
"Mustika penyihir itu memang ada, dan itu bisa digunakan untuk mengubah takdir!"
Sari dan Doni saling berpandangan, "A-apa maksudmu? Mengubah apa, takdir?" Sari tergagap tak percaya,
"Aku nggak salah dengar kan? Mustika pengubah takdir?" Sari mengulangi lagi pertanyaannya.
Bayu menatap Sari dan menggaruk kepalanya. Bingung harus memulai darimana.
"Mustika Penyihir hanya ada satu di dunia. Selama berabad abad mustika itu tidak pernah berpindah tangan. Mustika Penyihir itu menghilang setelah pemiliknya moksa,"
Bayu kemudian menjelaskan bahwa mustika penyihir adalah pusaka yang dijaga oleh ras penyihir sejak benda itu diciptakan dan merupakan satu-satunya peninggalan dari para penyihir suci yang mengabdikan diri pada Yang Satu. Mereka disebut penyihir pendoa.
Mustika yang terbentuk dari bebatuan berwarna kuning kemerahan dan berjumlah 99 itu tidak pernah digunakan karena dianggap terlarang. Konon kabarnya pusaka itu bisa mengubah takdir seseorang dengan cara lari dari takdir yang satu menuju takdir yang lain.
"Jadi pusaka itu menghilang?" Sari kecewa mendengarnya.
"Tidak menghilang sepenuhnya, takdir baru akan memunculkannya kembali tapi dimana dan siapa yang berhak memilikinya aku belum bisa memastikan."
"Jika mustika itu menghilang mengikuti penciptanya yang sudah meninggal, apa ada kemungkinan pusaka itu ada di dunia bawah?" Sari mencoba berasumsi.
Bayu menggelengkan kepala, "Entahlah, aku juga tidak mengetahuinya dengan pasti."
"Siapa pemiliknya Bay, kamu kenal?"
Bayu beranjak dari duduknya lalu kembali mendekati kolam ikan dewa miliknya.
"Namanya Welas Jati, putri dari mpu Sapta jati sekaligus pencipta buku Mati yang diperebutkan bangsa iblis."
"Tunggu Welas jati, apa dia ada hubungannya dengan Asih Jati, istri dari Damar?"
"Ya, Welas adalah saudara kembar dari Asih Jati. Welas, Asih dan juga Damar mempunyai misi untuk menyelamatkan mpu Sapta."
"Sudah berabad-abad lamanya mpu Sapta ditahan di penjara dengan pengamanan super ketat,"
"Raja iblis menahan mpu Sapta? Sehebat itukah dia?"
"Mpe Sapta adalah pembuat pusaka paling hebat di masanya. Ia kerap berburu makhluk spiritual di hutan hitam untuk mengisi pusakanya. Setiap pusaka yang dibuatnya memiliki keistimewaan sendiri. Itu sebabnya Raja iblis menyandera dan menahan mpu Sapta untuk mendapatkan ketujuh pusaka legendaris buatannya."
"Ada lagi yang mau ditanyakan? Sebelum aku pergi menemui kakek tengil itu!"
"Kau mau menemuinya? Mau marah-marah ke dia?" Sari bertanya dengan skeptis.
"Nggak, saya mau ajak dia main catur! Adu strategi untuk menjagamu dan juga klan Abisatya!" Senyum Bayu sedikit mengembang.
"Trah Abisatya adalah salah satu klan penyihir, begitu kan?" pertanyaan Sari dijawab dengan anggukan pelan Bayu. Kini Sari mengerti alasan Pandji begitu istimewa dan tubuhnya diincar oleh klan iblis.
"Pandji memiliki darah penyihir dari Abisatya dan ksatria Ganendra, pantas saja kalau dia begitu cepat menguasai berbagai macam mantra sihir."
"Kau benar, tubuhnya juga istimewa karena lahir tepat pada hari kejayaan setan. Sayang umurnya belum cukup untuk bisa menerima semua kekuatan secara sempurna." Bayu menyambung kalimat Sari.
"Belum cukup umur saja sudah memiliki kekuatan sebesar itu? Beb, gimana kalau kita juga rekrut Pandji untuk membantu?" Doni mengusulkan sesuatu yang mungkin bisa dipertimbangkan Sari.
"Hmm, entahlah … aku ragu mas Al mengizinkan hal itu. Yang aku perlukan untuk sementara ini adalah Mika, mata tak biasanya bisa membantuku mencari Airlangga."
Setelah sedikit berbicara dan mencari beberapa informasi penting tentang mustika penyihir Sari dan Doni pun kembali ke dunia manusia. Sepeninggal Sari, Bayu termangu di depan kolam sendirian.
Ia memperhatikan sejumlah ikan dewa kesayangannya yang bergerak kesana kemari dengan anggun, tapi diamnya Bayu bukan tanpa alasan. Matanya menangkap sosok yang sedang bersembunyi dalam air.
