
Kakek Wisesa menggelengkan kepalanya mengetahui apa yang ada pada pikiran Sari.
"Kek …,"
"Bayarannya sepadan kok Sar, kamu mau nanya itu kan?" potong Kakek Wisesa.
Sari berdecak kesal, kakek Wisesa kembali membaca pikiran membuatnya tidak berkutik.
"Kalau kakek tahu semua tentang saya dan juga hal lain, apa kakek tahu dimana Airlangga?"
Kakek Wisesa sedikit terkejut dengan pertanyaan Sari, ia kembali minum dengan perlahan lalu menjawab dengan lirih.
"Dia kembali ke tempatnya berasal. Kembali ke tempat dimana dia dilahirkan sebagai kesatria pada masanya,"
"Trowulan?" jawab Sari cepat.
Untuk sesaat kakek Wisesa tidak menjawab, ia hanya menuangkan air dari kendi ke cangkirnya sendiri.
"Untuk sementara, sampai menunggu sekat itu terbuka!"
"Sekat dimensi? Penghubung dunia iblis dan manusia?" cerca Sari tidak sabar lagi.
Kakek bungkuk itu mengangguk pelan, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Sekat dimensi yang membatasi dunia manusia dan iblis, sekat yang seharusnya terkunci sampai akhir zaman."
"Akan datang hari dimana seorang kesatria baru berhasil membuka gerbang penghubung antara dunia manusia dengan dunia iblis. Dunia penuh misteri yang seharusnya tersembunyi dari manusia!"
"Dan dihari itu, dia akan meminjam kekuatan raja iblis untuk menuntut balas!"
"Dia?" tanya Sari skeptis
Ucapan Kakek Wisesa sedikit mengejutkan Sari, tapi ia berusaha tenang.
"Jadi, dendamnya juga begitu besar padaku!" gumam Sari meminum air dari cawannya.
Kakek tua dengan kepala nyaris plontos itu menatap Sari tajam.
"Aku tidak berharap pertarungan itu terjadi tapi dendam lama yang kalian pelihara dalam waktu yang cukup lama tidak akan bisa dibendung lagi. Jika saatnya tiba aku hanya bisa mendoakan keselamatanmu cah ayu,"
"Kakek lupa kalau saya immortal? Abadi? Meskipun tubuh ini terluka atau terpotong sekalipun saya akan tetap hidup kan?"
Pertanyaan yang dilontarkan pada kakek Wisesa dengan sarkas itu hanya membuat si kakek tersenyum lembut. Ia menyentuh tangan Sari.
"Dengar cah ayu, keabadian juga bisa berakhir. Pedang Sengkayana, dia bisa membunuhmu juga. Pedang terkutuk yang sangat dihindari sang pemilik keabadian, kau dan Airlangga!"
"Kakek benar, hanya pedang itu yang bisa membunuhku." Mata Sari menerawang jauh.
Menggelikan sekali jika aku sampai terbunuh dengan pusaka ku sendiri!
"Tapi kau jangan khawatir pedang itu mengenali tuannya, dia tidak akan melukai tuannya meski itu diperintahkan pengguna yang lain. Dia akan berusaha tetap menjagamu hidup. Energi alam dalam pedang itu dan juga dirimu adalah satu kesatuan!"
"Bagaimana peluang saya kek, apa saya bisa mati atau justru menang?!" tanya Sari seketika dengan raut wajah penuh harap membuat kakek Wisesa tertawa geli.
"Kamu pikir pertarungan ini seperti lotere?"
"Iiish, kan kakek memang begitu! Kakek tahu segalanya, jadi harusnya bisa tahu juga siapa yang menang!"
"Kalau kamu yang menang kamu mau apa? Trus kalo kamu kalah mau gimana? Balas dendam lagi, berantem lagi seumur hidup kalian yang bahkan tidak tersentuh takdir zaman?!"
Pertanyaan kakek Wisesa langsung menohok hati Sari. Ia membayangkan harus kembali menjalani kehidupan berulang yang membosankan seperti Lingga.
Mana aku sanggup jalani hidup begitu terus! Apa nggak ada jalan lain!
Kakek Wisesa tersenyum mendengar suara batin Sari.
"Pulanglah cah ayu, kau sudah terlalu lama disini. Kasian Doni, dia pasti kebingungan mencari keberadaan kamu disini!"
Sari mengangguk dan menuruti perkataan kakek Wisesa. Ia segera pergi meninggalkan tempat itu setelah sebelumnya kakek Wisesa berjanji akan menemui Sari lagi jika hari besar itu akan datang.
Sari berjalan menembus dimensi dengan sebuah harapan baru. Perjalanannya akan dimulai, pertarungan besar antara dirinya dan Airlangga pasti akan terjadi. Setidaknya Sari kini memiliki arah kemana dia harus melangkah.
