
Aileen memakan makanannya dengan begitu lahap seolah ia sedang kesal dengan dirinya sendiri, dunia seakan tak pernah berpihak padanya. Percintaan yang ia alami pun entah bagaimana tak pernah tau kabarnya dan sekarang ia harus melakukan pekerjaan yang begitu berat sekali semua pekerjaan yang Asyad berikan seolah ingin sekali melihat anaknya tersiksa.
"Huft, Papa benar-benar menjengkelkan," Umpatnya pada sang Ayah.
Tanpa Aileen sadari Asyad yang sedari tadi melihat anak semata wayangnya menggerutu hanya tersenyum simpul, semua pekerjaan yang diberikan hanya tak ingin melihat Aileen merenungi kesedihannya dengan begitu Aileen bisa sedikit melupakan rasa sakit hatinya.
Asyad berbalik menuju kamar yang sudah nampak gelap karena sang istri sudah tidur sedari tadi.
Keesokan harinya Aileen melakukan pengunjungan disuatu tempat untuk meninjau suasana tempat yang akan dijadikan cabang dari hotelnya di bandung juga.
Aileen merasa sangat lelah bahkan ia meminta untuk izin cuti namun Asyad tak memberikannya karena ia tau dengan hanya diam Aileen akan mengurung dirinya termenung dikamar seharian.
Saat ia sedang meeting dengan clientnya ia tak sengaja melihat seseorang yang tak asing baginya meskipun hanya melihat belakang tubuhnya.
Aileen hanya mengacuhkannya mungkin saja clientnya atau mungkin orang lain yang hanya kenal secara sekilas, ia pun melanjutkan membahas inti dari meeting tersebut.
Seusainya Aileen pun masih duduk termenung dengan segelas jus dihadapannya.
"Aw," Ucap Aileen begitu terkejut melihat air yang dibawa pelayan kafe itu tumpah diatas pahanya.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja." Ucap pelayan itu memohon.
"Sudah tidak apa, aku akan membersihkannya." Ucap Aileen yang memang tak ingin berkepanjangan.
Aileen membersihkan tumpahan air bekas yang tadi membasahi rok sepannya.
"Sial sekali hari ini, Rayn yang tak datang lalu sekarang harus tertumpah minuman bekas orang." Aileen tak henti-hentinya menggerutu.
Aileen berjalan keluar dari toilet saat tak sengaja tangannya tersenggol seseorang, namun dengan cepat orang itu menangkap kembali tangan Aileen karena sentuhannya tadi tak membuat Aileen peka.
"Maaf, ada apa ya?" Ucap Aileen masih melihat tangannya yang dipegang laki-laki itu.
"Ai." Panggilnya membuat Aileen mendongak.
"Kamu!" Ucap Aileen begitu terkejut dengan cepat Aileen menghempaskan tangan itu lalu segera ia menghindar dari tatapan yang membuat hatinya bergejolak.
David yang sedari tadi asyik dengan makanannya di kafe begitu menikmatinya yah dia baru saja kembali dari London, ia lebih senang berada di negara yang memiliki iklim tropis baginya terasa hangat, sama seperti seseorang yang sampai sekarang masih menghangatkan hatinya meskipun ia harus menahan rindu yang teramat.
"Aw," Terdengar suara yang tak asing ditelinganya ia pun membalikkan tubuhnya melihat pekingan suara itu.
David melihat wanita yang sama dan masih begitu tak peduli meskipun dia sudah menjadi korban tumpahan air bekas, mungkin kalau dirinya pasti sudah menuntun kafe ini karena tidak profesional dalam pelayanan, sudut bibirnya melengkung keatas ia merasa kali ini tak akan sia-sia untuk memperjuangkan wanita dihadapannya.
David yang memang sengaja menunggu didepan toilet agar tak kehilangan sosok yang bersemayam dihatinya setahun belakangan ini. David sengaja hanya menyentuh punggung tangan Aileen namun dilihatnya Aileen tak merespon dengan sigap ia menyentuh tangan dan menariknya.
"Ai." Panggilnya membuat Aileen begitu terkejut mungkin terkejut kedua kalinya.
"Kamu!" Tangan David dihempas begitu saja dan segera pergi dari hadapannya.
David mengejar Aileen yang sengaja menghindarinya, sampai di parkir mobil saat Aileen membuka pintu mobilnya namun tangan kekar menahan pintu dengan kuat.
"Ai, please." Ucap David ingin berbicara padanya.
"Untuk apa kau muncul dihadapanku, seharusnya sudah benar kau pergi dariku." Ucap Aileen menohok namun matanya tak melihat pada David.
"Aku tidak mau, aku ingin pulang kau minggir sana!" Aileen benar-benar tidak ingin melihat David baginya sudah cukup sakit yang diberikan David dengan harapan yang ia berikan.
David mengerti semua yang dia lakukan selama ini memang salah tak pernah memberinya kabar dan seolah menghilang begitu saja, jika mungkin ia diposisi Aileen mungkin ia sikapnya akan sama dengan Aileen.
Aileen mengemudikan mobilnya dengan sangat kesal entah hatinya atau dirinya yang sedang kesal.
"Kenapa, kenapa harus datang, Dav," Ucapnya bermonolog diri.
Namun sepintas ia menyesali perbuatannya yang menghiraukan David dan menolak penjelasannya, padahal ada sedikit bahagia saat melihat laki-laki yang begitu dirindukannya datang dan ingin menemui dirinya.
"No, Ai kau jangan sampai terbuai lagi olehnya," Ucapnya lagi meyakinkan hatinya.
"Tapi, aku masih sayang, ahhhh," Aileen merasa gundah dengan perasaannya.
*
David tidak berhenti disitu saja ia dengan begitu gagahnya masuk ke hotel milik Asyad ia sudah menyiapkan hati dan mentalnya jika nanti semua penjelasannya tidak diterima.
Asyad yang sibuk dengan dokumen dihadapannya melihat sekretaris pribadinya berdiri dihadapannya.
"Ada apa?" Ucap Asyad begitu dingin.
"Maaf pak, diluar ada seseorang yang ingin menemui Pak Asyad." Ucap Silvi sedikit sungkan karena memang hari ini jadwal atasannya begitu padat.
"Siapa?" Tanyanya.
"Pak David salah satu client Pak Asyad saat mengerjakan proyek di Bali dengan Nona Aileen." Jelas Silvi ragu karena ia sedikit mengetahui permasalahan atasannya itu.
"Untuk apa dia datang?"
"Maaf pak, katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan pak Asyad ini menyangkut Nona Aileen."
"Suruh masuk!"
Silvi keluar dari ruangan Asyad dan menghampiri David yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
"Silahkan, Pak David menunggu anda." Ucap Silvi dengan begitu sopan.
"Terima kasih," Ucap David lalu berlalu dari Silvi dan membuka ruang kerja Asyad.
Asyad dengan tatapan tajamnya melihat David dihadapannya seolah ingin menandakan sebuah peperangan yang ingin berkobar.
"Tuan," Ucap David.
Asyad masih tak menjawab ia masih melihat David dengan tatapan dinginnya.
"Pa."
\=\=\=\=\=\=
Terima kasih buat votenya yah, terima kasih🤗