Gerakan ikan dewa yang semula tenang dan anggun perlahan mulai gelisah, air kolam tiba-tiba saja memunculkan pusaran kecil. Bayu menyeringai.
"Kakek tua keluarlah!"
Suara tawa kecil kakek Wisesa terdengar. "Aku ketahuan!"
"Apa kau tidak malu dengan usiamu? Main petak umpet? Perlu berolahraga sampai harus berenang bersama ikan kesayanganku?!" tanya Bayu sedikit kasar.
"Hei, jangan berkata seperti itu Bayu! Umur kita hanya berbeda sedikit saja!" Kakek Wisesa muncul dari dalam kolam ikan dengan pakaian basah. Ia sedikit kesusahan saat akan keluar dari kolam karena beberapa ikan dewa yang merasa terganggu mengerubutinya.
"Kau tidak ingin membantuku bocah tengik!" Kakek Wisesa mengulurkan tangan ke arah Bayu.
"Cck, kau ini kakek tua yang sangat merepotkan!" Cibir Bayu. Ia membantu kakek Wisesa keluar dari kolam ikannya. "Awas saja jika ada satu ikan kesayanganku yang mati karena bau tubuhmu kau harus membayarnya dengan 100 koin emas!" Bayu mengancam kakek Wisesa.
"Waaah, beraninya kau mengancamku! Aku ini seniormu! Tapi, semahal itukah ikan-ikan ini?" kakek Wisesa mengernyit membayangkan harus membayar 100 koin emas.
"Kau bilang umur kita hanya selisih sedikit kenapa sekarang bilang kau seniorku!"
"Hei, kau lupa hutang budimu padaku Bayu! Jika saja aku tidak menyelamatkan mu dari terkaman macan kesayangan Siliwangi dan memintakan ampunan pada Sang Prabu, kau tidak akan bisa berada disini!" Kakek Wisesa mengungkit kenangan masa lalu mereka.
"Tapi siapa memancingku hingga aku mengusik maung sang prabu? Kau lupa ingatan kakek tua!" Bayu tidak mau kalah berargumen.
"Kau …," kakek Wisesa tiba-tiba saja kehilangan kata-kata, ia mengurungkan niat untuk memperpanjang debat tak berguna itu.
"Aaah, baiklah … baiklah, aku yang salah! Setidaknya aku masih waras tidak mengganggu istri orang saat itu!"
Bayu geram menahan diri, ingatannya melayang pada ratusan tahun lalu. Jika saja ia tidak jatuh hati dengan Raden Ayu Kusumawardani, Bayu pasti tidak akan berada di dimensi penjaga.
Bayu muda jatuh cinta pada orang dan waktu yang salah. Ia melabuhkan hati pada istri bangsawan Pajajaran, yang ternyata salah satu keturunan sang Prabu. Meski tahu jika cintanya tabu, Bayu muda tetap nekat memelihara rasa yang salah sasaran itu.
Berbagai upaya ia lakukan agar Raden Ayu Kusumawardhani jatuh ke pelukannya. Tingkah polah Bayu akhirnya sampai juga ke telinga sang Prabu, ia marah dan mengutus salah satu orang kepercayaannya untuk memberi pelajaran pada Bayu.
Bayu dengan ilmu yang dimilikinya saat itu hampir saja tewas diterkam maung kesayangan sang prabu. Kakek Wisesa datang dan menyelamatkan hidupnya. Ia memohon ampunan bagi Bayu pada Sang Prabu. Kakek Wisesa kala itu masih menjadi salah satu penasehat terpercaya Sang Prabu.
Kakek Wisesa menjamin jika Bayu akan selalu ada dalam pengawasannya dan tidak akan mengganggu kehidupan Raden Ayu Kusumawardani. Sang Prabu yang bijaksana akhirnya mengampuni Bayu tapi dengan syarat tertentu. Pada akhirnya Sang Prabu menghukum Bayu untuk bermeditasi selama 300 tahun dan menjalani takdir sebagai penjaga trah Siliwangi.
Hukuman itu bukan tanpa alasan, Bayu begitu mencintai putrinya oleh karena itu ia dihukum untuk menjaga keturunan sang Prabu dan dilarang mencintai wanita-wanita keturunannya. Hukuman yang terlihat ringan tapi sangat menyiksa Bayu.
Cinta tak pernah salah karena cinta adalah berkah yang kuasa, tapi kerinduanlah yang menempatkan cinta pada orang dan waktu yang salah.
Bayu menghela nafas berat kakek Wisesa mengingatkannya pada luka lama. Amarahnya membuncah tapi Bayu berusaha menahan diri.
Ia beranjak pergi meninggalkan kakek tua itu. Bayu ingin menenangkan diri sejenak, melupakan kenangan cinta buruknya.
"Hei, Bayu! Kau mau kemana?" Kakek Wisesa panik karena Bayu meninggalkannya begitu saja tanpa bicara.