Takdir tidak bisa disentuh dan diganggu siapapun cah ayu … tapi kamu punya kesempatan untuk mengubah takdir menjadi sebuah berkah atau justru menjadi malapetaka!
Jiwa murni yang akan memilih takdir terbaik untukmu meskipun itu adalah pilihan yang menyakitkan.
...----------------...
Sari kembali ke ruangan pemujaan di hotel itu. Doni dan keempat penjaganya telah menantikan kedatangannya.
"Apa semua sudah selesai?" tanya Sari mendekati kelimanya.
Andika dan beberapa karyawannya kembali masuk. Ia memerintahkan pada para pegawai untuk membersihkan ruangan. Tirai jendela pun dibuka, membuat ruangan itu terang tertembus cahaya. Sari menyipitkan matanya saat cahaya terang menyapanya dengan ramah.
"Mbak, terima kasih atas bantuannya! Jadi sekarang apa saya sudah aman?"
Andika tanpa tedeng aling - aling menggenggam tangan Sari membuat wanita blasteran itu terkejut dan melirik ke arah Doni yang menatap Andika dengan muka masam.
"Eeh, iya sudah kok! Suami saya sudah beresin semuanya, asal mas Andika tetap teguh sama pendiriannya ya saya pikir semua aman aja!"
Sari kembali melirik ke arah Doni yang kini mendengus kesal dan memberi isyarat pada Sari agar melepas tangan Andika. Sari hanya tersenyum kecut.
"Suami? Mbak sudah bersuami? Siapa? Dia?"
Andika bertanya dan beralih menatap satu-satunya pria yang ada di ruangan itu. Menatap Doni dari ujung kepala sampai kaki.
"Iya, saya suaminya! Ada masalah?!" ketus Doni
"Aaah, anda to suaminya mbak cantik ini?!"
"Mbak apa nggak salah pilih? Dia udah berumur lho, mbak sugar baby dia?!" bisik Andika pada Sari tanpa melepaskan kedua tangannya dari Sari.
Sari membatin, Bukan berumur mas Andika tapi matang!
"Eeh, siapa yang jadi sugar baby? Saya?" Sari mendelik tak percaya dengan ucapan Andika barusan.
"Lha emang ada cewek cantik lagi disini selain mbaknya?" tanya Andika dengan seringai aneh.
"Ada! Tuh dibelakang mas Andika, cantik banget mpe rambutnya ke lantai lho! Mau lihat?"
Sari sengaja mengelabui Andika agar melepaskan genggaman tangannya.
"Haaaiish, mana mbak mana?! Nggak ada kok?!" Andika seketika meloncat ke belakang Sari dan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dimaksud Sari. Tangannya begitu erat memegang bahu Sari.
Sari terkekeh, dan tidak menjawab. Doni mendekati keduanya, lalu menarik tangan Sari agar menjauh dari Andika.
"Makanya jangan macem-macem dah ma istri orang! Tuh hantunya nemplok di punggung mas Andika, pengen digendong katanya!" seru Doni seraya pergi meninggalkan Andika yang kini melongo dan pucat pasi.
"Mas, mbak, seriusan nggak sih ini?" Andika bertanya dengan suara yang bergetar.
"Taaau, tanya aja sama yang laen kali aja ada yang liat! Saya mau ke kamar capek mau pijetan dulu sama istri kesayangan. Bye mas Andika!" ejek Doni pada Andika.
Sari kembali tertawa dan memukul ringan tangan Doni, "Jahat kamu beb! Kasian tuh mukanya sampai pucat gitu!"
"Bodo amat, siapa suruh pegang - pegang tangan kamu!"
"Kan nggak sengaja, nggak ada maksud juga kok!" elak Sari tanpa bermaksud membela Andika.
"Hhhm, modus dia! Jadi pengen ke Korea dah!"
"Ngapain?"
"Oplas biar kek oppa oppa Korea yang awet muda and cantik - cantik!"
Tawa Sari pecah, gurauan dan celotehan Doni terdengar menggaung di sepanjang lorong hotel lantai dua yang sepi hingga memasuki lift.
Mereka tidak menyadari di balik kegelapan sepasang mata mengintai. Mencuri dengar dan memasang mata untuk mendapatkan informasi.
"Aku harus melaporkan ini semua pada Simbah!"
...🍁🍁🍁🍁...
...Hai selamat siang,...
...Selamat Hari Raya Idul Adha...
...buat yang merayakan yaa...mohon maaf lahir batin🙏...
...pasti sibuk semua ya sekarang?...
...jangan lupa obatnya diminum kalo abis menyate or menggulai🤭...
...besok udah Senin takut kolesterol pada naik gegara keenakan makan daging😁...
...jaga kesehatan yaa semuanya, have a nice day 🥰...
...saya menerima kiriman sate lho 🤭 kali aja ada yang baik hati berbagi sama saya...ngarep😂🤣🙈...