
Giandra, gadis kecil yang cantik itu seperti tidak peduli dengan kehadiran salah satu lanjaran yang dikenal sebagai Raja Khodam itu. Ia asyik bermain dengan keempat penjaga Sari.
"Paman Bimasena, apa aku boleh mengajak penjagaku bermain juga kesini?"
"Tentu saja, ini adalah rumah kalian juga!"
"Waaaah seru! Boleh aku panggil sekarang!"
"Iya,"
Gia menengok ke arah hutan yang ada di belakangnya, dia sedikit berbisik memanggil keempat penjaganya. Tak berapa lama datanglah mereka dari dalam hutan dengan gagah dan tatapan garang mendekati Tuannya, Giandra.
"Alpha!" teriaknya kegirangan, Gia langsung berlari memeluk maung miliknya.
Keempat penjaga Giandra tampak sedikit menunduk kepada para penjaga Sari.
"Paman Bimasena kenalin ini Alpha, Beta, Charlie dan Delta!" Gia begitu antusias menyebutkan nama mereka satu persatu.
Sari tersenyum mendengarnya, ia sedang berjalan mendekati Gia ketika para penjaganya datang. Seekor maung putih yang menjadi pemimpin mereka melihat ke arahnya.
"Hai Alpha, senang bertemu dengan kalian disini!" kata Sari seraya mendekati Gia.
"Kamu senang Gia? Disinilah rumah para penjagamu juga penjaga Aunty."
"Ooh ini rumah mereka ya? Apa aunty sering kesini juga?" tanyanya sembari mengusap lembut bulu leher Alpha.
"Dulu, sekarang tidak lagi. Aunty Sari terlalu sibuk."
"Gia bisa mendekat sayang, aunty pengen pengen peluk Gia sebentar sebelum kita pulang."
Gia mendekati Sari, dan segera memeluk Sari dengan hangat. Ada sesuatu yang membuat hati Sari nyaman saat memeluk tubuh Gia.
"Dengar, sebentar lagi kamu akan mendapatkan pusaka seperti kedua kakakmu sayang."
"Seperti mas Pandji dan mas Raksa? Gia juga dapat?" tanyanya dengan mata berbinar.
Sari mengangguk, "Gia sebentar lagi dewasa dan sudah waktunya mengenal dan memahami para penjaga Gia sendiri, dan juga mengetahui cara untuk memakai pusaka milik Gia,"
Gia mengurai pelukannya dan menatap mata coklat indah milik Sari.
"Gia harus bisa menjaga ibunda dan juga yang lainnya jika nanti diperlukan. Ada tugas yang harus dilakukan Gia suatu hari nanti. Aunty percaya kalau Gia bisa melakukannya!"
Gia masih belum merespon, butuh sedikit waktu untuk mencerna ucapan Sari. Tapi Gia paham bahwa dirinya akan menjadi seperti kedua kakak lelakinya. Bertransformasi menjadi kesatria baru.
"Gia mau a little gift?" tanya Sari dengan senyum. (hadiah kecil?)
"I would love that aunty, can I?" (Aku suka sekali bibi, bolehkah aku mendapatkannya?)
"Sure, give me your hand!" (Tentu, berikan tanganmu!)
Giandra mengulurkan kedua tangannya pada Sari.
"Percaya sama aunty, ini hadiah untuk kamu sayang. Jadilah wanita hebat suatu hari nanti!"
Tangan Sari menggenggam kedua tangan Gia. Ia memejamkan mata memusatkan konsentrasi untuk memberikan sedikit kekuatannya pada Gia. Cahaya keemasan menari berpindah dari tangan Sari ke tangan Gia.
Perlahan cahaya itu berpendar semakin terang menimbulkan gelombang kejut energi yang terasa hingga beberapa meter. Angin berputar mengelilingi keduanya.
