Srikandi Tanah Pasundan

Srikandi Tanah Pasundan
Anna Kabur



Sari mengambil nafas dalam. Matanya seketika berkilat kebiruan. Ia mengalirkan energi dari kujang Siliwangi andalannya ke seluruh tubuh. Energi yang bisa membakar lelembut nakal seperti Anna Van de Groot.


"Aaaargh …!!" 


Lengkingan kesakitan dari lelembut itu terdengar begitu nyata hingga ke alam manusia biasa. Tangannya segera ditarik dari bahu Sari.


Sari berbalik dan berhadapan dengan Anna Van de Groot yang tingginya sekitar satu meter lebih tinggi dari Sari.  


"Kamu mencari masalah denganku!"


Anna Van de Groot hanya menatap Sari dengan mata yang melotot marah. Ia menyeringai dan memiringkan kepalanya hingga nyaris terjatuh dari lehernya


"Waaah, dramatis sekali! Apa perlu bantuan untuk memegangi kepalamu?"


Sari bertanya dengan nada mengejek membuat Anna kesal dan berteriak lagi padanya. Mengeluarkan nafas yang berbau busuk ke wajah Sari.


"Iiiuuuuh … berapa abad kamu nggak sikat gigi? Nafasmu bau bener!"


Sontak perkataan Sari mbuat Anna semakin meradang, 


"Geef je leven aan mij!". (Berikan nyawamu padaku!)


Sari tertawa mendengar permintaan Anna, 


"Je grap is te laat!". (Bercandamu kelewatan!)


Anna merangsek maju dengan kepala hampir terlepas ke arah Sari, tangannya hendak mencekik Sari. Ruangan lift yang sempit membuat pergerakan Sari tidak bebas.


Sari mundur beberapa langkah menyamping, menghindari cekikan Anna. Kujang Siliwangi muncul ditangan, Sari mengalirkan energi kebiruan tipis ke tangannya bersiap menyambut Anna.


Anna kembali menyerang Sari dengan cepat, kepalanya yang tergantung sedikit menyulitkan dirinya.


"Huh, lihat dirimu Anna mau melihatku aja pake acara kebalik begitu? Yakin mau membunuhku?" ejek Sari sembari menghindar berputar ke belakang tubuh Anna dan menendang tepat di bokongnya.


Anna terjerembab ke lantai lift, ceceran darah dari luka di leher yang menganga tampak mengotori lantai. Kedua tangan Anna memegang kepalanya, membetulkan posisi kepala dan menyatukannya hingga terdengar suara tulang yang saling beradu lagi.


Sari bergidik ngilu mendengarnya, ia mundur hingga punggung menyentuh dinding lift memberi jarak antara dirinya dan Anna. Pintu lift terbuka, Anna menatap keluar lift sejenak lalu menyeringai dengan mulut yang robek.


Sari melecutkan energi kebiruan ke arah Anna tapi gerakan Anna begitu cepat dan berhasil menghindari serangan Sari. Ia keluar dari lift meninggalkan Sari yang terlanjur terbakar emosi.


Sari keluar lift mengejar Anna yang lari entah kemana. Sari kehilangan jejak. 


"Sialan, cepat juga larinya!"


"Bimasena, cari dia sampai dapat! Dia pasti akan berulah lagi, mencari manusia dengan jiwa lemah untuk dimakan!"


Bimasena dan keempat penjaga Sari seketika muncul, menunduk hormat dan mencari sosok Anna.


"Sar," suara Doni menyapa dari belakang.


"Ada apa ini? Lama banget kamu ambil hp nya?" 


Sari tersenyum dan menetralkan energi yang sempat meluap ditangannya.


"Ada yang ganggu kamu lagi?" Doni kembali bertanya.


"Iya, Anna Van de Groot. Dia penunggu hotel ini, aku mergokin dia tadi."


"Terus sekarang?"


"Dia kabur, Bimasena sesama yang lain sedang cari dia. Anna bisa memakan korban lagi, tadinya aku nggak mau ikut campur tapi… dia bikin masalah sama aku so …,"


"Kamu berantem?"


Sari mengangguk. Tanpa banyak bicara Doni segera menarik tangan Sari untuk kembali ke kamarnya. Ia tidak mengijinkan Sari melanjutkan pengejaran. Sari menurut dan mengerti kemauan suaminya.


"Istirahat, nggak perlu ngejar yang begituan lagi. Fokus sama projects masa depan kita!" Ujar Doni saat mereka kembali ke kamar.


" … " 


Sari menggerutu bukan karena tidak mendapat ijin mengejar Anna tapi karena itu arti nya malam ini tidak ada lagi jalan-jalan ke dunia lelembut dan ia harus menemani Doni sepanjang malam.


"Sama aja capeknya!" 


"No, tentu saja lain! Ini capeknya beda!"


Sari menyerah, bagaimanapun hebatnya kemampuan dirinya sebagai Dewi kematian yang ditakuti para lelembut dirinya tetap harus menghormati suami, imam, sekaligus penjaganya hingga akhir dunia.