
Mika terlihat sibuk dengan kawanan iblis bermoncong yang terus berdatangan. Tangan Mika begitu gemulai memainkan dua belati, pusaka milik keluarganya yang memiliki kekuatan sihir.
Pria yang merapalkan mantra sihir tadi mendekati Mika dengan kapak hitam ditangannya. Iblis telah merasuki dirinya, sungguh disayangkan pemuda itu rela menggadaikan jiwanya dan merelakan tubuhnya digunakan sebagai inang.
"Ccckk, gayanya udah kek Wiro Sableng aja itu anak!" gumam Sari saat melihat tingkah adik Biantara yang dengan brutal menyerang Mika
"Yang ini beda Sar, Wiro ngamuk namanya!" Kandra tergelak.
Sari menanggapi dengan senyum sinis, matanya masih tertuju pada kemampuan olah tubuh Mika menghadapi serangan adiknya Biantara.
Belati Mika yang beradu dengan kapak menimbulkan percikan cahaya merah api. Ia menghindar dan menyerang menari dengan liukan indah, sesekali Mika berteriak kesal dia terbakar emosi.
"See, dia sangat mirip seseorang!" sindir Bayu terkekeh.
Sari hanya melirik dan mendengus kesal, lagi-lagi ia menjadi sasaran ledekan para lelembut tampan yang setia membantunya.
"Apa kita akan melihat saja dari sini Sar? Tanganku rasanya gatal ingin membantu!" Abiyaksa rupanya sedari tadi menahan diri untuk ikut terjun ke pertarungan itu.
"Yup, untuk sementara waktu kita hanya akan melihat saja dari kejauhan memastikan jika Mika dan Gia selamat!" sahut Sari.
"Hhhm, baiklah meskipun aku benci harus berdiam diri tapi aku hargai keputusan kamu sebagai tuan kami!" ujar Abiyaksa lagi.
Mereka kembali terdiam dan fokus memperhatikan pertarungan sengit yang hanya berjarak 200 meter dari ketinggian mereka. Kubah pelindung sengaja dibentuk Bayu dan Sari untuk menyamarkan kehadiran mereka dari radar iblis bermoncong panjang itu.
"Bay, kamu nggak bawain kita makanan sama minuman kecil ini! Soda sama popcorn gitu, lumayan ada tontonan gratis disini!"
Suara Sari memecah keheningan membuat kelima lelembut tampan itu saling berpandangan.
"Soda … popcorn?" Bayu kemudian tergelak
"Iya, saya lapar! Kan nggak mungkin juga kita makan bubur ayam disini!" sahut Sari dengan santainya.
"Mau saya pesenin pake layanan pesan antar?" jawab Bayu tak kalah konyolnya.
"Ya, boleh kalo ada! Eeh, jasa layanan lelembut?" Sari membulatkan matanya ke arah Bayu.
Bayu mengangguk dengan senyum mencurigakan, membuat Sari berdecak.
"Nggak jadi, bisa bisa yang saya makan bukan popcorn tapi kerikil nanti sodanya juga air kali! Bisa mules ni perut!" gerutunya kesal membuat Bayu dan yang lain tergelak lagi.
Pandangan mata Sari masih tak lepas dari wanita cantik yang kini semakin terlihat emosi.
Anak itu memaksakan tenaga dalamnya, terlalu cepat dan terlalu emosi!
Adik lelaki Pandji mendekati Mika dan sesekali berbicara padanya. Dari jauh Sari bisa menebak anak lelaki itu berusaha melindungi Mika atau mungkin mengingatkan Mika untuk segera mundur. Energi Mika mang sudah semakin menipis tapi gadis muda itu terus memaksa dirinya bertarung.
Not bad Mika, aku butuh semangat itu! Tapi kau juga sangat bodoh!
Sari bisa melihat dari gerakan tangan dan tubuh Mika yang semakin lambat di matanya.
"Dia kelelahan?" Bimasena bertanya tanpa perlu jawaban.
Pandji terlihat mulai merapat pada Mika. Dua kesatria muda itu kompak bergantian menyerang pemuda dalam kekuasaan iblis itu. Saat Pandji mundur hendak mengatur serangan Mika akan menutupnya dengan serangan lain tanpa jeda. Dua lawan satu mencari celah untuk menghabisi adiknya Biantara.
Serangan Mika akhirnya membuahkan hasil, dengan satu tebasan ia berhasil melukai Biantara di leher dan hampir saja membunuhnya dalam waktu singkat.
Seseorang dengan cepat menyelamatkan Biantara, membawa tubuh lemah yang penuh luka itu ke tempat lain. Sari tercekat.
"Apa … siapa itu? Apa kau bisa melihatnya dengan jelas Bayu, Bimasena?!"
"Sepertinya bagian dari kaki tangan iblis. Seorang wanita!" sahut Bayu dengan mengernyit.
"Nyaris saja anak itu terbunuh di tangan Mika!" Sari gemas.
Tak lama situasi berubah tegang dan Sari menjerit, "Oh tidak!"
Hampir saja melompat dan hendak menghambur ke arah Mika saat punggung Mika mendapat hadiah mengerikan dari dua pedang pendek Biantara. Mika ambruk seketika.
"Tahan Sar! Gadis itu harus belajar dari luka yang didapatnya!" Bayu menahan Sari dan menariknya kembali berada di posisinya semula.
"Tapi …,"
"Tenanglah ada Selia dengan ramuan kuno penyembuh miliknya, belum lagi energi roh pusaka yang ada dalam tubuh Mika! Aku yakin gadis itu tidak akan mati sekarang!"
Sari menurut, Bayu benar tanpa luka tidak ada pelajaran yang bisa diambil. Meskipun luka itu menyakitkan tapi luka juga bisa memberikan pelajaran berharga.
"Wow kijk daar eens naar, mijn kleine heldin in actie!" desis Sari dengan senyum mengembang.
(Wow, lihat itu Srikandi kecilku beraksi!)
Seketika mereka beralih menatap Gia yang muncul tiba-tiba, berteriak dan mengacungkan senjatanya ke arah kawanan serigala.
"Dia terlihat keren dengan kujang Cakrabuana di tangannya kan?" seru Sari lagi.
Wajah Sari tampak tegang tapi juga bangga melihat Giandra menunggangi salah satu penjaganya, Alpha. Dengan berani tuan putri kecil itu melindungi kakaknya Pandji.
Gia bersama keempat penjaganya menyerang serigala yang hendak melompat menerkam sang kakak yang sedang menggendong Mika.
Giandra membuka jalan untuk kakaknya agar bisa kembali ke dalam kubah pelindung. Meski ekspresi Pandji sedikit cemberut melihat tingkah adik kecilnya itu tapi rupanya ia cukup terbantu dengan perlindungan Gia.
"Kujang Cakrabuana belum mengeluarkan energi maksimalnya," gumam Bayu.
"Hhhm, kau benar tapi cukup bagus untuk debut pertamanya kan?" Sari membela Gia.
"Lumayan untuk seorang anak berusia 13 tahun," jawab Bayu dengan senyum.
Pandji berhasil membawa Mika kembali ke dalam rumah sebagai tempat perlindungan teraman. Sari lega tapi juga sedih.
Pertunjukan selesai juga, not bad Mika! Aku harap dirinya segera pulih, karena jika tidak hilang kesempatan ku menemukan Airlangga!