Bayu tidak menjawab ia terus melangkahkan kakinya pergi. "Hei, bocah tengik!" Kakek Wisesa kembali berseru tapi Bayu tetap tak merespon.
"Iissh, bocah tengik baru dibilang begitu saja sudah ngambeknya keluar!" gerutu si kakek yang akhirnya menyusul Bayu.
"Hei, bocah!" Kakek Wisesa menepuk bahu Bayu memintanya berhenti, Bayu tak mengindahkan panggilan kakek Wisesa ia terus melangkah.
"Aaaah, baiklah … baiklah aku mengaku salah! Aku minta maaf! Dengarkan aku, kita harus bicara tentang hal penting!"
Bayu tetap diam, ia malas berurusan dengan kakek tengil yang seenaknya saja masuk ke dalam kolam ikannya.
"Hei, kau dengar aku?" Kakek Wisesa mulai kesal.
"Iiish, anak ini apa aku harus merendahkan diriku padanya dulu baru dia mau mendengarkan ku!" Ia kembali menggerutu.
Kakek Wisesa menyamakan langkah dengan Bayu, lalu dengan kasar menghentikan langkah penjaga trah Siliwangi dengan menarik tangannya.
"Dengarkan aku, ini menyangkut pertarungan Sari dengan Airlangga! Kita harus membantunya!"
Bayu akhirnya berhenti ia menatap Kakek Wisesa dan menunggu penjelasan darinya.
"Mustika Penyihir, aku terpaksa memberitahukannya. Hanya itu satu-satunya harapan Sari!"
"Kau tahu kan itu pusaka terlarang! Itu tidak boleh disalahgunakan! Pusaka itu bisa meracuni pikiran manusia untuk melakukan hal yang berbahaya. Mengusik takdir itu sangat dilarang!"
"Kau kira aku tidak tahu tentang hal itu?" Kakek Wisesa balik bertanya dengan skeptis. "Pertarungan Sari akan sangat berbahaya dan itu akan sangat sulit dihentikan hingga salah satu dari mereka mati. Satu-satunya cara adalah memakai mustika penyihir untuk mengubah takdir." Lanjut kakek Wisesa dengan raut wajah serius.
Bayu menatap mata tua kakek Wisesa sejenak, apa yang dikatakan kakek Wisesa benar tapi sekali lagi mengubah takdir itu sangat berbahaya. "Lalu, kita harus bagaimana?"
"Takdir akan membawa Sari pada sang pemilik baru, dan Sari harus memilih takdir mana yang akan diubahnya. Tapi itu akan berdampak besar dalam hidupnya."
"Ia bisa kehilangan semua yang dimilikinya saat atau memilih takdir masa lalunya!" Kakek Wisesa menutup mulutnya menunggu jawaban dari Bayu.
"Itu akan menjadi pilihan yang sangat sulit bagi Sari." Bayu merespon tanpa memalingkan wajahnya dari kakek Wisesa.
"Yah, itu akan sangat sulit tapi keputusannya juga akan mengubah nasib umat manusia! Kita tidak bisa membiarkan dunia manusia hancur karena keegoisan dua makhluk abadi bukan?"
"Kali ini aku setuju denganmu kakek tengil!" Seulas senyum muncul di bibir Bayu.
"Kalau begitu kita sepakat!" Kakek Wisesa lega, ia kemudian mengeluarkan kotak kecil dari balik bajunya. "Berikan ini pada Sari!"
Bayu mengerutkan dahi dan membuka kotak itu. Dua buah kapsul kecil berwarna keemasan. "Apa ini?"
"Dia akan memerlukannya saat masa itu tiba. Saat portal waktu dan tempat terbuka secara bersamaan, saat paling kritis dalam penentuan takdir. Keinginan sejatinya yang akan memilih takdir mana yang harus diganti!"
"Itu terdengar mengerikan!" Bayu tersenyum masam dan menutup kotak itu. Ia kemudian menyelipkan di dalam baju, menyimpannya dan akan memberikan kotak itu pada Sari suatu hari nanti.
"Jadi, apa kita bermain catur sekarang?" Seringai jenaka kakek Wisesa mengembang. Bayu terkekeh melihatnya.
"Wah, kau menguping?"
"Hei kau pikir untuk apa aku bersembunyi dan kedinginan dalam kolam ikanmu itu heh?!"
"Hhhm, entahlah mungkin kau mengobrol bersama mereka? Mencari jodoh, atau mungkin …,"
"Dasar bocah gila! Ikan-ikan mu itu semua jantan aku masih waras, bodoh!" Kakek Wisesa memukul bahu dan lengan Bayu karena kesal. Sementara Bayu terkekeh dan terus meledek Kakek renta yang betah menyendiri seumur hidupnya itu.
Canda tawa mereka terus terdengar sepanjang hari. Sesekali melepaskan ketegangan juga perlu bukan? Sebelum tugas mereka mengawasi dan menjaga pertarungan maha dahsyat dua makhluk abadi terjadi.