
Asyad yang kini berada di rumah sakit tepat dimana Iksa sedang dalam penanganan dokter, ia duduk menggenggam erat kotak cincin yang ia pegang dengan kepala menunduk begitu menyesalnya ia membiarkan Iksa sendirian menemui dirinya dia merasa bersalah. Selang beberapa jam dokter keluar dari ruang inap Iksa.
“Keluarga Nona…..” tanya dokter memanggil keluarga Iksa belum selesai memanggil nama Iksa, dengan cepat Asyad menghampirinya.
“Saya dok, saya kekasihnya,” jawab Asyad.
“Mohon maaf bisa bertemu dengan keluarganya.”
“Keluarga Iksa sedang tidak berada di kota ini dok dia tinggal sendiri di sini bersama saya dan sahabatnya.” Ungkap Asyad.
“Begini Mas, Nona Iksa kehilangan banyak darah, rumah sakit saat ini tidak memiliki darah yang cocok dengan golongan darah yang di miliki oleh Nona Iksa, jadi saya harap keluarganya bisa segera datang untuk melakukan pendonoran.”
“Baik dok saya akan berusaha menghubungi keluarganya, apa saya boleh masuk melihat keadaan Iksa dok?” Tanya Asyad memohon.
“Silahkan,” Ucap dokter mempersilahkan Asyad masuk.
Asyad pun masuk ke ruang rawat Iksa ia begitu sedih saat hari yang ia tunggu-tunggu harus berakhir dengan keadaan yang membuat Iksa terluka untuk kesekian kalinya ia tak bisa melindunginya janjinya pada Iksa seakan teringkari, air mata Asyad tak henti-hentinya mengalir deras dari pelupuk mata indahnya.
Asyad duduk di sebelah ranjang Iksa sembari menggenggam erat tangan Iksa.
“Maafkan aku, maafkan aku……” memegang punggung tangan Iksa di letakkannya pada wajahnya yang basah merapatkan jari jemarinya dengan Iksa.
“Harusnya hari ini hari bahagia kita, kenapa Tuhan seakan tidak rela engkau bahagia,” ucapnya dengan tangis sesenggukan yang semakin membanjiri wajah dan tangan Iksa yang tengah berada dalam genggamannya.
Seusai dari ruang rawat Iksa, Asyad menelpon Maria tak lupa ia juga menghubungi kedua sahabat Iksa.
*
Maria yang saat itu sedang ada pertemuan dengan client ditugaskan oleh perusahaanya, lalu tiba-tiba ia terkejut mendapatkan kabar dari Asyad tentang keadaan Iksa saat ini. Ia pun dengan buru-buru menuju bandara ia tak memperdulikan berapa uang yang harus ia keluarkan saat perjalanan karena di pikirannya kini hanya satu keadaan Iksa yang sedang terbaring di rumah sakit.
Setiba di bandara Maria begitu bingung karena tak ada satupun penerbangan yang di lakukan di jam yang ia tentukan, akhirnya ia harus membeli tiket go show untuk mempercepat waktunya, hanya menunggu sekitar satu jam pesawat pun lepas landas.
Setelah dua jam pesawat pun landing di bandara, Maria pun dengan cepat turun dan segera mencari taxi menuju lokasi yang sudah di kirim Asyad. Maria pun tiba di rumah sakit sekitar pukul satu dini hari, ia pun segera mencari ruangan Iksa. Setelah resepsionis memberitahu ruang rawat Iksa Maria dengan cepat menuju ruangan tersebut, di depan ruang rawat sudah ada Asyad dan juga sahabat Iksa yang sedang menunggunya datang.
“Tante Maria,” teriak Kila ia langsung memeluk Maria.
“Bagaimana keadaan Iksa nak?” tanyanya pada Kila penuh harap.
“Iksa…hiks…hiks..” ucap Kila sesenggukan.
“Asyad, bagaimana keadaan anak tante?” tanya Maria berharap mendapat jawaban yang tidak mengagetkannya.
“Iksa….Iksa..Iksa kehilangan banyak darah tante, stok darah di rumah sakit tidak ada yang cocok dengan darah Iksa, Iksa butuh tante bisakah tante membantu Iksa," ucap Asyad penuh harap.
Seketika Maria terdiam terkulai lemas, di saat seperti ini ia tak bisa membantu menyelamatkan Iksa tatapan mata Maria bingung, apa yang harus ia lakukan. Seketika air matanya jatuh tanpa ada suara. Mereka menatap bingung Maria yang kini menangis, mereka semua juga tak tau apa yang harus mereka lakukan. Mereka ingin menolong sahabatnya namun apa daya darah mereka tak ada sama dengan Iksa.
“Tante katakan sesuatu, ada apa tante kenapa tante menangis begini ayo tante bantu Iksa, Iksa butuh tante, tante kan orang tua Iksa jadi Kila mohon tante bantu Iksa,” Ucap Kila menangis sesenggukan sembari menggoyang-goyangkan lengan Maria.
“Iksa bukan anak kandung tante, tante gak bisa bantu dia darahku berbeda dengan Iksa... hiks.. hiks... hiks, kalian tau tante sangat terluka melihat ini semua bahkan tante sendiri tak bisa berbuat apa-apa.”