Gia semakin mengeratkan genggamannya, aliran energi hangat mengisi tubuhnya menjalar dari tangan hingga berpusat di dada dan keningnya lalu perlahan menghilang.
Cahaya keemasan itu perlahan meredup dan hilang. Sari membuka matanya dan tersenyum pada Gia yang masih memejamkan mata.
"Sudah? Memang aunty kasih Gia apa?"
"Ehm, rahasia! Gia bakal tau itu nanti kalau sudah waktunya ok?!" Sari mengedipkan sebelah matanya.
"Waah you're cheating me!" (kamu mencurangiku!)
"No, honey I'm not but a little bit!" sahut Sari tertawa.
(nggak sayang, hanya sedikit!)
"Ohya, kita sapa dulu kakek guru ya!"
Sari menarik tangan Gia lembut dan mengajaknya mendekati Kaji Ahmad dan Bayu yang sedang terlibat pembicaraan serius.
"Gia ini adalah Kang Bayu dan ini adalah Kaji Ahmad." Sari mengenalkan pada Giandra kedua pria yang tampan pada masanya masing-masing.
"Ini kakek guru?" tanya Gia sambil mencium tangan Kaji Ahmad, Sari mengangguk.
"Dan ini Kang Bayu?" tanya Gia lagi.
"Iya, kang Bayu penjaga keturunan trah Siliwangi dan kakek guru adalah pemberi khodam penjagamu," terang Sari.
Gia memandang takjub pada Bayu, matanya tak berkedip menatap Bayu yang begitu tampan di matanya. Mata teduh dan sayu, alis tebal, berkulit putih, dengan sedikit kumis dan jambang tipis menghiasi. Bayu tampak tampan paripurna dimata Gia.
Bayu bingung dan salah tingkah, "Ehm, apa ada yang salah?" tanyanya bingung dan menatap Sari
Sari tertawa kecil sementara Kaji Ahmad hanya menggelengkan kepalanya dan tergelak,
"Hadeh, polahna nu budak persis pisan ka bapana ieu teh… teu bisa we nempo barang nu alus!"
Sari tertawa, "Keturunan siapa itu?!"
"Aunty, bukan salah Gia kalau Kang Bayu begitu tampan kan? Wajar kalau Gia suka! Apa Kang Bayu bisa Gia bawa juga sebagai souvenir?"
Pertanyaan Gia sontak meledakkan tawa Sari, sementara Bayu hanya garuk-garuk kepala. Pusing menghadapi bocah kecil yang menggemaskan sekaligus menyebalkan pada saat yang bersamaan.
Sari dan Gia berpamitan pada Kaji Idris. Alpha mengantar tuannya hingga ke kamarnya, begitu juga Sari.
"Sleep tight sayang … ingat ya, pertemuan kita harus dirahasiakan. Don't tell anyone about us, ok?" pinta Sari sambil merapikan selimut Gia.
"Ok, janji kelingking?" sahut Gia menyodorkan jari kecilnya.
Sari tersenyum dan menyambut tautan jari Gia. "Janji kelingking, kita akan berpura-pura tidak saling mengenal di depan ayah Al dan ibunda Selia ok?"
"Ehhm, boleh tapi aunty harus janji buat bawa Gia lagi kesana!"
"Gia mau main lagi? Boleh, deal!"
"No, Gia mau ketemu kang Bayu!"
Sari membelalakkan matanya dan tertawa kecil. Ia mengacak rambut Gia lalu berkata,
"Tidurlah, sebelum pagi menyapa sayang!"
Gia memejamkan matanya yang memang lelah, ia terlalu lama masuk di dunia lain. Tubuh kecilnya masih belum bisa beradaptasi dengan hal itu. Ini kali kedua ia masuk ke alam lain setelah sebelumnya Pandji mengajaknya berjalan-jalan.
Gia terlelap tidur suara dengkuran halus terdengar dibalik senyuman malaikatnya. Sari mencium kening Gia.
"Sleep well the princess of brave,"