pengusaha mas! Tentu, segera setelah bibi keluar dari rumah sakit, semua pusaka yang aku janjikan langsung dikirim ke Yogya!"


"Mas Pandji?!" Al menatap putranya tak percaya.


"Apa? Salahku dimana, aku hanya mengingatkan bibi!" sahutnya dengan mengedikkan kedua bahunya tanpa merasa bersalah.


Doni dan Sari pun tertawa, sementara Al tampak tidak enak hati dengan kelakuan putranya itu.


"Sebaiknya aku cepat pergi, sebelum Pandji menambahkan daftar tagihan rumah sakitnya padamu!"


"Oh ya, juga tagihan perpanjangan sewa Mika! Jangan lupakan itu ayah!"


"Mas Pandji!!" Al kembali berseru.


Semuanya larut dalam kebahagian. Bencana telah terlewati dengan baik, meski harus dilalui dengan darah dan rasa kehilangan. 


Sepeninggal semuanya, Doni dan Sari berbicara dari hati ke hati.


"Beb, kamu sudah kembali normal bukan immortal lagi. Aku sangat bahagia untuk itu." Doni mengecup punggung tangan Sari dengan lembut.


"Terimakasih karena selalu menyebut namaku dalam gigauanmu. Aku sebenarnya cukup khawatir kalau kamu bakal lupain aku dan … memilih takdir lain." sambung Doni lagi, tangannya mengusap lembut pipi Sari.


"Memilih kembali pada Bagas maksudmu? Pikiran bodoh!" Sari menyentuh pipi Doni, mengecup lembut bibir suaminya dan kembali berkata.


"Kamu adalah takdir terbaikku, pilihan sang pencipta untukku. Satu untuk selamanya."


Doni tersenyum mendekatkan wajahnya pada istri cantiknya. "Kita menua bersama?"


"Yah, tentu menua bersama. Bersama anak-anak kita nantinya!" Sari mengerling.


"Anak? Serius? Jadi sekarang kita bisa memiliki anak?" Doni mengerjap tak percaya.


Sari pun mengangguk, "Project masa depan?" Ia bertanya pada Doni.


"Yeah right, project masa depan!"


Keduanya saling menatap, Sari mengecup sudut bibir Doni yang disambut hangat dalam sentuhan liar menggoda . Sari merindukan Doni dalam kehangatan tubuhnya.


"Bagaimana jika tiga?" tanya Doni menghentikan aktivitas mereka.


"Wat? Drie? Nggak dua anak cukup!" sahut Sari enteng. (Apa? Tiga?)


"Empat? Kita butuh banyak pewaris!"


"Nee, twee kinderen zijn genoeg!" (Tidak, dua anak cukup!)


"Ayolah, beb lebih banyak lebih baik kan!"


"No, dua atau tidak sama sekali!" ancam Sari dengan tegas.


"Aaah baiklah, projects masa depan … I'm coming!" Keduanya pun tergelak dan larut dalam kehangatan kebahagiaan cinta.


...----------------...


Begitulah semuanya berakhir dengan bahagia, Sari mendapatkan kembali kehidupan normalnya. Begitu juga Airlangga yang akhirnya kembali kepada penciptanya setelah ratusan tahun hidup dalam keabadian.


Keabadian sejatinya hanya milik Tuhan.


...☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️...


...Alhamdulillah akhirnya sesion petualangan Sari berakhir ya teman2, terimakasih atas dukungannya selama ini...mohon maaf jika banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan....


...spesial big thanks untuk mas Al, yang sudah berkenan meminjamkan tokoh Mika, mas Pandji dan ayah Al...thanks udah ngebebasin menulis karakter mereka versi Nath_e🤗...


...spesial thanks to top 10 fans, barisan KFC, barisan anu dan itu, kak uli, kak ikha,.kak Andin, kak Winda, kak ananti, mas Ali garno, kak Sang, dan kakak2 lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu....


...Big love for all of u😘😘😘...


...see u in next novel, ...


...with love~lia❤️...