Semua menatap Maria terkejut mereka berfikir dengan datangnya Maria maka Iksa akan segera terselamatkan, namun hal yang tak terduga membuat mereka harus menelan kenyataan yang sungguh pahit.
“Lalu tante, kalau Iksa bukan anak kandung tante Maria, dimana orangtua kandung Iksa tante?” tanya Asyad ingin tau.
Dengan cepat pikiran Maria seolah mengingat sesuatu, ia teringat dengan ibu kandung Iksa “Lena, Lena Wijaya, antarkan tante ke sana.” Pintanya dengan cepat Asyad mengiyakan ucapan Maria.
“Iya tante, mending tante istirahat dulu, kan tante juga baru sampai pasti tante capek,” tambah Kila.
“Tante gak bakal bisa tidur Kil, sebelum tante ketemu sama Lena.”
“Ngomong-ngomong Lena itu siapa ya tante? Saya seperti tidak asing dengan namanya,” tanya Asyad sembari melihat sorot mata Maria mencari sebuah jawaban.
“Lena…Lena itu ibu kandung Iksa yang sebenarnya, tante hanya ibu angkatnya, sejak dia lahir ia selalu saja di salahkan oleh Lena, dia...hiks.. hiks...dia bahkan akan dibawa ke panti asuhan namun melihat seorang bayi yang masih membutuhkan kasih sayang ibunya, tante tak tega melihatnya akhirnya tante mengangkatnya menjadi anak tante.”
Setelah menjelaskan semua masa lalu Iksa mereka pun akhirnya mengerti, Nela yang baru saja mengetahui seluk beluk kehidupan Iksa ia merasa sakit di hatinya karena sahabat sebaik Iksa harus menerima penolakan pengakuan dari ibu kandungnya sendiri. Padahal Iksa begitu baik dan rendah hati ia juga tulus berteman dengan siapapun, entah apa yang ibu kandungnya fikirkan sehingga tidak menginginkan Iksa menjadi anak yang terlahir dari rahimnya.
*
Keesokan harinya
Maria yang kini tengah berada di depan rumah mewah nan megah ia pun turun dari mobil Asyad dan berjalan menuju gerbang rumah.
“Permisi,” teriak Maria.
Satpam yang mendengar teriakan Maria pun segera menuju gerbang rumah dan membukakan pintu, “Maaf ya bu, ada yang bisa saya bantu?” tanya satpam yang sudah terlihat sudah berumur.
“Pak Imran, ini saya pak, Maria, Bapak masih ingat?”
“Maria siapa ya bu, maaf saya sedikit lupa.”
“Oh ya sudah pak tidak apa, saya kesini mau bertemu dengan dengan bu Lena, apa dia ada di dalam?”
“Oh iya bu, silahkan ibu masuk,” ucap satpam tersebut mempersilahkan Maria dan juga Asyad yang mengikutinya dari belakang masuk ke halaman rumah Lena.
Maria dan Asyad pun menunggu di depan teras rumah Lena, sementara pak Imran satpam rumah Lena memanggil majikannya di dalam. Lena pun yang tengah menyelesaikan makan paginya ia pun segera keluar menemui tamunya.
“Maria…” ucapnya terkejut sekaligus menatap Maria dengan tatapan bahagia.
“Lena.”
Dengan begitu bahagianya Lena pun memeluk sahabatnya yang sedari dulu tak pernah bertemu ia begitu merindukan sosok Maria. “Apa kabar kamu Mar? aku benar-benar merindukanmu.”
“Lena, aku tau, namun kali ini ada hal penting yang aku ingin sampaikan,” ucapnya sembari menggenggam erat tangan Lena.
“Oh tunggu, ini siapa Mar?”
“Kenalin ini Asyad, Asyad kenalin ini tante Lena,” Maria saling memperkenalkan keduanya.
“Eh tunggu, kamu kan pemilik hotel yang di Jerman itu ya, kita pernah ketemu disana.” Asyad pun mengiyakannya dengan melengkungkan tipis bibirnya ke atas seolah menghindari sesuatu yang tak ingin ia bahas.
“Oh kita masuk dulu Mar!” ajaknya Menggandeng tangan Maria ke dalam.
Setelah mereka masuk dan duduk di ruang tamu dengan berat Maria pun menjelaskan tentang keadaaan Iksa pada Lena, Lena yang saat itu terkejut sedikit mengkhawatirkan keadaan anak kandungnya. Karena selama ini ia sudah merasa bersalah dengan Iksa seorang Ibu kandung yang tega menelantarkan anaknya sendiri hanya karena sebuah kecelakaan suaminya yang merupakan takdir tuhan namun mata hatinya yang tertutup sehingga harus menyalahkan anak kandungnya sendiri yang begitu masih kecil dan tak berdosa.
“Maafkan aku Maria, selama ini aku sangat berdosa dengan Iksa, ia harus menderita seperti ini...hiks... hiks...” tangisnya pecah hingga terdengar suami Lena yang tengah membaca koran di ruang makan.
“Sayang, ada apa ini?” mereka semua menoleh ke sumber suara.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=